Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kesepakatan dengan Bidadari Pencabut Nyawa III


__ADS_3

"Sebaiknya kita pergi, Winara. Aku merasakan energi aneh mulai menyelimuti tempat ini," ucap Kirana sedikit khawatir.


"Aku sedang berusaha, tapi mereka terus berusaha melacak persembunyian kita dengan jurus segel udara. Kita harus mengelabui..." belum selesai Kirana bicara, sesosok tubuh tiba tiba muncul dan langsung menyerangnya.


"Jurus pedang kegelapan : Sayatan iblis penghancur."


"Kirana!" teriak Winara sambil berusaha menghindar namun dua orang pendekar lainnya kembali muncul dari arah berlawan.


Para pendekar Kuil Suci langsung membentuk formasi menyerang dan dengan cepat mengurung lawan dalam formasinya.


Winara tidak tinggal diam, dia memutar tombaknya ke depan untuk mencoba mengacaukan gerakan formasi lawan.


Para pendekar Kuil Suci kembali merubah gerakannya, mereka terlihat berganti posisi sambil terus menekan Winara, perubahan formasi itu mampu menyudutkan Winara dan membuat permainan tongkatnya yang terkenal berbahaya menjadi tidak maksimal.


"Sial!" Winara merendahkan tubuhnya tiba tiba saat sebuah tebasan pedang mengarah ke lehernya. Namun baru saja dia menunduk, kaki salah satu pendekar sudah menyambutnya dengan sebuah tendangan yang mengandung tenaga dalam besar.


Winara menyilang kan tombak kembarnya untuk menangkis serangan itu dan menggunakan efek serangan untuk bergerak mundur, tubuhnya tampak berputar di udara sebelum mendarat tepat di dekat danau.


"Gerakan mereka cepat sekali," umpat Winara sambil mengatur nafasnya kembali.


Kabut tebal kembali menyelimuti danau dengan cepat dan menyamarkan tubuh Winara.


Winara terus memperhatikan sekitarnya namun betapa terkejutnya dia saat dua orang pendekar kembali menyerangnya.


"Kau pikir bisa menghilang begitu saja?" dua pendekar mengayunkan pedangnya sekuat tenaga.


"Tidak mungkin, bagaimana bisa?" Winara mencoba menangkis serangan mereka sekuat tenaga namun pendekar lainnya kembali muncul dan mengacaukan gerakannya.


"Jurus tombak pemecah gelombang," Winara memutar tombaknya sekuat tenaga dan dengan cepat menangkis setiap serangan yang terarah padanya.


Tubuh Winara berputar mengikuti tombaknya dan berusaha menyerang salah satu pendekar yang menjadi pemimpin formasi namun gerakannya selalu tertahan oleh delapan pendekar yang terus mengapitnya.


"Saatnya melumpuhkan dia," bisik salah satu pendekar sambil merubah gerakan pedangnya tiba tiba.


"Bagaimana bisa segel Dewa Bumiku bisa di dihancurkan dengan sangat mudah?" umpat Winara kesal.


"Sama seperti tuan Naga api kemarin yang menggunakan energi kerisnya untuk melacak keberadaan kita dalam kabut tebal, mereka tidak menghancurkan segel dewa bumi tapi menggunakan energi aneh yang sejak awal kurasakan untuk melacak hawa kehadiran penggunanya. Kita dalam masalah besar jika kau tidak cepat menutup kelemahan segel ini," jawab Kirana cepat.


"Kelemahan besar?" balas Winara semakin bingung.


Dua pendekar tiba tiba bergerak keluar dari formasi saat Winara mencoba menekan balik, membuat pertahanan mereka menjadi sedikit goyah.


"Celah?" Winara meningkatkan kecepatannya dan langsung bergerak maju. Dia tidak ingin menyianyiakan kesempatan di depan mata.

__ADS_1


"Hei bodoh, mundur!" teriak Kirana saat menyadari ada yang aneh dengan gerakan para pendekar kuil suci yang seolah sengaja membuka celah pertahanan.


Dan apa yang ditakutkan Kirana akhirnya benar benar terjadi, celah pertahanan yang tadi dilihat oleh Winara tiba tiba tertutup saat beberapa pendekar kuil suci berganti posisi dengan cepat.


"Formasi serangan suci, dua mata pedang kembar," dua pendekar yang tadi keluar dari formasi meningkatkan kecepatannya dan menyerang dari arah belakang saat Winara di sibukkan dengan serangan dari arah depan.


"Gawat!" Winara mencoba menarik tombak kembarnya untuk menangkis serangan cepat dua pendekar dari arah belakang namun terlambat karena pedang kedua pendekar itu sudah sangat dekat dilehernya.


"Kau berhutang satu nyawa padaku dan kali ini aku akan memaksamu ikut," semua pendekar berhenti tiba tiba bersamaan dengan munculnya sesosok tubuh ditengah pertarungan, bahkan beberapa debu yang beterbangan akibat efek pertarungan juga terhenti di udara.


"Jurus menghentikan waktu?" para pendekar Kuil suci tersentak kaget saat tubuhnya kaku seketika.


"Kupikir kalian sudah hancur saat itu tapi sepertinya aku salah dan kini kalian seenaknya menyerang orang lain?" Sabrang memunculkan pedang Naga Api dan bergerak menyerang.


"Bentuk formasi!" teriak salah satu pendekar setelah waktu kembali berputar namun betapa terkejutnya dia saat tubuh Sabrang mengeluarkan aura aneh sebelum menghilang dari pandangan.


