
Suasana sekte Tapak es utara terlihat sangat ramai dengan hadirnya beberapa perwakilan sekte aliran putih maupun netral.
Mantili memang mengundang beberapa kenalannya untuk mendiskusikan masalah yang terjadi akhir akhir ini termasuk hancurnya sekte Iblis hitam.
Ageng tampak datang bersama beberapa rombongan Pedanh Naga api, dia tampak menunjukkan surat undangan pada para pendekar penjaga.
Penjagaan ketat memang tampak dibeberapa sudut sekte karena pertemuan kali ini terkesan tertutup, hanya beberapa sekte yang diundang Mantili dan Brajamusti.
Raut wajah para penjaga itu berubah setelah mengetahui jika Ageng adalah guru Sabrang.
Mereka mempersilahkan Ageng masuk bahkan beberapa penjaga tampak mengantarnya.
Sebenarnya Ageng agak sedikit kurang nyaman karena dia tidak terbiasa diperlakukan seperti itu namun dia tidak bisa berbuat banyak mengingat dia adalah guru dari Sabrang, pendekar terkuat saat ini.
Setelah berjalan beberapa menit, sampailah mereka di sebuah gedung yang cukup besar.
Ruangan itu terlihat sudah ramai tamu undangan yang hadir lebih dulu.
Mantili dan Brajamusti tampak menyambutnya dan mempersilahkan Ageng duduk bersama beberapa ketua lainnya.
"Sekte pedang Naga api tak mungkin bersinar tanpa nama besar Pangeran Sabrang" ucap salah sorang tamu sinis.
Ageng hanya tersenyum kecut tanpa menoleh, dia sudah sangat mengenal suara menyebalkan itu.
"Apa sekte Golok rembulan selalu mengurusi sekte lain? jika kalian ingin Pangeran Sabrang bergabung aku tak akan mencegahnya" ejek Ageng tanpa menoleh.
Wirat tampak mengepal tangannya menahan amarah, mereka memang selalu bersaing membesarkan nam sekte masing masing namun Ageng lebih beruntung karena mendapat murid berbakat seperti Sabrang. Itulah yang membuat Wirat selalu iri pada Angeng walau mereka sama sama sekte Aliran putih.
"Selamat datang tetua" Lasmini yang kini adalah ketua Rajawali emas berdiri dari duduknya dan memberi hormat pada Angeng.
Ageng tampak memandang kesekelilingnya untuk sekedar mencari tau siapa yang hadir.
Beberapa sekte undangan yang hadir memang banyak yang masih baru berdiri. Hancurnya Kelelawar hijau, Lembah tengkorak dan Iblis hitam sedikit banyak merubah peta dunia persilatan.
Beberapa sisa pendekar yang sektenya hancur bergabung menjadi satu dan membuat sekte baru.
Hanya Nilam sari dari Kencana ungu dan angin biru yang dia kenali.
Sisanya adalah sekte baru, seperti Topeng angin, Pisau terbang dan beberapa sekte kecil lainnya.
Tak banyak pilihan yang dimiliki Mantili saat ini karena banyak sekte hancur oleh pemuda misterius itu.
Suasana menjadi riuh saat Sabrang memasuki ruangan bersama Wardhana. Pengaruh Sabrang saat ini sangat terasa karena dia adalah pendekar terkuat saat ini. Semua seolah berebut pengaruh pada Sabrang.
Mentari tampak mengikuti Sabrang bersama emmy.
Mantili kemudian mempersilahkan Brajamusti untuk membuka acara karena tamu undangan terlihat sudah hadir semua.
Saat Brajamusti sedang membuka acara tiba tiba lima orang pendekar muncul dan menghentikan acara.
"Sebaiknya kalian hentikan acara ini" bentak salah satu pendekar misterius yang emmakai penutup wajah dan caping itu.
"Siapa kalian? berani sekali muncul disekteku?" teriak Mantili kesal.
Suasana ruangan menjadi riuh saat mereka menyadari ciri ciri para pendekar itu.
"Mereka sepertinya pendekar Hibata yang jadi perbincangan dunia persilatan" teriak salah satu tamu undangan.
