Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Tekad Malwageni


__ADS_3

"Jadi paman utusan tuan Wardhana?". Ucap Mentari sambil memakan makanan yang dipesannya.


Restu terlihat menoleh kesekelilingnya sebelum menjawab pertanyaan Mentari.


"Benar nona, aku tidak menyangka bisa bertemu teman Yang mulia dalam perjalanan bahkan menyelamatkan nyawaku. Sekali lagi terima kasih nona".


"Yang mulia?". Mentari mengernyitkan dahinya bingung. Walaupun Sabrang adalah keturunan Raja Malwageni namun selama ini mereka memanggilnya pangeran.


"Aku tidak mengerti cerita lengkapnya nona namun Yang mulia berhasil mendapatkan Keris penguasa kegelapan. Keris itu sudah dianggap wahyu keprabon bagi kerajaan Malwageni jadi kami menganggap jika Yang mulia telah dipilih Malwageni".


Mentari menganggukan kepalanya mendengar cerita Restu. Dia tidak menyangka jika Sabrang telah berkembang pesat selama ini.


"Sudah lama sekali sejak terakhir kali di sekte kelelawar hijau, anda sepertinya bertambah kuat pangeran". Mentari tersenyum mengenang perjalanannya dengan Sabrang selama ini.


"Lalu kemana tujuan nona setelah ini?". Restu memberanikan diri bertanya.


"Aku berencana bertemu dengan tuan Wardhana paman, bisakah paman tunjukan jalannya padaku?".


"Tentu saja nona, setelah aku menyerahkan gulungan ini pada tuan Rajasa akan kuantar ke tempat persembunyian tuan Wardhana".


Mentari mengangguk pelan, ada rasa takut dalam dirinya jika bertemu Sabrang dengan kondisi tubuhnya saat ini namun dia telah berjanji untuk mengabdi pada Sabrang.


***


"Nagata menghadap ketua". Seorang pendekar bertubuh kekar menundukan kepalanya di depan ketua Sekte Golok setan Raksaka.


"Ada kabar dari tuan Paksi?". Raksaka bertanya pelan.


"Dia saat ini berada disuatu tempat yang dirahasikan namun salah satu utusannya berpesan agar kita bersiap. 3 hari lagi perayaan di Saung galah akan diadakan, sesuai dengan rencana awal, Sekte Golok setan sebagian akan memimpin pasukan bersama patih tunggul umbara.


Aku akan bersama pasukan pengecoh tetap berada di Kadipaten Rogo geni untuk menghadapi antek antek Malwageni".


Raksaka mengangguk pelan, masih ada yang mengganjal dalam pikirannya saat ini.


"Apakah Kertasura ikut bergerak?".


"Sepertinya dia tetap pada keputusannya tidak akan ikut campur untuk sementara waktu. Beberapa hari lalu Yang mulia mengutus salah satu prajurit untuk menemui Kertasura namun dia tetap menolak untuk ikut campur".

__ADS_1


"Kertasura memang bodoh, Jika dia mau bergabung bersama Lembah siluman tak sulit baginya menguasai dunia persilatan dengan bakat yang dimilikinya". Raksaka menggeleng pelan.


"Bawa beberapa pendekar terbaik bersamamu karena pengguna Naga api itu akan ikut menyerang Rogo geni, berhati hatilah karena kemampuannya cukup tinggi. Aku akan pergi bersama tuan patih untuk menyerang bersama pasukan utama. Dengan Ilmu yang diberikan Lembah siluman kita akan menjadi sekte nomor satu di dunia persilatan dan setelah itu terwujud aku akan membunuh Kertasura untuk mendapatkan pedang langitnya". Raksaka tersenyum dingin.


"Bagaimana jika sekte aliran putih ikut membantu mereka ketua?".


"Kau tak perlu khawatir tugas kalian hanya mengulur waktu, jika keadaan terjepit mundurlah namun dengan Ilmu yang kini kau miliki harusnya hanya beberapa orang yang bisa menandingimu. Kau hanya perlu waspada terhadap pengguna Naga api itu".


"Bawalah ini bersamamu Nagata". Tiba tiba Maruta muncul dari balik pintu sambil membawa sebuah kotak kayu di tangannya.


"Dia?aku bahkan tidak merasakan kehadirannya". Nagata menatap Maruta yang berjalan kearahnya.


Nagata membuka kotak itu dan mengambil pedang yang ada dikotak itu.


"Ini?". Nagata tersentak kaget melihat pedang yang ada ditangannya.


"Pedang siluman, kau membutuhkannya untuk menghadapi Naga api, walau tak sekuat pedang Naga api namun kau bisa merepotkannya dengan pedang itu". Maruta tersenyum kecil.


"Terima kasih tuan" Nagata sumringah mendapat salah satu pedang terbaik di dunia persilatan.


"Simpan ucapan terima kasihmu sampai kau berhasil mengalahkan anak itu. Untuk menjalankan rencana kita butuh 4 pusaka terkuat Dieng jika kau bisa mendapatkan Naga api aku yakin ketua akan memberimu hadiah yang besar".


