
Sabrang terbangun di sebuah ruangan yang memancarkan aura merah darah dengan tubuh penuh luka.
"Ruangan ini?... Dimensi Eyang We.."Sabrang tak bisa melanjutkan ucapannya saat sebuah pukulan menghantam tubuhnya dengan keras, beruntung Naga Api berhasil meredam sedikit efek serangan itu.
Pukulan yang mengandung tenaga dalam itu membuat tubuhnya terasa hancur, dia terlempar beberapa langkah sebelum membentur dinding ruangan.
"Apa pukulan itu terasa sakit? kau beruntung Iblis api itu masih melindungimu," ucap sesosok tubuh yang terbentuk dari aura merah darah.
"Eyang Wesi, apa yang kau lakukan?" umpat Sabrang kesal sambil menahan rasa sakitnya.
"Kau memang pantas mendapatkannya bodoh, aku bahkan berharap kau tak pernah lahir ke dunia ini!" balas Eyang Wesi sinis sebelum kembali menyerang.
"Apa dia sudah gila?" Sabrang memunculkan Pedang Naga Api sebelum bergerak menyambut serangan itu.
"Kau lupa sedang berada di ruang dimensi milikku? tanpa kekuatan Naga Api kau hanya bocah lemah yang tidak berguna. Aku benar benar menyesal pernah mengagumimu!" Eyang Wesi melepaskan aura besar dari tubuhnya yang membuat tubuh Sabrang kaku seketika.
Saat pukulannya hampir mengenai tubuh Sabrang untuk kedua kalinya, aura Naga Api membentuk perisai pelindung untuk mengurangi efek serangan.
"Kau pikir energi lemah itu bisa menahan serangan tenaga dalam milikku?" Pukulan Eyang Wesi menembus energi pelindung Naga Api dengan mudah dan menghantam tubuh Sabrang.
"Megantara! apa yang kau lakukan? menyelamatkan hidupnya bukan berarti kau bisa berbuat seenaknya," bentak Naga Api kesal.
Anom yang biasanya tenang pun terlihat ikut terpancing, tanpa ada perintah dari Sabrang dia memunculkan energi keris di udara dan bersiap menyerang Eyang Wesi.
"Sebaiknya kalian tidak ikut campur, aku bisa dengan mudah mengurung kalian di sini selamanya," jawab Eyang Wesi sinis sebelum mengeluarkan gelembung energi yang menekan kekuatan Anom dan Naga Api.
"Kekuatannya sudah kembali sepenuhnya, bagaimana dia bisa lepas dari segel itu," ucap Naga Api pelan.
"Kakek... Kumohon katakan padaku, apa aku berbuat salah? Jika benar tolong jangan libatkan mereka," ucap Sabrang pelan sambil menahan rasa sakit ditubuhnya.
"Jangan libatkan mereka? Kau berlagak menjadi seorang pahlawan dengan kondisimu saat ini? aku benar benar muak melihatmu!" Eyang Wesi tiba tiba menghilang dari pandangan dan muncul kembali tepat dihadapan Sabrang.
"Kau benar benar mencari masalah denganku! Anom, bantu aku!" teriak Naga Api sebelum melepaskan energi Dewa Api dan bergerak menyerang.
Eyang Wesi hanya menggeleng pelan sebelum menarik gelembung energi dan mengurung dua pusaka itu.
"Tak ada yang bisa kalian lakukan di rumahku!" bentak Eyang Wesi sambil tangannya mencengkeram leher Sabrang cepat.
"Jangan sentuh dia, sialan!" Naga Api mencoba merobek gelembung energi itu dengan kekuatan Dewa Api namun tidak berhasil, semakin besar kekuatan yang dia keluarkan, gelembung energi itu justru semakin kuat.
"Percuma kalian melawan karena gelembung itu akan menyerap kekuatan kalian," ucap Eyang Wesi pelan.
"Kau!"
"Tenanglah Naga Api, emosi tidak akan menyelesaikan masalah," ucap Anom cepat.
"Tenang katamu? apa kau akan diam saja melihat dia melakukan sesuatu pada anak itu?" balas Naga Api.
