Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Singa Emas


__ADS_3

Sabrang hampir tak percaya dengan apa yang dia dengar dari Wijaya dan ki Ageng. Selama ini dia memang selalu bertanya tentang orang tuanya pada ki Ageng.


Namun tak pernah terbayangkan sedikitpun olehnya jika orang tuanya adalah seorang Raja Malwageni. Matanya menatap Wijaya yang masih berlutut dihadapannya. Dia bisa merasakan kesetiaan yang besar dalam diri Wijaya.


"Bangunlah paman, mau sampai kapan kau berlutut seperti itu terus".


Wijaya bangkit dan duduk kembali di tempat semula, wajahnya tertunduk tidak berani memandang Sabrang.


"Lalu apa yang akan paman lakukan?"


"Pangeran, untuk saat ini kita belum bisa bergerak leluasa. Melihat situasi saat ini mungkin butuh waktu yang sangat panjang untuk dapat merebut kembali Malwageni. Yang terpenting saat ini menyusun rencana untuk meminta dukungan beberapa Sekte aliran putih dan simpul kekuatan rakyat Malwageni".


"Seletah mangkatnya Yang mulia Ratu, sekarang Pangeran lah harapan kami satu satunya".


Sabrang menggeleng pelan, dengan usia yang masih sangat muda dia tidak tau harus melakukan apa. Tak terbersit sedikitpun dalam pikirannya untuk menjadi Raja kelak lagipula dia masih harus mencari keberadaan Dieng.


"Paman untuk sementara waktu sepertinya aku tak dapat membantu terlalu banyak. Ada sesuatu yang harus aku pastikan terlebih dahulu. Aku ingin melihat dunia luar sebelum aku benar benar memutuskan langkah selanjutnya".


"Aku ingin sementara waktu paman yang bertanggung jawab atas semua rencana kita merebut kembali Malwageni. Jangan terlalu tergesa gesa paman, keselamatan kalian hal paling utama bagiku. Apalagi Iblis Hitam dan Lembah Tengkorak ada di balik semua ini".


Wijaya mengangguk pelan, dia merasa melihat Arya Dwipa dalam diri Sabrang. Ada secercah harapan baginya maupun bagi Rakyat Malwageni.


"Ijinkan hamba ikut kemanapun Pangeran pergi" Wijaya merasa perlu mengawal pangeran Sabrang, bagaimanapun Sabrang adalah satu satunya keturunan Arya Dwipa sehingga dia merasa perlu melindunginya, dia tidak ingin kejadian puluhan tahun lalu terulang saat dia gagal melindungi Yang mulia Ratu.


"Tidak paman, banyak yang harus paman kerjakan disini. untuk saat ini mereka lebih membutuhkan paman dibanding aku. Kita butuh banyak dukungan termasuk prajurit Malwageni yang masih setia pada Ayahanda. Aku ingin paman mulai mengumpulkan kekuatan sedikit demi sedikit. Setelah urusanku selesai aku akan kembali dan bergabung bersama paman".


"Baik Pangeran hamba menerima perintah" Wijaya membungkuk memberi hormat.


Wijaya menatap Pedang yang ada di genggaman Sabrang. "Inikah pedang Legendaris itu?".

__ADS_1


"Berapa lama pangeran akan kembali?".


Sabrang menggeleng pelan, dia pun tidak tau berapa lama akan pergi. Mencari sebuah tempat yang dianggap hanya legenda jelas tidak mudah. Namun ini harus dia lakukan demi mengalahkan Sekte Iblis Pedang.


...........................


Tubuh kertasura diselimuti aura berwarna kuning pekat. Matanya berwarna merah darah. Dia bangkit dari duduknya dan merapal sebuah jurus. Tiba tiba terjadi ledakan disekitar tempatnya berlatih. Ledakan yang sangat dahsyat dan memekakan telinga.


Terlihat puluhan tumpukan pedang yang rusak tak tauh dari dia berdiri.


"Kekuatan Ilmu Pedang Langit sangat mengerikan, bahkan pedang terbaikpun hancur tak mampu menahan kekuatannya".


Dia menoleh kesebuah pedang berwarna hitam pekat disebelahnya. Sebuah pedang yang mengeluarkan aura jahat yang sangat besar. Dia memegang pedang tersebut sedikit ragu.


Tiba tiba dia merasakan sakit dikepalanya, dia duduk perlahan dan bermeditasi untuk meredakan rasa sakitnya.


