Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Jurus Serbuk Bunga Kembar Penghancur Iblis


__ADS_3

Lembah Penghisap Sukma sebenarnya bernama Lembah Hijau, para pendekar dunia persilatan lah yang menamai Lembah Penghisap sukma karena banyak orang yang mencoba datang ke tempat itu hilang tanpa jejak.


Yang membuat tempat itu semakin menakutkan, para pendekar yang hilang bukan pendekar biasa, walau bukan pendekar terkuat tapi mereka cukup disegani di dunia persilatan.


Kejadian yang paling menggemparkan di Lembah Penghisap Sukma tentu hilangnya puluhan pendekar sekte Bunga Racun puluhan tahun lalu sebelum munculnya Suliwa bersama Pedang Naga Api.


Sekte Bunga Racun saat itu merupakan kekuatan aliran hitam yang setara dengan Iblis hitam. Mereka memutuskan masuk Lembah Penghisap Sukma karena mendengar jika Kitab Sabdo Loji berada di dasar Lembah namun hingga hari ini tak ada satupun pendekar itu yang berhasil keluar dari Lembah itu, mereka seolah hilang ditelan bumi.


Sejak saat itu, tak ada satupun pendekar yang berani melewati jalur itu.


Namun pagi itu saat sinar matahari baru muncul membawa sinarnya, sepuluh pendekar terlihat memasuki jalur pendakian Lembah penghisap sukma tanpa ragu.


Mereka bergerak lincah sambil sesekali berhenti untuk melihat sekitarnya.


"Terus perhatikan sekitar kalian, aku takut Saung Galah menempatkan pasukan di tempat ini walau kemungkinan itu kecil. Jangan ada yang berpencar terlalu jauh karena kita mulai memasuki Lembah Penghisap Sukma, aku tidak ingin pasukan ku berkurang sebelum mencapai puncak gunung padang," ucap Lingga memperingatkan.


"Baik tuan," jawab Candrakurama pelan.


Lingga sekali lagi memastikan sekitarnya, dia tidak ingin ada yang menyergap mereka saat mulai bergerak kembali, terlebih Emmy ikut dalam kelompoknya.


Emmy memang pernah berada dalam satu organisasi Taring Darah yang dibentuk Lingga, namun kali ini agak berbeda karena Emmy menjadi murid Sekar Pitaloka. Lingga harus benar benar memastikan keselamatannya.


Suasana mulai terasa aneh saat mereka telah masuk lebih jauh, jurang lembah penghisap sukma yang berada di sisi kanan mereka seolah mengundang mereka turun kedalam lembah dan melihat apa yang ada di dasar lembah itu. Aura aneh yang kadang muncul dari dasar lembah membuat bulu kuduk berdiri.


Emmy menghentikan langkahnya tiba tiba saat merasa ada yang mengawasi dari dasar Lembah. Melihat selir Sabrang itu berhenti membuat Lingga terpaksa menghentikan kembali perjalanannya.


"Hei, bukankah aku sudah bilang jika jangan memisahkan diri dari kelompok?" ucap Lingga pelan.


"Aku merasa ada yang mengawasi kita sejak awal masuk hutan ini," jawab Emmy pelan sambil terus memperhatikan dasar lembah yang tidak terlihat.


"Mengawasi kita?" Lingga mengernyitkan dahinya.


Emmy hanya mengangguk, dia terus memperhatikan dasar lembah. Sejak Sabrang menitipkan energi Naga Api, insting Emmy memang semakin tajam dan dia sangat yakin ada yang mengawasi mereka.


"Lembah ini memang menakutkan dari dulu, itulah kenapa dijuluki Lembah penghisap sukma. Aku tidak tau apa yang tersembunyi di dasar lembah namun mustahil manusia bisa hidup didasar sana.


Saat ini tugas kita adalah secepatnya sampai di puncak gunung padang sesuai perintah tuan Patih, lupakan dulu semua keanehan lembah ini," ucap Lingga pelan.


Emmy mengangguk pelan, walau dia masih penasaran dengan apa yang ada di dasar lembah namun yang dikatakan Lingga benar, sesuai permintaan Wardhana mereka diminta mempersiapkan sesuatu di puncak gunung padang yang diperkirakan sebagai tempat gerbang suci berada.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju puncak gunung padang dan tidak menyadari jika sepasang mata terus memperhatikan dari jauh.


