Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kehancuran Nuswantoro V


__ADS_3

"Kali ini kita benar benar dalam masalah Yang mulia, aku pernah menghadapi mahluk itu di sisi gelap alam semesta dan dia sepertinya bertambah kuat karena terus menyerap energi alam. Aku harap anda memiliki rencana untuk mengalahkannya," ucap Minak Jinggo khawatir.


Minak Jinggo pantas khawatir, karena selain kekuatan Cakra Loji semakin kuat, mereka juga harus membagi tenaga dalam untuk menekan tubuh mereka sendiri agar tetap berpijak di tanah. Rusaknya segel dimensi kesepuluh membuat tekanan gravitasi di dimensi waktu menipis.


"Rencana? sayangnya aku tak pernah memikirkan rencana apapun sebelum bertarung dan melihat kemampuannya karena aku yakin dalam pertarungan ilmu kanuragan itu harus dihadapi bukan dipikirkan. Kau hanya bisa melihat kelemahan lawan ketika dia mulai terdesak," ucap Sabrang sambil memusatkan energi Naga Api kedalam pedangnya.


"Kau memiliki mata yang menarik, konsentrasi lah untuk membaca gerakannya dan mencari kelemahan, aku akan mencoba menekannya," tubuh Sabrang tiba tiba menghilang dan muncul dihadapan pendekar bertopeng itu.


"Jurus Pedang Pemusnah Raga."


Mendapat serangan cepat dan tiba tiba, Cakra Loji menyambut serangan itu dengan tenang. Tubuhnya bergerak dengan lincah menghindar sambil sesekali menyerang balik.


Gerakan Cakra Loji terlihat efektif dan berbahaya saat melakukan serangan balik, dia seolah bisa membaca serangan lawannya.


"Kemampuanmu tidak buruk namun nasib buruk yang membuatmu harus berhadapan denganku, kakang," Sabrang tersentak kaget saat mendengar suara pendekar itu berubah, bukan suara yang tadi mengancam Minak Jinggo.


Suara pendekar itu terdengar lembut namun mengandung tenaga dalam yang sangat besar membuat telinga Sabrang terasa sakit.


"Kakang?" belum selesai rasa terkejutnya, pendekar misterius itu merubah gerakannya bersamaan dengan munculnya sepasang pedang kembar di kedua tangannya.


Dia mengayunkan pedangnya, sebuah ayunan biasa yang tidak terlihat rumit dimata Sabrang namun anehnya tubuhnya tidak mampu bereaksi tepat waktu.


Sabrang berhasil menangkis serangan itu di detik terakhir berkat bantuan energi Eyang Wesi, tapi sesuatu yang mengejutkan terjadi setelahnya.


Gerakan tangan pendekar itu berubah begitu lembut, dia menggeser sedikit pegangan tangan di gagang pedangnya sebelum memutar lengannya dan menghantamkan ujung gagang pedang itu ke tubuh Sabrang.


Empat kali! Gerakan tangan yang begitu cepat dan dalam hitungan detik itu mampu menghantam tubuh Sabrang beberapa kali tanpa bisa dihindari.


Sabrang seolah merasakan dua waktu berjalan berbeda disekitarnya, jika tubuhnya merasakan waktu berjalan normal tapi tidak dengan gerakan tangan pendekar itu.


Serangan serangan sederhana yang dilancarkan pendekar itu seolah berada di dimensi lain, sangat cepat tanpa bisa dihindari sama sekali.


Tubuh Sabrang terhuyung, walau pendekar itu hanya menyerang dengan gagang pedangnya namun energi yang terkandung di dalam serangan itu mampu melukai Sabrang cukup serius.


"Tapak Dewa Naga mencengkram langit."


Satu.. dua...tiga serangan punggung pedang itu terus menghantam tubuh Sabrang hanya dalam satu gerakan.


Sabrang mencoba menarik pedangnya untuk menangkis serangan itu namun tiba tiba pedang di lengan kanan pendekar itu menghilang, dia mencengkram lengan Sabrang cepat dan melemparnya di udara.


"Jurus pedang pemusnah raga."


"Jurus milikku?" Sabrang merubah gerakan di udara saat mata bulannya melihat pendekar itu bergerak cepat kearahnya.


"Naga Api" teriak Sabrang sambil bersiap menggunakan jurus pedang jiwa.


