Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kepingan Misteri Khayangan Api


__ADS_3

Wardhana menatap bangunan yang hancur dihadapannya, dia berdiri cukup lama karena sedikit ragu apakah bangunan dihadapannya adalah sekte Tapak es utara.


Wardhana mendengar jika tapak es utara adalah sekte terkuat dunia persilatan setelah iblis hitam, dia hampir tidak bisa percaya jika ada yang bisa menghancurkan tapak es utara separah ini.


"Ada yang bisa kubantu tuan?". Seorang murid tapak es utara yang kebetulan lewat menyapanya.


Wardhana tersenyum ramah sambil menundukan kepalanya. "Maaf tuan, benarkah ini sekte tapak es utara?".


"Anda benar tuan, bisakah aku membantu anda". Jawab murid itu tak kalah ramah.


"Aku dipanggil kemari oleh Yang mulia Sabrang, bisakah anda mengantarku?".


Raut wajah murid itu sedikit terkejut setelah mendengar Wardhana mencari Sabrang.


Katakan pada Yang mulia bahwa Wardhana meminta menghadap". Ucap Wardhana seolah tau kebingungan murid tersebut. Murid tersebut mengangguk pelan sebelum berjalan meninggalkan Wardhana. "Mohon anda menunggu". ucapnya sopan.


Wardhana dapat memaklumi kekhawatiran pemuda dihadapannya karena selain sebagai pewaris tahta Malwageni, Sabrang juga merupakan keponakan Mantili. Hal ini membuat mereka harus hati hati menerima tamu yang ingin menemui Sabrang.


"Maaf tuan jika anda kurang berkenan namun aku harus melapor untuk tamu yang ingin menemui Pangeran, kuharap anda mengerti. mari ikuti aku". Ucap murid itu seletah melapor pada seniornya.


Wardhana mengangguk pelan kemudian berjalan mengikuti pemuda dihadapannya. Wardhana menatap sekelilingnya selama berjalan menuju aula utama tapak es utara. Kerusakan yang terjadi di sekte itu cukup berat menandakan telah terjadi serangan yang sangat besar.


"Sepertinya aku sedikit meremehkan masalah kali ini, jika salah satu sekte terkuat saja bisa dibikin hancur seperti ini berarti mereka memiliki kemampuan untuk menghancurkan dunia persilatan ini". Wardhana terus memperhatikan sekelilingnya sambil sesekali menggelengkan kepalanya.


Langkah Wardhana terhenti saat pemuda itu menunjuk salah satu bangunan yang cukup besar didepannya.


"Pangeran berada di sana bersama guru dan yang lainnya, anda bisa menemuinya sekarang, aku sudah mengirim pesan jika anda ingin menghadap".


"Terima kasih". Wardhana menundukan kepalanya memberi hormat.


***


"Hamba mohon menghadap Yang mulia". Wardhana berlutut dihadapan Sabrang.


"Ah paman sudah sampai, bangunlah". Sabrang mempersilahkan Wardhana duduk.


Wardhana duduk diantara Suliwa dan Arung yang sudah lebih dulu datang. Tak lama Mantili dan Wulan sari terlihat memasuki ruangan.


"Paman sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan denganmu, sepertinya berhubungan dengan penyerangan sekte Tapak es utara". Sabrang mengeluarkan gulungan yang diberikan oleh Arung padanya dan menyerahkannya pada Wardhana. "Aku ingin paman memecahkan petunjuk yang ditulis oleh Ken panca".


Arung mengernyitkan dahinya sambil menatap Wardhana. Orang yang ada disampingnya itu terlihat biasa saja bahkan Arung tidak merasakan adanya tenaga dalam yang besar pada Wardhana namum Sabrang begitu percaya jika Wardhana yang dapat memecahkan misteri yang sudah ribuan tahun tidak bisa dipecahkan oleh Iblis petarung sekalipun.


"Hamba akan berusaha semampu hamba Yang mulia". Wardhana mulai membaca gulungan itu.


"Bagaimana kalian bisa mendapatkan gulungan milik Ken panca?". Tanya Suliwa pada Arung.


"Tuan Panca telah kami anggap sebagai keluarga sendiri. Saat beliau mencari keberadaan Iblis petarung beberapa petunjuk membawanya kedaratan Celebes. Kebaikannya membuat kami mudah menerimanya, suku kami telah menganggapnya sebagai keluarga sendiri. Saat dia mengetahui jika kami sedang mencari keberadaan kitab paraton dan pusaka megantara, tuan Panca membantu kami mencari petunjuk petunjuk mengenai kitab itu. Dia menuliskan petunjuk keberadaan kitab paraton dan telaga khayangan api digulungan ini. Dia hanya meninggalkan tulisan ini tanpa memberi petunjuk pastinya karena lebih tertarik dengan Iblis petarung".