__ADS_1
Semua langsung memandang pendekar misterius itu. Mereka merasa pendekar itu terlalu percaya diri datang ke sekte Tapak es utara hanya berlima. Semua tau kemampuan ilmu kanuragan Mantili, ditambah kehadiran Sabrang itu sama saja bunuh diri.
"Maaf tetua sebelumnya, kami tidak ingin mencari masalah apapun dengan kalian namun kami salah satu sekte yang hadir disini berhubungan dengan Masalembo. Aku akan pergi setelah membunuh mereka" ucap pendekar itu sopan.
"Kau mau membunuh di sekteku?" jawab Mantili menahan amarah.
"Masalembo adalah masalah terbesar di dunia persilatan, kuharap anda mengerti".
Semua terdiam setelah mendengar ucapan Pendekar itu. Jika dipikir lagi Hibata memang tak pernah sembarangan membunuh, mereka selalu menghancurkan sekte yang berhubungan dengan Masalembo.
Kejadian penyerangan sekte iblis hitam telah membuat nama Masalembo tersebar didunia persilatan dan mereka sepakat jika Masalembo adalah ancaman semua sekte dunia persilatan.
"Lancang kau menuduh kami sebagai pengikut Masalembo, apa kau tau kami adalah aliran putih?" bentak Wirat tiba tiba. "Aku ingin tetua Mantili dan Pangeran menindak tegas mereka atau nama aliran putih akan tercemar".
Wardhana tampak tersenyum setelah rencananya mulai berhasil menarik keluar para penyusup.
"Apa aku menyebut aliran putih? aku hanya mengatakan ada beberapa sekte yang kami ketahui berhubungan dengan Masalembo".
"Itu sama saja menuduh aliran putih karena kami semua adalah sekte aliran putih" balas Wirat.
Amarah Mantili tampak telah mencapai puncaknya, dia merasa dilecehkakn ditempatnya sendiri.
"Aku tidak perduli dari mana asal kalian namun akan kupastikan kalian mati ditanganku". Mantili tiba tiba bergerak kearah para pendekar itu dengan kedua tangan yang telah diselimuti bongkahan es.
Wirat tampak tersenyum setelah melihat Mantili menyerang, dia yakin pendekar misterius itu akan segera menemui ajalnya.
Beberapa sekte lainnya tampak sedikit menyesalkan tindakan Mantili yang terburu buru karena bagaimanapun musuh mereka saat ini sama.
Saat Mantili sudah semakin dekat dengan para pendekar itu tiba tiba Tungga dewi muncul dihadapannya dan mengayunkan pedangnya.
Benturan tenaga dalam tak terelakkan , Matili dan Tungga dewi sama sama terdorong mundur.
Sabrang bahkan menggunakan mata bulannya untuk melihat jurus Tungga dewi.
"Dia menguasai jurus ruang dan waktu?" gumam Sabrang.
Mantili tampak waspada setelah kemunculan Tungga dewi.
"Hibata tak pernah mencari masalah dengan siapapun namun jika langkah kami dihalangi maka siapapun akan kuhancurkan". ucap salah satu Pendekar Hibata sambil mendekati Tungga dewi.
Tungga dewi memang sengaja tak bicara karena takut suaranya dikenali.
Mantili tampak terkejut dengan kemampuan Tungga dewi, walau wajahnya ditutupi kain namun Mantili yakin pendekar dihadapannnya masih sangat muda.
Mantili makin terkejut karena dia juga yakin pendekar itu adalah seorang wanita.
"Siapa kau sebenarnya? aku baru tau ada pendekar begitu muda sehebat dirimu". Mantili bersiap menyerang.
Wardhana yang duduk dibelakang Sabrang tampak memberi tanda diam diam untuk menyerang sekte Golok rembulan.
Tungga dewi mengangguk pelan sesaat sebelum tubuhnya menghilang dan muncul didekat Wirat.
Wirat tersentak kaget dan berusaha menghindar, dia melempar dua anak buahnya sambil melompat mundur.
Mereka roboh ketanah dengan tubuh terkoyak, tetesan darah terlihat melumuri pedang Tungga dewi.
"Kau benar benar mencari masalah dengan aliran putih, apa kalian akan diam saja melihat salah satu anggota aliansi dibunuh?" Wirat tampak meminta bantuan sekte lainnya.
