Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Daratan Yang Hilang


__ADS_3

"Tuan? apa terjadi sesuatu?" tanya Sabrang bingung saat melihat Hanggareksa berdiri menatapnya.


Sabrang kemudian menoleh kearah pendekar misterius yang juga sedang menatapnya.


"Jadi dia pengkhianat yang dikatakan paman?" ucap Sabrang yang mulai mengerti situasi.


Pendekar misterius itu berdecak kesal setelah mengetahui Hanggareksa mengenal Sabrang, kini situasinya semakin rumit karena harus berhadapan dengan dua orang.


"Dialah yang selama ini bersembunyi di balik topeng pendekar Kalang dan diam diam mengincar kitab Sabdo Loji sampai adikku harus mengorbankan diri," balas Hanggareksa geram.


Pendekar misterius itu tampak berfikir sejenak, dia terus mencari cara untuk melarikan diri.


"Apa kau sedang mencari cara melarikan diri? lupakan! tak ada yang bisa kau lakukan saat ini selain menyerah," ucap Hanggareksa mengejek.


Pendekar misterius itu tersenyum kecil sambil bersiap menyerang.


"Anda memang kuat ketua, tapi sepertinya anak ini jauh lebih mudah untuk dihadapi," pendekar itu tiba tiba bergerak menyerang Sabrang, dia merasa lebih mudah mendesaknya sebelum melarikan diri.


"Sekali lagi kau memilih jalan yang salah, dia lebih kuat dari yang kau pikirkan, aku pun tak yakin mampu mengalahkannya," Hanggareksa menggeleng pelan saat melihat pendekar itu menyerang Sabrang.


"Jurus pedang kegelapan adalah jurus tertinggi milik pendekar Kalang, walau belum menguasai sepenuhnya tapi aku yakin anak ini tak akan mampu menghadapi jurus ini. Setelah mendesaknya, aku akan melarikan diri dan bersembunyi sementara waktu," kecepatan pendekar itu tiba tiba meningkat saat aura besar meluap dari tubuhnya.


"Jurus pedang kegelapan tingkat II : Ledakan energi pedang," Pendekar itu mengayunkan pedangnya sekuat tenaga.


Sabrang terlihat tidak bergerak sedikitpun, mata bulannya membaca setiap gerakan pendekar itu dengan sempurna.


"Jadi begitu inti dari jurus pedang kegelapan," ucap Sabrang dalam hati, dia akhirnya mengerti sistem kerja jurus milik pendekar Kalang itu. Dia sebenarnya sudah mencoba meniru jurus itu saat menghadapi Hanggareksa namun tidak berhasil karena gerakan ketua pendekar kalang itu jauh lebih cepat.


"Seperti dugaanku, dia bahkan tak mampu bergerak karena bingung dengan perubahan pedangku. Matilah kau!" pendekar itu tampak percaya diri serangannya mampu melumpuhkan Sabrang.


Sabrang mengalirkan energi Naga Api ke tangannya dan bergerak menghindar di detik terakhir, dia memutar sedikit tubuhnya sebelum mencengkram pedang pendekar itu dan melepaskan tapak es utara yang membuat lawannya terdorong beberapa langkah dengan separuh tubuhnya di selimuti bongkahan es.


Pendekar itu tersentak kaget saat melihat kecepatan lawannya, matanya bahkan tidak bisa melihat kapan Sabrang bergerak.


"Dia?" pendekar itu menatap tajam Sabrang, dia mengalirkan tenaga dalam untuk menghancurkan bongkahan es di tubuhnya.


"Kau seharusnya memilihku sebagai lawan, kecepatan itu masih belum seberapa, saat bertarung dengannya kemarin aku kembali merasakan rasa takut kalah yang telah lama hilang," Hanggareksa terus memperhatikan mereka berdua.


"Kau tau, paman Wardhana adalah pengganti orang tuaku setelah ayah tewas, dia adalah orang pertama yang bersedia mengorbankan nyawanya demi diriku. Kau adalah orang yang membuat leluhur paman dicap sebagai pengkhianat, aku harus memberimu pelajaran," Sabrang memunculkan pedang Naga Api di tangannya dan langsung menggunakan ajian inti lebur saketi tingkat tiga.


Kobaran api tiba tiba menyelimuti tubuh Sabrang, mata bulannya mulai bersinar terang menandakan sang pengguna mulai mengaktifkannya.