__ADS_1


"Jadi begitu ya, ternyata Panca sudah lebih dulu menemukan daratan Celebes ya". Ucap Suliwa pelan. Dia memang pernah mendengar sebuah daratan yang begitu indah namun menakutkan bernama celebes namun saat itu dia mengira jika daratan itu sama seperti Dieng yang belum tentu ada didunia ini.


"Sepertinya tuan Panca bukan tidak tertarik pada Paraton dan Megantara namun dia terlalu takut untuk melanjutkan pencarian petunjuknya". Wardhana tiba tiba bicara.


Semua sontak menoleh kearah Wardhana bersamaan termasuk Arung yang sempat tidak percaya dengan kemampuan Wardhana.


"Maksud paman?". Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Dibagian pembuka tuan Panca menuliskan (Aku lebih memilih berurusan dengan mata biru daripada sesuatu yang lebih menakutkan. Sesuatu yang akan bangkit lebih menakutkan dari yang mereka kira. Kuputuskan menundanya sampai orang terpilih tiba).


Jika perkiraanku tidak salah Aku lebih memilih berurusan dengan mata biru dan Menundanya sampai orang terpilih tiba. Tuan panca secara tidak sengaja menemukan fakta mengenai Paraton dan telaga khayangan api namun dia lebih memilih menundanya karena ketakutannya akan sesuatu yang lebih menakutkan. Untuk menutupi fakta yang dia temukan dia menunjukan bahwa seolah olah dia tidak tertarik dengan apa yang kalian cari dan lebih fokus mencari Iblis petarung". Wardhana kembali membaca gulungan itu.


"(Paraton sengaja ditulis untuk menemukan pusat dunia karena tidak ada petunjuk di Lima rumah para Dewa agar suatu saat ditemukan. Lima rumah berada di pusat kehidupan berbeda. Jangan melangkah terlalu jauh dan biarkan alam bekerja sesuai fungsinya)". Wardhana terlihat berfikir sejenak sambil mencoba mencerna petunjuk yang diberikan Panca.


"Sesuai dugaanku saat menemukan sesuatu di Dieng jika Paraton sengaja ditulis agar ada yang bisa ditemukan oleh seseorang seperti Ken Panca untuk kepentingan sesuatu. Aku pernah membaca catatan Suku Iblis petarung yang berbunyi (Kitab ilmu pengetahuan dibuat disuatu tempat bernama khayangan api. Kami sedang berusaha mencari tempat itu atau jika terpaksa membuat tiruan sesuai petunjuk kitab itu dan membuat pedang dari segala pedang)". Kalian tau apa keanehan catatan itu?". Wardhana menghela nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.


"Kita semua dituntun oleh pembuat kitab Paraton untuk menemukan sebuah tempat yang menurut Panca harus disembunyikan sampai orang terpilih muncul. Alam selalu memiliki obat untuk keangakramurkaan dan obat itu baru muncul ketika saatnya tiba namun sepertinya pembuat kitab ini tidak ingin menunggu selama itu. Itulah sebabnya mereka membuat petunjuk melalui kitab Paraton".


Semua terdiam mendengar ucapan Wardhana, mereka masih mencoba mencerna maksud ucapan Wardhana.


"Bagaimana jika kita menemukan tempat itu saat alam belum menyiapkan obatnya?". Arung bertanya penasaran.


"Kehancuran". Jawab Wardhana pelan.


Jawaban Wardhana yang terdengar pelan namun mampu membuat semua orang yang ada diruangan itu terdiam. Mereka baru sadar jika saat ini dunia persilatan sedang menghadapi masalah yang begitu besar melebihi permasalahan kebangkitan Iblis petarung.


Wardhana kembali membacanya sambil mengangguk angukan kepalanya.


"Peradaban Maja". Kata Wardhana pelan.


"Peradaban Maja?". Kali ini Suliwa tidak dapat menahan rasa penasarannya.


"Telaga khayangan api pasti akan terbuka saat Peradaban Maja berdiri karena saat itu anak dalam ramalan telah lahir. Jika kita memaksanya membuka sekarang saat anak itu belum lahir maka seperti yang kukatakan tadi dunia persilatan akan hancur tanpa sisa beserta isinya".


"Tunggu". Arung terlihat kurang puas dengan jawaban Wardhana. "Pembuat kitab ini adalah pendekar langit merah yang konon telah berhasil masuk Telaga khayangan api. Jika mereka telah berhasil masuk buat apa mereka menulis kitab ini agar kita menemukan jalan masuk telaga khayangan api?".


"Catatan terakhir Ken Panca mengatakan (Mereka tidak/belum menemukan pusat dunia dan menggunakan anugrah keabadian dan pengetahuan untuk mencoba membuka sesuatu yang tidak boleh dibuka). Petunjuk ini dibuat Ken Panca untuk menyampaikan pesan jika pembuat kitab paraton belum berhasil menemukan jalan masuk Telaga khayangan api. Perkiraanku mereka membuat kitab paraton dari petunjuk lima rumah para dewa ini". Wardhana menghentikan ucapannya sejenak dan menatap Sabrang.