Jalur Lembah Penghisap Sukma adalah salah satu jalur menuju gunung Padang, jalur yang cukup sulit membuat banyak orang enggan melewatinya. itulah kenapa Lingga dan kelompoknya yang terdiri dari Emmy, Biantara, Candrakurama dan para pendekar Hibata diminta bergerak lebih dulu agar sampai di puncak sebelum matahari terbenam.


Setelah bergerak cukup lama, mereka mulai keluar dari jalur lembah penghisap sukma, wajah mereka terlihat cerah saat melihat puncak Gunung padang berada dihadapan mereka.


"Kita istirahat sebentar, setelah melewati lembah penghisap sukma, jalur ini relatif mudah, mungkin dalam beberapa jam kita sudah sampai di puncak," ucap Lingga sambil memberi tanda pada dua pasukan Hibata untuk memeriksa keadaan sekitar.


"Jadi didalam gunung ini Pagebluk Lampor disegel? ucap Biantara takjub.


"Menarik bukan? keempat sisi gunung padang terlalu sempurna jika tercipta secara alami, dan jika manusia yang membuatnya maka ini adalah bangunan terbesar yang pernah diciptakan," balas Lingga.


Suara seperti alunan nada terdengar keras dari puncak gunung membuat mereka semua terkejut. Suara merdu itu terdengar bersamaan dengan datangnya angin kencang.


"Apa ada orang yang lebih dulu sampai di puncak gunung?" tanya Biantara bingung.


"Sepertinya tidak tuan, jika mereka memang datang lebih dulu tidak mungkin sengaja membuat suara yang menarik perhatian semua orang. Bunyi itu datang bertepatan dengan angin besar tadi, mungkin ada sesuatu yang terkena angin itu dan mengeluarkan suara," jawab Emmy.


"Begitu ya, (Glagah wangi dan Trowulan akan menjadi kunci menuju Gerbang suci Nagara Siang Padang. Lepaskan semua Nafsu dan ambisi maka suara alam akan menuntunmu menuju Nagara siang padang). Tuan Wardhana mengatakan itu padaku sebelum kita pergi. Sepertinya suara tadi berhubungan dengan *S**uara alam akan menuntunmu menuju Nagara siang padang*," ucap Biantara.

__ADS_1


"suara alam akan menuntunmu menuju Nagara siang padang?" Emmy terlihat berfikir sambil terus memperhatikan puncak gunung itu.


Suara alunan itu kembali terdengar saat hembusan angin datang. Alunan yang sangat indah itu seolah ingin memberitahukan sesuatu pada semua orang tentang Nagara Siang Padang.


Emmy mengernyitkan dahinya, dia yakin suara kali ini jauh lebih lama dari yang pertama tadi.


"Suara alunan itu bisa lebih lama, bukankah angin tadi berhembus lebih cepat?" ucap Emmy bingung.


"Simpan rasa penasaran dalam dirimu, satu satunya cara untuk mengetahui alunan suara itu adalah secepatnya sampai di puncak bukit," ucap Lingga sambil bangkit dari duduknya.


"Ayo kita pergi dan lihat apa yang ada di puncak gunung itu."


***


"Hormat pada Yang mulia, hormat pada Ibu ratu," teriak para prajurit penjaga ruang tahanan saat melihat Sabrang dan Sekar Pitaloka muncul.


"Bawa aku ke ruang tahanan Pancaka," ucap Sabrang pelan.


"Baik Yang mulia," salah satu prajurit menunjukkan sebuah ruangan kecil di sudut tempat itu.


Sabrang melangkah pelan bersama Sekar Pitaloka sambil membawa kunci ruangan Pancaka.


Pancaka tampak terkejut dari balik jeruji besi saat melihat Sabrang.


"Yang mulia?" ucap Pancaka pelan, dia menundukkan kepalanya memberi hormat.


"Kau sudah besar Pancaka? terakhir ibumu keluar dari keraton saat masih mengandungmu," ucap Sekar Pitaloka.


"Anda?" Pancaka tampak berfikir sejenak, dia mencoba mengingat


"Dia ibuku, ratu Sekar Pitaloka," jawab Sabrang.


