
Beberapa penjaga di Ruang isolasi Pulau Tengkorak berlarian membawa senjata lengkap. hanya terdapat tiga orang penjaga yang tetap tinggal di ruang tersebut.
Mada mengernyitkan dahinya "Apa ada penyerangan? Siapa yang berani menyerang pulau terisolasi ini?".
Tak jauh dari Ruang isolasi seorang Pemuda berdiri memegang Ranting kayu di tangannya. Beberapa prajurit yang mengepungnya tak berani mendekat setelah mendapat tekanan aura yang besar keluar dari tubuh pemuda tersebut.
"Ku serahkan sisanya padamu paman". Tubuh Sabrang menghilang dari pandangan dan muncul dibelakang para penjaga.
"Jurus pedang penghancur tulang". Sabetan ranting kayu yang telah dialiri tenaga dalam menghantam beberapa penjaga membuat mereka terpental.
Sabrang melesat cepat kembali menyerang prajurit penjaga.
Gerakan cepat Sabrang tak mampu diimbangi para prajurit tersebut. Dalam beberapa tarikan nafas mereka tumbang di tanah.
"Siapa dia? apakah ini kekuatan manusia?" Salah satu prajurit menatap ngeri.
Sabrang melangkah pelan ke arah ruang isolasi namun puluhan prajurit kembali menghadangnya.
"Berhenti di sana!! bukankah kau rombongan nona Arkadewi?. Kau sadar dengan apa yang kau lakukan ini sama saja menentang Majasari " Salah satu pendekar menghadang Sabrang.
Sabrang hanya tersenyum tidak menjawab, beberapa saat kemudian puluhan batu di sekitarnya melayang.
"Apa lagi ini?" Pendekar tersebut mundur selangkah, dia sadar apapun jurus yang digunakan Sabrang akan sangat mematikan. Dia bisa merasakan tekanan aura disekitar Sabrang.
"Tinju penghancur angin" Puluhan batu melesat kearah pendekar itu.
"Mundur!" Pendekar itu melompat mundur menghindar namun para prajuritnya terlambat menghindar, puluhan batu menghantam mereka.
Sabrang bergerak cepat melompat ke atas terlihat bongkahan es berbentuk pisau ditangannya.
"Hujan pisau es utara" Sabrang meluncur ke arah pendekar itu bersamaan dengan puluhan pisau es.
"Duarrrr" serangan cepat Sabrang mengenai para prajurit itu.
"Mundurlah kalian aku hanya ingin membawa seseorang pergi dari sini" Sabrang menatap tajam puluhan prajurit yang ada dihadapannya.
"Ilmunya benar benar mengerikan" Brojoseno memandang dari jauh pertarungan Sabrang.
Tak lama Brojoseno memutuskan pergi menemui Arkadewi yang ada di sebuah rumah tak jauh di atas bukit.
***
"Ada apa paman?" Arkadewi heran melihat Brojoseno tergesa gesa menemuinya.
"Ketua pangeran dari Malwageni itu menyerang Ruang isolasi" Brojoseno berusaha mengatur nafasnya.
"Dia menyerang di pulau ini? apa dia sudah gila?" Arkadewi tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya.
Ronggo yang duduk terikat tak jauh dari Arkadewi sedikit terkejut mendengar pembicaraan Arkadewi dan Brojoseno.
"Pangeran Malwageni ada di sini? apa yang dilakukannya?".
"Ayo bersiap paman kita pergi sekarang akan sangat merepotkan jika berurusan dengan mereka" Arkadewi bangkit dan membereskan barang bawaannya.
"Apa dia datang untuk menyelamatkan tuan Mada? ah sepertinya tidak mungkin, kabar yang kudengar Pangeran hilang saat penyerangan Majasari" Ronggo menggelengkan kepalanya.
Dia masih belum percaya jika Pangeran Malwageni datang hanya untuk menyelamatkan seorang mantan Adipati.
