
Hutan air adalah salah satu hutan rimba yang berada dipinggiran kadipaten Rogo geni yang berbatasan dengan Saung galah. Letaknya yang berada tepat ditengah perbatasan membuat beberapa tempat dihutan ini belum terjamah karena sempat terjadi sengketa wilayah antara Saung galah dan Majasari sebelum berhasil direbut Wardhana.
Kondisi hutan yang lembab dan mencekam membuat orang memberi nama hutan air.
Disalah satu tempat itulah bersembunyi peradaban tinggi yang dibangun oleh Pendekar langit merah. Keberadaan hutan yang jarang didatangi ditambah segel embun yang hanya aktif dipagi hari membuat Langit merah mampu bersembunyi sangat lama dari dunia persilatan.
Tungga dewi tampak bergerak lincah membelah hutan dengan pakaian tak biasa. Dia kini terlihat menutup wajahnya dengan lain dan memakai caping.
Empat pendekar lainnya mengikuti dibelakangnya dengan pakaian yang tak jauh berbeda.
Saat matahari belum menampakkan sinarnya mereka telah sampai dihutan itu. Tungga dewi memberi tanda pada pendekar lainnya untuk berhenti dan memeriksa sekitarnya sambil menunggu segel embun aktif.
"Periksa tempat disekitar sini dan jangan sampai ada yang terlewat, aku tidak ingin misi pertama kita gagal. Bagaimanapun langit merah adalah sekte yang paling dicari didunia persilatan, aku takut bukan hanya kita yang mencari mereka" ucap Tungga dewi.
"Baik ketua" dua orang pendekar memisahkan diri dan bergerak senyap diantara gelapnya hutan.
Tungga dewi terlihat mengamati sekitarnya sebelum bergerak kesalah satu pohon. Dia melesat naik dan berhenti disalah satu ranting pohon yang paling tinggi untuk mengamati situasi.
Tungga dewi kembali teringat ucapan Wardahana sebelum keberangkatannya.
"Aku ingin Hibata mengirim pesan pada dunia persilatan jika kalian ada bagaimana pun caranya. Kita harus memecah konsentrasi Masalembo dengan menciptakan musuh baru bagi mereka bernama Hibata. Saat mereka sibuk mencari tau keberadaan kalian, tim lainnya yang dibentuk Yang mulia akan bergerak senyap mendekati mereka".
Pandangan mata Tungga dewi berhenti disalah satu pohom kecil dibawahnya. Walau terlihat samar karena hari masih gelap namun Tungga dewi jelas melihat beberapa gulungan tercecer.
Dia bergeral turun dan mendekati gulungan itu, dua pendekar yang dari tadi berjaga dibawah ikut mendekat.
"Tingkatkan kewaspadaan kalian, ada orang selain kita disini" ucap Tungga dewi berbisik.
Dua pendekar lainnya yang ditugaskan memeriksa keadaan sekitar telah kembali dan melaporkan pada Tungga dewi bahwa tidak ada hal mencurigakan apapun disekitar mereka.
Setelah menunggu beberapa lama, keanehan terjadi disekitar hutan air. Bertepatan dengan kokokkan ayam hutan, ada sebuah energi yang muncul tak jauh dari Tungga dewi.
Tungga dewi tersentak kaget saat energi tersebut seperti membuka dimensi lain dan menampakkan puluhan bangunan megah dan tinggi.
Tungga dewi menarik nafas panjang sebelum memberi tanda pada yang lainnya untuk mengikutinya. Mereka segera melesat masuk kedalam gerbang yang konon hanya terbuka beberapa menit saja dipagi hari.
Tungga dewi seperti masuk kedimensi lain ketika sudah berada didalam. Puluhan gedung tinggi berwarna merah dan berjajar rapih menyambutnya.
"Tempat ini benar benar menakjubkan, bagaimana mereka membangunnya" gumam Tungga dewi.
Tungga dewi lalu membagi tim untuk menyebar keseluruh sudut sekte Langit merah.
"Cari ruang pusaka dan bawa semua gulungan yang kalian diruangan itu" perintah Tunga dewi.
"Baik ketua".
Tungga dewi melompat keatas atap menggunakan ilmu meringankan tubuhnya. Energi murni membuat ilmu meringankan tubuhnya berkembang pesat.
__ADS_1
Dia bergerak cepat menyusuri beberapa bangunan, sesekali dia menghentikan langkahnya ketika melihat sebuah ruangan dan memeriksanya.
Langkahnya terhenti ketika dia mendengar suara langkah mendekat, dia melompat kelangit ruangan untuk bersembunyi.
"Sudah kuduga ada orang lain disini" gumamnya bersiaga.
Tubuhnya melesat cepat saat dua orang muncul dari sisi lain ruangan.
Tungga dewi memutar pedangnya dan menghujamkan pedang pada salah satu pendekar dan menggunakan kakinya untuk menendang ulu hati pendekar lainnya.
Gerakan cepatnya membuat dua pendekar itu tak mampu bereaksi.
Satu pendekar roboh dengan luka yang menganga dan pendekar satunya jatuh pingsan akibat tendangan diulu hatinya.
Tungga dewi memang sengaja tak membunuh salah satunya untuk mengorek informasi.
Dia menyerer pendekar itu masuk ruangan dan menunggunya sadar.