Dia memang belum pernah bertemu Sekar Pitaloka namun kabar yang didengarnya Sekar Pitaloka sudah tewas di lereng merapi dekat sekte Pedang Naga Api.


"Ceritanya panjang nak," Sekar Pitaloka berjalan mendekati Pancaka. "Apa kau menderita berada di tempat ini?"


Pancaka hanya diam sambil menundukkan kepalanya, entah kenapa dia merasa kehangatan kasih sayang dari ucapan Sekar Pitaloka, sangat bertolak belakang dengan cerita ibunya dulu yang mengatakan Sekar Pitaloka adalah ratu yang kejam.


"Aku adalah orang pertama yang menolak saat ibumu dihukum keluar istana tapi aturan tetap aturan, aku tak bisa berbuat apapun. Kau harus tau nak, kekuasaan raja tidak sebesar yang kau bayangkan, para mentri dan Rakyan bisa menekan dan merubah keputusan raja, itulah politik kekuasaan," ucap Sekar Pitaloka melanjutkan.


Air mata Pancaka mulai menetes, hatinya begitu tersentuh dengan ucapan ucapan Sekar Pitaloka.


"Apa kau marah pada ayahmu? pada kakakmu?" tanya Sekar Pitaloka.


Pancaka mengangguk pelan, "Maafkan aku ibu ratu," balas Pancaka pelan.


"Ibumu bukan orang jahat nak, dia hanya dimanfaatkan oleh orang sekitarnya untuk merebut kekuasaan. Ambisi besarnya dimanfaatkan beberapa mentri untuk keuntungan mereka sendiri, ku harap kau tidak mengulangi kesalahan ibumu.


Aku tidak bisa memaksamu melupakan kebencianmu tapi aku ingin kau berfikir secara jernih agar semua tidak terulang kembali, percayalah Ayahmu sangat menyayangimu."


Pancaka masih terdiam, dia benar benar tidak tau harus menjawab apa, hanya kata maaf puluhan kali yang keluar dari mulutnya.


Sabrang membuka pintu tahanan dengan kunci ditangannya.


"Aku tidak tau bagaimana harus menjelaskannya, tapi aku bertemu ayah saat sedang bertarung di Trowulan dengan musuh besar ayah, musuh besar kita sebagai keturunan trah Dwipa. Dia memintaku untuk menjagamu.


Jika sifat mu terus seperti ini, aku tidak tau harus berbuat apa. Besok kami akan berperang dengan Saung galah dan aku tidak akan mengunci ruangan ini. Aku tak mungkin melepaskan tahanan tapi jika kau melarikan diri itu berbeda.


Pergilah sejauh mungkin, aku akan menghapus semua catatan mengenai dirimu, kau bisa hidup tenang tanpa takut dikejar prajurit Malwageni, hanya itu yang bisa kulakukan untukmu," ucap Sabrang pelan sebelum melangkah pergi bersama Sekar Pitaloka.

__ADS_1


"Kenapa kakang melakukan ini? apa karena pesan ayah?" tanya Pancaka tiba tiba.


"Aku bisa saja membunuhmu tapi tak kulakulan karena bagaimanapun kau adalah adikku. Dengan atau tanpa pesan ayah, aku tak akan membunuh adikku," balas Sabrang tanpa menoleh sedikitpun.


"Kakang..." ucap Pancaka sambil menatap pintu ruangan yang terbuka lebar.


"Ibu, apa ayah akan marah karena tidak berhasil menjaganya?" tanya Sabrang saat mereka sudah keluar dari ruang tahanan.


"Keputusanmu sudah tepat nak, kau tidak akan bisa menjaganya jika Pancaka tidak merubah sikap, semoga kali ini hatinya terketuk," jawab Sekar Pitaloka.


"Begitu ya...," balas Sabrang pelan.


"Kudengar kau pandai meniru jurus milik orang lain, apakah itu benar?" tanya Sekar Pitaloka.


"Aku tidak tau apakah itu meniru, tapi aku bisa mengingat jelas setiap jurus yang digunakan lawanku bu," jawab Sabrang.


"Bagus, ikuti ibu ada yang akan ibu tunjukkan padamu," ucap Sekar Pitaloka.


Sabrang tampak bingung namun tetap berjalan mengikuti Sekar Pitaloka. Mereka berhenti disebuah tanah kosong yang biasa digunakan para prajurit berlatih.