"Gerakan angin merobohkan sukma," serangan pendekar itu berubah cepat, kedua pedangnya mengembang di udara seperti sebuah sayap sebelum menghantam tubuh Sabrang dengan cepat.


"Serangan aneh ini lagi," umpat Sabrang saat merasakan tubuhnya kembali dihantam belasan sabetan pedang.


Dan tanpa bisa bereaksi apapun, sebuah sabetan punggung pedang di leher Sarang menjadi penutup serangan aneh pendekar itu.


Sabrang terlempar dan membentur tanah dengan keras, dia terlihat memegang lehernya yang terasa sakit. Beruntung pendekar itu hanya menggunakan punggung pedang untuk menyerangnya. Jika tidak, nyawa Sabrang pasti sudah melayang.


"Tidak mungkin, bagaimana bisa..." Minak Jinggo yang berdiri tak jauh dari area pertarungan tampak terkejut karena untuk pertama kali mata bulannya tidak bisa membaca gerakan lawan.

__ADS_1


Yang terlihat oleh mata bulan Minak Jinggo hanya gerakan pedang sederhana yang tiba tiba menghilang sebelum Sabrang terlempar beberapa langkah.


"Kakek, apa kau bisa melihat gerakannya? aku merasa ada yang aneh dengan semua serangannya," tanya Sabrang cepat.


"Dia sepertinya mampu mengendalikan waktu sesukanya dan menggabungkan dengan setiap serangannya," jawab Eyang Wesi cepat.


"Mengendalikan waktu? bukankah jurus itu hanya bisa digunakan beberapa kali dan seharusnya jurus sialan itu tidak berpengaruh padamu?"


"Aku masih belum mengerti, kita harus melihat lagi gerakannya untuk memastikan," balas Eyang Wesi.


"Apa hanya itu kemampuan pendekar pilihan ayah? kau bahkan tidak pantas disebut keturunan Dwipa," ejek pendekar itu pelan.


"Ayah? siapa kau sebenarnya!" teriak Sabrang terkejut.


"Kau tidak mengenaliku, kakang? Moris Dwipa, ah tidak, sudah lama aku membuang nama itu sejak ayah membuangku hanya demi dirimu!" pendekar itu membuka topeng yang menutupi wajahnya.


"Wajahnya hampir sama dengan Yang mulia?" Minak Jinggo tersentak kaget saat melihat wajah pendekar misterius itu.


"Tidak mungkin... Jadi kau adalah adikku?" balas Sabrang terkejut.


"Matanya, itu mata yang hampir sama dengan milik Arya Dwipa," ucap Eyang Wesi.


"Apa kau terkejut? benar, aku adalah adikmu yang dikorbankan hanya karena mitos tentang keturunan kembar pemilik tubuh sembilan Naga sempurna yang akan saling menyerap energi masing masing. Aku sebenarnya masih bisa menerima tentang mitos sialan itu tapi yang membuatku marah adalah keputusan ayah yang lebih memilihmu daripada aku!


"Apa aku minta dilahirkan? ayah bahkan tidak meminta pendapatku saat memilihmu, seharusnya aku yang berada di posisimu saat ini," luapan energi Cakra Loji terus meluap dari tubuh Moris Dwipa menandakan emosinya mulai memuncak.


Sabrang terdiam sesaat, dia tidak bisa menjawab satupun ucapan Moris. Semua yang dikatakan Moris benar, dia memang dikorbankan karena kutukan tubuh Sembilan Naga.


"Jika kau masih hidup kenapa tak menemui aku dan membicarakan kesalahpahaman ini. Dimana kau selama ini tinggal? Jangan menyalahkan ayah, dia tidak punya pilihan lain," jawab Sabrang pelan.


"Kau salah paham Moris, ibu bahkan tidak mengetahui jika memiliki anak kembar, apa yang dilakukan ayah adalah demi kita berdua. Andai aku bisa memilih..."


"Hentikan semua omong kosong itu, kau bahkan tidak pernah merasakan sakitnya terbuang. Dunia ini sudah rusak, dengan kekuatan yang kumiliki, aku bersumpah akan menciptakan dunia baru tanpa ada jeritan anak yang tersakiti sepertiku dan kematianmu akan menjadi penanda dunia baruku," potong Moris.


