Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pertempuran di mulai II


__ADS_3

"Cepat sekali gerakan wanita ini, siapa dia?" Salah satu pendekar terpanan melihat gerakan pesang Lasmini. Dia memandang sekelilingnya terlihat teman temannya tersungkur di tanah.


"Nah sekarang tinggal tersisa satu, ada yang ingin aku tanyakan padamu". Lasmini berjalan santai ke arah pendekar tersebut.


Raut ketakutan nampak di wajah pendekar tersebut, tubuhnya gemetar membayangkan ketajaman pedang Lasmini.


"Tunjukan padaku letak pertemuan kalian dengan Lembah Tengkorak, atau aku akan mencarinya sendiri setelah kulepaskan kepala dari tubuhmu?" Lasmini menatap pendekar tersebut tajam.


Tanpa menunggu lama pendekar tersebut menunjukan jalan yang diminta Lasmini.


..................................


"Tetua Damarsunu memang bijaksana tak salah Lembah tengkorak bekerja sama dengan anda".


Senyum di bibir Damarsunu merekah menerima sanjungan tersebut.


"Ah tuan Dayun pandai bicara, harusnya kami sebagai sekte kecil yang bangga Lembah tengkorak sudi mengulurkan tangannya".


Dayun tersenyum lebar kepada Damarsunu.


"Yang Mulia Raja memang sedang mencari pendekar pendekar tangguh untuk mendukungnya menguasai Nusantara dan tidak ada pendekar yang lebih pantas ku rekomendasikan pada yang mulia selain anda".


"Jika demikian aku mohon bantuan anda tuan Dayun". Wajah Damarsunu makin berbinar binar.


"Anda tak perlu sungkan tetua" Wajah Dayun terlihat sedang merencanakan sesuatu.


"Ku dengar Yang mulia sedang merencanakan menyerang kerajaan Saunggalah tuan, jika aku bisa ikut berperang aku akan melakukan yang terbaik untuk yang mulia".


"Ah pengetahuan tetua begitu luas, aku akan mencoba berbicara dengan Yang mulia" Dayun tersenyum lembut. Ada sedikit raut kegelisahan di wajah Dayun, matanya seperti sedang mencari sesuatu.


"Maaf tetua, apakah aku sudah dapat melihat kitab Golok terbang sebagai syarat perjanjian dengan Lembah tengkorak".


"Ahh Lembah tengkorak sangat terburu buru, tapi baiklah aku akan mengambilnya sejenak" Damarsunu menoleh ke arah anak buahnya yang berjaga di sekeliling ruangan.


"Tolong ambilkan kitab Golok terbang sesuai permintaan tuan Dayun".


"Baik ketua".


"Apakah Yang mulia serius untuk menyerang Kerajaan Saunggalah tuan? Bukankah kerajaan tersebut sangat kuat bahkan mereka kabarnya didukung Pendekar dari kekaisaran Ming".


"Anda benar tetua, itulah kenapa yang mulia ingin mengumpulkan pendekar pendekar terhebat agar bisa mengimbangi kekuatan Saunggalah".


"Yang mulia memang pintar, berpikir maju kedepan" Damarsunu kembali tertawa keras. Tak lama salah satu muridnya membawa sebuah Kitab di tangannya.


"Ah ini kitab yang aku janjikan pada anda tuan" Damarsunu menyerahkan kitab pada Dayun.


Mata Dayun berbinar menerima kitab tersebut, dia membuka perlahan kitab yang ada di tangannya.


"Kitab Golok terbang merupakan salah satu kitab terbaik tuan, terdapat 14 tingkatan jurus. Namun yang paling menarik dari kitab ini adalah anda dapat membentuk membuat Golok atau pedang dari tenaga dalam anda".

__ADS_1


Senyum di wajah Dayun makin melebar mendengar kehebatan kitab tersebut.


"Tak kusangka kehebatan jurus ini sesua dengan yang kudengar, Yang mulia akan sangat berterima kasih pada anda tetua". Dayun menutup kitab tersebut.


"Kitab ini dapat membantu Yang mulia menaklukan Saunggalah".


.......................................


"Semoga masih sempat" Nilam sari berjalan cepat menuju tempat pertemuan ayahnya dengan Lembah tengkorak. Kali ini dia menggunakan baju pendekar untuk memudahkannya masuk ruang pertemuan.


Saat ruang pertemuan mulai terlihat dua orang pendekar menahan langkahnya.


"Berhenti di sana, Sepertinya aku belum pernah melihatmu?". Nilam sari terkejut mendengar suara tersebut, dia menghentikan langkahnya.


"Harusnya mereka tidak mengenaliku, bagaimana bisa mereka menghentikanku" Timbul rasa khawatir dalam diri Nilam sari.


Nilam sari memang bukan pendekar hebat layaknya Lasmini. Nilam lebih tertarik pada pengumpulan informasi karena dia menganggap informasi dalam pertarungan lebih tajam dari Pedang apapun.


Dia dapat menganalisis kemampuan lawan dan pergerakan mereka.


"Kenapa kau diam saja? Dari mana kau berasal?" Pendekar tersebut berjalan mendekati Nilam sari. Raut wajah Nilam sari mulai berubah, tangannya telah siap memegang pedang dipinggangnya.


Saat pendekar tersebut sudah berdiri dihadapannya, Nilam sari mencabut pedangnya dan mengayunkannya kearah Pendekar tersebut.


Menyadari gerakan Nilam pendekar tersebut mundur beberapa langkah "Siapa kau berani mencari masalah di Kencana Ungu. Lumpukan dia".


