
"Bukankah kau seharusnya menjaga pangeran Yudhistira?"
"Yang mulia?" Mentari langsung menghentikan latihannya saat melihat Sabrang sudah berada di dekatnya. Perlahan, tongkat cahaya putih yang berputar di udara dan mengikuti gerakannya berubah menjadi aura putih sebelum masuk kedalam tubuhnya.
"Kekuatan Tongkat cahaya putih benar benar menakjubkan," balas Sabrang sambil tersenyum.
Mentari kemudian berjalan mendekat dan menundukkan kepala memberi hormat.
"Apa anda sudah akan pergi lagi?" tanya Mentari sopan.
"Kau keberatan?"
Mentari menggeleng pelan, "Hamba sudah mengetahui semua resikonya saat memutuskan mencintai anda Yang mulia, hanya saja setelah pertempuran besar kemarin, hamba pikir anda akan tinggal lebih lama di keraton."
"Mendekat lah," ucap Sabrang sambil duduk di sebuah pohon besar yang tumbuh di dekat tempat latihan.
"Jika boleh memilih, aku tidak ingin dilahirkan sebagai trah Dwipa yang memiliki masa lalu kelam. Aku hanya ingin tinggal di tempat terpencil dan jauh dari dunia persilatan namun sepertinya itu tak mungkin karena bagaimanapun leluhurku ikut andil menciptakan kekacauan di dunia persilatan ini dan aku harus menebus kesalahan mereka.
"Saat ini Mandala masih berada di suatu tempat dan mungkin sedang merencanakan sesuatu yang buruk untuk dunia persilatan dan aku harus menghentikan dia karena pangeran Yudistira dan Sutawijaya harus hidup di lingkungan yang damai tanpa terbebani oleh dosa trah Dwipa, itulah salah satu alasanku tidak memberikan nama Dwipa pada mereka," ucap Sabrang lembut.
"Hamba mengerti Yang mulia, mohon jangan bicara seperti itu. Apa yang anda lakukan juga pasti akan hamba lakukan demi kehidupan yang lebih baik untuk pangeran kelak dan hamba yakin, suatu saat pangeran akan bangga dengan cerita cerita ayahnya melindungi dunia persilatan," balas Mentari sambil mengepalkan tangannya seolah ingin memberi semangat.
"Begitu ya..." Sabrang tampak tersenyum lega sambil mengelus rambut indah Mentari.
"Apa ada yang menganggu pikiran anda Yang mulia?" tanya Mentari khawatir saat melihat wajah Sabrang.
"Kau selalu bisa menebak isi hatiku, apa di wajahku tertulis jelas?" tanya Sabrang menggoda.
"Anda mungkin seorang pendekar yang paling berbakat di dunia ini tapi tidak ada satupun yang bisa Yang mulia sembunyikan dari seorang Mentari," ucap Mentari sombong sebelum tertawa lepas.
"Apa tongkat itu yang membuatmu menjadi sombong?" tanya Sabrang sinis.
"Hamba harus memposisikan diri sebagai selir raja yang kini menguasai hampir separuh daratan Nuswantoro," jawab Mentari yang disambut tawa Sabrang.
"Kau harus belajar lebih keras lagi karena wajah cantikmu tidak pernah cocok jadi orang sombong," Sabrang kembali tertawa setelah Mentari merubah mimik wajahnya untuk menunjukkan jika wajahnya bisa menjadi jahat.
Tawa lepas Sabrang perlahan menghilangkan raut wajah khawatir yang selama beberapa hari selalu menghiasi wajahnya.
"Saat aku bertarung dengan Agam, seorang pendekar misterius muncul dan menghentikan pertarungan kami. Dia begitu kuat sampai mampu menangkis serangan pedangku dengan mudah. Entah kenapa aku merasa takut tak mampu menghadapinya jika suatu saat dia menyerang," ucap Sabrang pelan.
"Bukankah kita selalu menghadapi hal seperti itu Yang mulia, dari suku Iblis petarung sampai Lakeswara tapi semua berhasil dihadapi bersama sama bahkan tak lama muncul tetua Wulan dan kakek Rubah Putih membantu.
"Saat bersama ayah di sisi Gelap alam semesta, dia pernah mengatakan untuk tidak berhenti berjuang walau lawan yang kita hadapi jauh lebih kuat. Alam tidak mewajibkan seseorang untuk menang karena yang terpenting adalah berjuang, apapun hasilnya biarkan alam yang bekerja," ucap Mentari pelan.
Sabrang menoleh cepat kearah wanita yang paling dicintainya itu sambil mengernyitkan dahinya.
"Apakah kau adalah Mentari, wanita yang pertama kali kutemui saat berada di penginapan dekat sekte Rajawali emas atau seseorang telah menguasai tubuhmu menggunakan ajian terlarang?" goda Sabrang.
"Yang mulia..." protes Mentari.
