
Wardhana akhirnya sampai di puncak gunung Padang bersama Wulan, pandangan matanya langsung tertuju pada tumpukan bebatuan yang mengeluarkan suara merdu saat tertiup angin.
"Suaranya ada yang sumbang?" Wardhana mendekati bebatuan itu dan memeriksanya, dia langsung mengerti jika tiga batu yang sejajar dengan empat arah mata angin telah bergeser dari posisi awal.
Dia terlihat berfikir sejenak sambil menatap lima teras berundak gunung itu sebelum memahami jika tuas itu adalah kunci untuk membuka gerbang di suatu tempat.
"Jika bangunan ini mengikuti legenda ksatria penjaga lima arah mata angin berarti bukit kelima adalah gunung ini sendiri. Semua yang berhubungan dengan gunung ini selalu berjumlah lima namun kenapa hanya tuas batu ini yang jumlahnya empat?" ucap Wardhana bingung.
"Apa mungkin saat membangun tempat ini mereka salah berhitung?" tanya Wulan.
"Tidak, sepertinya ini bukan kesalahan, sangat mustahil orang yang mampu membuat bangunan megah ini bisa melakukan kesalahan kecil mengenai jumlah tuas.
Apa anda ingat batu Kenteng songo di gunung Damalung? bukankah jumlah awal batu itu hanya empat?" jawab Wardhana.
"Jadi menurutmu?" balas Wulan cepat.
"Mungkin konsepnya hampir sama dengan Kenteng songo yang menyamarkan lima batu lainnya. Jika memang bangunan ini berhubungan dengan ksatria penjaga lima mata angin seharusnya semua berhubungan dengan angka lima.
Bukit, teras berundak dan tangga penghubung antar teras semua berjumlah lima, jadi aku yakin tuas inipun berjumlah lima hanya kita belum menemukan tuas kelima itu," jawab Wardhana.
"Begitu ya... jadi pusaka itu benar benar ada," ucap Wulan pelan.
Wardhana mulai merangkai semua misteri Gunung Padang dalam pikiran dan menghubungkannya dengan keputusan paksi turun dari puncak gunung saat dia memintanya menunggu di puncak gunung.
Wardhana melangkah ke sumur tua yang berada di dekat batu bunyi itu dan memperhatikan sekitarnya.
"Jika tuas untuk membuka gerbang Nagara Siang Padang ada di puncak gunung ini, mengapa mereka justru turun gunung? apa mungkin...," Wulan tidak melanjutkan ucapannya.
"Benar, Lepaskan semua Nafsu dan ambisi maka suara alam akan menuntunmu menuju Nagara siang padang, itu berhubungan dengan membersihkan diri dan sumur tua ini akan menjadi kuncinya. Sumur ini sengaja dibangun di sini untuk menunjukkan jika melepaskan nafsu dan ambisi itu membersihkan diri.
Dan bentuk sumur ini yang setengah lingkaran itu memberi tanda jika ada satu sumur lagi yang berbentuk seperti ini dan itu adalah pintu menuju Nagari Siang Padang. Melihat bentuk tanah bekas geseran batu tuas ini sepertinya sudah beberapa hari digeser dan itu jelas bukan dari pihak kita.
Sepertinya Guntur Api lebih dulu mengetahui rahasia mengenai Nagari Siang padang dan membukanya, itulah alasan guru Paksi dan lainnya turun gunung untuk mencegah mereka. Guru Paksi menggeser kembali tuas keempat untuk menutup gerbang terakhir, jadi selama tuas ini tidak digeser maka mereka tidak akan bisa masuk ke gerbang keempat, kita masih ada waktu untuk menyelidiki tuas kelima yang aku yakin itu adalah petunjuk pusaka Bilah Gelombang," balas Wardhana.
"Seharusnya tuas itu tak jauh dari tuas lainnya seperti batu Kenteng Songo," lanjut Wardhana sambil menarik nafas panjang.
"Jika empat tuas lainnya di buat sesuai empat arah mata angin, seharusnya tuas kelima juga sejajar dengan arah mata angin lainnya bukan?"
