Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Energi Semangat Sabrang


__ADS_3

Beberapa pendekar dari daratan lain mulai berdatangan melalui jalur hutan Paloh yang terletak disisi kiri Hujung tanah. Tampak beberapa puluh kapal bersandar yang membawa puluhan bahkan ratusan pendekar.


Umbara tampak menyambut sendiri mereka dan mengarahkan ke sebuah hutan yang cukup lebat.


"Maaf kami sedikit terlambat tuan" ucap Jakra, ketua Sekte Lentera hitam dari daratan Swarnadwipa.


"Tak masalah, masih ada waktu beberapa hari sampai seluruh sekte berkumpul disini. Beristirahatlah dan pulihkan tenaga kalian karena perang kali ini akan sangat panjang," ucap Umbara sambil mengarahkan tangannya ke puluhan kapal yang berjajar.


Dalam hitungan detik, puluhan kapal itu tiba tiba menghilang setelah Umbara mengibaskan tangannya.


Umbara menatap lautan luas dihadapannya sambil mengernyitkan dahinya.


"Para pendekar dari sekte daratan Jawata sepertinya belum ada yang terlihat, apa mereka semua terlambat" gumam Umbara dalam hati.


Tak lama seseorang muncul tepat dibelakangnya sambil menempelkan pedang ke leher Umbara.


"Kau semakin melambat Umbara" ucap Wanita itu sambil tersenyum dingin.


"Gendis, salah satu dari sembilan dewa penjaga yang paling kubenci. Apa dia yang mengirim mu kemari?," Umbara memutar pedangnya dan menyerang wanita itu dengan cepat namun tubuhnya kembali terpental saat wanita itu mengeluarkan aura aneh dari tubuhnya.


"Cih, jurus ledakan tenaga dalam Weringin ireng," ucap Umbara sambil menyarungkan pedangnya kembali.


"Komandan memerintahkanku membantumu, dia tidak ingin rencana ini gagal, kau harus mendapatkan kembali apa yang dicuri Naraya."


"Apa komandan tidak terlalu berlebihan sampai mengirim dua dewa penjaga Masalembo? aku pasti akan membawa benda itu kembali ke Masalembo."


"Kau terlalu meremehkan keturunan trah Dwipa, apa kau lupa sembilan dewa penjaga Masalembo hampir tewas saat bertarung dengan Naraya?."


"Kau menyamakan bocah ini dengan Naraya? dia adalah pendekar paling berbakat yang dimiliki trah Dwipa sedangkan anak ini baru beberapa tahun mempelajari ilmu kanuragan."


"Apa kau ingat perintah komandan? jangan pernah remehkan keturunan Dwipa karena mereka selalu bisa melewati batas saat terdesak. Tugas kita adalah membawa benda itu dan membunuhnya apapun caranya."

__ADS_1


"Kalian terlalu memandang tinggi bocah itu, lalukan sesukamu tapi jangan sentuh anak itu, dia bagianku." ucap Umbara sambil melangkah pergi.


"Kau tak pandai menyembunyikan perasaanmu Umbara, jika kau tidak takut padanya tak mungkin sampai mengumpulkan pendekar sebanyak ini. Anak itu mungkin baru belajar ilmu kanuragan selama beberapa tahun ini namun pencapaiannya seperti seorang pendekar yang sudah puluhan tahun berlatih."


***


Puluhan pendekar sekte Api dan Angin tampak memenuhi aula ruang pertemuan, mereka semua sedang mendengarkan arahan Wardhana.


Beberapa siasat perang dijabarkan oleh Wardhana secara detail termasuk rencana cadangan jika gagal ditengah pertempuran.


Wardhana kemudian menunjuk Arung, Mentari dan Candrakurama sebagai pemimpin dari beberapa kelompok yang dipecah menjadi empat.


Arung diberi tugas memimpin pasukan bayangan untuk mengejutkan musuh sebelum pasukan utama menjalankan tugasnya.


Semua rencana disalin dalam gulungan dan dibagikan pada pemimpin kelompok.


Wardhana terlihat berfikir sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.


Candrakurama langsung mengangkat tangannya, dia merasa ada yang salah dalam rencana Wardhana.


"Bukankah lebih baik kita berjaga secara sembunyi sembunyi? jika penjagaan di depan begitu mencolok aku takut akan mengundang mereka datang?" ucap Candrakurama pela.