"Satu satunya cara memberi pelajaran pada orang sepertimu adalah mengalahkan menggunakan jurus yang sama," ucap Sabrang dalam hati, dia langsung bergerak menyerang.


"Sial! situasinya semakin sulit, dia lebih kuat dari dugaanku," pendekar itu menyambut serangan Sabrang.


Pertarungan yang tidak seimbang terjadi di udara, Setiap serangan Sabrang benar benar menyudutkan lawannya. Sekuat apapun pendekar itu menghindar dan berusaha menyerang balik, semua sia sia karena lawannya seolah sudah mengetahui kemana dia akan bergerak.


Sabrang kembali merubah gerakannya untuk kesekian kali, dalam beberapa serangan dia sudah menggunakan jurus tarian rajawali dan api abadi.


Saat lawannya semakin tersudut, Sabrang tersenyum sambil memutar pedangnya, dia terlihat akan menggunakan punggung pedang untuk serangan terakhirnya.


Mata Hanggareksa dan pendekar itu terbelalak ketika mengenali gerakan Sabrang, tubuh mereka bahkan bergetar melihat jurus yang akan digunakan Sabrang.


"Jurus pedang kegelapan tingkat II : Ledakan energi pedang," Sabrang mengayunkan pedangnya.


"Dia bisa menggunakan jurus kami? apa itu mungkin?" pendekar itu mencoba menghindar namun terlambat, sabetan punggung pedang mematahkan beberapa tulang rusuknya dan melempar tubuhnya cukup jauh.


Tubuh pendekar itu membentur dinding es yang tiba tiba muncul dibelakangnya, saat dia mencoba menggerakkan tubuhnya, bongkahan es itu dengan cepat membekukan tubuhnya.


"Ilmu kanuragan milikmu sudah musnah, semoga itu bisa membuatmu sadar," Pedang ditangan Sabrang berubah menjadi kobaran api sebelum masuk ke tubuhnya.


"Jurus pedang kegelapan? tidak ini jauh lebih kuat. Bagaimana dia bisa mempelajari jurus rumit ini hanya dengan sekali lihat?" Hanggareksa tak berkedip sedikitpun.


Sabrang melangkah mendekati pendekar itu dan membuka topeng yang menutupi wajahnya.


"Kita liat, siapa dirimu sebenarnya," Sabrang melepaskan topeng itu perlahan.


"Ekawira? kau!" wajah Hanggareksa berubah seketika saat melihat orang yang dia percaya selama ini adalah dalang di balik hilangnya Arda Sukma.


Ekawira hanya tersenyum sinis sambil menatap wajah Hanggareksa.

__ADS_1


"Apa sebenarnya yang kau pikirkan Wira? tuan Agung telah memberi kita semuanya," tanya Hanggareksa menahan amarah.


"Memberi kita segalanya? dia hanya memanfaatkan kita untuk menjaga kuil khayangan saat dia sudah tidak berdaya," balas Ekawira sinis.


"Memanfaatkan kita?" tanya Hanggareksa.


"Ketua, tak pernah sedikitpun aku berfikir untuk mengkhianati Kalang tapi ada sesuatu yang jauh lebih besar dari semua ini, suatu saat anda akan mengetahui tujuanku berusaha mengambil kitab Sabdo Loji," ucap Ekawira sebelum tak sadarkan diri.


"Wira!" teriak Hanggareksa panik.


"Dia akan baik baik saja, aku hanya memusnahkan ilmu kanuragannya, beberapa tulang rusuknya mungkin patah tapi dia akan pulih," ucap Sabrang pelan.


"Terima kasih, Aku akan membawanya ke Kuil Khayangan karena bagaimanapun dia adalah keluargaku," ucap Hanggareksa sambil melangkah mendekati tubuh Ekawira.


"Tidak tuan, sebaiknya kita membawanya ke air terjun lembah pelangi," Wardhana tiba tiba muncul.


"Membawanya ke Air terjun lembah pelangi?" Hanggareksa tampak terkejut mendengar ucapan Wardhana.


"Hormat pada Yang mulia," ucap Wardhana sambil menundukkan kepalanya.


"Apa maksudmu dengan membawanya ke Air terjun Lembah pelangi?" tanya Hanggareksa kembali.


"Aku belum bisa mengatakannya saat ini tuan tapi sejak awal ada yang aneh dengan tuan Ajidarma. Izinkan aku tinggal sementara waktu untuk menyelidiki sesuatu," ucap Wardhana pelan.