__ADS_1
Semua tampak diam, mereka masih bingung dengan situasi yang mereka hadapi. Walau Wirat adalah salah satu sekte aliran putih namun sikapnya yang semaunya sendiri kadang membuat gerah aliansi.
Tungga dewi terus berjalan mendekat sambil memainkan pedangnya.
Namun tanpa sepengetahuan Tungga dewi, Mantili telah berada dibelakangnya dan menghujamkan pedangnya.
Tungga dewi tampak terkejut karena tidak merasakan kehadirannya.
"Tetua Mantili benar benar mengerikan, aku bahkan tak sempat bereaksi" Tungga dewi melihat mata pedang yang menembus ditubuhnya sebelum menghilang.
"Dia menghilang lagi?" ucap Mantili terkejut, dia berusaha menjauh namun Tungga dewi sudah muncul dibelakangnya.
Mantili mencipakan perisai es sambil bergerak kesamping dan melemparkan pisau es pada Tungga dewi.
Tungga dewi melompat mundur untuk menghindari serangan namun Mantili tak membiarkannya.
"Kau pikir bisa lari dariku?" Mantili bergerak cepat dan berusaha mendesak Tungga dewi.
Pertarungan pun tak dapat dihindari, Gerakan lincah Tungga dewi mampu sesekali menyulitkan Mantili namun pengalaman bertarung Mantili jauh lebih matang.
Tungga dewi tak bisa menggunakan jurus tarian rajawali maupun pedang pemusnah raga karena akan langsung terbaca oleh Mantili.
Dia terpaksa menggunakan jurus yang sempat diajarkan Brajamusti sambil merubah beberapa gerakannya agar tidak terbaca.
Tubuh Tungga dewi sesekali menghilang karena harus menghindari serangan pedang es Mantili.
Tungga dewi sebenarnya bisa mengimbangi Mantili andai dia menggunakan pedang pemusnah raga.
"Mau sampai kapan kau terus menggunakan jurus aneh itu, apa tenaga dalammu tak terbatas?" Mantili terus menekan Tungga dewi, dia yakin jurus aneh itu membutuhkan tenaga dalam yang tidak sedikit.
Terus mendapat tekanan dari Mantili membuat Tungga dewi melakukan kesalahan, dia memutar tubuhnya saat beberapa pisau es menyerangnya.
Mantili yang menggunakan pisau es sebagai pancingan tersenyum dingin saat dia muncul dibelakang Tungga dewi.
"Gawat". Tungga dewi yang tak siap menerima serangan mendadak itu tak sempat menggunakan jurus ruang dan waktu.
"Apa kau terkejut?" Mantili mengayunkan pedangnya sekuat tenaga.
Melihat Tungga dewi dalam bahaya, Sabrang dengan cepat menggunakan mata bulannya untuk menarik Tungga dewi kedalam ruang waktunya sebelum memunculkan kembali tak jauh dari Mantili.
"Bagaimana dia masih bisa menggunakan jurus itu?" gumam Mantili bingung.
Tungga dewi tampak mengatur nafasnya sambil menoleh kearah Sabrang.
"Terima kasih Yang mulia" gumam Tungga dewi dalam hati.
Sabrang tiba tiba muncul dihadapan Tungga dewi saat Mantili berusaha menyerang kembali.
"Dia menguasai jurus ruang dan waktu, biar aku yang menghadapinya nek". ucap Sabrang pelan sambil memunculkan puluhan keris diudara.
"Maaf Yang mulia" ucap Tungga dewi dalam hati sambil bergerak menyerang Sabrang.
Dilain pihak Lima pendekar Hibata lainnya mulai menyerang Wirat. Mereka diberi tugas untuk mulai menyerang saat Sabrang sudah berhadapan dengan Tungga dewi.
"Bukan.. bukan mereka yang ingin kupancing keluar, mereka hanya pion. Aku tau kau ada diantara mereka, munculah secepatnya" gumam Wardhana sambil memberi tanda pada Mentari dan Emmy untuk siap bergerak jika orang yang dipancingnya muncul.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Api di Bumi Majapahit hari ini belum bisa update karena Author sedang diluar kota. Naskah ABM tertinggal di Hardisk Eksternal jadi mohon dimaklumi....
Terima kasih