
Kertasura menggebrak meja, wajahnya memerah menahan amarah dia menatap Lingga maheswara tajam.
"Bagaimana mungkin Iblis hitam dijadikan kambing hitam atas hancurnya Elang putih".
"Beberapa orang telah ku kirim untuk mencari tau kebenaran kabar hancurnya sekte Elang putih ketua".
"Tidak, aku ingin kau sendiri yang mencari tau siapa yang telah memfitnah Iblis hitam. Bunuh jika kau telah menemukan pelakunya".
"Baik ketua" Lingga mengangguk pelan.
"Lalu bagaimana reaksi Aliran putih atas kabar ini?".
"Kabar yang kudengar beberapa tokoh aliran putih mengadakan pertemuan mendadak di sekte Tapak es Utara, sepertinya mereka membahas masalah ini".
Kertasura memejamkan matanya, "Sudah kuduga ada yang ingin mengadu domba kita dengan Aliran putih. Sejak perjanjian enam belas tahun yang lalu tidak ada yang secara terbuka menghancurkan sebuah sekte baik dari aliran putih maupun aliran hitam. Ini bukan masalah yang kecil, akan terjadi perang besar antara aliran putih maupun hitam jika tidak segera diatasi".
"Anda sepertinya menghawatirkan sesuatu ketua?". Lingga merasa Kertasura tidak seperti biasanya yang tidak pernah takut akan apapun.
"Masalah ini muncul saat kabar Lembah Siluman mulai bangkit, jika perang besar benar benar terjadi antara kita dengan aliran putih walaupun kita menang namun pasti akan banyak korban berjatuhan dan jika Lembah siluman benar benar muncul mereka akan dengan mudah menghancurkan kita. Saat itu terjadi bukankah menang ataupun kalah akan sama saja?".
"Apakah Lembah siluman dalang dibalik semua ini ketua?".
"Aku belum tau namun siapapun dalang dibalik semua ini dia berusaha mengambil keuntungan permusuhan antara dua aliran ini".
Lingga menganggukan kepalanya, setelah bertarung dengan pendekar misterius itu Lingga merasa hubungan aliran putih dan hitam semakin meruncing.
"Pergilah ke sekte Elang putih dan cari tau siapa pelakunya, aku akan mencoba berbicara dengan Sudarta mengenai masalah ini. Dia biasanya selalu memggunakan pikiran jernih dalam menyikapi sesuatu".
Lingga terkejut mendengar perkataan Kertasura "Anda akan pergi ke Sekte tapak es utara?".
"Kali ini kita tidak mempunyai pilihan lain, Aku akan mengambil resiko yang lebih kecil daripada harus berperang habis habisan saat para pendekar misterius bermunculan di mana mana".
"Tapi ketua......".
"Tak perlu khawatir Lingga, Aku telah menguasai Jurus Pedang langit secara sempurna seharusnya aku bisa mengimbangi mereka".
"Baik ketua".
***
"Jadi beberapa tokoh aliran putih berkumpul di Sekte tapak es utara?".
Wardhana mengangguk pelan "Aku mendapat kabar dari Lembu sora jika Ki Ageng dan Ki Sudarta terlihat menuju ke Pulau es utara".
"Kakek ke Sekte tapak es utara?" Sabrang mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Sepertinya masalah hancurnya Elang putih akan memicu perang besar antara aliran dunia persilatan" Wardhana menggeleng pelan.
"Mereka pantas dihancurkan!" Wijaya berkata penuh amarah.
"Maaf tuan jika berkenan aku ingin menyampaikan sesuatu" Wardhana berkata sedikit ragu melihat Wijaya penuh emosi.
"Katakan paman".
"Maaf pangeran aku merasa ada ada yang sedikit aneh dengan penyerangan Sekte elang putih" Wardhana berkata pelan.
"Kau tidak usah ikut campur, ini urusan dunia persilatan!".
"Tapi tuan.....".
"Kau urus saja rencana merebut Malwageni!" Suara Wijaya meninggi.
"Aku hanya mencoba membantu, kenapa anda berteriak padaku" Wardhana mulai tersulut emosinya
"Sudah jelas Iblis hitam yang melakukannya, dia ingin menghancurkan semua yang berhubungan denganku"
"Cukup!!!!" Sabrang berteriak menatap tajam Wijaya dan Wardhana.
"Paman tidak memandangku lagi?" Sabrang mengeluarkan aura Naga api
Wijaya dan Wardhana terdiam seketika "Hamba tidak berani Pangeran" Wardhana dan Wijaya berkata hampir bersamaan.
