Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Jaya Setra


__ADS_3

Guyuran hujan disertai suara petir yang bergemuruh sedikit menyurutkan langkah Wardhana dan beberapa pasukan elit Angin selatan yang sedang menuju Air terjun lembah pelangi.


Jarak pandang yang semakin pendek dan suasana gelap saat mereka mulai memasuki hutan larangan membuat Wardhana terpaksa menghentikan perjalanan dan berteduh dibawah pohon rindang sampai hujan sedikit mereda. Dia merasa sangat berbahaya jika memaksa masuk kedalam hutan Larangan yang penuh misteri dalam situasi seperti ini.


Para prajurit Angin selatan yang bertugas mengawal Wardhana selama perjalanan ke Air terjun Lembah pelangi langsung memeriksa sekitarnya untuk memastikan keamanan orang yang kini menjadi magnet baru bagi Nuswantoro itu.


Mereka cukup khawatir karena selain hujan yang tak juga menunjukkan tanda tanda akan mereka, malam pun sepertinya datang lebih cepat.


Wardhana sebenarnya sudah diminta oleh Lembu Sora untuk pergi esok hari karena hujan memang sudah turun sejak siang tapi dia bersikeras ingin segera menemui Sabrang dan melaporkan tentang keanehan Ken Panca.


Lembu Sora akhirnya meminta empat prajurit elit angin selatan untuk mengawal Wardhana dan memastikan keselamatannya.


"Sepertinya hujan akan terus turun sampai pagi," ucap Wardhana sambil membuka pakaiannya yang sudah basah.


"Maaf tuan, apa tidak sebaiknya kita kembali ke keraton dan berangkat kembali esok hari?" tanya salah satu prajurit khawatir setelah melihat suasana hutan yang sudah gelap.


"Tidak, kita sudah menempuh separuh perjalanan lebih dan akan menjadi percuma jika kembali ke keraton," jawab Wardhana cepat.


"Tapi tuan, suasana hutan larangan sudah mulai gelap dan jarak pandang kita semakin pendek, akan sangat berbahaya jika..." prajurit itu tidak melanjutkan ucapannya saat merasakan ada aura yang menekannya.


"Ada yang mendekat tuan," ucapnya sambil mencabut pedangnya cepat.


Setelah perang besar yang menewaskan banyak prajurit Malwageni, Arung memang terus meningkatkan kemampuan tempur pasukan Elit Angin selatan, salah satunya dengan membekali mereka ilmu kanuragan. Itulah sebabnya para pengawal Wardhana bisa merasakan aura bertarung orang lain.


"Siapa yang berani mencari masalah di wilayah hutan larangan? bukankah Wulan sudah melindungi hutan ini dengan segelnya?" ucap Wardhana sambil memakai kembali pakaiannya.


"Hamba tidak tau tuan, tapi siapapun dia ilmu kanuragannya jelas sangat tinggi," jawab prajurit itu khawatir.


"Wardhana sang Naga tidur, aku datang untuk mencabut nyawamu," empat orang pendekar yang mengenakan topeng terlihat melayang di udara dan bergerak mendekati Wardhana.


"Mencabut nyawaku? aku sudah sering mendengar ancaman itu tapi sepertinya tidak ada yang pernah berhasil," ejek Wardhana.


Wardhana terus menatap empat pendekar yang kini sudah berada didekatnya, dia mencoba mengenali pakaian dan topeng yang mereka kenakan.


"Aku sudah sering mendengar jika kau sangat beruntung dan lolos dari kematian beberapa kali, tapi malam ini akan kupastikan kau mati," pendekar itu memberi tanda pada yang lainnya untuk mulai menyerang.


"Tuan, sebaiknya anda pergi, kami akan mencoba menahan mereka," empat prajurit elit Angin selatan bergerak menyambut serangan itu.


"Menahan kami? kau pikir dengan kemampuan rendah seperti itu bisa melawanku?" pendekar misterius itu langsung melepaskan serangan cepat yang membuat prajurit Angin selatan terkejut.


"Mereka lebih kuat dari yang terlihat," umpat prajurit Angin selatan sambil berusaha mengimbangi kecepatan para pendekar misterius itu.


Pertarungan dibawah guyuran hujan malam itu tampak tidak seimbang, ilmu kanuragan para pendekar misterius jauh di atas prajurit angin selatan. Satu persatu mereka mulai tersudut sebelum meregang nyawa oleh sabetan sabetan cepat pedang yang mengandung tenaga dalam besar.


Melihat para prajuritnya tak berdaya, Wardhana mencabut pedangnya dan bergerak menyerang.


"Benar benar keras kepala, andai kau tidak melawan akan kuberikan kematian yang cepat dan tidak menyakitkan," pendekar itu merubah gerakan pedangnya, dia yang sedang menghadapi satu satunya prajurit angin selatan yang tersisa tiba tiba melesat kearah Wardhana.


"Tuan patih!" prajurit itu berusaha mengejar pendekar yang bergerak kearah Wardhana namun sebuah sabetan pedang dari sisi kanannya memaksa tubuhnya berhenti dan roboh ketanah.