"Anak itu telah dikuasai rasa dendam masa lalunya dan Cakra Loji memanfaatkannya untuk mengambil tubuhnya perlahan. Itulah yang juga dilakukannya pada Yasha Wirya. Mahluk itu selalu memanfaatkan amarah dan dendam yang ada di dalam hati manusia untuk merubah sifat dan mengambil tubuh orang yang diincarnya. Namun yang menjadi pertanyaan besar saat ini, bagaimana Cakra Loji dan adikmu bertemu?" ucap Eyang Wesi dalam pikiran Sabrang.


"Apa mungkin ayah..."


"Semua keturunan Dwipa memiliki sisi gelap dalam tubuhnya yang dengan mudah dimanfaatkan oleh Cakra Loji, bisa dikatakan kalian adalah tubuh yang sempurna bagi mahluk itu setelah Latimojong Musnah. Arya Dwipa sudah mengetahui itu, dia tidak mungkin menang melawan energi Cakra Loji yang berhasil masuk kedalam tubuhnya karena keberadaan sisi gelap Dwipa itulah sebabnya ayahmu lebih memilih mati agar tubuhnya tidak dikuasai oleh mahluk itu. Cakra Loji hanya bisa mengambil tubuh orang yang masih hidup."


"Jadi kau menyerahkan tubuhmu pada Iblis itu hanya karena dendam pada ayah?" tanya Sabrang pelan, dia berusaha mengulur waktu untuk memulihkan tenaga dalamnya.


"Aku? kau bahkan masih menuduhku atas kesalahan yang ayah lakukan, apa yang aku lakukan saat ini adalah memperbaiki kesalahan ayah di masa lalu. Jika Cakra Loji tidak bisa dikurung selamanya di ruang kesepuluh maka satu satunya cara adalah mengendalikannya seperti kau mengendalikan Iblis api.


" Ayah sebenarnya mampu mengendalikan kekuatan Cakra Loji seperti yang saat ini aku lakukan tapi dia terlalu takut menerima kekuatan besar. Bukankah pusaka sekuat apapun tak akan berguna tanpa perantara tubuh manusia? Baik dan buruknya sebuah ruh tergantung tuannya, siapa yang tidak mengetahui kekejaman Iblis Api di masa lalu sebelum bertemu denganmu?" jawab Moris pelan.


"Naga Api dan Cakra Loji adalah dua hal yang berbeda tuan, ruh Iblis api tak akan bisa menyerang tanpa perantara tubuh manusia tapi mahluk yang ada di tubuhmu hampir membunuhku beberapa waktu lalu di sisi gelap alam semesta walau tanpa perantara," sahut Minak Jinggo tiba tiba.


"Apa aku terlihat ingin bicara padamu?" Moris menoleh dan menatap tajam Minak Jinggo.


Tubuh Minak Jinggo langsung kaku seketika, dia mulai merasakan energinya terhisap sesuatu dengan cepat.


"Dia...bagaimana bisa menghisap energi milikku tanpa menyentuh?" Minak Jinggo langsung menotok beberapa titik di tubuhnya sebelum terjatuh dengan posisi berlutut.


"Segel Cakra Es? dimana kau menguasai jurus itu," Moris tiba tiba bergerak kearah Minak Jinggo, dia memunculkan kembali pedang kembar di kedua tangannya dan bersiap menyerang.

__ADS_1


"Majulah, akan aku tunjukkan padamu jika bukan hanya kau saja yang memiliki jurus terlarang!" Minak Jinggo terlihat sudah bersiap menggunakan jurus rahasianya ketika Sabrang muncul dihadapannya bersamaan dengan terhentinya waktu.


Tubuh Moris tiba tiba terhenti seketika saat Sabrang bergerak menyerang.


"Kau pikir jurus ini bisa menghentikan aku? ayah benar benar salah memilihmu!"


Mata bulan mereka bertemu seolah saling berusaha membaca gerakan masing masing, simulasi pertarungan langsung terbayang dalam pikiran mereka sebelum kedua pusaka itu berbenturan.


"Kau telah melakukan kesalahan besar nak, saat ini ruh itu terlihat tunduk padamu tapi perlahan dia akan merubah sikap dan pikiranmu tanpa kau sadari sebelum dia mengambil alih tubuhmu," Ucap Eyang Wesi.