"Tidak, sejak awal mereka membangun Nagari Siang Padang ditempat ini untuk menyembunyikan keterkaitan legenda Ksatria penjaga lima arah mata angin, itulah kenapa bukit kelima adalah gunung ini sendiri.
Bukan tanpa alasan mereka menyembunyikan keterkaitan tempat ini dengan ksatria penjaga lima arah mata angin, sepertinya mereka ingin menyembunyikan tuas terakhir," jawab Wardhana.
"Mereka?"
"Aku tau ini tidak masuk akal namun sepertinya yang membangun tempat ini adalah sang ksatria penjaga arah mata angin sendiri," balas Wardhana.
"Tidak mungkin, legenda ksatria penjaga lima arah mata angin menyebutkan jika hanya ada lima pendekar yang menjaga masing masing mata angin, apa mungkin lima orang mampu membangun tempat sebesar ini?" ucap Wulan tak percaya.
"Mungkin jawabannya ada di balik tuas batu kelima," balas Wardhana sambil memperhatikan sekitarnya, dia terus berfikir dimana tuas kelima itu berada jika tidak mengikuti arah mata angin.
Susunan batu itu kembali mengeluarkan suara saat hembusan angin muncul.
(Batu di puncak gunung padang yang konon dapat mengeluarkan bunyi)
(Batu Bunyi versi PNA)
Wardhana menajamkan pendengarannya sambil menatap susunan batu itu. Dia mengernyitkan dahinya ketika menghitung suara sumbang terdengar sampai lima kali disela sela suara lainnya.
__ADS_1
"Apa mungkin...," Wardhana memegang batu tuas pertama yang menghadap ke barat dan mulia menghitung kearah kiri dan menjadikan batu tuas pertama sebagai awalan.
"Satu, dua, tiga, empat, lima," Wardhana memegang batu kelima sambil mengamatinya. Dia mencabut rerumputan disekitar batu itu dan menemukan sebuah jalur seperti tempat untuk batu bergeser.
Wardhana menggeser batu itu perlahan keluar dan menemukan sebuah tulisan.
"Benar dugaan ku, batu bersusun ini sengaja dibuat untuk menyamarkan ruang rahasia. Jika kita telah menemukan rahasia dari fungsi empat batu tuas ini, apa kita berfikir akan ada tuas kelima? kita sengaja digiring menuju jalan rahasia untuk menjauhkan ruang rahasia yang tersembunyi di salah satu sisi gunung ini.
Petunjuk tuas ke lima juga sejak awal dirancang muncul jika kita telah menemukan jalan rahasia karena tanpa menggeser empat tuas sebelumnya suara sumbang itu tak akan pernah terdengar.
Suara sumbang akibat batu tuas lain yang sudah bergeser selalu terdengar berulang selama lima kali saat angin bertiup. Itu adalah petunjuk tuas terakhir sebagai ganti dari arah mata angin kelima," ucap Wardhana.
"Jadi begitu ya..." Wulan tampak mulai mengerti penjelasan Wardhana.
Setelah membersihkan batu yang tertanam di tanah sebagai jalur untuk menggeser tuas itu, Wardhana mulai membacanya.
"Bilah gelombang tidak boleh bangkit dari tempatnya, kekuatannya akan sangat mengerikan dan tak mungkin bisa dikendalikan. Kami mengubur pusaka itu setelah berhasil menyegel dewa api. Pertemuan lima sumber air akan menyegel Bilah Gelombang selamanya."
Wardhana menarik nafasnya dengan wajah pucat, dia benar benar tak menyangka pusaka yang konon memiliki energi jahat terkuat benar benar ada.
"Wardhana?" Wulan mendekati Wardhana yang terlihat mengembalikan batu kelima itu ke posisi semula.
"Pusaka itu benar benar ada, kita harus merahasiakan kenyataan ini dari siapapun, biarkan semua tetap terkubur selamanya," Wardhana merapihkan kembali semuanya seperti semula.
Wulan menatap Wardhana khawatir, ini untuk pertama kalinya dia melihat wajah Wardhana terlihat pucat.