Maruta menganggukan kepalanya "Jadi anak itu benar benar pewaris kerajaan Malwageni, aku jadi penasaran siapa leluhurnya".


"Maksud anda? Bukankah dia hanya anak seorang raja yang bahkan tidak dapat mempertahankan kerajaannya dari serangan Majasari" Raksaka mengernyitkan dahinya.


"Tidak kau salah, Naga api adalah pusaka yang unik dari 4 pusaka lainnya. Aku tau sejarahnya pusaka itu, semua penggunanya terdahulu hampir bernasib sama mati dengan tubuh hancur. Dia memakan roh mereka hingga menjadi sangat kuat namun anak itu sepertinya bisa mengendalikannya.


Tidak ada yang kebetulan didunia ini, jika anak itu bisa mengendalikan Naga api aku yakin latar belakang anak itu bukan sembarangan. Akan menjadi masalah besar bagi kita jika sampai Naga api mau membuat perjanjian dengan anak itu". Maruta terlihat menarik nafas panjang.


"Perjanjian?". Nagata bertanya pelan.


"Setiap pusaka terkuat Dieng memiliki kekuatan yang besar, Jika kau ingin menggunakan kekuatan itu secara maksimal kau harus membuat perjanjian darah dengan pusaka itu di gua kabut.


Naga api selama ini belum pernah mau terikat perjanjian dengan manusia jadi akupun tidak bisa memperkirakan seberapa kuat sebenarnya Naga api karena apa yang kita lihat selama ini hanya sebagian kecil kekuatannya".


"Jadi kekuatan Naga api bisa lebih besar dari saat ini?". Raksaka menelan ludahnya. Dia adalah salah satu pendekar yang ikut bergabung bersama pendekar lainnya saat Suliwa dirasuki oleh Naga api puluhan tahun lalu. Saat itu yang dilihatnya adalah Iblis api yang kekuatannya tidak terbatas.

__ADS_1


Bahkan Kertasura saat itu terluka parah dan kini dia mendengar jika itu hanya sebagian kecil kekuatan Naga api.


"Jangan pernah bermimpi untuk memiliki Naga api atau nyawamu akan melayang Raksaka". Maruta menatap tajam Raksaka seolah tau apa yang ada dipikirannya.


"Tugas kalian hanya mengumpulkan 4 pusaka itu tidak lebih". Suara Maruta meninggi, wajahnya yang selama ini selalu dipenuhi senyuman ramah tiba tiba berubah menakutkan, bahkan Raksaka terlihat menahan nafasnya.


"Aku mengerti tuan". Raksaka menundukan kepalanya tak berani menatap Maruta.


***


"Hamba menghadap yang mulia". Wardhana terlihat memasuki ruangan bersama Lembu sora.


"Apa sudah ada kabar dari paman Wijaya?".


Wardhana mengangguk pelan "Mereka menyetujui dengan beberapa syarat, salah satunya kepala kita menjadi jaminannya jika gagal". Wardhana menudukan kepalanya.


Sabrang mengangguk pelan sambil tersenyum memandang Wardhana, dia sudah mengira jika Saung galah tak akan mengambil resiko tanpa jaminan apa apa.


"Yang mulia jika anda tidak berkenan masih ada waktu untuk membatalkannya". Wardhana berkata pelan


"Tidak paman, aku tidak melihat alasan untuk membatalkannya".


"Tapi yang mulia...".


"Paman dengarkan aku, jika ayahku dulu mempercayai paman menggantikan Paksi kenapa aku harus ragu. Aku pernah mendengar jika paman Wardhana mendapat julukan sang naga yang tertidur dari Malwageni.


Namun untuk kali ini bisakah aku meminta Naga itu untuk bangun sejenak dan menghancurkan semua musuh terkuat Malwageni. Aku akan berjuang sekuat tenaga bersama paman dan yang lainnya, mari kita tunjukan pada seluruh dunia apa itu tekad Malwageni".


Seketika tubuh Wardhana bergetar mendengar ucapan Sabrang, untuk sesaat dia merasa sedng berbicara dengan Arya Dwipa. Air mata dan semangatnya mengalir keluar, hari ini tekadnya benar benar sudah bulat untuk membawa pulang kemenangan demi Malwageni.


"Hamba akan berusaha sekuat tenaga menghancurkan mereka Yang mulia". Wardhana dan Lembu sora serentak berlutut dihadapan Sabrang.


"Ayah saat ini aku baru mengerti betapa beruntungnya ayah dikelilingi orang orang hebat ini". Sabrang bergunam dalam hati.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


**Bonus Chapter ini spesial untuk teman teman yang selalu setia memberikan Vote, like dan tips pada Novel Pedang Naga Api.

__ADS_1


Maka jika berkenan saya kembali meminta dukungan Vote, like nya jika teman teman suka dengan jalan ceritanya.


Tetap jaga kesehatan... Terima kasih**


__ADS_2