
Wardhana menghentikan langkahnya diatas butiran pasir putih dipinggir pantai Swarnadwipa, dia membuka gulungan gambar untuk mengetahui arah yang akan mereka tuju.
Setelah dia menggaris dan mencocokan arah dengan hamparan hutan dihadapannya, Wardhana mulai berjalan diikuti yang lainnya.
Namun tanpa mereka sadari beberapa orang berukuran kecil sedang memperhatikan mereka dari jauh sambil sesekali mendengus kesal.
"Sampaikan pada ketua ada orang asing datang, sepertinya mereka mencari gua emas itu". Perintah salah satu pendekar hutan dalam pada temannya.
"Baik tuan".
Pemandangan indah khas hutan tropis menyambut mereka, beberapa burung yang hanya bisa ditemukan dihutan Swarnadwipa saling bersaut satu sama lain.
Setelah mereka berjalan cukup jauh, Wardhana memutuskan untuk beristirahat karena hari mulai gelap. Berjalan dihutan yang sama sekali belum pernah mereka datangi dimalam hari akan sangat membahayakan keselamatan mereka.
Wardhana dan Lingga bertugas mencari kayu bakar untuk dibuat perapian sedangkan Sabrang dan Emmy mencoba mencari buah buahan yang ada disekitar mereka. Wardhana berpesan untuk tidak pergi terlalu jauh karena sangat berbahaya.
Arung dan Ciha terlihat asik menyiapkan tempat untuk beristirahat, hutan lembab khas tropis sangat disukai binatang beracun dan mereka harus memastikan tidak ada binatang beracun yang mendekat.
"Apa kau memiliki kekasih di Jawata?". Pertanyaan Emmy mengejutkan Sabrang, dia terlihat bingung untuk menjawab. Sabrang tidak ingin berbohong pada wanita yang ada disampingnya itu namun dia juga enggan berkata jujur.
"Apa ini waktu yang tepat membahas masalah itu?". Sabrang bergerak cepat naik keatas pohon setelah melihat ada buah buahan yang cukup besar.
Setelah mengambil beberapa buah dan dirasa cukup, Sabrang kembali turun.
"Sepertinya ini cukup, ayo kita kembali" Ucap Sabrang pelan namun langkahnya terhenti saat lengan Emmy menahannya.
"Apa begitu sulit menjawab pertanyaanku?" goda Emmy. Dia begitu bahagia saat melihat Sabrang salah tingkah.
"Bukan seperti itu namun.....". Emmy menempelkan ujung jari dibibirnya sendiri sebagai tanda agar Sabrang tidak menjawab. Dia melangkah pergi dengan senyum dibibirnya.
"Aku tau mungkin kau sudah memiliki kekasih namun sepertinya aku terlalu egois untuk selalu ada didekatmu walau sebagai selir sekalipun" gumam Emmy dalam hati.
Sabrang tiba tiba menyambar tubuh Emmy dan menariknya kebelakang, dia segera membentuk perisai es saat beberapa jarum melesat kearah mereka.
Lengan kiri Sabrang segera bergerak membentuk energi keris diudara. Beberapa manusia kecil tumbang ketanah setelah tidak siap menerima serangan Anom.
Beberapa lainnya yang selamat berusaha melarikan diri. Sabrang sempat mematung sesaat ketika melihat kumpulan orang berukuran kecil berlari menjauh.
__ADS_1
"Aku melihatnya, kembalilah pada yang lainnya aku akan segera menyusul" Sabrang bergerak dengan kecepatan tinggi mengejar mereka.
"Hei bodoh hentikan, sangat berbahaya mengejar mereka malam hari". Emmy mencoba menahan namun Sabrang terus bergerak.
"Sial". Emmy melompat dan berlari kearah Sabrang pergi.
Keadaan gelap hutan Swarnadwipa tak menghalangi mata bulannya melihat keadaan sekitar, dia terus meningkatkan kecepatannya untuk mengejar mahluk mini itu.
Sabrang memperlambat gerakannya ketika dia melihat dua orang kerdil menyerangnya, Dia melepaskan auranya untuk memperlambat gerak musuhnya.
Ketika gerakan musuh mulai melambat, Sabrang mengangkat lengannya diudara dan menciptakan Energi keris. Saat dia bersiap menyerang para manusia kerdil itu, tiba tiba muncul empat orang melompat mendekatinya dan memegang kedua kakinya.
Sabrang sedikit hilang keseimbangan saat kedua kakinya tak bisa bergerak. Dia memutar lengannya untuk menghantam mereka yang memegang kakinya namun empat orang lagi muncul dari balik pohon dan memegang kedua lengannya.