"Tuan patih... kumohon... lari," ucap prajurit itu sebelum meregang nyawa.


Wardhana mengayunkan pedangnya sekuat tenaga dan berusaha menyerang celah pertahanan yang dilihatnya, dia tidak lagi memikirkan jika lawannya jelas lebih kuat.


Wardhana sadar tidak akan bisa mengalahkan mereka semua tapi jikapun harus mati setidaknya dia membawa satu atau dua pendekar itu mati bersamanya.

__ADS_1


Namun, Wardhana tersentak kaget saat celah itu tertutup dengan cepat saat pendekar itu merubah gerakan pedangnya, dia sedikit merendahkan tubuhnya sebelum menebas bagian perut Wardhana.


"Gawat, celah itu hanya jebakan?" Wardhana menarik serangannya dengan cepat dan berusaha menangkis serangan itu.


"Lambat, saatnya memutus keberuntungan itu, matilah kau!" pendekar itu menambah kecepatannya tiba tiba untuk serangan terakhir namun beruntung bagi Wardhana, tumpuan kakinya goyah dan dia terpeleset sehingga serangan pedang lawannya tidak mengenai area berbahaya dan secara tidak sengaja membentur pedangnya.


Tubuh Wardhana terlempar cukup jauh sebelum membentur pohon besar yang ada di sekitar hutan.


"Sial! dia sangat kuat," umpat Wardhana sambil meringis kesakitan.


Pendekar itu menatap Wardhana geram, dia benar benar tidak habis pikir serangannya bisa meleset.


"Kau memang memiliki banyak keberuntungan ya? pantas saja kau bisa hidup sejauh ini," pedang di tangan pendekar itu melepaskan aura yang cukup besar sebelum kembali bergerak.


"Kenapa dia begitu marah padaku?" ucap Wardhana bingung, dengan sisa sisa kekuatannya dia bangkit dan mencoba menangkis serangan yang kembali terarah padanya.


"Jurus pedang putaran angin penghancur iblis," tubuh Wardhana tiba tiba kaku dan tak bisa digerakkan saat luapan aura yang berasal dari tubuh lawan menekan tubuhnya.


"Hanya sampai disini?" ucapnya sambil melihat sabetan pedang mengarah ke kepalanya.


Tepat sebelum pedang itu memenggal kepalanya, sesosok tubuh tiba tiba muncul dan menangkis serangan itu dengan mudah.


Tubuh pendekar misterius itu langsung terlempar akibat benturan tenaga dalam sebelum salah satu temannya bergerak dan menyambarnya.


"Kakang kau baik baik saja?" tanya temannya khawatir.


"Jurus itu..." jawab pendekar itu terkejut.


"Jurus pedang putaran angin penghancur iblis milik ayah? walau tak sehebat Pedang Jiwa tapi aku cukup kagum kau bisa menguasainya dengan sempurna," ucap pendekar yang menyelamatkan Wardhana sambil tersenyum.


"Energi Ledakan batu Satam? kau jangan jangan..."


"Tidak mungkin...bukankah kau...?" wajah Jayapati tak percaya.


"Terkurung di dimensi ruang dan waktu oleh ibuku? kau benar tapi sepertinya alam masih belum ingin aku mati," jawab Jaya Setra.


"Jadi kau benar benar masih hidup ya, sepertinya ada sedikit salah paham diantara kita. Ayahmu adalah kakak kandungku jadi tidak mungkin aku diam jika ada yang mencoba mengambil alih tubuhnya. Ibumu lah yang telah berkhianat dan bekerja sama dengan Atlantis untuk menguasai peradaban kita, kau tentu sudah melihat catatan di puncak Suroloyo bukan?" Jayapati berusaha mempengaruhi keponakannya itu.


"Kau sangat memuakkan paman, ayah memberiku nama yang mirip denganmu karena rasa kagumnya tapi kau justru berkhianat," jawab Jaya Setra dingin.


"Ayah? ibu? siapa lagi pendekar ini? sial sepertinya aku terjebak di antara pertengkaran keluarga," umpat Wardhana sambil melangkah mundur perlahan.


"Tuan Wardhana, aku bisa saja membunuhmu saat ini juga tapi tidak kulakukan karena ada yang ingin dibicarakan jadi jangan paksa aku membunuh malam ini, kecuali mereka," ucap Jaya Setra mengancam.


"Apa aku tidak boleh duduk di bawah pohon itu karena aku tidak ingin terlibat dalam pertengkaran keluarga, selain itu ilmu kanuragan sepertinya tidak cocok untukku," balas Wardhana sinis.


"Kau ternyata memiliki selera humor yang tinggi tapi kujamin senyummu itu akan menghilang saat mengetahui siapa mereka," Jaya Setra tiba tiba bergerak menyerang setelah menyelesaikan ucapannya.


"Formasi! bentuk formasi!" teriak Jayapati cepat sambil bergerak menyambut serangan yang terarah padanya.


Tiga pendekar yang berada tak jauh darinya langsung melesat kearah Jayapati dan membentuk formasi seperti kepakan sayap burung elang saat menyerang mangsanya.