__ADS_1
"Aku hanya bercanda," jawab Sabrang tersenyum sebelum melanjutkan ucapannya. "Waktu memang merubah segalanya seperti kitab Sabdo Loji merubah dunia persilatan begitu cepat Terima kasih kau selalu menemaniku disaat tersulit sekalipun. Aku akan pergi beberapa waktu untuk mencari para pendekar untuk memperkuat Hibata, sampai aku kembali tolong jaga pangeran untukku," jawab Sabrang lembut.
"Dimana anda akan mencari para pendekar itu? akan sangat lama jika anda harus berkelana kembali tanpa tujuan," ucap Mentari pelan.
"Kakek Suliwa memberiku beberapa nama sekte yang dulu sempat melahirkan pendekar pendekar hebat sebelum ditaklukan oleh Iblis hitam, aku akan mencoba mengunjungi sekte sekte itu dan kuharap kau membantu Dewi selama aku pergi," jawab Sabrang pelan.
"Anda tak perlu khawatir Yang mulia, berhati hatilah dan kembali tanpa membawa seorang wanita," balas Mentari cepat.
"Apa ini sebuah ancaman?"
"Anggap saja begitu," Mentari menjulurkan lidahnya sebelum berlari saat Sabrang hendak menangkapnya.
"Berani kau mengancam pengguna Naga Api?" teriak Sabrang yang dibalas Mentari dengan memunculkan tongkat cahaya putih.
"Hamba juga memiliki pusaka yang cukup kuat."
***
"Aku tidak ingin berlatih! bukankah sudah kukatakan pada guru jika aku ingin bertemu dengan ibu terlebih dahulu," teriak seorang pemuda berusia delapan belas tahun saat pria tua yang dipanggilnya guru memaksanya berlatih.
"Elang, guru sudah katakan akan mempertemukan mu dengan ibumu jika kau sudah menguasai jurus pedang tertinggi sekte Pedang Iblis," jawab pria itu pelan.
"Guru sudah beberapa kali ingkar janji dan beralasan menungguku menguasai jurus tertinggi, sebenarnya dimana ibu berada?" balas pemuda itu cepat.
Pria tua itu tampak menahan amarah, "Ibumu pernah melakukan kesalahan besar sehingga sampai saat ini menjadi buruan dunia persilatan dan guru melindunginya dengan menyembunyikannya di suatu tempat. Kau harus menjadi kuat sebelum menemuinya, itulah pesan yang ibumu katakan padaku," jawab pria tua itu.
"Guru selalu memiliki cara mengulur waktu tapi kali ini aku sudah bertekad tidak akan berlatih sebelum bertemu ibu," Elang membuang pedangnya dan melangkah pergi.
"Ketua, mau sampai kapan anda bersabar? anak itu tak akan berubah karena dia adalah keturunan Gayatri," seorang pendekar tiba tiba muncul di dekat pria tua itu.
"Dunia persilatan saat ini sudah berubah semenjak kemunculan pendekar Naga Api itu dan suka tidak suka Malwageni telah menjadi kekuatan baru di dunia persilatan. Kita membutuhkan banyak pendekar hebat untuk menarik perhatian mereka dan anak itu adalah salah satunya," jawab pria tua itu pelan.
"Apa pesan yang anda kirimkan ke ibukota sudah di jawab?"
Pria tua itu mengangguk pelan, "Sama seperti sebelumnya, Wardhana menolak bekerja sama dengan sekte Pedang Iblis. Aku tidak tau apa alasan mereka tapi kita bagaimanapun caranya kita harus menjadi bagian dari Malwageni untuk mencapai tujuan leluhur sekte Pedang Iblis. Kita sudah terlalu lama diam dan diremehkan oleh dunia persilatan, sudah saatnya mereka semua mengakui kita walau harus menggunakan cara kotor," jawab Pria tua itu.
"Wardhana adalah orang yang aneh, sepertinya cukup sulit menarik perhatian dan mencoba merubah keputusannya kecuali kita sedikit memaksa," balas pendekar itu.
"Tidak, terlalu beresiko jika harus berhadapan dengan Naga Api. Aku mempunyai rencana untuk memudahkan kita menjadi bagian dari Malwageni dan Elang adalah kuncinya. Cari anak itu dan jangan sampai dia tau jika kita menahan ibunya di ruang bawah tanah."
"Baik tuan," balas pendekar itu sebelum menghilang.
"Gayatri, kau boleh membenciku dan tetap bertahan untuk tidak mengatakan dimana kitab rahasia milik sekte Pedang Iblis tapi lihat apa yang akan kulakukan pada anakmu, dia akan menjadi senjata utamaku menemukan dimana kitab itu dan menjadikan sekte kecil ini ditakuti di dunia persilatan," ucap pria itu dalam hati.
***
"Dasar guru bodoh! aku sudah mengikuti semua yang dia inginkan tapi selalu beralasan jika aku meminta bertemu ibu," umpat Elang sambil melesat kearah air terjun yang terletak di dalam hutan.
Elang memang selalu duduk termenung di dekat air terjun itu jika hatinya sedang kesal, entah kenapa dia merasa air terjun itu mampu mendekatkan dia dengan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Elang memang belum pernah sekalipun bertemu dengan kedua orang tuanya karena sejak lahir dia diasuh oleh Jayantaka, guru sekaligus ketua sekte Pedang Iblis yang selalu memaksanya berlatih ilmu pedang.