"Bunuh, bunuh semuanya" terdengar suara dikepalanya. Kertasura mencoba menahannya dengan tenaga dalam. Matanya perlahan berubah menjadi normal, warna merah darah dimatanya perlahan menghilang.


"Aku harus mencari cara untuk mengendalikan Pedang iblis ini, pedang lainnya tak mampu menahan kekuatan jurus Pedang Langit".


Tak lama terdengar langkah kaki mendekati Kertasura berlatih.


"Tetua ada yang harus aku sampaikan pada anda". Lingga Maheswara berbicara pelan. Dia dapat merasakan tekanan yang sangat kuat di ruangan itu.


Kertasura memejamkan matanya sesaat, tak lama kemudian aura kuning yang menyelimuti tubuhnya perlahan menghilang. Dia bangkit mendekati Lingga maheswara.


"Bicaralah".


"Yang mulai Raja ingin meminta bantuan pada tetua untuk menghabisi para pendukung Arya Dwipa. Dia merasa semakin hari para pendukung Arya dwipa semakin banyak dan bisa membahayakan posisi Majasari".

__ADS_1


"Apalagi akhir akhir ini beredar kabar bahwa seorang pendekar bertopeng muncul menekan beberapa sekte aliran hitam, jika dibiarkan terlalu lama ditakutkan akan membangkitkan semangat para pemberontak".


Kertasura mengangguk pelan, dia pun sudah mendengar pendekar misterius itu muncul saat penyerangan Sekte Rajawali Emas.


"Kita tidak boleh gegabah bertindak untuk saat ini, selain Pendekar misterius itu, kemunculan Pedang Naga Api bisa menjadi masalah kita suatu saat".


"Ilmu pedang langit belum bisa ku kuasai secara sempurna, ditambah kehebatan beberapa sekte Aliran putih yang sampai saat ini belum bisa kita taklukan sebaiknya kita menahan diri untuk beberapa saat".


"Baik tetua"


"Ku dengar Sekte Hutan Bambu selama ini menjadi pendukung setia Arya dwipa. sampai detik inipun mereka masih mengorganisir kekuatan beberapa pendekar yang setia pada Malwageni. Aku ingin kau membereskan mereka semua".


"Baik tetua akan ku kirim beberapa pendekar ahli segera ke Hutan Bambu".


"Ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan padamu, apakah sudah ada kabar tentang letak Tanah Para Dewa?". Lingga Maheswara sedikit terkejut mendapat pernyatanyaan seperti itu.


"Sampai hari ini belum ada yang dapat menemukan dimana letak Dieng tetua, hanya menurut kabar ada seseorang yang mengetahui letak Dieng berada. Dia adalah Kumbara si Singa emas".


"Tapi sepertinya akan sangat sulit untuk memintanya mengatakan letak dieng berada mengingat sifatnya yang seenaknya".


Kertasura mengernyitkan dahinya mendengar nama Singa Emas. Dia paham betul seberapa tinggi ilmu kanuragan Kumbara. Mungkin saat ini Kumbara adalah salah satu dari beberapa orang yang dapat mengimbangi kemampuan Kertasura.


Sempat beredar kabar jika Kumbara menghilang beberapa tahun tak ada rimbanya hingga suatu saat dia muncul kembali menggemparkan dunia persilatan dengan Ilmu kanuragannya yang sangat tinggi. mungkin saat menghilang itulah dia berada di Tanah Para Dewa dan berlatih Ilmu kanuragan.


Namun Kumbara memiliki sifat yang aneh, dia tidak perduli dengan semua yang berhubungan dengan dunia persilatan baik aliran putih atau aliran hitam. Dia hanya mementingkan dirinya sendiri, Sifatnya yang pemarah dan beringas membuatnya dijauhi semua orang.


Kabarnya dia kini menetap di Gunung Cermai, sebuah gunung yang tak semua orang ingin mengunjunginya.


"Ku dengar dia kini menetap di gunung cermai, si tua itu akan sangat sulit di ajak kerjasama" Kertasura tersenyum kecut.

__ADS_1


"Kirimkan beberapa Pendekar ahli untuk pergi ke Gunung cermai, aku ingin kalian menyampaikan pesanku padanya. Jika dia tidak bisa di ajak kerjasama maka kita terpaksa menggunakan kekerasan".


"Baik tetua" Lingga maheswara bangkit dan pergi meninggalkan Kertasura di ruang latihan.


__ADS_2