Beberapa pendekar langsung menyerang Nilam sari dengan cepat.


Tak bertahan lama Nilam sari mulai terdesak karena lawan yang dihadapinya termasuk pendekar Ahli.


Tiba tiba sesosok tubuh melesat cepat ke arah pertarungan mereka.


"Tarian Rajawali tingkat III" Lasmini menyerang dengan kekuatan penuh. Dia dapat merasakan kemampuan pendekar dihadapannya jauh lebih tinggi dari yang dihadapinya tadi.


Beberapa pendekar terpukul mundur beberapa langkah, mereka mengerang kesakitan.


"Pantas kau dijuluki Pendekar wanita terkuat, kemampuanmu sangat mengagumkan" seseorang berjalan mendekatinya.


Lasmini sedikit terkejut melihat wanita dihadapanya


"Sintawati dari racun selatan, ku dengar kau sudah mati dibunuh Gurumu sendiri".


Lasmini mengenali wanita dihadapannya. Dia pernah berhadapan dengan Sintawati beberapa kali.


"Si tua itu memang menyebalkan, suatu saat aku akan membunuhnya. Sekarang yang terpenting adalah membunuhmu terlebih dahulu".


Lasmini tersenyum kecil, dia merapal kuda kuda "Aku belum berencana mati ditempat ini" Lasmini bergerak maju menyerang Sintawati.


Sintawati menyambut serangan Lasmini dengan pedangnya, dia meningkatkan kecepatan untuk mengimbangi gerakan Lasmini yang sangat cepat.

__ADS_1


"Gerakanmu sangat cepat seperti biasa, namun aku bukan Sintawati yang kau temui beberapa tahun lalu".


Sintawati melompat mundur, tangannya memgambil jarum di sakunya. dia mengalirkan tenaga dalamnya ke jarum yang dipegangnya.


Sintawati bergerak maju dengan kecepatan penuh sambil melempar jarum beracun ke arah Lasmini.


"Kau masih menggunakan mainan yang berbahaya". Lasmini mundur mencoba menghindari jarum beracun tersebut.


namun tiba tiba Tubuh Sintawati sudah berada di belakangnya. Lasmini mencoba menghindari serangan pedang dan jarum milik Sintawati secara bersamaan. Kecepatan jarum milik Sintawati memang sangat mengagumkan, terlihat Lasmini sedikit kesulitan menghindar jarum beracun tersebut.


"Kekuatannya jauh lebih besar dari saat terakhir aku bertemu dengannya, aku harus berhati hati terutama dengan Jarum beracunnya".


"Rajawali Mencengkram Mangsa" Lasmini menyerang kembali dengan kecepatan tinggi. Aura putih terlihat menyelimuti tubuhnya.


"Jurus ini selalu membuat masalah buatku" Sintawati mundur beberapa langkah, dia memutar pedangnya membentuk lingkaran


"Perisai Lembah Tengkorak" DUAAAAAAR Tenaga dalam yang besar bertabrakan di udara. Sintawati terpental beberapa meter begitu juga dengan Lasmini.


"Ku akui Ilmu mu jauh di atasku, tapi kau melupakan satu hal". Sintawati menoleh ke arah Nilam sari yang sedang bertarung dengan Pendekar lembah tengkorak. Tubuh Nilam sari penuh dengan luka pedang.


"Celaka aku terlalu fokus pada jarum beracunnya, aku melupakan nona Nilam" Lasmini menyadari terah masuk perangkap Sintawati.


"Ucapkan selamat tinggal pada temanmu" Sintawati tertawa lantang melihat Lasmini masuk perangkapnya.


Tubuh salah satu pendekar Lembah tengkorak melesat ke arah Nilam sari dengan kecepatan tinggi.


"Apakah aku akan berakhir di sini? Ambisimu telah mengorbankan putrimu ayah". Nilam sari memejamkan matanya, tenaganya sudah habis terkuras bahkan untuk bergerakpun dia harus bersusah payah.


"Sisanya kuserahkan pada anda Tuan Wijaya".


Saat serangan Pedang sudah hampir mengenai tubuhnya tiba tiba Pendekar yang menyerang Nilam sari tiba tiba berhenti mematung.


"Apa yang terjadi dengan tubuhku? Kenapa aku tidak dapat mengendalikannya". Pendekar tersebut bergerak mundur perlahan kemudian mengarahkan pedangnya kearah Pendekar lainnya.


"Hei kau sudah gila? Kenapa kau mau menyerang temanmu?" Teriak Sintawati dengan penuh emosi.


"Harus kuakui jurus ini sangat mengerikan, aku bahkan belum sepenuhnya menguasai". Dua orang muncul dari atas genting.


"Ku kira jurus ini hanya dapat digunakan disiang hari, ternyata selama ada bayangan jurus ini bekerja dengan baik"


Sabrang melangkah perlahan bersama Mentari, tangannya terlihat sedang mengendalikan tubuh Pendekar yang menyerang Nilam sari seperti mengendalikan boneka.


"Pangeran" Lasmini mengenali orang yang ada dihadapannya.


"Ah bibi maaf terlambat" Sabrang menunduk memberi hormat.


"Nona tolong periksa luka nona Nilam, aku akan membereskan sisanya bersama bibi".


Mentari mengangguk dan melangkah ke arah Nilam sari.

__ADS_1


"Baiklah kita liat apalagi yang dapat dilakukan jurus ini. JURUS SEGEL BAYANGAN"


__ADS_2