"Kakek, Kumohon lepaskan mereka, jika memang aku berbuat salah hukumlah aku dan biarkan mereka pergi," ucap Sabrang.
"Jangan berlagak kuat di hadapanku!" Eyang Wesi mengalirkan energi murni kedalam tubuh Sabrang.
Sabrang menjerit kesakitan sebelum bayangan kematian orang orang terdekatnya seperti Lingga, Elang, Wijaya bahkan Mentari muncul dipikirannya. Dia juga melihat bagaimana para pendekar muda Hibata bertarung sampai mati demi melindungi Ibunya yang sedang mempersiapkan sesuatu.
Aura aneh tiba tiba meluap dari tubuh Sekar sebelum waktu bergerak mundur dan membawa kembali Sabrang dan yang lainnya ke posisi sebelum bertarung dengan Ken Panca.
Saat semua orang bergerak mundur, tubuh Sekar justru terjatuh dan hancur menjadi debu.
"Ibu!" Mata Sabrang kembali terbuka dan melihat Eyang Wesi masih mencengkram lehernya.
__ADS_1
"Kakek... bayangan tadi..."
"Kau sudah sadar sekarang? ibumu mengorbankan diri dan menentang alam demi menyelamatkan orang orang yang mungkin sebagian tidak dia kenali. Dia berkorban sebagai seorang ksatria tanpa memikirkan kepentingannya sendiri.
"Kau dan yang lainnya seharusnya sudah mati jika dia tidak menggunakan jurus itu dan kau ingin menghancurkan semua pengorbanannya hanya demi seorang wanita yang membuatmu lepas kontrol? Apa pantas orang seperti itu hidup!" bentak Eyang Wesi.
Sabrang terdiam, air mata mulai keluar dari kedua matanya.
"Kau bahkan tak pantas disebut pecundang sekalipun karena kau jauh lebih buruk dari seorang pecundang. Saat kedua orang tuamu mati dengan kebanggaan yang tinggi kau hanya anak tak berguna yang tunduk pada seorang wanita. Andai wanita itu mati, apa kau ingin merusak semua pengorbanan mereka dengan membiarkan tubuhmu diambil alih hanya demi meredakan emosi? Andai aku tidak membuat perjanjian darah dengan ayahmu dulu mungkin saat ini kau sudah mati," Eyang Wesi kembali mengalirkan energi murninya.
"Megantara membuat perjanjian darah dengan Arya Dwipa?" Naga Api menoleh kearah Anom yang juga terlihat terkejut.
"Aku tidak tau...bahkan wujudnya saja baru kulihat saat di Masalembo," jawab Anom cepat.
Bayangan pertarungan Arya Dwipa dengan Lingga muncul dalam pikiran Sabrang, dia tampak terkejut saat melihat kekuatan ayahnya. Sabrang bisa merasakan ayahnya sebenarnya mampu memenangkan pertarungan itu namun dia justru seolah mengalah dan mengorbankan diri.
"Ayah....Kenapa kau mengorbankan diri saat bisa mengalahkan mereka semua dengan mudah," ucap Sabrang lirih.
"Tubuh Arya Dwipa adalah yang terbaik diantara keturunan Dwipa bahkan jauh lebih baik dari suku Latimojong tapi karena sesuatu hal yang belum bisa aku katakan, dia rela mengorbankan nyawanya. Apa demi keluarganya? bukan, dia berkorban demi Nuswantoro. Lalu apa yang dilakukan anaknya sekarang? menghancurkan semuanya hanya demi seorang wanita? Kau bahkan penyebab utama melemahnya kekuatan Naga Api dan kematian ibumu. Dia akan menangis melihatmu!" balas Eyang Wesi.
"Ayah...." Sabrang hanya mampu mengatakan itu berulang kali sambil memejamkan matanya.
"Arya Dwipa berulang kali mengatakan padaku jika dia sangat mencintai ratunya namun demi menyelamatkan Nuswantoro dari kehancuran dia rela melepaskan semua yang dimilikinya termasuk orang yang paling dia sayang.