"Apa tidak sebaiknya..." belum selesai Wulan bicara, Wardhana mencabut pedangnya dan mengalungkan di leher Wulan.
"Tidak, hanya kita berdua yang tau dan aku ingin rahasia ini dibawa sampai mati. Kau paling mengerti seberapa mengerikannya pusaka itu menurut kitab Sabdo Loji, kumohon jangan beritahu siapapun," ucap Wardhana dengan suara terbata bata.
"Kau tak perlu khawatir, jika kau tak percaya padaku, kau boleh membunuhku Wardhana," balas Wulan.
"Maafkan aku," Wardhana menarik pedangnya dan menyarungkannya kembali.
"Kau tidak seperti biasanya, apa sebenarnya yang membuatmu sangat panik?" tanya Wulan bingung.
"Dewa Api, tuan Rubah Putih pernah mengatakan jika Dewa api disegel oleh para dewa setelah pertarungan yang sangat lama. Bukan para dewa yang menyegelnya tapi Ksatria penjaga lima mata angin menggunakan pusaka itu," jawab Wardhana pelan.
"Apa katamu?" Wulan tak mampu menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Itulah yang dikatakan tulisan yang ada dibawah batu itu."
"Lalu apa penduduk Tengger yang menyegel Pagebluk Lampor di tempat ini mengetahui mengenai tuas kelima?"
"Sepertinya tidak, karena jika mereka sudah mengetahuinya maka pusaka itu sudah ada di dunia persilatan," jawab Wardhana.
"Syukurlah," ucap Wulan lega.
"Sebaiknya kita kembali ketempat pertarungan, dan anggap terjadi apa apa di sini," balas Wardhana cepat.
***
Rubah Putih menatap pertarungan Sabrang dan sembilan pendekar angin kegelapan dari jarak yang cukup jauh bersama Candrakurama dan yang lainnya.
Dia memang memutuskan untuk mundur karena Sabrang mulai menyerang membabi buta. Dia bahkan hampir saja membunuh Ken Panca yang bertarung di dekatnya andai Rubah Putih tidak menyelamatkannya.
"Tuan apa semua akan baik baik saja? menghadapi sembilan pendekar Angin kegelapan bukan perkara mudah," ucap Candrakurama khawatir.
"Apa yang perlu kau khawatirkan? saat ini Sabrang tidak membunuh mereka semua bukan karena tidak mampu namun dia jelas mempermainkan lawannya," balas Rubah Putih.
Candrakurama mengangguk pelan, dia menatap pertarungan Sabrang dengan para pendekar Angin kegelapan sambil menelan ludahnya.
__ADS_1
Sabrang memang bertarung tidak seperti biasanya, dia hilang kendali dengan menyerang semua yang berada didekatnya termasuk ken Panca. Luapan energi dewa api yang terus keluar dari tubuhnya mampu menghancurkan batu yang beterbangan disekitarnya dalam sekejap.
Tubuh Sabrang terlihat mulai terluka di beberapa bagian, bukan oleh serangan lawannya karena sampai detik ini semua lawan yang mengelilinginya tak mampu menyentuhnya. Luka itu tercipta akibat dari tak mampunya tubuh Sabrang menahan ledakan energi Dewa api yang terus meluap.
"Keluar kau Kananta! aku tau kau berada disekitar sini, aku bisa merasakan energi Bilah Gelombang. Aku akan membalas apa yang kau lakukan dulu padaku!" teriak Sabrang saat empat pendekar Angin kegelapan meregang nyawa akibat serangannya.
Satu pendekar Angin selatan yang tersisa hanya bisa pasrah saat Sabrang mencengkram lehernya. Kecepatan Sabrang yang terus meningkat dan tekanan aura di sekitar pertarungan membuatnya tak bisa bereaksi apapun.
"Mati kau sampah!" saat Pedang Naga Api hampir memenggal leher pendekar itu, kobaran api muncul dan masuk ke tubuh Sabrang dengan cepat yang membuatnya terlempar beberapa langkah.
