
Semua orang menahan nafas melihat Kekuatan Pedang Naga Api, hari ini mereka semua menjadi saksi munculnya kembali Pedang Naga Api ke dunia persilatan. Ki Ageng menatap Sabrang cemas, dia masih mengingat dengan jelas saat Suliwa membantai para pendekar dunia persilatan dengan jurus yang sama seperti yang digunakan Sabrang. Dia takut jika muridnya berubah menjadi bengis dan haus darah seperti gurunya.
Melihat Sudita hangus menjadi debu beberapa pendekar lainnya bergerak menyerang Sabrang, ada sepuluh pendekar menengah bergerak bersama. Ki Barja terkejut melihat anak buahnya bergerak mendekati Sabrang. “Hentikan, jangan mendekatinya”. Tetapi perkataan ki Barja sudah terlambat. Mereka sudah berada didekat Sabrang. Sabrang menoleh sekelilingnya, dia sudah dikepung oleh pendekar aliran hitam yang siap menyerangnya.
Sabrang mengayunkan pedangnya membentuk lingkaran dan seketika kobaran api membakar semua yang ada disekitarnya. Belum sempat menyadari apa yang terjadi sepuluh pendekar tersebut telah hangus menjadi debu. Semua pendekar aliran hitam yang tersisa mematung ketakutan. Ki barja menggeleng pelan “ Ilmu ini sama seperti yang digunakan Suliwa puluhan tahun lalu. Siapa anak ini sebenarnya?”.
Tiba tiba kobaran api yang menyelimuti Pedang Naga Api mengecil dan menghilang. Terlihat sabrang mengatur nafasnya, dia memandang pedang yang digenggamnya “ Kekuatan ini sangat mengerikan, menghabiskan hampir seluruh tenagaku”. Kemudian tubuh Sabrang ambruk di tanah tak sadarkan diri.
Beberapa pendekar aliran hitam melihat ini sebagai kesempatan untuk menyerang. Mereka melesat mendekat ke arah Sabrang. Menyadari muridnya dalam bahaya ki Ageng mencoba menyelamatkan Sabrang tetapi gerakan ki Barja lebih cepat menghalanginya. Dia menyerang ki Ageng dengan sekuat tenaga membuat ki Ageng terpaksa mundur beberapa langkah. "Aku lawanmu" ki Barja kembali menyerang tanpa memberi nafas pada ki Ageng.
"Mati kau" Sesaat sebelum pedang menyentuh tubuh Sabrang tiba tiba tubuh mereka mematung tak bisa digerakkan. "Apa yang terjadi, kenapa tubuh ku tidak dapat digerakkan?". Beberapa pendekar yang berniat membunuh Sabrang saling menatap satu sama lain. Angin dingin tiba tiba berhembus di tubuh mereka. "Pisau angin peremuk tulang", seketika tubuh mereka ambruk dengan luka di sekujur tubuh.
__ADS_1
Ki Barja terkejut melihatnya, dia sangat mengenali jurus yang menyerang anak buahnya. Dia mundur beberapa langkah menjauh dari ki Ageng. Dia melihat sekeliling dengan waspada "Jurus ini milik Kelompok Teratai Merah. Akan sangat merepotkan jika aku menghadapinya".
"Kekuatan yang sangat mengerikan, sampai detik ini aku selalu di buat kagum oleh Naga Api" Seorang wanita berambut putih tiba tiba muncul dari atas. Dia melayang di udara seolah memiliki sayap. Ki Ageng sedikit terkejut melihat wanita tersebut, dia mengamati wanita tersebut dengan tatapan waspada. "Sejak kapan dia ada di sini? Aku bahkan tidak merasakan kehadirannya"
Wanita tersebut mendarat tepat di sebelah Sabrang yang tak sadarkan diri. dia menundukkan kepalanya memberi hormat pada Ki Ageng "Izinkan aku bermain sedikit bersama mereka tetua". Wulan sari tersenyum lembut. Ki Ageng mematung tak menjawab, dia masih berusaha memahami situasi. Dia mencoba mengingat ingat siapa wanita berambut putih dihadapannya. Wulan sari menatap ki Barja dengan tatapan dingin.
"Aku lawanmu tua bangka" Aura putih menyelimuti tubuh Wulan sari menekan semua yang ada di sana. Angin dingin kembali berhembus dan seperti sebelumnya beberapa pendekar kembali ambruk ke tanah dengan luka di sekujur tubuhnya.
Ki barja memberi perintah untuk mundur. “Kali ini aku mengaku kalah Ageng, akan kutuntut balas atas yang terjadi hari ini”. Ki Barja melesat pergi bersama beberapa pendekar yang tersisa. Wulan sari tak membiarkan mereka pergi begitu saja, dia siap mengejar dan menghabisi rombongan ki Barja tetapi kemudian ki Ageng menahannya.
"Biarkan mereka pergi tetua, kita harus memeriksa muridku. Aku yakin anda tau apa yang terjadi pada muridku". Wulan sari menatap ki Ageng sesaat kemudian mengangguk.
__ADS_1
....................................
Terlihat ki Ageng duduk memandang Sabrang yang terbaring di hadapannya. Dia masih tidak habis pikir bagaimana Pedang Naga Api ada di tangan anak yang bahkan belum genap berumur dua belas tahun. Ditambah kemunculan Kelompok Teratai Merah menyelamatkannya membuat ki Ageng makin bingung. "Apa hubungan anak ini dengan Teratai Merah?" Gumam ki Ageng.
Ki Ageng kembali memeriksa denyut nadi Sabrang "Aliran tenaga dalamnya sangat kacau, jika salah sedikit saja penangananya maka akan berakibat fatal”. ki Ageng terlihat berfikir. “Aku belum pernah melihat aliran tenaga dalam sekacau ini sebelumnya, Pedang naga api benar benar Pusaka yang mengerikan”.
Ki Ageng menoleh ke arah pedang yang ada di sampingnya. Dia memegang pedang tersebut dan memandangnya. “ Guru, apakah anda yang memberikan pedang ini? Jika benar anda yang memberikannya, sebenarnya apa rencana anda”. Tiba tiba ki Ageng merasakan tenaga dalamnya keluar dalam jumlah besar. Dia mencoba menahan tenaga dalamnya keluar tetapi tidak berhasil. Ki Ageng kemudian melepaskan Pedang Naga Api dari genggamannya.
”Pedang ini menyerap tenaga dalam ku dalam sekejap? Bagaimana Sabrang dapat memegang pedang ini dalam waktu lama”. Dia kemudian memandang Sabrang yang masih tidak sadarkan diri. “ Seberapa besar sebenarnya bakat yang dimiliki anak ini?”.
"Kabarnya Pedang Naga Api memilih sendiri tuannya. Tak kusangka kabar itu benar adanya" tiba tiba Wulan sari muncul dari balik pintu. Ki Ageng berdiri menyambut kedatangan Wulan Sari.
__ADS_1