"Jurus ini? pertahankan formasi apapun caranya!" teriak pendekar itu kembali.


Namun semua seolah terlambat saat Sabrang muncul dan menyerang para pendekar yang sedang berusaha membentuk formasinya kembali. Dia bergerak begitu cepat dan tak memberi waktu bagi mereka untuk menghindar.


"Cepat sekali," ucap salah satu pendekar kuil suci takjub.


Sabrang terus bergerak secepat angin dan melumpuhkan siapapun yang berada dalam jangkauannya.


"Jurus pedang Sabdo Palon tingkat dua : Cahaya penghancur Iblis," tubuh Sabrang seolah menghilang kembali dan tak lama angin dingin tiba tiba berhembus dan menembus tubuh para pendekar itu.


"Apa ini?" para pendekar itu merasakan sakit yang luar biasa saat hembusan angin menyapu tubuh mereka sebelum terpotong jadi dua.


"Kau! ikut denganku," tubuh Sabrang tiba tiba muncul dihadapan salah satu pendekar yang selamat dan mencengkram lehernya sebelum tubuhnya melepaskan aura dingin dan membekukannya dengan cepat.


"Dia?" pendekar kuil suci itu hanya bisa menatap ngeri Sabrang dari balik bongkahan es yang kini sudah menyelimuti tubuhnya.


"Saat ini aku tidak tau apa tujuan mereka tapi satu yang pasti, mereka sedang mengincar mu," ucap Sabrang sambil menoleh kearah Winara.


"Mengincar aku?" tanya Winara makin bingung.


"Kita akan tau jawabannya setelah menanyakan langsung pada pendekar ini, tapi sebelum itu bukankah aku sudah mengatakan pada kalian untuk pergi ke air terjun lembah pelangi lebih dulu?" Sabrang tiba tiba menciptakan energi keris di udara sebelum melemparnya kesatu arah.


Sepasang pendekar tiba tiba melompat dari atas pohon sambil tersenyum kecut tepat sebelum energi keris itu menembus pohon.


"Maaf tuan, kami tidak akan meninggalkan anda sendirian," ucap Elang mencari alasan.


"Meninggalkanku sendirian?" tanya Sabrang sinis sambil menatap Gendis tajam yang membuat bulu kuduknya berdiri seketika.

__ADS_1


"Apa ada yang harus aku tau dari penyerangan kali ini?" tanya Sabrang dingin sebelum lengannya dengan cepat mencengkram leher Gendis.


"Tuan, apa yang anda lakukan?" teriak Elang saat melihat Sabrang mencengkram leher Gendis.


"Aku...aku..." Gendis berusaha berontak sekuat tenaga namun bongkahan es yang meluap dari lengan kanan Sabrang membuat tubuhnya perlahan membeku.


***


"Tuan Ken Panca ingin bertemu denganku?" tanya Wardhana saat seorang prajurit penjaga melaporkan Ken Panca sudah berada di luar ruangannya.


"Benar tuan, dia meminta bertemu sekarang juga karena ada hal penting yang harus disampaikan langsung pada anda," jawab prajurit itu cepat.


"Bawa dia masuk," ucap Wardhana cepat sambil membereskan gulungan gulungan yang berceceran di atas meja.


Tak lama, Ken Panca muncul dari balik pintu bersama dan langsung menundukkan kepalanya.


"Hormat pada tuan Patih, maaf aku meminta bertemu tiba tiba," ucap Ken Panca sopan.


"Mohon jangan terlalu sungkan tuan," jawab Wardhana tak kalah sopan karena bagaimanapun Ken Panca adalah keluarga Sabrang.


"Aku menemukan sesuatu yang sepertinya berhubungan dengan peradaban Lemuria di sisi gelap alam semesta," ucap Ken Panca sambil menunjukkan gulungan yang dibawanya.


"Peradaban Lemuria di sisi gelap alam semesta?" wajah Wardhana tiba tiba berubah seketika.


"Aku juga cukup terkejut dengan apa yang kutemukan tapi sepertinya bom api yang kuberikan padamu adalah salah satu peninggalan mereka," jawab Ken Panca sambil menunjukkan gulungannya.


"Maksud anda bom api yang di berikan padaku sebelum perang besar itu?" tanya Wardhana makin penasaran.


"Benar, aku menemukan catatan konsep bom itu di salah satu gua yang berada di sisi gelap alam semesta. Awalnya aku tidak terlalu memikirkan siapa yang menulis konsep bom itu namun setelah membaca tulisan ini, aku mulai menyadari ada yang tidak beres," Ken Panca membuka gulungannya perlahan.


"Api abadi dipersiapkan untuk pertempuran Suci Kontilola."


"Kontilola?" tanya Wardhana terkejut.


"Benar, menarik bukan? aku pernah mendengar jika di daratan paling timur Nuswantoro ada sebuah tempat yang konon terlindungi oleh alam bermana Kontilola dan kau tau yang menarik dari tempat itu? dia dikelilingi oleh danau purba sama seperti kuil khayangan yang kau temukan di dekat kaki bukit Setumbu," jawab Ken Panca pelan.


"Jadi maksud anda?"


"Sisi gelap alam semesta dan peradaban Lemuria sepertinya saling berhubungan, kau harus melihat sendiri apa yang kutemukan di tempat itu," jawab Ken Panca cepat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Terima kasih atas semua doa baik kalian pada saya, dan saat ini kondisi saya sudah mulai membaik... Semua hari Libur PNA akan saya ganti dengan bonus chapter setelah saya benar benar pulih...terima kasih yang sudah bersedia menunggu....

__ADS_1


__ADS_2