"Apa kau sudah mengerti betapa bodohnya dirimu?" Eyang Wesi melempar tubuh Sabrang sebelum mengeluarkan pedang pusaka nya.
"Efek jurus Mengendalikan waktu akan mengacaukan semua dimensi waktu terlebih kau seharusnya sudah mati saat ini, Aku akan membunuhmu untuk mengembalikan semua kekacauan ini sebagai pusaka penjaga Waktu Latimojong!" Eyang Wesi melangkah mendekati Sabrang.
"Pusaka Penjaga Waktu? aku seperti pernah mendengar nama itu?" ucap Anom bingung.
"Hentikan Megantara! aku bersumpah akan membakar kau sampai menjadi abu jika berani menyentuhnya," teriak Naga Api sambil berusaha keluar dari gelembung dimensi.
"Apa ada kata kata terakhir sebelum aku membunuhmu?" ucap Eyang Wesi sinis.
Sabrang tiba tiba tertawa sambil menyerahkan lehernya.
"Mentari bukan hanya seorang wanita yang paling aku cintai di dunia ini setelah ibu tapi dia juga adalah orang yang mengubah hidupku dari seorang anak nakal menjadi lebih bertanggung jawab. Dialah yang menemani aku sampai hari ini, sama seperti ayah, aku juga sangat mencintainya.
"Dia bahkan tak pernah menginginkan posisi ratu atau sejenisnya selama bisa berada di dekatku. Kebodohanku lah yang membuat semua ini terjadi karena aku hanya ingin menjaganya dengan segala cara. Terima kasih kek, kau sudah mengatakan semuanya dan membuatku tersadar jika kepentingan dunia ini jauh lebih besar di atas segalanya. Tolong hentikan Ken Panca setelah membunuhku," Sabrang menundukkan kepalanya.
"Hanya itu? baik... Aku akan menghentikan dia," Eyang Wesi mengayunkan pedangnya sekuat tenaga.
"Megantara! kubunuh kau!" Teriak Naga Api.
***
Tubuh Minak Jinggo terlempar akibat serangan cepat Ken Panca, dia mencoba memutar tubuhnya di udara untuk menghindari serangan selanjutnya.
"Kau pikir bisa melawanku?" Ken Panca yang sudah berada di dekatnya langsung mengayunkan pedangnya.
"Celah itu?" Minak Jinggo menarik pedangnya untuk menangkis serangan cepat Ken Panca. Dia menggunakan efek serangan untuk melompat mundur namun Ken Panca bergerak semakin cepat dan sudah mengincar lehernya.
"Sabdo Loji benar benar menyulitkan," tebasan Ken Panca hanya membelah udara saat Minak Jinggo menggunakan ruang dimensinya.
"Kau baik baik saja nak?" ucap Setra yang sedang mengatur nafasnya.
"Jauh lebih baik daripada harus mengambil air berulang kali, " jawab Minak Jinggo sembarangan.
"Apa kau siap dengan serangan selanjutnya? aku yakin kau juga melihat celah itu bukan?" Setra menarik pedangnya dan bersiap menyerang.
__ADS_1
"Aku tau... ayo kita coba," Minak Jinggo mengatur nafasnya perlahan.
"Apa kau seorang manusia? bagaimana mungkin mataku tidak bisa membaca gerakanmu," ucap Minak Jinggo dalam hati.
"Mau sampai kapan kau berlari seperti tikus?" bentak Ken Panca kesal. Walau tubuh Minak Jinggo sudah terluka parah dan hampir mencapai batasnya tapi cukup sulit melumpuhkannya.
"Tikus? sepertinya nama itu memang cocok untukku," jawab Minak Jinggo mengejek sebelum tubuhnya kembali menghilang.
Elang, Tantri dan Gendis yang sudah terluka parah hanya bisa melihat pertarungan mereka dari jauh, sedangkan Ratih tampak mengalirkan tenaga dalam untuk mengobati luka dalam mereka.
"Kalian memiliki teman yang berbahaya," ucap Ratih pelan.
"Berbahaya?" tanya Elang bingung.
