
Lingga sedang berjalan kamar Mentari untuk memeriksanya ketika gadis itu muncul dari pintu kamarnya.
Mentari langsung menghampiri Lingga begitu dia melihatnya.
"Apa kau sudah menemukan tuan muda?". Tanya Mentari khawatir.
Lingga menggeleng pelan "Kami masih berusaha mencari jalan masuk jurang itu".
Raut wajah Mentari berubah seketika, dia menatap tajam Lingga Maheswara.
"Aku akan mencarinya sendiri". Ucap Mentari singkat dan langsung bergegas pergi.
"Tunggu". Lingga tiba tiba sudah berada dihadapan Mentari.
"Apa lagi? kau mau aku menunggu sampai kapan? Mungkin tuan muda tidak punya waktu menunggu kita dibawah sana". Suara Mentari meninggi, air matanya mulai mengalir dari mata indahnya.
"Aku mengerti kekhawatiranmu namun tidak ada jalan untuk turun ke bawah sana, aku sudah memeriksanya berkali kali. Kau harus tenangkan dirimu dulu, aku pasti akan menemukannya".
Mentari terdiam setelah mendengar ucapan Lingga, dia benar benar merasa putus asa kali ini. Untuk kesekian kalinya dia menyusahkan Sabrang.
"Kau harus tau jika ada yang aneh di sekte ini, kita harus menyusun rencana sebelum bertindak. Aku cukup yakin jika Naga api akan melindungi tuannya". Lingga berkata pelan.
"Apa maksudmu?".
Lingga menjelaskan situasinya pada Mentari termasuk kemungkinan ketua Sekte Bintang langit yang menyerang mereka tempo hari. Namun tidak semua kelompok besar sekte bintang langit mendukung Daniswara.
Dia juga menjelasakan jika ada satu jalan menuju Lembah tanpa dasar yaitu melalui ruangan ketua sekte bintang langit dan dia sedang berusaha mencari cara untuk menyusup kedalamnya.
"Kenapa harus menyusup?". Mentari mengernyitkan dahinya.
"Apa kau pikir mereka akan semudah itu memberi kita jalan?".
"Lalu apa rencana mu?". Mentari mulai bisa menguasai emosinya.
"Aku akan menemui ketua Sekte bintang langit untuk menyampaikan maksud kedatangan kita dan memintanya membantu menyari anak itu, kita lihat seperti apa reaksinya setelah itu". Lingga menjelaskan rencananya.
"Aku ikut denganmu".
Lingga tidak menjawab dan langsung melangkah keluar diikuti Mentari dibelakangnya.
Mereka berjalan menuju aula utama sekte Bintang langit.
Dua orang penjaga tiba tiba menghadangnya saat mereka memasuki gerbang utama.
"Aku ingin bertemu dengan ketuamu". Lingga menatap tajam Penjaga itu.
"Ketua tidak ingin diganggu, datanglah lain kali". Penjaga itu menghardik Lingga.
"Akupun paling tidak suka diganggu". Lingga melepaskan aura hitam dari tubuhnya untuk menekan para penjaga itu.
Dua penjaga itu menelan ludahnya setelah menerima tekanan aura ditubuhnya. Mereka saling menatap satu sama lain, Mereka menyadari tidak akan mudah menahan orang dihadapannya jika memaksa masuk.
Saat Lingga hendak memaksa menerobos masuk tiba tiba Daniswara muncul dari balik pintu.
__ADS_1
"Biarkan mereka masuk". Daniswara memberi hormat pada Lingga dan mempersilahakannya masuk.
"Ada yang bisa kubantu tuan". Daniswara tersenyum ramah setelah mereka duduk diruangannya.
"Aku ingin meminta beberapa hal padamu. Pertama tujuan kami datang kemari adalah untuk meminta petunjuk terkait gerbang Dieng. Aku dengar sekte bintang langit mengetahui kapan gerbang itu terbuka. Yang kedua aku ingin kalian membantuku mencari temanku yang terjatuh di jurang, karena bagaimanapun penyerangan itu terjadi diwilayahmu dan aku ingin kalian bertanggung jawab". Lingga berkata tegas.
"Dieng? Apa yang kalian cari disana?". Raut wajah Daniswara berubah seketika.
"Itu bukan urusan anda, kami hanya meminta bantuan bintang langit untuk menunjukan letak gerbangnya".
Daniswara berusaha tersenyum untuk menutupi amarahnya.
"Aku memohon maaf pada anda tuan, sepertinya aku tidak bisa mengabulkan permintaan anda mengenai Dieng, tapi masalah penyerangan yang terjadi kemarin masih kami selidiki. Sekte Bintang langit akan sekuat tenaga mencari keberadaan pendekar muda itu walaupun aku menyarankan anda untuk tidak terlalu berharap kami menemukannya dalam keadaan hidup setelah jatuh kelembah tanpa dasar". Daniswara berkata pelan.
"Aku yakin tuan muda masih hidup, kalian hanya....". Mentari tak melanjutkan ucapannya setelah melihat Lingga memberi tanda untuk diam.
"Aku sangat memahami perasaan anda nona namun lembah itu sangat dalam, butuh waktu lama untuk mencapai dasarnya".
"Apa tidak ada cara lain? misalnya sebuah jalan rahasia menuju dasar lembah itu?". Ucap Lingga meyelidik.
Daniswara sedikit terkejut dengan pertanyaan Lingga namun dia menggeleng cepat.
"Setauku tidak ada jalan rahasia apapun menuju kesana tuan, namun aku pastikan kami akan berusaha semampuku menemukan teman anda".
"Baiklah jika demikian aku terpaksa menunggu kabar dari anda". Lingga bangkit dari duduknya dan melangkah keluar.