"Apa yang kau lakukan bodoh? dan bagaimana kau bisa bangkit kembali?" bentak Naga Api pada aura hitam yang menjadi ciri khas sisi gelapnya.
"Energi Bilah Gelombang menarik ku kembali saat kau pergi, dia ingin bertarung ulang denganku, kali ini akan kupastikan dia hancur terbakar api," balas sisi gelap Naga Api.
"Apa katamu, Bilah Gelombang? pusaka itu telah lama hancur bodoh! sekarang keluar kau dari alam sadar anak ini!" bentak Naga Api.
"Aku bisa merasakan pusaka itu ada di sekitar sini. Dengarkan aku Naga Api, Aku sama sepertimu yang telah menganggapnya sebagai tuan tapi kali ini aku harus membalaskan dendam pusaka terkutuk itu, pedang itu yang telah menyegelku di tempat gelap," balas Dewa api.
"Tapi tubuh anak ini belum mampu menerima seluruh energi Dewa Api, kau akan membunuhnya sebelum bertarung dengan pusaka Bilah Gelombang," ucap Naga Api yang terus menekan sisi gelapnya.
"Sebaiknya kau tidak melakukan itu Naga Api, kau saat ini mungkin bisa mengalahkan aku, tapi efek benturan energi kita berdua bisa membunuh anak ini dalam seketika. Beri aku waktu untuk membalas dendam, setelah itu aku akan kembali padamu."
"Sial, apa yang harus aku lakukan?" Naga Api menarik kembali energinya.
Seperti yang dikatakan sisi gelapnya, saat ini dia bisa mengalahkan sisi gelapnya dengan mudah namun pasti terjadi benturan tenaga dalam yang akan menghancurkan tubuh Sabrang.
"Di mana kau Siren?" umpat Naga Api bingung.
Sabrang kembali bergerak menyerang satu satunya pendekar Angin kegelapan yang tersisa.
"Jurus menghentikan waktu," tubuh pendekar itu tiba tiba kaku saat waktu disekitarnya berhenti.
"Jurus serbuk bunga penghancur Iblis," tebasan pedang Sabrang memotong tubuh pendekar itu sampai hancur, bahkan energi pedangnya menghancurkan dinding tebing air terjun yang menjadi gerbang jalan rahasia.
"Apa yang sebenarnya merasukinya? dia bisa menghancurkan dunia persilatan jika tidak dihentikan," ucap Rubah Putih cemas.
"Tuan, sebaiknya kita mulai memikirkan cara menghentikannya, aku takut dia semakin kuat," balas Ken Panca pelan.
"Tapi dia bisa terbunuh dengan tubuh seperti itu," balas Rubah Putih sambil memperhatikan luka di tubuh Sabrang yang mulai mengeluarkan darah segar.
"Kita tidak punya pilihan tuan, sekarang atau dia tidak akan bisa dihentikan karena aku sangat mengenal darah trah Dwipa itu," Ken Panca mulai merapal segel bayangan untuk mengikat gerakan Sabrang.
"Sial! apa tidak ada cara lain?" Rubah Putih bersiap menggunakan Ledakan tenaga dalam iblis, dia memberi tanda Candrakurama dan yang lainnya untuk bersiap.
"Aku tidak akan mengizinkannya," Emmy tiba tiba melompat ke depan dan menghunuskan pedangnya.
"Hei nona, aku tau perasaanmu namun kita tidak punya pilihan," balas Ken Panca.
"Apapun yang kalian katakan, aku tidak akan mengizinkan siapapun menyentuh Yang mulia," jawab Emmy.
"Kau membuat situasi semakin sulit nona," Rubah Putih bersiap melumpuhkan Emmy.
"Yang mulia, aku akan melindungi mu apapun resikonya karena aku yakin anda akan sadar kembali," Emmy mengalirkan tenaga dalamnya untuk menyambut serangan Rubah Putih.
Saat mereka akan bergerak bersamaan tiba tiba sebuah tongkat melesat cepat dan menancap tepat di dekat Sabrang berdiri.
"Tongkat Cahaya Putih?" ucap Rubah Putih terkejut.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Vote
__ADS_1