Ketika tubuhnya tak bisa bergerak, dua pendekar kainnya melompat dari atas pohon dan menyerang dengan pedangnya.
"Kalian pikir bisa menahanku dengan kekuatan kalian". Kobaran api perlahan menyelimuti tubuhnya membuat para manusia kerdil itu terpaksa melepaskan cengkramannya.
Sabrang bergerak dengan kecepatan tinggi menyambut serangan dua pendekar itu, dia mengayuunkan pedangnya sambil menarik Anom untuk membatasi gerak dua pendekar itu. Saat mereka sibuk menghindari Anom, Sabrang muncul dibelakang mereka dan membakar pendekar itu sampai menjadi abu.
"Siapa yang mau maju berikutnya?". Ucap Sabrang dengan nada mengancam.
"Kau baik baik saja?". Emmy muncul sambil menyerang pendekar yang berada didekat Sabrang namun beberapa buah jarum kembali menyerang Emmy.
Sabrang menangkap tubuh emmy dan melompat mundur namun tiba tiba tanah yang dipijaknya terperosok.
"Sial, jebakan". Sabrang berusaha melepaskan diri namun tidak sempat, dia dan Emmy ikut terperosok masuk dalam tanah.
"Bagaimana tuan?". Tanya seorang pendekar pada Parbo.
"Biarkan saja, lubang itu adalah sumur tanpa dasar. Mereka tidak akan bisa selamat, sekarang ayo kita pergi sebelum teman temannya datang. Aku harus melaporkan ini pada ketua". Ucap Parbo pelan.
***
Wardhana terlihat gelisah ketika Sabrang dan Emmy tak kunjung datang. Dia begitu khawatir karena hutan yang saat ini mereka datangi terasa sangat berbahaya.
"Anda tak perlu terlalu khawatir tuan Adipati, Saat ini tak banyak pendekar yang bisa menandingi ilmu kanuragan Sabrang". Arung berusaha menenangkan.
__ADS_1
"Bukan itu yang kutakutkan , aku hanya khawatir Yang mulia tersesat di hutan ini".
"Kita tunggu sebentar lagi, jika dia tidak juga kembali aku akan mencarinya". Ucap Lingga pelan.
Wardhana mengangguk pelan, dia duduk didekat perapian dan membuka gulungannya.
"Aku merasa sejak awal kita tidak sendirian dihutan ini".
"Maksud anda?". Arung menatap Wardhana.
"Aku merasa kita diawasi sejak masih diatas kapal". Jawab Wardhana pelan.
Lingga lebih memilih memejamkan matanya namun pikirannya melayang entah kemana. Dia setuju dengan apa yang dikatakan Wardhana jika mereka tidak sendirian dihutan aneh ini namun yang membuat Lingga bingung adalah dia tidak merasakan sama sekali kehadiran tenaga dalam.
"Semoga anda baik baik saja Yang mulia" gumam Wardhana dalam hati.
***
Tubuh Sabrang dan Emmy terus meluncur kedasar sumur, dia terus berfikir bagaimana menyelamatkan diri sebelum tubuh mereka hancur membentur dasar lubang.
"Pegangan yang kuat". Ucap Sabrang saat melepaskan tenaga dalamnya untuk menyeimbangkan tubuhnya.
Sabrang mengeluarkan pedangnya dan menancapkan didinding lubang, perlahan tubuhnya melambat dan berhenti ketika Naga api mencengkram dinding lubang.
Tubuh mereka bergelantungan didinding lubang.
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Emmy bingung. Dia menatap dasar lubang namun belum terlihat, sedangkan atas lubang sudah tidak terlihat.
Sabrang tersenyum kecut mendengar pertanyaan Emmy karena diapun bingung harus berbuat apa. Tenaga dalamnya tak akan mampu menahan tubuh bereka berdua lebih lama.
Sabrang terlihat berfikir sejenak sebelum mengeluarkan puluhan energi keris dan menancapkan didinding lubang berjajar kebawah. Sabrang berfikir akan lebih mudah turun kebawah daripada naik keatas dengan sisa tenaga dalamnnya.
Mereka mulai turun kebawah perlahan dengan pegangan keris yang berjajar. Ketika hanya menyisakan satu keris, dasar lubang mulai terlihat. Sabrang menggunakan sisa sisa tenaga dalamnya untuk melompat kedasar lubang.
Namun Sabrang kembali bingung setelah lepas dari bahaya karena harus memikirkan kembali bagaimana keluar dari lubang itu.
"Nanti kita pikirkan lagi, sekarang aku ingin beristirahat sejenak. Jantungku hampir berhenti saat terjatuh tadi". Emmy langsung duduk sambil mengatur nafasnya.
__ADS_1