Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pasukan Kuil Suci


__ADS_3

Rubah Putih merebahkan tubuhnya di dinding gua dengan wajah kusut, sekuat apapun dia berusaha membaca tulisan itu tetap tidak berhasil.


"Andai dia ada di sini," ucap Rubah Putih sambil memejamkan matanya.


"Benar apa yang dikatakan gusti ratu, kau tak akan mampu memecahkan misteri ini sendirian," suara seorang wanita mengejutkan Rubah Putih.


"Wulan? apa kau datang hanya untuk mengejekku?" balas Rubah Putih sinis.


Wulan terkekeh mendengar jawaban Rubah Putih, dia kemudian memperhatikan dinding gua yang ada disekelilingnya. Dia terlihat takjub dengan struktur gua yang sepertinya tidak alami.


"Tempat ini seperti dibuat untuk menunjukkan sesuatu," ucap Wulan sambil berjalan ke salah satu sudut dinding.


"Apa kau bisa membaca tulisan itu?" tanya Rubah Putih pelan.


"Aku tidak yakin tapi akan kucoba karena sepertinya tulisan ini menggunakan aksara Brahmi, sebuah aksara yang jauh lebih tua dari Palawa," ucap Wulan sambil meraba tulisan di dinding gua itu.


"Aksara Brahmi?" Rubah Putih mengernyitkan dahinya.


"Aksara Brahmi adalah ibu dari semua aksara di dunia ini termasuk Palawa, dan jika itu artinya gua ini adalah bangunan tertua di Nuswantoro," jawab Wulan pelan.


"Bangunan?" Rubah Putih mengernyitkan dahinya.


"Struktur bebatuan dinding gua ini jelas tidak alami dan itu artinya gua ini dibangun oleh seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan tinggi," Wulan membuka beberapa gulungannya sambil memperhatikan tulisan di dinding gua.


"Jika memang Palawa adalah turunan dari Brahmi harusnya tidak terlalu banyak perbedaan Aksara," gumam Wulan dalam hati.


"Aku akan mencari sesuatu yang bisa kita makan di sekitar gunung ini, berhati hatilah karena kita tidak tau apa yang disembunyikan dibalik gua ini," Rubah Putih bangkit dari duduknya dan melangkah pergi, dia ingin memberi waktu pada Wulan untuk berkonsentrasi membaca tulisan itu.


Wulan hanya mengangguk sambil memperhatikan tulisan di dinding gua.


"(Dendam lama akan membuatnya bangkit...)" Wulan terdiam sesaat. "Aku tidak mengerti beberapa aksara ini," Wulan melewatkan beberapa tulisan yang tidak dia pahami.


"(Bersama munculnya sekte Kuil Suci, ...... Kitab Sabdo Palon ciptaan ku menjadi tandingan pusaka miliknya atau amarahnya akan menghancurkan semuanya...) sial aku benar benar tidak mengerti aksara ini," umpat Wulan kesal, dia kemudian menyalin semua tulisan dan gambar yang ada di dinding itu dan berharap Wardhana bisa memecahkan misteri tulisan itu.


"Sekte Kuil suci? tunggu... bukankah ada sebuah kerajaan di ujung Swarna Dwipa yang kabarnya di jaga pasukan kuil suci? apa mungkin itu berhubungan?" ucap Wulan bingung.


Wulan menyandarkan tubuhnya di dinding gua sambil memejamkan matanya.


"Apakah dunia persilatan benar benar tidak akan pernah bisa damai? ilmu kanuragan dan ambisi manusia benar benar merusak semuanya, andai Ilmu kanuragan tidak pernah ada mungkin dunia ini bisa jauh lebih damai," ucap Wulan dalam hati.


Dalam kantuknya, Wulan terus memikirkan tentang tulisan di dinding itu, dia tidak menyadari jika sepasang mata terus mengawasinya dari jauh.


Namun orang itu tiba tiba menghilang begitu saja saat merasakan kehadiran Rubah Putih, tubuhnya seolah menembus dinding gua.