"Yang mulia, mohon maafkan hamba. Yang akan kita hadapi saat ini adalah seseorang yang dianugrahi ilmu kanuragan tingkat tinggi dan kepintaran yang luar biasa. Aku takut kemampuanku tak mampu menandingi mereka". Wardhana menundukan kepalanya. Dia harus mengatakan sejelas jelasnya karena takut Sabrang terlalu mengandalkannya dan menjadi kecewa.


Sabrang terkekeh melihat tingkah abdi setianya itu.


"Pedang yang paman bawa terlihat bagus, aku yakin itu bukan pedang biasa. Aku pernah mendengar dari paman Wijaya jika Ayah menghadiahi pedang itu pada paman. Apakah itu pedang pemberian ayah?". Tanya Sabrang.


Wardhana hanya mengangguk pelan, dia tidak berani menatap Sabrang.


"Paman mengatakan berulang kali padaku bahwa Ayah adalah raja yang hebat. Jika raja yang paling hebat saja berani mempercayai paman bagaimana aku berani tidak mempercayai paman?".

__ADS_1


"Yang mulia". Wardhana jadi serba salah.


"Jika satu Naga api saja mampu membuat kekacauan didunia persilatan, aku yakin dua Naga yang kini ada dipihakku akan mampu mengatasi semuanya termasuk Pendekar Langit merah. Gunakan pedang ayah untuk membangkitkan Naga yang tertidur dari Malwageni yang kini mulai menggeliat. Bangkitkan Naga itu dalam diri paman dan aku akan mengurus Naga api, lalu kita akan hancurkan pendekar langit merah bersama sama". Ucap Sabrang lantang.


Semua terdiam mendengar ucapan Sabrang termasuk Wardhana yang berusaha keras menahan air matanya keluar.


"Hamba akan menggunakan semua yang hamba miliki untuk membantu Yang mulia raja". Ucap Wardhana penuh haru. Dia tidak menyangka tuannya itu mempercayainya segitu besar.


"Kau mulai dewasa nak". Gumam Suliwa dalam hati.


"Baiklah lalu kita harus mulai dari mana untuk menyekidiki masalah ini?". Suliwa terlihat begitu bersemangat.


"Lima rumah para dewa". Wardhana menunjuk catatan Panca.


"Lima rumah para dewa? dimana kita menemukannya?". Tanya Mantili.


Wardhana terlihat terus berfikir sambil membalik gulungan ditangannya berkali kali.


"Tetua, dari mana anda mendapatkan petunjuk yang anda tulis ini?". Tanya Wardhana tiba tiba.


"Aku menyalinnya dari kitab dewa es yang kuberikan pada Sabrang". Jawab Mantili.


Wardhana seperti menemukan sesuatu, dia kembali membaca catatan Ken Panca berulang kali. Pandangan matanya berhenti disebuah gambar disudut gulungan. Ada sebuah gambar daratan yang dikelingi lautan.


"Lima rumah Para dewa tersebar di 5 daratan Nuswantoro. Untuk daratan Jawata berhubungan dengan sekte Tapak es utara". Ucap Wardhana yakin. "Apa tidak ada tempat rahasia disekte ini tetua?". Tanya Wardhana pada Mantili.


"Sebenarnya....". Belum selesai Mantili bicara, Sabrang memotong ucapannya.


"Ada! Kami menemukannya saat pertama kali kesini bersama Arung".


Mantili tersentak kaget mendengar Sabrang berhasil menemukan tempat yang disakralkan oleh Tapak.es utara itu. Hanya ketua sekte yang boleh masuk kesana.


"Itu rumah para dewa pertama. Bisa anda tunjukan tempatnya Yang mulia? hamba yakin petunjuk pertama Telaga khayangan api berada disana". Pinta Wardhana.


"Berarti 4 rumah dewa lainnya?". Tanya Arung yang mulai mengerti penjelasan Wardhana.


"Tersebar di 4 Daratan lainnya, aku yakin salah satunya adalah Celebes dan Hujung tanah. Dua lainnya kemungkinan akan kita temukan di ruang rahasia Tapak es utara". Jawab Wardhana.


"Baiklah aku akan tunjukan tempatnya, mari ikuti aku". Ajak Mantili kemudian.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Terima kasih pada Regina Jamlean Atas tipsnya.. Bonus chapter telah Author rilis sesuai janji.


Mulai chapter selanjutnya kita akan jalan jalan keliling Nusantara...


Ditunggu kelanjutannya dan Votenya...

__ADS_1


Tetap jaga kesehatan.....


__ADS_2