
"Kau merasakannya?". Naga api berbicara seolah tau apa yang menggangu pikiran Anom.
Anom mengangguk pelan, dia sempat mengira perubahan sikap Sabrang akibat ulah Naga api yang kembali merasuki Sabrang namun ternyata Naga api lah yang menekan Sabrang untuk tetap sadar.
"Jadi mata itu mulai bereaksi?".
"Mata bulan bereaksi pada kekuatanku, itulah kenapa kebangkitannya lebih cepat dari yang kita perkirakan. Aku mulai menyadarinya saat dia bisa menggunakan kekuatanku dengan bebas, mata bulan meningkatkan ilmu kanuragannya berkali kali lipat namun perlahan dia mulai mempengaruhi sifat penggunanya. Mata itu tak akan berhenti sampai energi kehidupan anak ini habis dan menguasainya".
"Dan kau masih bisa bicara santai? apa yang kau pikirkan?". Anom menghardik Naga api.
"Aku sudah memperhitungkannya saat menerimanya sebagai tuanku. Sudah takdir pemilik tubuh 7 bintang untuk mengaktifkan mata bulan, aku akan mengatasinya saat kita berada di Dieng. Untuk saat ini aku akan menekannya sementara dengan kekuatanku agar anak ini tidak berubah menjadi Iblis. Lagi pula sudah lama aku tidak melihat kekuatan mata bulan".
"Kau menikmatinya?". Anom menatap tajam Naga api.
Naga api hanya terkekeh mendengar ucapan Anom.
"Kurang ajar! Hampir saja aku mati". Daniswara mengumpat dalam hati. Dia tidak bisa membayangkan jika tadi terlambat menghindar.
Daniswara mengatur nafasnya sambil menatap Golok iblis abadi yang sedang menyerap energi jahat disekitarnya.
"Apa hanya ini kekuatanmu? kau benar benar mengecewakanku". Sabrang melempar pedangnya keudara. Naga api berputar kencang diatas kepalanya membentuk bola api.
"Anak ini benar benar berubah". Lingga menatap ngeri kobaran api dihadapannya.
Lingga mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk segera menghabisi puluhan Pendekar dihadapannya. Dia ingin segera menjauh dari tempat pertarungan karena tidak tau apa yang akan dilakukan Sabrang.
Lingga merasa dengan kekuatan yang dimiliki Sabrang, dia bisa menghabisi Daniswara dalam puluhan jurus namun Sabrang seolah menikmati pertarungan dengan terus menghancurkan mental lawan perlahan bagai harimau yang mempermainkan mangsanya.
"Cepat menjauh dari sini". Lingga berteriak pada Mentari sambil bergerak membunuh pendekar yang terus mengepungnya.
"Sudah lama aku tidak merasakan sensasi ini". Lingga terlihat mencium darah yang ada disekujur tubuhnya, puluhan pendekar dibantainya dalam beberapa kali serangan.
Mentari melompat kearah Ciha dan Astaguna yang mematung melihat dua pendekar dihadapannya.
"Ayo ikut denganku, kita harus menjauh secepatnya". Mentari melesat cepat diikuti Astaguna dan Ciha dibelakangnya.
__ADS_1
"Ada apa nona?". Astaguna bertanya penasaran saat mereka sudah cukup jauh dari area pertempuran.
Mentari hanya menggeleng pelan sambil sesekali menatap Lingga yang terus mengambil nyawa para pendekar bertopeng yang menyerangnya.
Namun bukan itu yang mengganggu pikirannya. Sikap Sabrang yang terlihat menikmati pertarungan sambil tersenyum dingin yang membuatnya bergidik.
"Aku ingin kau keluarkan seluruh kemampuanmu". Sabrang melangkah santai kearah Daniswara. Kedua tangannya diselimuti kobaran api berbentuk kepala Naga. Diatas kepalanya Pedang Naga api berputar makin cepat mengikuti kemana Sabrang melangkah.
"Aku tidak tau apa yang kau rencanakan namun membiarkanku mengumpulkan kekuatan benar benar kesalahan terbesarmu". Daniswara menatap goloknya yang diselimuti aura hitam pekat.
"Panca geni tingkat 5 : Energi api membakar jiwa". Daniswara menggunakan ajian panca geni tingkat 5 untuk meningkatkan tenaga dalamnya. Tak lama bebetuan disekitarnya berterbangan menandakan tekanan tenaga dalam Daniswara benar benar kuat.
"Apa kau takut? itu hanya dasar ilmu pancageni". Ucap Naga api setelah melihat Sabrang berhenti melangkah.
"Aku hanya memastikan teman temanku sudah menjauh". Sabrang kembali melangkah.
Daniswara mengayunkan goloknya tiba tiba kearah Sabrang, dia ingin segera mengakhiri pertarungan ini karena tidak tau sampai kapan tubuhnya mampu menggunakan ajian panca geni.
