
Mentari menatap langit malam dari mulut gua, perasaannya sedang tidak menentu. Beberapa kali dia terbatuk dan mengeluarkan gumpalan darah dari mulutnya. Nafasnya terasa sesak menandakan efek racun kelelawar hijau mulai menggerogotinya.
"Apakah separah itu efek dari belajar Ajian lebur sukma?" Kumbara masih penasaran dengan efek yang ditimbulkan oleh Lebur sukma.
Sumbi mengangguk "Bukankah seharusnya anda yang lebih mengerti jika ilmu yang berasal dari Dieng selalu merusak tubuh penggunanya?".
Kumbara terlihat memejamkan matanya sesaat. "Dieng ya? aku selalu mual jika mendengar nama itu. Tempat yang pernah menjadi obsesi hampir separuh hidupku sebelum aku melihat sendiri bagaimana tempat itu bekerja".
"Sebenarnya apa yang anda liat di sana?" Ucap sumbi penasaran.
"Sesuatu yang tak ingin siapapun lihat termasuk dirimu. Aku hanya berharap tidak ada lagi yang bisa menemukan gerbang menuju Dieng".
Kumbara menoleh kearah Mentari yang belum beranjak dari duduknya.
"Kasihan anak itu dengan usia yang masih sangat muda dia menanggung beban yang sangat berat dipundaknya". Ucap Kumbara sambil menggelengkan kepalanya.
"Sebenarnya ada satu cara untuk memusnahkan ajian itu kelak, walau hampir mustahil bagi kita menemukannya namun anggap saja Lebur sukma sebagai obat untuk memperpanjang hidupnya sementara waktu". Sumbi berkata pelan.
"Apa itu?" Kumbara mengernyitkan dahinya.
"Air kehidupan".
Kumbara terkekeh seketika setelah mendengar perkataan Sumbi. "Kau menambah masalahku sumbi".
"Air kehidupan konon dapat menetralkan racun sekuat apapun di dunia ini. Jika racun di dalam tubuh pengguna Lebur sukma hilang maka otomatis Ajian lebur sukma musnah dari tubuh pengguna". Ucap Sumbi serius.
"Namun kau tau efek dari meminuk air kehidupan bukan? nona itu akan berubah menjadi Iblis Sumbi".
Sumbi terdiam mendengar perkataan Kumbara. Dia ingin menjelaskan tentang kemungkinan Kitab segel kehidupan untuk menetralkan efek air kehidupan namun dia mengurungkan niatnya karena dia merasa baik air kehidupan maupun segel kehidupan belum tentu benar benar ada.
"Apa kau menyadari jika semua permasalahan di dunia persilatan ini semua bersumber dari Dieng?".
"Maksud anda?". Sumbi mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Benda pusaka mulai bermunculan ratusan tahun lalu membuat dunia persilatan menjadi gempar. Sejak benda pusaka itu muncul tidak ada lagi kedamaian di bumi nusantara ini, andai saja tempat itu tak pernah ada".
***
"Apa kau membawa yang kuminta?" Seorang pria setengah baya menatap tajam Maruta.
"Sesuai dengan yang anda perintahkan tuan". Maruta memberikan sebuah kitab berwarna hitam.
Pria tersebut tersenyum puas melihat kitab Segel kehidupan yang diberikan Maruta.
"Bagaimana dengan pria tua itu?".
"Dia masih berusaha menahan efek air kehidupan dengan tenaga dalamnya. Ilmu Panca geni miliknya memang mengerikan bahkan selama ratusan tahun roh air kehidupan tidak dapat mengambil alih tubuhnya".
"Pria itu memang selalu membuatku terkejut namun perlahan panca geni tak akan mampu menahan roh itu memakan jiwanya kita hanya perlu menunggu sebentar lagi".
"Tuan boleh aku bertanya?". Maruta bertanya pelan, dia tidak ingin monster dihadapannya tersinggung.
"Katakan". Pria tersebut mengangkat kitab segel kehidupan ke atas. Tak lama kemudian tangannya mengeluarkan api dan membakar habis kitab segel kehidupan.
"Belum saatnya aku muncul didunia persilatan, jika saat itu aku membunuhnya maka penyamaranku akan terbongkar. Lagipula aku belum bisa menggunakan tenaga dalam ku sepenuhnya. Segel yang dibuat Giri patih di tubuhku sangat merepotkan, semua tenaga dalam yang ada ditubuhku hanya bertahan beberapa saat sebelum segel itu menyerapnya habis. Jika aku bertarung sedikit lebih lama maka aku akan hancur.