"Apa yang sebenarnya sedang kau rencanakan?" tanya Hanggareksa bingung.


"Jika anda percaya padaku, aku akan menceritakan semuanya setelah semua jelas," jawab Wardhana cepat.


Hanggareksa tampak berfikir sejenak, dia menatap Wardhana cukup lama sebelum mengangguk pelan.


"Lakukanlah, aku ingin tau apa sebenarnya rencanamu," ucap Hanggareksa dingin sambil melangkah pergi.


"Yang mulia..."


"Biar aku yang membawa pendekar ini ke air terjun Lembah pelangi paman tapi sebelum itu ada pesan dari kakek Panca yang harus aku sampaikan," ucap Sabrang.


"Pesan?" tanya Wardhana cepat.


Sabrang kemudian menceritakan semua yang dikatakan Ken Panca padanya, termasuk kemungkinan sebuah peradaban yang berhubungan dengan Sabdo Loji saat ini bersembunyi di suatu tempat.


"Itu yang dikatakan kakek padaku, dia merasa semua bangunan itu menghadap ke arah matahari terbit," jawab Sabrang.


"Begitu ya, jika benar mereka meninggalkan peradabannya dengan sengaja pasti ada alasan yang sangat kuat dibalik semua ini. Benar kata tuan Panca, jika mereka terusir karena peperangan harusnya bangunan bangunan ini hancur. Sepertinya semua rahasia ada di kuil khayangan itu,“ balas Wardhana pelan.


"Berhati hatilah paman, aku merasa masalah kali ini jauh lebih sulit. Aku akan bersembunyi di sekitar danau setelah membawa tubuh pendekar ini ke Air terjun Lembah pelangi," ucap Sabrang sambil mengangkat tubuh pendekar itu.


"Yang mulia...mengenai keraton..." ucap Wardhana tiba tiba.


"Jangan khawatir paman, Arina dan Dewi sudah mengurusnya," jawab Sabrang.


"Arina?" Wardhana mengernyitkan dahinya.


"Ceritanya panjang paman, dia adalah seorang gadis yang kukenal di Swarna Dwipa," balas Sabrang.


***


Wardhana baru akan memejamkan matanya saat pintu kamarnya terbuka pelan pelan.


"Apa terjadi sesuatu?" Wardhana tampak terkejut saat melihat satu pendekar Kalang berdiri di depan pintu.


"Boleh aku masuk tuan?" bisik pendekar itu sambil menoleh ke kanan dan kirinya.


"Masuklah," jawab Wardhana pelan.


Pendekar itu masuk setelah menutup pintu kamar perlahan seperti tidak ingin ada yang tau dia bertemu dengan Wardhana.


Cukup lama pendekar itu terdiam dihadapan Wardhana, seolah ragu untuk mengatakan sesuatu.


"Apa kau hanya akan berdiri sepanjang waktu di hadapanku?" tanya Wardhana pelan.


"Maaf tuan, namaku adalah Cokro, salah satu anggota Kalang Api yang merupakan pasukan inti dari pendekar Kalang. Ada yang harus anda ketahui mengenai tempat ini," bisik Cokro hati hati.

__ADS_1


Wardhana terlihat mulai tertarik, dia memang sedang berusaha menyelidiki semua yang berhubungan dengan tempat ini.


"Mengapa kau ingin mengatakan ini padaku?bukankah ada larangan memberitahukan rahasia tempat ini pada orang luar?" tanya Wardhana curiga.


"Aku adalah adik seperguruan kakang Sukma dan kami sangat dekat sebelum dia menghilang, jika anda adalah keturunannya maka aku bicara pada orang yang tepat," jawab Cokro pelan.


"Lalu apa yang ingin kau sampaikan padaku?"


"Apa anda pernah masuk kamar tuan Agung? ada yang aneh dengan lantai kamar itu. Berbeda dengan lantai ruangan lainnya yang menggunakan batu hitam, lantai kamar tuan agung merupakan susunan pecahan batu putih yang seperti membentuk suatu simbol.


Bukan hanya itu saja, tuan Agung sudah lumpuh saat kami menemukannya terluka di hutan, saat itu kaki kirinya putus karena tebasan pedang. Namun beberapa purnama lalu, aku secara tidak sengaja melihat dia berjalan dengan kedua kakinya," bisik Cokro.