***
"Crashhh" Sabetan pedang Wardhana melumpuhkan beberapa prajurit yang berjaga di dalam Ruang isolasi.
__ADS_1
Wardhana tampak menoleh kesekelilingnya mencari Mada berada, Ada delapan ruangan tertutup di sana.
"Tuan Mada anda di mana?" Wardhana setengah berbisik.
Mada terkejut mendengar namanya disebut "Aku di sini" Mada berteriak.
Wardhana mendekati sumber suara dan mendapati seorang pria tua lusuh sedang memandangnya tak percaya.
"Kau!! bagaimana bisa ada disini" Mada memandang Wardhana tak percaya.
"Anda baik baik saja?".
"Apa yang kau lakukan disini?" Ada sedikit dendam dari sorot mata Mada.
"Nanti aku ceritakan, kita harus bergegas Pangeran sedang menghadapi para Pasukan Majasari" Wardhana membuka pintu yang kuncinya dia dapat dari para penjaga tadi.
"Pangeran?" Wajah Mada berubah seketika mendengar Wardhana menyebut pangeran.
"Benar Pangeran Sabrang ada diluar sedang bertarung". Wardhana masih berusaha membuka pintu.
"Kau gila ya? Bagaimana mungkin kau membiarkan Pangeran bertarung sendirian". Suara Mada meninggi.
"Kita hanya akan menjadi bebannya tuan, ilmunya bahkan jauh diatas Yang mulia raja dulu".
Mada terkejut mendengar perkataan Wardhana jika dihitung sejak Malwageni runtuh umur Sabrang masih sangat muda bagaimana mungkin kemampuannya jauh di atas Arya Dwipa.
"Ayo" Wardhana bergerak setelah berhasil membuka pintu tempat Mada ditahan.
Mada mengikuti Sabrang tanpa berkata apa apa, dia masih khawatir pada Sabrang walaupun Wardhana mengatakan ilmunya sangat tinggi.
Setelah keluar dari ruang tahanan mereka disuguhi pemandangan yang mengejutkan, puluhan prajurit penjaga dan beberapa pendekar terkapar di tanah.
"Tarian Iblis Pedang" Serangan Sabrang menumbangkan pendekar terakhir yang dihadapinya. terlihat ranting yang dipegangnya ikut hancur tak kuat menerima tenaga dalam yang disalurkan Sabrang.
Mada mematung memandang Sabrang yang berjalan ke arahnya, sepintas terlihat sosok Arya Dwipa dalam dirinya.
"Ilmu silatnya benar benar tinggi" Mada bergumam dalam hati.
Dia berlutut seketika saat Sabrang ada dihadapnnya, sosok yang selama ini menjadi semangatnya untuk bertahan hidup ditengah siksaan yang dia terima di Pulau Tengkorak.
Sesosok bayi yang dulu dikabarkan menghilang saat penyerangan Majasari kini telah tumbuh menjadi pendekar hebat yang melebihi ayahnya.
"Hamba menghadap Yang mulia Pangeran" Hanya itu yang dapat Mada ucapkan saat ini, dia hanya menunduk tanpa berani menatap Sabrang dan tak lama air matanya menetes melalui kelopak matanya.
"Hamba mohon ampun yang mulia".
Untuk beberapa saat suasana begitu hening, Wardhana mematung tak berani berbicara.
"Bangunlah paman" Suara Sabrang memecah keheningan.
"Hamba tidak berani Pangeran" Mada masih berlutut.
Sabrang mendekati Mada "Bagun lah paman, kita harus bergegas".
Mada perlahan bangkit setelah mendengar Sabrang berkata untuk kedua kalinya.
"Aku membutuhkan bantuan paman namun sebelum itu kita harus bergegas pergi dari sini".
"Hamba siap menerima perintah" Mada menganggukan kepalanya.
Mereka berjalan cepat ke arah dermaga namun dipersimpangan terlihat Arkadewi dan beberapa pengawalnya berlari cepat seperti sedang mengejar sesuatu.