Rubah Putih tiba tiba menghentikan langkahnya saat merasakan sesuatu.


"Aku seperti merasakan tenaga dalam seseorang, apa hanya perasaanku saja?" Rubah Putih memperhatikan sekitarnya sebelum kembali melangkah.


"Sebaiknya kau makan dulu," Rubah Putih menyodorkan beberapa buah buahan saat melihat Wulan tertidur.


"Apa kau pernah mendengar tentang Sekte Kuil Suci?" tanya Wulan sambil mengambil buah buahan yang disodorkan Rubah Putih padanya.


"Sekte Kuli Suci? aku tidak pernah mendengar nama itu," balas Rubah Putih.


"Begitu ya... Sepertinya tempat ini berhubungan dengan sekte Kuil suci," Wulan mulai menjelaskan sebagian arti tulisan yang ada di dinding gua. "Hanya itu yang bisa kupahami," tutup Wulan bingung.


"Dendam lama akan membuatnya bangkit? jika yang kau katakan benar maka satu satunya cara untuk mengetahui kebenarannya adalah pergi ke kerajaan Arkantara," jawab Rubah Putih.


"Tak mudah masuk ke wilayah mereka karena kabarnya Arkantara sangat tertutup dengan dunia luar, sebaiknya kita bicarakan masalah ini dengan Wardhana terlebih dahulu, aku takut suatu saat ini akan menyeret Malwageni."

__ADS_1


"Menyeret Malwageni?" Rubah Putih mengernyitkan dahinya.


"Apa kau pikir Gusti ratu menemukan kitab Sabdo Loji secara tidak sengaja? aku yakin seseorang sengaja meletakkan Sabdo Loji di makam ini untuk ditemukan."


"Jadi menurutmu ini juga sengaja diletakan seseorang?" Rubah Putih mengeluarkan kitab Sabdo Loji yang baru ditemukannya.


Wajah Wulan berubah seketika, dia langsung menyambar kitab itu dan membukanya.


"Bagaimana mungkin kitab Sabdo Loji bisa ada dua?" Wulan membuka kitab itu perlahan dan mulai membacanya.


"Kedua kitab ini bertentangan, sepertinya ada sesuatu yang sedang direncanakan oleh orang yang meletakkan kedua kitab ini, kita harus cepat kembali ke Malwageni untuk membahas masalah ini," ucap Wulan cepat.


***


"Nona, sebaiknya anda tidak memaksa masuk keraton atau kami akan bertindak tegas," ucap salah satu Prajurit Malwageni saat melihat seorang wanita cantik memaksa bertemu Sabrang.


"Apa kau tuli? sudah kukatakan jika aku mengandung anak dari rajamu," bentak wanita cantik itu.


"Wanita ini benar benar sudah gila, tangkap dia!" teriak salah satu prajurit.


"Kalian benar benar membuatku kesal," wanita cantik menarik pedangnya dan bersiap menyerang.


"Mundur, kalian bukan tandingannya," suara Emmy mengejutkan mereka semua, dia melangkah dari dalam keraton sambil menatap tajam wanita muda itu.


"Nyonya selir?" para prajurit angin selatan menundukkan kepalanya memberi hormat.


"Sedikit saja melukai para prajurit Malwageni, akan kuhabisi kau dan seluruh suku Hutan Dalam dengan tanganku sendiri," ancam Emmy dingin.


"Nyonya selir? jadi sekarang kau sudah menjadi seorang selir?" ejek wanita itu sambil tertawa.


"Sebaiknya cepat katakan apa yang kau inginkan, atau aku akan mengusir mu paksa."


"Aku ingin bertemu dengan Yang Mulia, ada hal penting yang ingin aku sampaikan," jawab Leny Darrow.


"Bertemu dengan Yang mulia? apa kau pikir bisa semudah itu? beliau sedang tidak ingin ditemui siapapun, sebaiknya kau kembali dan datang lagi lain waktu," jawab Emmy ketus.