"Kesalahan terbesarku adalah lahir sebagai keturunan Dwipa," Gerakan Moris kembali berubah, dia menghindari serangan Sabrang di detik terakhir dan menghantamkan kembali gagang pedangnya ke tubuh Sabrang.


"Gerakan ini..." Sabrang membentuk perisai tenaga dalam dan melakukan gerakan tipuan, dia berusaha mencengkeram pedang milik Moris.


"Gerakan angin merobohkan sukma," Moris berputar dengan cepat seolah waktu disekitar Sabrang melambat.


"Sial, dia menggunakan jurus itu lagi," Sabrang memaksakan mata bukannya untuk melihat gerakan jurus Moris.


Sabrang berusaha menghindari serangan itu dengan cepat. Walau tak semua serangan bisa dihindari tapi dia mulai melihat celah untuk menyerang balik.


Namun belum sempat Sabrang menyerang balik, pedang Moris sudah mengincar punggungnya.


"Tidak mungkin... bagaiman dia bisa bergerak secepat ini," umpat Sabrang kesal.


Sabrang terpaksa merubah gerakannya kembali, dia berusaha menangkis serangan itu namun lengan kiri Moris sudah mendorong gagang pedangnya.


Gerakan yang sangat cepat itu luput dari pandangan Sabrang, dia hanya bisa mengalirkan tenaga dalam untuk mengurangi efek serangan.


"Tapak Dewa Mencengkeram Langit."


Serangan itu membuat Sabrang kehilangan keseimbangan, dia mengalirkan tenaga dalam ke kaki kanannya untuk mendapatkan kembali keseimbangan sambil membentuk perisai tenaga dalam disekitarnya.


"Cakar Dewa Bumi," Sabrang berusaha mengganggu gerakan Moris namun di luar dugaan adiknya itu justru menyambut jurus tapak dengan gagang pedang di lengan kanannya.


Sebuah ledakan besar tercipta akibat benturan kekuatan keduanya, Sabrang yang menggunakan energi Megantara untuk menyerang tampak terkejut saat tubuhnya dengan mudah terlempar sedangkan adiknya tidak bergerak satu inci pun.


"Tapak Dewa Es Abadi," Sabrang membentuk perisai es dibelakangnya untuk menghentikan tubuhnya yang terlempar.


"Kau pikir bisa..." Moris menghentikan ucapannya saat merasakan sesuatu menetes dari pipinya.


Dia mengusap tetesan berwarna merah itu sebelum lidahnya menjilatinya.


"Kau berhasil melukaiku? aku benar benar meremehkan dirimu, kakang," ucap Moris pelan.


"Kita tidak harus melakukan ini Moris, kau masih bisa kembali dan menyegel Cakra Loji bersama. Ayah mungkin salah telah menitipkan dirimu pada orang lain tapi itu dilakukannya karena dia sangat menyayangi kita. Kutukan tubuh Sembilan Naga tidak bisa dihindari, jika ayah memang benar memilihku kenapa dia tidak membunuhmu sehingga kita tak mungkin lagi bisa bertemu?" bujuk Sabrang.


"Tutup mulutmu!" Moris kembali bergerak sambil menyilang kan kedua pedangnya di depan.


"Ajian Langkah Waktu? Sial, dia juga bisa menggunakan jurus itu," ucap Sabrang sebelum menyambut serangan Moris.


"Kau sudah banyak membuat kekacauan dan menghancurkan Latimojong, Cakra Loji. Kali ini akan aku pastikan kau tersegel kembali di tempat itu," Eyang Wesi melepaskan hampir seluruh energinya, untuk kedua kalinya setelah Arya Dwipa dia ingin bertaruh pada Sabrang dan menghentikan semua kekacauan ini.


Saat kedua pendekar itu bergerak bersamaan, Minak Jinggo diam diam mengalirkan energinya ke mata bulan dan Cakra Mahkotanya. Pandangannya tampak gelap sesaat sebelum kedua bola matanya berubah.


"Sial, kenapa situasi menjadi rumit seperti ini," umpat Minak Jinggo sambil mengaktifkan mata bulannya.

__ADS_1


"Dimana kau saat ini Rubah Putih?" Minak Jinggo mulai melacak keberadaan Rubah Putih menggunakan mata bulannya.


__ADS_2