Walau sebenarnya dia tidak terlalu menyukai ilmu kanuragan namun Jayantaka selalu berhasil merayunya dengan janji akan mempertemukannya dengan ibu kandungnya.
Jayantaka selalu mengatakan jika ibunya saat ini menjadi incaran dunia persilatan dan satu satunya cara untuk melindunginya adalah menjadi pendekar kuat.
Awalnya Elang berlatih dengan penuh semangat karena ingin bertemu dengan ibunya namun perlahan dia merasa dipermainkan karena sampai saat dia berumur delapan belas tahun, tak pernah sekalipun Jayantaka menepati janjinya.
"Apa guru hanya mempermainkan aku?" Elang duduk di atas sebuah batu besar yang berada di dekat air terjun sambil melamun.
"Tuan muda, apa yang anda lakukan pada ketua sudah sangat keterlaluan, ikutlah denganku kembali ke sekte Pedang Iblis dan minta maaf pada ketua," seorang pendekar yang mengenakan penutup wajah dan topi caping tiba tiba muncul di dekat Elang.
"Sejak kapan? aku bahkan tidak bisa merasakan hawa kehadirannya," Elang melompat saking terkejutnya.
"Jika guru mengutus paman untuk merayuku maka lupakan, karena aku tidak akan pulang sebelum bertemu ibuku," balas Elang cepat.
"Anda terlalu keras kepala dan melupakan jasa ketua yang merawat anda dari kecil, apa ini balasan yang sekte Pedang Iblis terima?" suara pendekar itu mulai meninggi.
"Oh jadi paman Wiratama sudah mulai mengungkit apa yang dilakukan guru padaku? sejak umur lima belas tahun aku telah membunuh banyak orang demi guru. Apa itu belum cukup? Paman pikir aku tidak tau jika semua pejabat Majasari yang kubunuh memiliki harga yang tidak sedikit dan itu semua untuk Pedang Iblis.
"Kalian seolah melatihku menjadi mesin pembunuh demi kepentingan sekte tapi aku diam dan mengikuti semua perintah guru karena aku sudah menganggapnya orang tua. Apa itu semua belum cukup? sebaiknya paman pergi karena aku tidak akan kembali sebelum kalian berjanji mempertemukan ku dengan ibu," balas Elang sebelum melangkah pergi.
"Anak tidak tau di untung, jika kau tetap berkeras aku akan membawamu paksa," Wiratama mencabut pedangnya dan langsung menyerang.
Elang yang tidak siap dengan serangan tiba tiba itu berusaha menghindar dan melompat mundur tapi kecepatan Wiratama diluar perkiraannya.
"Dia berniat membunuhku?" Elang merubah gerakannya di udara dan menggunakan kedua tangannya untuk menangkis serangan Wiratama.
"Ajian tubuh besi Brajamusti? bagaimana mungkin?" Wiratama tampak terkejut untuk beberapa saat sebelum meningkatkan tenaga dalamnya.
Dia merubah kembali gerakannya dan menyerang dengan cepat. Elang yang sejak awal tidak menggunakan pedang mulai terpojok dengan variasi jurus pedang yang diperlihatkan Wiratama.
Elang memang menggunakan ajian Brajamusti yang membuat tubuhnya keras seperti besi namun menghadapi ilmu pedang dengan kedua tangan jelas tidak mudah.
"Andai aku juga menggunakan pedang," umpat Elang dalam hati.
Pertarungan menjadi tidak seimbang ketika Wiratama meningkatkan kecepatannya, dia memanfaatkan dengan baik pengalaman bertarungnya untuk membaca gerakan Elang.
"Ketua terlalu memanjakan sampah sepertimu sehingga kau menjadi besar kepala, hari ini akan kuberi kau pelajaran," tubuh Wiratama tiba tiba menghilang sebelum menyerang dari sisi kanan.
"Jurus pedang Iblis : Seratus pedang mengguncang langit," Wiratama mengayunkan pedangnya sekuat tenaga.
"Perisai tenaga dalam wajah iblis," Elang yang tidak sempat menghindar membentuk perisai di seluruh tubuhnya.
Ledakan cukup besar terdengar saat tenaga dalam mereka beradu membuat tubuh Elang terlempar cukup jauh.
"Hari ini aku akan membunuhmu," Wiratama melesat cepat kearah tubuh Elang terlempar namun tidak menemukan apa apa, hanya beberapa tetesan darah yang mengarah ke selatan.
"Gawat, dia melarikan diri, aku dalam bahaya jika dia sampai melaporkan ini pada ketua," ucap Wiratama sebelum melesat pergi mengikuti tetesan darah di tanah.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Saya minta maaf kemarin tidak bisa membalas komentar kalian karena ada sesuatu hal yang membuat saya tidak bisa online setelah update (Maklum kuota tinggal kuota chat wkwkwkwk).