"Minak Jinggo bukan pendekar biasa, gerakan pedangnya, reflek bertahannya menunjukkan dia bukan orang yang baru mengenal Ilmu kanuragan. Selain itu, menggunakan jurus dimensi ruang dan waktu membutuhkan tenaga dalam yang besar tapi dia bisa menggunakannya sesuka hati. Suatu saat anak itu akan menjadi pendekar hebat," jawab Ratih.
Elang hanya mengangguk pelan, sejak awal dia juga sebenarnya sudah menyadari jika Minak Jinggo menyembunyikan kekuatannya tapi tidak pernah terbayangkan akan sebesar ini.
"Siapa dia sebenarnya?" ucap Elang dalam hati.
Minak Jinggo bergerak dari sisi kiri saat Setra berhasil memancing Ken Panca, dia mengayunkan pedangnya dengan cepat dan mengincar punggung Ken Panca.
Wajah Jaya Setra berubah saat merasakan aura disekitarnya berubah.
"Jinggo menghindar, ini jebakan!" Teriak Jaya Setra berusaha memperingatkan, namun semua terlambat saat waktu tiba tiba terhenti.
Gerakan Minak Jinggo berhenti seketika dengan lubang dimensi yang sudah terbuka, dia sebenarnya sudah berhasil menggunakan jurus ruang dan waktu untuk menghindar namun waktu terlebih dahulu terhenti.
"Gawat, aku terlambat," umpat Minak Jinggo panik.
"Akhirnya aku berhasil menghentikan gerakanmu," ucap Ken Panca sambil mengayunkan pedangnya sekuat tenaga.
Ken Panca yang terlihat sudah yakin mampu memenggal kepala Minak Jinggo tiba tiba menarik serangannya saat sebuah energi pedang bergerak kearahnya dengan sangat cepat.
"Pedang itu?" Ken Panca yang sedang berusaha menghindar dikejutkan dengan serangan dari arah belakang. Dia memutar tubuhnya dan berhasil menangkis serangan itu.
"Duaaaar,"
"Dia... sejak kapan," tubuh Ken Panca terdorong beberapa langkah akibat efek benturan dua tenaga dalam besar.
"Energi Megantara? jangan jangan..." Setra menajamkan matanya untuk melihat sesosok tubuh yang masih tertutupi debu akibat ledakan tenaga dalam.
"Apa aku masih berhutang nyawa padamu?" ucap Sabrang sambil menoleh kearah Minak Jinggo.
"Sial, anda sama sekali tidak memberiku kesempatan memiliki posisi tawar, tapi senang anda kembali dengan wajah yang berbeda Yang Mulia," jawab Minak Jinggo kesal.
"Wajah Yang berbeda?" tanya Sabrang pelan.
"Anda jauh lebih menakutkan dari biasanya, sesuatu sepertinya telah merubah anda tadi," jawab Minak Jinggo.
"Begitu ya... aku hanya berusaha menebus kesalahan," balas Sabrang sambil menangkap pedang pusaka Megantara yang berputar di atas kepalanya.
"Dengarkan aku... Kau pimpin Hibata untuk membantu yang lainnya dan bawa para pendekar yang terluka menjauh, aku takut tempat ini akan hancur karena pertarungan kami. Jika Tari benar benar sudah tewas, kuburkan dia didalam keraton dekat paviliun raja, aku ingin dia selalu menemaniku," ucap Sabrang sebelum bergerak menyerang.
"Baik Yang mulia... ah tidak maksudku ketua," jawab Minak Jinggo
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ah... Arya Dwipa lagi... Dia emang selalu membuat masalah... Belum terkuak semua misterinya, sekarang Megantara mengaku sudah membuat perjanjian darah sama si Arya Dwipa. Apa sih yang sebenarnya direncanakan si raja lemah ini? sabar ya karena jawabannya bukan di Pedang Naga Api.
__ADS_1
Minak Jinggo? tunggu saja di ABM kalau sudah mulai update karena beberapa hari ini saya harus Fokus menyelesaikan ending si Sabrang Damar di buku pembuka dari trilogi Naga Api.