"Memang itu yang aku inginkan, kita tidak tau mereka saat ini bersembunyi dimana, akan sangat berbahaya bertempur melawan musuh yang bersembunyi, terlebih jika kita terpancing keluar karena rencana yang kubuat sudh kusesuaikan dengan tempat ini.


Ketika penjagaan diperketat mereka akan langsung bereaksi karena menganggap kita sudah membuka gerbang terakhir, saat itu aku yakin mereka akan langsung menyerang. Pancing mereka untuk masuk kedalam sini seolah kalian benar benar terdesak."


"Apa tidak terlalu riskan jika menarik mereka masuk? kita akan terkurung didalam sini tanpa bisa keluar?."


"Untuk menangkap ikan besar kita membutuhkan umpan yang besar. Tempat ini sangat cocok untuk rencana ku, jika kita semua mengikuti rencana ku, mereka akan terkurung selamanya ditempat ini."


"Lalu apa kita akan membuka gerbang itu sebelum pertempuran tuan?," tanya Ciha.

__ADS_1


Wardhana menggeleng pelan.


"Gerbang itu adalah kunci semua masalah ini akan sangat berbahaya jika kita membukanya terlebih dahulu, kau bertugas mencari letak gerbang itu didalam gua pelangi, akan ada beberapa pendekar yang menjagamu selama didalam gua. Setelah pertempuran selesai, Yang mulia akan membuka gerbang itu."


"Baik tuan," jawab Ciha.


Setelah memastikan semua sudah mengerti peran masing masing Wardhana mendekati Sabrang dan memintanya bicara.


"Aku?," tanya Sabrang terkejut.


Wardhana mengangguk pelan "Jika perkiraan hamba benar, Masalembo akan membawa pasukan yang cukup banyak karena mereka akan menuntaskan dendam masa lalu dengan trah Dwipa. Saat ini bisa dikatakan kita kalah jumlah dan satu satunya alasan mereka tetap memiliki semangat bertarung adalah karena kehadiran anda. Jika berkenan hamba ingin memohon anda untuk mengobarkan semangat bertarung kami Yang mulia."


Sabrang terlihat berfikir sejenak sebelum menganggukkan kepalanya, dia kemudian berdiri dan menundukkan kepalanya sebelum berbicara.


"Aku adalah seorang anak biasa yang berasal dari tanah Jawata, saat ini hampir semua hal sudah kumiliki. Aku bisa saja bersikap acuh terhadap urusan dunia persilatan dan melanjutkan hidupku.


Namun aku memutuskan ikut bertarung, melawan mereka karena guruku pernah mengatakan Dalam kekuatan yang besar terdapat tanggung jawab yang besar.


Aku pernah hampir membunuh dua murid terbaik Api dan angin dalam pertarungan namun aku belajar sesuatu dari mereka berdua. Mereka tak pernah takut mati atas apa yang mereka yakini benar." Sabrang menoleh kearah Candrakurama dan Mahawira sambil menundukkan kembali.


"Kini tujuan dan musuh kita sama, sebuah organisasi yang menamakan diri Masalembo. Mereka ingin menciptakan dunia baru walau harus mengorbankan banyak nyawa. Semua orang bisa menjadi korban mereka termasuk kita semua. Aku tak bisa menjanjikan tak ada korban jiwa namun aku akan berusaha melindungi kalian dengan seluruh kekuatanku.


Hari ini aku ingin memohon pada kalian semua, bantu aku menghancurkan mereka. Ajarkan padaku tekad sekte Api dan angin yang tak pernah takut mati membela kebenaran.


Dunia persilatan tak akan bisa berubah, selalu penuh ambisi dan permainan curang namun itu jauh lebih baik dari pada tunduk pada Masalembo. Sekali lagi aku memohon pada kalian, bantu aku menyelamatkan dunia persilatan." teriak Sabrang sambil melepaskan aura ditubuhnya, dia ingin membuang semua keraguan dalam hatinya sebelum pertarungan melawan Masalembo.


Teriakan Sabrang ternyata mampu menyulut semangat juang para pendekar Api dan angin, teriakkan hancurkan Masalembo menggema diseluruh ruangan.


"Dia akan menjadi Raja yang hebat," ucap Krisna pada Wardhana.


Wardhana menggeleng pelan "Dia akan menjadi yang terhebat dalam sejarah Nuswantoro".

__ADS_1


__ADS_2