__ADS_1
Mada menajamkan penglihatannya, dia mengenali pemuda dengan tangan terikat kebelakang yang bersama rombongan Arkadewi.
"Ronggo?", Mada sedikit berteriak membuat Arkadewi menoleh sesaat sebelum kembali bergegas pergi.
"Anda mengenal pemuda itu?" Wardhana mengernyitkan dahinya.
Mada mengangguk pelan "Dia anak dari adipati Browo". Mada berusaha mengejar namun tiba tiba pengawal Arkadewi menghunuskan pedang kearahnya.
"Jangan mendekat!" Para pengawal itu menatap Mada tak bersahabat.
Arkadewi menghentikan langkahnya dan memerintahkan pengawalnya untuk menurunkan pedang mereka.
"Turunkan pedangmu, mereka kenalanku", Mendapat perintah seperti itu serentak para pengawal itu menurunkan pedangnya.
"Sepertinya anda telah mendapatkan apa yang anda cari Pangeran, sebaiknya kita pergi bersama" Arkadewi tersenyum ramah.
Ronggo terkejut mendengar perkataan Arkadewi kemudian menatap Sabrang "Diakah pangerang Malwageni itu?"
"Maaf nona sepertinya aku tidak dapat membiarkan anda pergi membawa pemuda itu" Wardhana berjalan mendekati Arkadewi.
"Apa maksud anda berkata demikian?" Arkadewi mengernyirkan dahinya.
"Pemuda itu adalah salah satu yang kami cari selain tuan Mada".
"Sepertinya anda kali ini sudah melebihi batas tuan". Brojoseno menatap tajam Wardhana dan sengaja melepaskan aura untuk menekan Wardhana.
Wardhana tersentak kaget mendapat tekanan dari Brojoseno namun dia berusaha tetap tenang.
"Sekali lagi kami mohon maaf nona, namun tak akan kubiarkan kalian membawanya" Wardhana berkata pelan.
Wardhana sudah membulatkan tekadnya untuk tidak membiarkan Ronggo pergi karena sebagai anak dari Adipati terdahulu dia pasti memiliki koneksi dan jaringan di Kadipaten Joyo geni yang akan berguna untuk perjuangan merebut kembali Malwageni.
"Kau memaksaku untuk berbuat tidak sopan". Brojoseno menyerang cepat Wardhana, Arkadewi berusaha mencegahnya namun terlambat.
"Duuuaghh" Brojoseno terpental mundur terkena cakar Es milik Sabrang.
"Cepat sekali" Brojoseno memandang Sabrang yang sudah berada tepat dihadapannya.
"Sebaiknya anda menahan diri tuan" Sabrang menatap tajam Brojoseno.
Beberapa pengawal Arkadewi bereaksi melihat Brojoseno terkena serangan Sabrang mereka siap menyerang.
"Turunkan pedang kalian" Kali ini Mada berbicara keras dia menyambar pedang milik Wardhana "Berani kalian menyentuh Pangeran akan kubunuh!".
"Sudah sudah sepertinya ada salah paham disini" Arakdewi menengahi kemudian menatap Sabrang.
"Pangeran mohon berbaik hati padaku, Aku telah membantu anda untuk masuk ke pulau ini mohon mengerti aku tidak bisa meninggalkan pemuda ini".
Sabrang tersenyum lembut "Seperti kata paman Wardhana aku tidak bisa membiarkan rakyatku dibawa oleh kalian didepan mataku".
Arkadewi terkekeh mendengar perkataan Sabrang "Malwageni sudah runtuh pangeran".
"Kurang ajar kau" Mada siap menyerang namun Sabrang menahannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
***Vote dan Like Novel Pedang Naga Api jika menurut teman teman novel ini menarik untuk dibaca
Dukung juga penulis di
Karyakarsa. com /RickypakeC
__ADS_1
dengan memberikan vote dan dukungan dalam bentuk lainnya
Terima kasih atas dukungan teman teman semua 🙏🙏***