Ketika pendekar itu mulai sadar, Tungga dewi dengan cepat menempelkan pedangnya dileher pendekar itu
"Bergerak sedikit saja atau berteriak akan kupenggal kepalamu" ancam Tungga dewi.
Pendekar itu memperhatikan Tungga dewi sesaat. Dia seperti berusaha melihat wajah dibalik kain yang menutupi wajah Tungga dewi.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya pendekar itu takut.
"Kami hanya mencari kitab ruang dan waktu yang katanya disimpan disini". jawab pendekar itu terbata bata. Rasa perih dilehernya menandakan Tungga dewi tidak main main dengan ancamannya.
"Katanya? siapa yang memberitahu tentang kitab itu?".
"Aku tidak tau karena dia hanya bicara pada ketua namun yang pasti dia masih muda".
Tungga dewi terlihat berfikir sebentar, " Lalu dimana teman temanmu?" tanya Tunga dewi.
Belum sempat pendekar itu menjawab sepertinya Tungga dewi sudah mendapatkan jawabannya, dia mendengar suara pertarungan dari arah luar.
"Aku tidak akan membunuhmu namun kau harus melakukan perintahku. Sampaikan pada dunia persilatan jika Hibata akan menghancurkan siapa saja yang berhubungan dengan Masalembo".
"Masalembo?" pendekar itu mengernyirkan dahinya sesaat sebelum kesadarannya mulai menghilang akibat pukulan Tungga dewi.
Tungga dewi melangkah mendekati pinggir ruangan dan melihat puluhan pendekar sedang bertarung dengan anggotanya. Dia menajamkan matanya saat menatap beberapa gulungan yang dipegang salah satu pendekar itu.
"Baguslah, aku tak perlu susah mencarinya karena kalian sendiri yang membawakannya untukku". Tungga dewi melesat turun dan melepaskan auranya untuk menekan mereka.
Para pendekar sekte pedang kembar tampak menoleh keatas dan menemukan seorang pendekar dengan wajah tertutup kain melayang mendekati mereka.
Tungga dewi mendarat tepat ditengah pertarungan.
__ADS_1
"Ketua" ucap salah satu anggotanya.
"Serahkan gulungan dan kitab yang ada ditangan kalian dan aku akan membiarkan kalian pergi tanpa lecet satu goresanpun".
Baskara tampak mengernyitkan dahinya setelah mendengar suara Tungga dewi.
"Kau seorang wanita?" balas Baskara sedikit mengejek.
"Serahkan gulungan itu dan akan kubiarkan kalian pergi" Tungga dewi mengulangi perkataannya.
Baskara terkekeh mendengar ucapan Tungga dewi, dia merasa gadis dihadapannya itu sedang membual.
"Apa kau tidak bisa menghitung kekuatan? kalian hanya berlima dan berani mengancamku?" ejek Baskara sambil memberi tanda Hanung untuk bersiap menyerang.
Tungga dewi tersenyum dingin sambil memutar pedangnya.
"Kau salah paham tuan, aku sendiri yang akan menghabisi kalian semua".
Tungga dewi melesat cepat kearah para pendekar sekte pedang kembar.
Dia bergerak sambil melepaskan aura ditubuhnya.
Wajah Baskara sangat terkejut saat melihat Tungga dewi mampu memojokkan puluhan pendekarnya dalam waktu singkat.
Permainan pedangnya yang sangat cepat dan tajam terus mengambil nyawa para pendekar yang ada dalam jangkauannya.
Hanung yang melihat para muridnya terdesak terpaksa ikut membantu, namun sepertinya tidak banyak membuat perbedaan karena ilmu kanuragan Tungga dewi jauh diatas mereka.
Tungga dewi tersenyum dingin sambil memperlambat gerakannya. Dia bergerak mundur sedikit sebelum mengayunkan pedangnya.
"Jurus pedang pemusnah raga". Detik berikutnya, waktu seakan bergerak lambat disaat Tungga dewi justru bergerak semakin cepat.
Puluhan pendekar pedang kembar roboh tanpa bisa bereaksi apapun. Semua kematian mereka sama, kepala terpisah dari tubuhnya.
Tungga dewi bahkan memaksa matanya bekerja makin keras karena kecepatan geraknya.
Tubuh Tungga dewi menghilang saat mendekar kearah Baskara sebelum muncul kembali dibelakangnya dengan pedang sudah menempel dileher Baskara.
"Sudah kukatakan untuk menyerahkan gulungan itu baik baik" ucap Tungga dewi.
Tubuh Baskara bergetar hebat, dia yakin sekali beberapa saat lalu Tungga dewi berada didepannya, bagaimana bisa dia berpindah tempat secepat itu.
"Sepertinya ada kesalahpahaman nona, kau bisa mengambilnya kalau mau dan tolong lepaskan aku".
Tungga dewi menggeleng pelan "Kau sudah kuberi satu kesempatan namun kau menolaknya". Tungga dewi menarik pedangnya sekuat tenaga.
Tubuh baskara tumbang seketika dengan luka dilehernya.
__ADS_1
"Periksa tempat ini sekali lagi dan jangan ada yang terlewat, aku ingin membersihkan tubuhku terlebih dahulu. Kita bertemu disini besok pagi tepat sebelum matahari muncul" Tungga dewi mengambil gulungan itu dan melesat cepat masuk kedalam bangunan yang terlihat paling tinggi.