Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pusaran Air di Tebing Bukit Kelam


__ADS_3

Ki Saprana dan beberapa pendekar sekte racun selatan tiba di sebuah dermaga kecil. Hanya ada beberapa kapal kecil milik nelayan sekitar yang tertambat di dermaga itu. Tak terlihat seorang pun melintas di sekitar dermaga.


"Ranu kau Cari siapa pemilik kapal itu". Perintah ki Saprana pada salah satu pendekar yang ikut bersamanya.


"Baik ketua". Ucap Ranu singkat.


"Tak kusangka ditempat terpencil inilah jalan menuju tempat yang selama ini paling dicari oleh dunia persilatan itu berada". Ucap ki Saprana dalam hati.


Sebagai salah satu sekte yang cukup besar Racun selatan juga pernah berusaha mencari keberadaan Dieng demi mendapatkan air yang menurut cerita dapat membuat orang hidup abadi. Ki Saprana sempat putus asa dan menganggap jika tempat itu hanya dongeng belaka sebelum beberapa saat lalu Maruta mengunjunginya untuk mengajak kerjasama.


Maruta memberitahukan jika gerbang itu ada di Kadipaten Karang sari. Dan jika Racun selatan mau membantu Lembah siluman untuk menghalau para pendekar yang berusaha mendekat ke lokasi gerbang itu berada racun selatan dijanjikan mendapatkan beberapa pusaka Dieng dan air kehidupan.


Ki Saprana akhirnya menyetujui kerjasama itu dengan syarat dia akan melihat langsung lokasi tersebut sebelum gerbang itu terbuka. Ki Saprana tentu tidak begitu saja percaya pada Maruta sebelum melihat langsung tempat itu. Akhirnya dia dan beberapa muridnya memutuskan melihat langsung lokasi sebelum mengirim puluhan pendekarnya ke lokasi itu.


Tak lama Ranu terlihat berjalan bersama seorang nelayan menuju kearahnya.


"Ketua, ini tuan Harsa pemilik salah satu kapal itu". Ranu memperkenalkan pria disampingnya.


"Berapa harga untuk menyewa kapalmu?". Ki Saprana bertanya sopan.


"Dua keping perak tuan". Jawab Harsa singkat.


"Baik, antarkan aku ke Tebing bukit kelam".


Raut wajah Harsa berubah setelah mendengar tujuan Ki Saprana.


"Tuan... mohon maaf tidak ada yang berani mendekati tebing itu. Banyak kapal hilang terhisap pusaran air disana. Maaf tuan aku tidak berani mengambil resiko itu". Ucap Harsa terbata bata.


"Pusaran air?". Ki Saprana mengernyitkan dahinya.


"Benar tuan, sudah banyak kapal yang hilang disana. Konon ada pusaran air besar disekitar sana yang dapat menghisap kapal besar sekalipun".


"Kami tidak akan mendekatinya, kau hanya mengantar dalam jarak aman". Ki Saprana meyakinkan.


Namun sepertinya Harsa benar benar tidak ingin mendekati tempat itu dan tetap dengan pendiriannya.


Ki Saprana sedikit geram, andai dia bisa mengendarai kapal itu orang dihadapannya sudah dibunuhnya dari tadi.


"Aku akan membayarmu 4 keping emas, kita hanya akan melihat dari jauh". Ki Saprana mengeluarkan 4 keping emas dari sakunya.


"Tapi... tuan". Harsa sedikit ragu setelah melihat kepingan emas di tangan ki Saprana. Dengan uang sebanyak itu dia bisa membeli beberapa buah kapal baru.


"Jika kau setuju kita berangkat sekarang namun jika kau tidak setuju aku akan mencari pemilik kapal lainnya".


"Kita hanya sedikit mendekat ketempat itu?". Harsa kembali bertanya.


"Benar, kurasa jika hanya beberapa meter tidak masalah bukan? lagipula aku juga tidak ingin mati terhisap".