Sabrang menyambut serangan dengan kedua tangannya yang diselimuti api merah. Keduanya kembali bertukar jurus, Tinju kilat hitam yang digunakan Sabrang mengeluarkan bola api membuat Daniswara sedikit kereporan menghindari serangan itu.
Daniswara bergerak lebih cepat dari sebelumnya memanfaatkan ajian energi api membakar jiwa dan dalam sekejap sudah berada di belakang Sabrang. Saat dia berusaha mengayunkan goloknya sekuat tenaga sebuah sabetan pedang menghantamnya membuat tubuhnya terpental.
"Tinju Kilat hitam".
"Bagaimana bisa.....". Saat Daniswara hendak memutar tubuhnya, serangan Sabrang lebih dulu menghantam tubuhnya.
"Bangunlah". Sabrang tersenyum mengejek sambil menatap Daniswara.
"Ku bunuh kau". Daniswara kembali menyeranga dengan cepat. Kini kepalanya dipenuhi amarah karena merasa dipermainkan oleh Sabrang. Matanya mulai memerah mendandakan tubuhnya sudah hampir mencapai batasnya namun Energi api membakar jiwa terus memaksanya bergerak.
Setiap serangan Daniswara sebenarnya semakin lama semakin cepat dan bervariasi namun Mata bulan selalu melihat satu detik lebih cepat membuat serangan Daniswara terlihat lambat. Saat Daniswara merubah serangannya untuk mengicar titik buta Sabrang, dia kembali terpental karena Sabrang muncul satu detik lebih cepat dihadapannya.
"Kenapa kau tidak cepat mengakhirinya?". Anom berbicara dipikiran Sabrang, dia mulai terganggu dengan sikap Sabrang.
Sabrang hanya tersenyum sambil melepaskan beberapa tinju kilat hitam ketubuh Daniswara yang membuatnya kembali terpental.
__ADS_1
"Kau harus cepat mengakhirinya atau seluruh wilayah sekte ini akan terbakar karena ulahmu". Anom benar benar tak bisa mentolerir sikap Sabrang kali ini walau dia tau Sabrang sedikit terpengaruh oleh mata bulan.
Sabrang menggeleng kesal seolah Anom mengganggu kesenangannya namun dia sadar ucapan Anom benar. Separuh area berlatih Kelompok lintang gubuk telah hangus oleh kobaran api ditubuhnya.
"Baiklah". Tangan Sabrang mengarah ke Daniswara seperti sedang membidik, tak lama keris penguasa kegelapan terbentuk di tangannya.
Daniswara merasakan perubahan dalam diri Sabrang, kini dia yakin Sabrang benar benar berniat membunuhnya. Dia berusaha secepatnya mengumpulkan energi alam kedalam pedangnya.
Sabrang tersenyum sesaat sebelum bergerak cepat menyerang Daniswara namun dia sedikit terkejut karena Daniswara tiba tiba muncul dibelakangnya.
"Lumayan, sedikit lebih cepat dari mataku". Sabrang memutar tubuhnya cepat dan menangkis golok Daniswara dengan keris penguasa kegelapan. "Namun tidak lebih cepat dari gerakanku".
Belum sempat mencerna maksud ucapan Sabrang, keris penguasa kegelapan telah bersarang ditubuhnya saat dia mencoba melompat mundur.
Daniswara menoleh kebelakang dan menemukan Sabrang tersenyum dingin padanya.
"Dia...". Daniswara yakin beberapa detik lalu Sabrang berada dihadapannya, bagaimana bisa dia kini berada dibelakangnya.
"Kita akan mati bersama". Daniswara yang telah putus asa mencengkram keris penguasa kegelapan yang bersarang ditubuhnya membuat Sabrang sulit untuk mencabutnya. Dia sekuat tenaga menebas Sabrang dengan goloknya.
"Aku belum berencana mati saat ini". Sabrang melepas keris itu dan menghilang dari pandangan sehingga tebasan golok Daniswara hanya membelah udara disekitarnya.
Tak lama keris yang menancap di tubuhnya berubah menjadi aura hitam dan melesat masuk ketubuh Sabrang yang kini melayang diudara.
Lingga bergerak cepat menjauh saat merasakan udara disekitarnya naik dengan cepat.
"Sial". Umpat Lingga dalam hati.
Sabrang menangkap Pedang Naga api yang mendekatinya. Dia kemudian mengayunkan pedangnya sekuat tenaga.
"Badai Api Neraka". Kobaran api merah darah melesat kearah Daniswara yang sedang membuat pelindung api.
Tak butuh waktu lama bagi kobaran api untuk menembus pelindung api dan membakar habis Daniswara tanpa sisa.
Lingga hanya mematung melihat ledakan yang sangat besar terjadi didepan matanya. Dia kemudian menatap Sabrang yang masih melayang diudara sambil menggeleng pelan.
__ADS_1
"Sampai kapan dia akan terus berkembang?".
"Itukah kekuatan Naga api?". Astaguna menatap tanpa berkedip.