Wijaya menggelengkan kepalanya "Tidak pangeran".
"Baiklah, sekarang katakan apa yang paman ingin sampaikan?" Sabrang menatap Wardhana.
"Maaf pangeran hamba merasa ada yang aneh dengan penyerangan ini. Jika hampir seluruh penghuni Sekte elang putih dibunuh kenapa mereka menyisakan satu orang untuk menyampaikan kabar jika Iblis hitam menghancurkan mereka?.
Apakah mereka memang ingin berperang dengan aliran putih? Bukankah akan lebih mudah bagi mereka menghancurkan Sekte aliran putih secara diam diam daripada mengumumkan perang dan memberi kesempatan pada aliran putih untuk bersiap.
Jika aku menjadi Iblis hitam aku akan tetap diam diam menyerang daripada mengumumkan perang dan beresiko menghadapi aliansi aliran putih".
Sabrang menganggukkan kepalanya "Bagaimana paman? bukankah memang ada yang aneh?"
Wijaya mengangguk pelan, kini raut wajahnya mulai berubah. "Bagaimana jika memang ini rencana seseorang mengadu domba kita dengan aliran hitam dan saat kita habis habisan berperang dengan aliran hitam, mereka akan mengambil keuntungan. bukankah menang atau kalah semua sama saja saat itu?".
Wijaya terdiam tak berani menatap Sabrang, dia menyadari jika terbawa emosi dan hampir mengambil keputusan yang salah.
"Baiklah begini saja, paman Wardhana bisa mengusahakan mencari keberadaan murid yang selamat itu? dialah kunci dari semua masalah ini?".
"Hamba akan usahakan Pangeran, tak sulit mencari keberadaanya karena kabar ini tersebar pertama kali di Kadipaten Kediri. Hamba yakin dia belum jauh dari sana".
__ADS_1
"Aku ingin paman mencarinya bagaimanapun caranya dan membawanya ke Sekte tapak es utara. Namun paman jangan terlalu memaksakan diri jika kemampuannya diatas paman lebih baik mencari bantuan terdekat. Aku akan pergi ke Sekte tapak es utara bersama paman Wijaya untuk mencegah mereka mengambil keputusan terburu buru, semoga kakek mau mendengar pendapatku".
"Hamba menerima perintah" Wardhana menundukan kepalanya.
"Dan maaf untuk paman Wijaya saat ini paman belum bisa mengambil keputusan yang jernih, Masalah ini biar paman Wardhana yang mengurusnya, aku takut jika masalah ini dapat mengganggu rencana kita jika tidak disikapi dengan baik".
"Hamba menerima perintah" Wijaya berkata sambil menundukan kepalanya, kali ini dia benar benar merasa malu pada Sabrang.
***
"Selamat datang tetua" Mantili menyambut kedatangan Beberapa tetua dari sekte aliran putih. Terlihat Ki Ageng, Sudarta dan beberapa saat kemudian ki Gandana terlihat muncul.
"Terima kasih atas sambutannya tetua" Ki Ageng menundukan kepalanya memberi hormat.
"Apakah Wulan sari berhalangan hadir?".
"Ah nona Wulan sedang dalam perjalanan kemari tetua, dia ada urusan disuatu tempat bersama Guru Suliwa.
"Suliwa akan ikut hadir?" Mantili mengernyitkan dahinya.
Ki Ageng menganggukan kepalanya "Dia ingin menjelaskan sesuatu mengenai Sekte Lembah Siluman".
"Lembah siluman? Jadi benar jika mereka berusaha bangkit kembali?".
"Aku belum tau tetua namun jika guru Suliwa memutuskan kembali kedunia persilatan sepertinya ada masalah besar".
"Baiklah akan lebih baik jika dia ikut pertemuan ini, konflik Aliran hitam dan putih akhir akhir ini semakin memanas, di tambah dengan hancurnya Sekte Elang putih aku takut perang ini tak terelakan lagi".
Semua terdiam mendengar perkataan Mantili, mereka sadar jika perang antar aliran benar benar pecah maka dunia persilatan akan kacau.
"Tolong antarkan mereka ke kamarnya" Mantili berbicara kepada salah satu muridnya
"Baik guru"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
***JANGAN LUPA VOTE VOTE DAN VOTE
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Vote dan Like Novel Pedang Naga Api jika menurut teman teman novel ini menarik untuk dibaca
Dukung juga penulis di
Karyakarsa. com /RickypakeC
__ADS_1
dengan memberikan vote dan dukungan dalam bentuk lainnya
Terima kasih atas dukungan teman teman semua 🙏🙏***