Mentari menatapnya bingung, tidak biasanya Lingga begitu cepat menyerah namun dia tidak bertanya lebih lanjut dan mengikuti Lingga berjalan keluar.
Lingga tiba tiba berhenti didepan pintu dan menoleh kearah Daniswara.
"Aku tau terdapat perjanjian antara kalian dengan Naga api mengenai Dieng, mungkin saat ini kau tidak bisa membantu kami karena Naga api tidak ada disini namun jika aku telah menemukan anak itu dan membawa Naga api kehadapanmu kuharap kalian menepati perjanjian itu atau aku akan dengan senang hati menghancurkan kalian". Lingga tersenyum penuh makna sambil menatap tajam Daniswara.
Daniswara tetap tersenyum ramah "Sekali lagi aku mohon maaf tuan".
Setelah kepergian Lingga, Jagratara muncul dari balik dinding diruangan Daniswara.
"Apa aku harus menghabisinya ketua?".
Daniswara menggeleng pelan "Kau bukan tandingannya, aura yang ada ditubuhnya bahkan sempat membuatku menahan nafas. Kita harus berhati hati dengannya, dia bukan pendekar biasa". Daniswara memperingatkan Jagratara.
"Bukankah anda menguasai ilmu panca geni ketua?".
Daniswara menggeleng pelan "Aku hanya berhasil menyalin beberapa tingkatan jurusnya saja sebelum Birawa membakar kitab itu. Dengan kemampuan pendekar itu akupun akan sulit menandinginya".
"Apakah tidak ada salinan jurus itu tuan?". Jagratara bertanya penasaran.
"Tua bangka itu membakar semua kitab jurus yang diwariskan Ken panca pada Sekte bintang langit karena takut akan menjadi sumber bencana bagi Bintang langit namun aku yakin dia menuliskan jurus itu disuatu tempat karena Panca sempat berpesan untuk menggunakan jurus itu jika Lembah siluman benar benar bangkit".
Daniswara menghela nafasnya panjang "Tapi yang menjadi masalah dimana tua bangka itu menyalin kitab itu. Kita tidak punya banyak waktu saat ini, cepat temukan dimana dia menyalin kitab itu. Sebar seluruh anggota kita kesetiap sudut wilayah Bintang langit".
"Baik ketua". Jagratara menganggukan kepalanya.
***
__ADS_1
Sabrang terlihat mengamati beberapa gua yang ada dihadapannya. Sesekali dia mendengus kesal sambil menggarukan kepalanya. Semua gua dihadapannya tampak sama membuatnya bingung memilih gua mana yang akan dimasuki terlebih dahulu.
"Bagaimana kakimu bisa......?". Ciha menatap bingung Sabrang yang berdiri dihadapannya. Dia yakin kaki Sabrang patah saat dia memeriksanya beberapa hari lalu namun saat ini dia berdiri seolah olah tidak terjadi apa apa dengan kakinya.
"Kau sudah bangun". Sabrang menoleh kearah Ciha yang masih bingung menatapnya.
"Apakah pendekar dunia persilatan sama menakutkannya sepertimu?".
"Sabrang menggeleng pelan "Banyak yang lebih menakutkan dariku".
"Aku tidak bisa membayangkan hidup diduniamu". Ciha tersenyum kecut.
"Apa kau sudah memilih jalan mana yang akan kita masuki?". Ciha melanjutkan ucapannya.
Sabrang melempar sebuah batu kecil keudara dan menunjuk gua terdekat dengan jatuhnya batu itu.
"Kita kesana". Sabrang melangkah memasuki gua yang ditunjuknya.
Ciha terkekeh melihat tingkah Sabrang "Sepertinya akan membutuhkan waktu yang lama menemukan jalan keluar dari sini".
Tak butuh waktu lama bagi Sabrang untuk mengumpat setelah melihat gua tersebut buntu.
"Sepertinya batu itu salah pilih". Sabrang melangkah keluar untuk memasuki gua lainnya.
"Tunggu". Ciha menghentikan langkah Sabrang.
"Apa lagi yang kau cari? gua ini buntu". Sabrang mendengus kesal.
"Tidak, gua ini tidak sesederhana yang terlihat". Ciha meraba beberapa bagian dinding gua.
"Apa maksudmu". Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Aku pernah melihat susunan batu ini tapi aku lupa dimana. Batu ini tidak tersusun alami oleh alam, ada yang menyusunnya untuk suatu alasan.
Ciha masih terus meraba dinding gua tersebut sambil mengingat kembali dimana dia pernah melihat susunan batu ini.
Tak lama raut wajahnya berbuah setelah berhasil mengingatnya.
"Ketua Birawa pernah menyusun bebatuan ini di pinggir sungai saat aku menemuinya. Kalau aku tidak salah ingat harusnya susunannya begini.... begini....". Ciha menggeser beberapa batu didinding sesuai dengan yang diingatnya.
Wajahnya kembali cemberut saat tidak terjadi apa apa setelah dia merubah beberapa susunan batu itu.
"Apa ada yang salah". Ciha kembali mengernyitkan dahinya.
Pandangan matanya kemudian tertuju pada sebuah obor tua yang menempel didinding gua.
"Ah aku ingat, ketua menambahkan ranting pohon di dekat susuan batu seperti ini". Ciha memutar obor itu kebawah.
Tak lama mereka dikejutkan oleh getaran disekitar gua akibat dua buah batu bergeser kesamping. Terlihat sebuah celah dengan ukuran cukup besar yang tadi tertutupi batu itu.
"Sepertinya gua ini tidak buntu". Ciha tersenyum dan menoleh kearah Sabrang.
"Ayo kita masuk". Ciha melangkah memasuki cwlah itu.
__ADS_1