"Berjalan? bagaimana mungkin orang yang tidak memiliki kaki bisa berjalan? apa kau yakin itu dia?" tanya Wardhana bingung.


"Tidak tuan, aku yakin tidak salah lihat, itu benar benar tuan agung," jawab Cokro cepat.


"Apa mungkin dia menyembunyikan kakinya itu dengan suatu cara?"


"Itu yang aku bingung tuan, saat menemukan dia terluka, aku sendiri yang merawatnya jadi aku yakin saat itu kakinya benar benar putus," balas Cokro.


"Sepertinya pria tua itu memang menyembunyikan sesuatu," ucap Wardhana dalam hati.


"Apa kau masih ingat bagaimana susunan batu di lantai kamar tuan Ajidarma?" Wardhana makin penasaran.


"Aku tidak terlalu ingat tuan namun beberapa batu berwarna hitam yang tersusun diantara batu batu putih seolah menggambarkan empat sisi mata angin."


"Empat sisi mata angin?" Wardhana memejamkan matanya sambil memijat keningnya.


"Apa tuan Ajidarma pernah meninggalkan kamarnya" tanya Wardhana pelan.


"Hanya saat sinar purnama mencapai puncaknya tuan, dia biasanya meminta kami mengangkat tubuhnya ke puncak bangunan ini untuk menikmati keindahan sinar bulan," jawab Cokro.


"Puncak bangunan ini? apa kau bisa membawaku ke puncak itu?" tanya Wardhana


"Aku tidak yakin tuan, karena puncak Kuil khayangan hanya untuk ketua pendekar Kalang."


"Ketua pendekar Kalang? berarti aku bisa meminta izin pada kakek Hanggareksa," ucap Wardhana dalam hati sambil menghitung sesuatu dengan tangannya.


"Dua hari lagi purnama mencapai puncaknya, aku harus memeriksa dua tempat itu sebelum bulan purnama muncul," ucapnya dalam hati.


"Boleh aku bertanya padamu?" tanya Wardhana pelan.


Cokro mengangguk cepat, "Silahkan tuan."


"Kau tadi mengatakan memiliki hubungan yang sangat dekat dengan leluhurku bukan? apa kau melihat keanehan sebelum dia menghilang?" tanya Wardhana.


"Sebenarnya..." Cokro mendekatkan wajahnya di telinga Wardhana. "Sehari sebelum menghilang, kakang bertengkar hebat dengan tuan Agung di kamarnya. Itu sangat membingungkan karena selama aku mengenalnya, kakang tak pernah melawan walaupun tuan Agung memarahinya.


Aku tidak terlalu mendengar apa yang mereka bicarakan tapi ada satu kata yang paling kuingat. Kakang berkali kali berteriak jika peradaban itu tidak tenggelam, semua hanya cara untuk menyembunyikan sesuatu," jawab Cokro bingung.


"Peradaban itu? mungkinkah peradaban terlarang yang disebutkan tuan Hanggareksa?" ucap Wardhana pelan.


"Peradaban terlarang hanya sebuah sebutan yang digunakan oleh tuan agung untuk menyamarkan sebuah daratan yang sangat maju, tuan Agung pernah menyebutnya sebagai daratan yang hilang," bisik Cokro.


"Daratan yang hilang?" tanya Wardhana cepat.


"Tuan, mohon jangan bicara terlalu keras, nama itu sangat dilarang disebut di Kuil suci," balas Cokro cepat.


Wardhana terdiam sesaat, dia mulai menyatukan kepingan kepingan misteri dari pesan yang disampaikan Ken Panca dalam kepalanya.


"Boleh aku meminta sesuatu padamu?" tanya Wardhana tiba tiba.


"Katakan tuan," balas Cokro cepat.


Wardhana kemudian membisikkan sesuatu di telinga Cokro.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hari ini update lebih siang karena nanti saya akan keluar kota.. tapi besok tetap ada Chapter bonus di malam minggu


Pedang Naga Api sedang mengikuti lomba Update Tim yang hadiahnya berupa baner opening promosi di Mangatoon untuk menarik pembaca.

__ADS_1


Berikan Vote kalian di list berwarna biru itu, maka Vote kalian otomatis akan masuk kedalam Vote lomba dan juga Vote reguler tanpa dikurangi sedikitpun. Terima kasih atas dukungannya....



__ADS_2