__ADS_1


"Baik tuan, aku akan mengantar anda". Ucap Harsa sambil tersenyum lebar pada ki Saprana.


"Mari ikut denganku". Harsa mengajak ki Saprana dan yang lainnya menuju kapalnya.


Ki Saprana memperhatikan kapal itu dengan teliti, kapal milik Harsa memang terlihat paling besar diantara kapal lainnya.


Setelah kapal berlayar Ki Saprana memilih duduk didekat Harsa sambil menikmati angin laut yang berhembus cukup kencang.


"Tuan jika aku boleh bertanya apa yang sebenarnya anda cari disana?". Harsa membuka percakapan.


"Aku paling suka menikmati pemandangan tebing tinggi dan aku mendengar jika tebing bukit kelam merupakan tebing tertinggi jadi aku memutuskan melihatnya lebih dekat". Ucap Saprana sabil tersenyum pada Harsa.


Harsa terlihat mengangguk pelan "Tebing bukit kelam memang indah tuan namun seperti namanya bukit itu sangat menakutkan. Banyak nelayan yang melintas di sana sering mendengar suara suara aneh".


"Suara aneh?". Ki Saprana mengernyitkan dahinya.


"Suara suara seperti aungan hewan buas, suara menggelegar seperti seseorang sedang marah bahkan ada yang mengaku melihat sinar biru dari arah tebing itu tuan. Tempat itu seperti tempat yang dikutuk dan menghisap semua benda yang melintas didekatnya". Ucap Harsa dengan suara bergetar.


"Sinar biru ya? sepertinya apa yang dikatakan Maruta benar jika gerbang yang paling dicari dunia persilatam ada disini". Gumam Ki Saprana dalam hati.


"Ketua...". Ranu berkata pelan sambil mendekati ki Saprana.


"Aku tau, sepertinya Maruta tidak berbohong pada kita". Ki Saprana memperhatikan tebing tinggi dihadapannya.


Ki Saprana menajamkan penglihatannya saat melihat sesuatu yang janggal di tebing itu. Sekilas tidak ada yang aneh dengan tebing yang menjulang dihadapannya namun jika dilihat lebih teliti ada beberapa susunan batu yang tidak alami, seperti dibuat oleh seseorang untuk tujuan tertentu.


"Tuan aku hanya bisa mengantar sampai sini". Harsa melempar jangkarnya, dia berhenti beberapa meter dari dinding gua. Namun itu sudah cukup bagi ki Saprana, dia sudah bisa melihat jelas dinding tebing itu.


"Aku yakin susunan batu itu menjelaskan sesuatu". Ki Saprana mengamati susunan batu di dinding tebing itu.


"Itu pusaran airnya tuan". Harsa menunjuk air yang seperti berputar tepat dibawah dinding tebing.


"Jika disini adalah tempat bertemunya beberapa aliran air mungkin bisa dimaklumi jika terdapat pusaran air disini". Dia menatap heran pusaran air dihadapannya.


"Air ini tiba tiba menjadi hangat?". Ki Saprana sedikit terkejut merasakan air dikakinya menjadi hangat. Dia ingat betul saat menapak di batu karang tadi suhu air normal.


Ki Saprana tiba tiba berjongkok dan hendak membenamkan kepalanya kedalam air.


"Ketua". Ranu berusaha mencegahnya.


"Tak perlu khawatir, aku hanya ingin memastikan". Ki Saprana membenamkan kepalanya didalam air untuk melihat apa yang tersembunyi di tebing yang terendam air.


Raut wajahnya berubah saat melihat sebuah aura biru keluar dari celah batu besar yang tersusun rapih seperti sebuah pintu besar.


Saat ki Saprana memutuskan untuk menyudahi pengamatannya tiba tiba tubuhnya seperti terhisap kearah batu itu. Tubuhnya terpeleset dari pijakannyanya dan terjatuh kedalam air.