Aku sedang berusaha melepaskan segel ditubuhku ini karena dengan segel ini aku tidak bisa menggunakan Pedang pusaran angin. Jika pedang ini sudah bisa kugunakan maka kupastikan seluruh daratan Nusantara akan bertekuk lutut di hadapanku".
"Aku ingin kau tetap berada di Lembah siluman sampai aku benar benar terlepas dari segel terkutuk ini".
"Baik tuan". Maruta menatap pria setengah baya dihadapannya. Dengan umur yang mencapai ratusan tahun bahkan jauh lebih tua dari Ketua Lembah siluman namun wajahnya masih terlihat muda.
***
"Paman ceritakan padaku tentang pasukan angin selatan". Ucap Sabrang sambil bersandar di bawah pohon rindang di tengah hutan. Mereka memutuskan beristirahat setelah berjalan hampir setengah hari.
"Pasukan angin selatan adalah cikal bakal pasukan elit kerajaan Malwageni. Kami dilatih siang dan malam oleh tuan Wijaya. Setelah itu beberapa kerajaan lainnya mengadopsi apa yang Malwageni lakukan. Maka terbentuklah Pasukan tangan besi milik Majasari dan pasukan topeng galah milik Sanng galah.
__ADS_1
Namun karena siasat licik para pejabat yang membelot dari Malwageni Pasukan angin selatan terbelah menjadi dua kubu. Narita menghasut sebagian prajurit untuk mendukung para pejabat tersebut, hingga akhirnya Malwageni runtuh karena pasukan yang seharusnya melindungi Malwageni sibuk dengan perang internal.
Sungguh suatu ironi saat tujuan awal dibentuknya pasukan angin selatan adalah untuk melindungi Malwageni justru merekalah yang menghancurkan Malwageni dari dalam". Kertapati menarik nafas panjang, ada rasa bersalah tampak di guratan wajahnya.
"Pangeran....". Kertapati tidak melanjutkan perkataannya saat Sabrang memberi tanda untuk diam dengan menempelkan jari telunjuk di mulutnya.
"Mundur paman". Sabrang menyetuh batang pohon tempatnya bersandar dan membentuk dinding es tebal sebelum dia melompat mundur diikuti Kertapati yang masih belum memahami maksud Sabrang.
"Duarrrr" Dinding es yang dibuat Sabrang hancur berkeping keping terkena serangan pedang. Tampak sesosok tubuh berjalan santai mendekatinya sambil tersenyum dingin.
"Tak kusangka pengguna Naga api bisa menggunakan jurus Es utara".
"Kekuatannya sangat besar". Tangan Sabrang bergetar menerima efek serangannya.
"Siapa anda? dan mengapa anda tiba tiba menyerang kami". Sabrang mengalirkan tenaga dalamnya keseluruh tubuh untuk mengurangi efek tekanan aura pria dihadapannya.
"Berikan pedangmu". Pendekar itu tiba tiba menyerang Sabrang dengan cepat.
Beberapa serangan cepatnya hampir mengenai Sabrang jika tidak ada perisai es yang melindunginya.
Sabrang melompat mundur beberapa langkah karena merasa terdesak. Dia menggunakan Cakra manggilingan untuk mengimbangi kecepatan pendekar misterius itu.
"Aghh". Sabrang tiba tiba memegang kepalanya. Rasa sakit dikepalanya kembali muncul sesaat setelah dia menggunakan jurus Cakra manggilingan.
"Jangan sekarang". Mata Sabrang kembali berubah merah namun kali ini hampir seluruh bola matanya memerah.
"Pedang Halilintar : Pedang penghancur gunung". Pendekar misterius itu muncul tiba tiba dibelakang Sabrang dan menyerang dengan cepat.
Tubuh Sabrang terlempar jauh dan membentur pepohonan. Terlihat tubuh Sabrang diselimuti es tebal.
"Pengguna jurus es memang selalu merepotkan". Pendekar itu menatap tajam Sabrang.
Kertapati melompat kearah Sabrang dengan wajah khawatir.
__ADS_1
"Pangeran".
"Aku tidak apa apa paman, perisai es ini melindungiku tadi". Sabrang mengatur nafasnya perlahan. Matanya masih memerah namun sakit dikepalanya mulai menghilang.