"Serbuk bunga penghancur Iblis memiliki dua tingkatan yang masing masing tingkatan ada dua belas jurus. Pada tingkatan kedua ibu memerlukan teman untuk berlatih, dan kau adalah orang yang paling tepat saat ini karena tidak akan cukup waktu mengajarkan orang tingkatan pertama.


Jurus serbuk bunga tingkat kedua bernama Bunga kembar penghancur iblis dan hanya bisa digunakan berpasangan. Ibu ingin kau mengingat semua jurus yang akan ibu peragakan dan kita akan berlatih jurus tingkat kedua bersama. Ibu yakin jurus ini akan berguna saat menghadapi Guntur Api," ucap Sekar Pitaloka sambil mencabut pedang.


Sabrang memperhatikan setiap gerakan Sekar Pitaloka dengan serius, jurus jurus yang diperlihatkan Sekar Pitaloka begitu rumit sehingga ibunya harus mengulang beberapa kali.


"Apa kau sudah mengingatnya?" tanya Sekar sambil mengatur nafasnya.


"Sedikit bu," jawab Sabrang pelan.


"Tidak apa apa, jurus ini memiliki tingkat kerumitan gerakan yang tinggi, ibu akan mengulang jika ada yang terlewat, sekarang tunjukkan pada ibu," ucap Sekar Pitaloka.


Sabrang mengangguk, dia memunculkan pedang Naga api ditangannya sebelum bergerak mengikuti gerakan ibunya yang dilihat tadi.


Sekar Pitaloka tampak terkejut melihat gerakan gerakan Sabrang, walau masih terlihat kasar namun apa yang diperlihatkannya adalah jurus serbuk bunga penghancur iblis yang dia pelajari puluhan tahun.


"Dia bisa menguasai jurus itu dalam sekejap? anak ini benar benar memiliki bakat langka," ucap Sekar Pitaloka dalam hati.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Pertama Author mau minta maaf karena kemarin PNA tidak update. Setelah tiga haru memberi bonus chapter, saya memerlukan sedikit istirahat untuk mengatur ulang pikiran.


Kedua, saya mohon maaf jika komen kalian kemarin belum saya balas, kemarin saya benar benar off dari MT...


Hari ini PNA akan update seperti biasa dan mudah mudahan besok atau lusa saya akan mengganti chapter yang kemarin libur.. semoga kalian mengerti...


Catatan kaki mengenai Gunung Padang


Mitos Batu berbunyi di Gunung Padang...


Menurut Peneliti Bandung Fe Institute, Hokky Situngkir dalam diskusi bertajuk 'Menguak tabir peradaban dan bencana katastropik purba di nusantara untuk memperkuat karakter dan ketahanan nasional' di Gedung Krida Bakti, Jl Veteran, Jakarta mengatakan situs purba ditemukan di Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat. menyimpan teka-teki terkait pola peradaban dan budaya masyarakat yang tersimpan di sana. Salah satunya teka-teki tentang musik.


Peneliti dari Bandung Fe Institute menemukan di sudut belakang bagian timur undak pertama situs Gunung Padang ada sejumlah batu yang tersusun sedemikian rupa. Dengan memukulnya akan terdengar suara nyaring berfrekuensi tinggi bagaikan nada-nada.


"Bebatuan tersebut seolah menjadi sebuah alat musik litofonik purba. Tapi berbeda dengan berbagai artefak litofonik warisan megalitik yang juga ditemukan di banyak negara di kawasan Asia Tenggara, ukuran dari artefak ini jauh lebih besar dimensinya," ujar peneliti Bandung Fe Institute, Hokky Situngkir.


Dengan menggunakan analisis fast fourier transform, Hokky dkk memetakan nada-nada yang dicurigai sampel frekuensinya ke tangga nada barat dan ditunjukkan pengerucutan pada empat nada yakni 'f'-'g'-'d'-'a'. Menurut dia, mayoritas batuan yang disampling tidak menghasilkan bunyi yang frekuensinya dapat diklaim sebagai 'nada' tertentu.


Dan kali ini PNA kembali menggunakan cerita itu sebagai bagian dari misteri Pagebluk Lampor.

__ADS_1


__ADS_2