"Ketua". Ranu menyambar sebuah kayu dayung diatas kapal dan mengarahkannya ke ki Saprana yang berusaha menjauh dari tebing itu.

__ADS_1


Ranu menarik kayu ditangannya sekuat tenaga saat ki Saprana berhasil meraih kayu itu. Samar samar ki Saprana melihat aura biru itu melilit kakinya dan berusaha menariknya. Ki Saprana mengalirkan tenaga dalam yang besar ke kekakinya dan berusaha melepaskan lilitan aura biru itu.


Kepalanya tiba tiba terasa sakit saat dia merasakan aura biru itu merasuk kedalam tubuhnnya perlahan. Ki Saprana berusaha sekuat tenaga menekan aura itu dengan tenaga dalamnya.


Aura itu menghilang saat ranu berhasil mengangkat tubuhnya keatas kapal.


"Ketua, anda tidak apa apa?". Ranu terlihat cepas melihat wajah ki Saprana pucat pasi.


"Kita pergi sekarang". Ki Saprana memberi perintah pada Harsa dengan wajah tegang.


"Baik tuan". Wajah Harsa terlihat panik setelah melihat ki Saprana begitu panik.


"Apa yang terjadi ketua". Ranu memberikan air minum pada ki Saprana.


"Tem....tempat itu... tempat iitu benar benar menakutkan". Ki Saprana memgatur nafasnya kembali.


"Jadi benar jika tempat itu.....?". Ranu tak melanjutkan ucapannya.


Ki Saprana hanya mengangguk pelan.


***


"Tuan, anda sudah ditunggu di aula utama". Suara Ciha mengagetkan Lingga maheswara yang sedang bermeditasi.


"Baik, aku akan segera kesana". Jawab Lingga singkat.


Lingga memang sudah dari kemarin sampai di sekte bintang langit namun belum sempat menemui Birawa.


"Lama tak bertemu tuan, selamat datang kembali di sekte bintang langit". Birawa menyambut Lingga di depan pintu aula utama.


Lingga menundukan kepalanya sambil tersenyum hangat, sebuah senyum yang sangat jarang diperlihatkan Lingga selama ini.


"Terima kasih tuan". Ucap Lingga singkat.


Birawa menarik nafasnya panjang ketika sudah duduk di kursinya.


"Kau tau tuan, aku sudah hidup selama ratusan tahun dan selama itu aku selalu merasa takut saat gerbang itu akan terbuka untuk beberapa hari. Andaikan air laut itu tak pernah surut". Ucap Birawa pelan.


"Aku dapat mengerti tuan, namun aku yakin alam mempunyai rencana sendiri kenapa dia membuka gerbang itu selama 4 hari".


"Begitu ya". Suara Birawa hampit tidak terdengar.


"Tuan aku ingin memberi tahu anda sedikit mengenai tempat itu". Birawa mengeluarkan gulungan dari dalam pakaiannya dan membukanya diatas meja.


Lingga mengamati beberapa gambar dan tulisan digulungan itu. terlihat sketsa gambar pintu di tiga titik berbeda namun yang membuatnya tertarik adalah gambar sebuah batu yang berada tepat di dekat gerbang pertama. Batu itu digambar dengan garis yang sangat tebal seolah Birawa ingin memperingatkan sesuatu.


"Ini batu tulisan yang dibuat oleh tuan Panca untuk memperingatkan sesuatu pada siapapun yang memasukinya. kami menyamarkan batu itu menggunakan segel kabut karena kami belum berhasil mengartikan sebagian tulisan itu. Aku takut itu sebuah peringatan atau lainnya jadi kami memutuskan untuk menyembunyikan sampai kami berhasil menerjemahkan tulisan yang menggunakan aksara Palawa itu". Ucap Birawa pelan.

__ADS_1


"Semua keanehan dan bahaya yang akan kita hadapi disana dimulai dari sini". Birawa menunjuk sketsa pintu gerbang di gulungannya.


"Ini?". Lingga mengernyitkan dahinya.


__ADS_2