"Bahkan kalian menguasai formasi kepakan sayap elang penghancur, sepertinya benar kata Wardhana, ini adalah pertemuan keluarga," tubuh Jaya Setra tiba tiba menghilang bersamaan dengan terhentinya tubuh Jayapati dan para pendekar nya.


"Jurus ini? bagaimana kau bisa menguasainya?" Jayapati tampak berusaha sekuat tenaga menggerakkan tubuhnya.

__ADS_1


"Kau lupa jika mata ini adalah milik suku Atlantis dan ibuku adalah keturunan suku terkuat itu jadi aku bisa leluasa menghentikan waktu," Jaya Setra muncul didekat lawannya dan memenggal kepala ketiganya dengan sangat cepat.


"Ah..aku lupa membunuhmu paman," ucap Jaya Setra mengejek saat waktu kembali berputar.


"Dia...mempermainkan aku?" Jayapati tampak menahan amarah sambil menatap keponakannya yang berdiri cukup jauh darinya.


"Apa paman lupa jika dulu pernah mengajarkanku Jurus pedang putaran angin penghancur iblis? saat itu kita tidak benar benar mengujinya, bagaimana jika sekarang kita coba?" Jaya Setra menarik pedangnya ke depan sebelum kembali bergerak.


"Sial! aku akan membunuhmu berkali kali," umpat Jayapati kesal.


Namun baru saja Jayapati hendak mengayunkan pedangnya, waktu kembali berhenti dan sebuah sabetan pedang memotong tangan kirinya.


"Ah... Seranganku meleset, sepertinya kita harus mencobanya lagi paman."


Jeritan menyayat Jayapati saat lengan kirinya jatuh ketanah membuat Wardhana yang melihatnya dari jauh bergidik.


"Dia ingin membunuh pendekar itu perlahan, apa itu tidak terlalu kejam?" Wardhana menelan ludahnya.


Jayapati kembali menjerit saat lengan kanannya yang putus kali ini, terlihat darah menyembur dari kedua lengannya.


"Aku mohon...ampuni aku Setra, paman mungkin bersalah tapi saat itu tak ada yang bisa dilakukan karena setelah Li Yau Fei berhasil merasuki tubuh ayahmu dia menjadi sangat kuat," Jayapati berlutut dihadapan Jaya Setra.


"Tidak... paman tidak salah karena yang salah adalah orang suruhan paman yang meracuni ayah sebelum Li Yau Fei mengambil tubuhnya, tolong jangan berlutut di hadapanku," balas Jaya Setra sambil mengangkat pedangnya.


"Setra, mohon ampuni paman karena bagaimanapun orang tua ini adalah gurumu. Apa kau masih ingat bagaimana paman selalu membela saat kakang Sanjaya memarahimu?" ucap Jayapati memohon.


"Aku sudah memaafkan paman sejak lama, tapi seperti yang ayah ajarkan padaku dulu bahwa setiap manusia harus bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Apa paman tau bagaimana hancurnya hati ini saat melihat raga ibu mengurungku di dimensi ruang dan waktu?"


"Aku mohon Setra...." suara Jayapati tertahan saat lehernya merasakan sakit yang luar biasa sebelum kepalanya terlepas dan jatuh ketanah.


"Ambisi dan hawa nafsu benar benar telah merubah paman," ucap Jaya Setra sambil menyarungkan pedangnya.


"Kau...aku ingat sekarang, kau adalah pendekar bertopeng yang kutemui bersama para pemimpin dunia di dimensi ruang dan waktu," ucap Wardhana dengan suara bergetar.


"Aku telah membantu membunuh musuh kalian dan kau menghunuskan pedang padaku?" balas Jaya Setra sinis.


"Membantu kami? kau bahkan hampir membunuh Ciha," jawab Wardhana cepat.


"Maksudmu orang yang menyegel dimensi ruang dan waktu? aku hanya berusaha mencegah dia menyegel dimensi itu karena aku juga ingin keluar dari tempat terkutuk itu. Jika aku berniat membunuhnya apa kau pikir dia masih hidup sekarang? letakkan pedangmu karena saat ini hanya aku yang bisa membantu kalian," balas Jaya Setra pelan.


"Apa kau pikir aku akan percaya begitu saja?"


"Aku tidak memaksamu percaya padaku tapi demi kebaikanmu sebaiknya letakkan pedang itu karena aku bisa membunuhmu kapan saja," Jaya Setra melangkah mendekati Wardhana.


"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Wardhana cepat.


"Aku hanya ingin bicara mengenai Ken Panca sebelum semuanya terlambat," jawab Jaya Setra.


"Ken Panca?"


"Kau mungkin tidak akan percaya padaku tapi satu hal yang harus kau tau, dia bukan lagi teman kalian."


"Aku percaya..." balas Wardhana sambil menyarungkan pedangnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Malem minggu Mblo, mandi sana, pake baju bagus terus tidur wkwkwkkw


Bonus? sepertinya malem ini belum bisa mblo... hari senin ya bonusnya...


__ADS_2