"Tolong aku kali ini saja, ada hal penting yang ingin aku sampaikan," Leny berusaha mengejar Emmy yang sudah melangkah masuk ke keraton namun puluhan prajurit langsung menghadang jalannya.


Emmy terus melangkah masuk tanpa menghiraukan teriakkan Leny yang terus memanggilnya.


"Seluruh suku Hutan Dalam sudah tewas oleh beberapa pendekar aneh, mereka mengorbankan nyawa agar aku selamat. Aku benar benar membutuhkan bantuan kalian," Leny Darrow menancapkan pedangnya di tanah dan sambil berlutut.


"Suku Hutan dalam tewas?" Emmy menghentikan langkahnya, dia menoleh dan menatap Leny tak percaya.


Emmy sudah mengetahui sendiri bagaimana ilmu kanuragan suku hutan dalam saat mencari gua emas di daratan Swarna Dwipa, walau tidak terlalu tinggi namun cukup sulit bertarung dengan mereka.


"Para pendekar yang menamai diri mereka pasukan kuil suci menyerang Lereng Indrapura dan membunuh semua anggotaku. Kekuatan yang mereka miliki sangat menakutkan, aku bisa selamat karena bersembunyi di sumur tanpa dasar.


Aku tidak tau harus meminta bantuan siapa, yang terlintas di pikiranku saat itu hanya kalian, kumohon bantulah aku," balas Leny pelan.


Emmy menarik nafasnya panjang, ada rasa bersalah dihatinya karena telah berusaha mengusir wanita itu.


"Yang mulia saat ini sedang tidak ada ditempat, aku akan membawamu menemui tuan Patih, semoga dia bisa membantumu," Emmy memberi tanda para prajurit untuk memberi jalan pada Leny Darrow.


"Terima kasih nyonya," Leny memberi hormat sebelum melangkah masuk mengikuti Emmy.


***


"Aku ingin bertemu dengan paman Wardhana," ucap Emmy saat berada di depan pintu ruangan Wardhana.

__ADS_1


"Baik nyonya, mari hamba antar," salah satu prajurit mengetuk pintu ruangan sebelum mempersilahkan Emmy dan Leny masuk.


"Kau?" Wardhana yang sedang duduk tampak terkejut melihat kehadiran Leny Darrow.


"Hormat tuan Patih, lama tidak bertemu," sapa Leny sopan.


Wardhana mengangguk, dia mempersilahkan Leny duduk setelah memberi hormat pada Emmy.


"Sudah lama sekali sejak pertempuran di lereng gunung Indrapura, apa sesuatu telah terjadi sampai kau datang jauh ketempat ini?"


Leny darrow menarik nafasnya panjang sebelum memulai ceritanya, dia seolah berusaha mengumpulkan keberanian untuk menceritakan malam berdarah yang penuh kengerian itu pada Wardhana.


"Kejadiannya begitu cepat malam itu, yang paling aku ingat adalah empat orang dengan penutup wajah berdiri di atas tumpukkan mayat semua anggota Suku Hutan Dalam. Tak ada yang selamat malam itu, sekuat apapun kami berusaha melarikan diri tapi tak berhasil.


Aku berhasil selamat karena Parbo mengorbankan diri untuk memberi waktu padaku melarikan diri ke sumur tanpa dasar."


"Empat orang dengan penutup wajah? apa kau mengenali jurus mereka?" tanya Wardhana.


"Tidak tuan, jurus yang mereka gunakan sangat aneh dan baru pertama kali kulihat. Tapi saat mereka mencari ku di dekat sumur tanpa dasar, aku mendengar mereka menyebut pasukan kuil suci dan yang membuatku bingung mereka mengatakan jika kitab itu berada di Malwageni."


"Kitab?"


"Aku tidak tau kitab apa karena mereka hanya mengatakan kitab itu namun aku yakin mereka menyebut Malwageni. Aku datang untuk meminta bantuan sekaligus memberi peringatan pada Yang mulia," jawab Leny Darrow.


"Pasukan kuil suci? apa mungkin mereka berhubungan dengan kerajaan Arkantara, karena kabar yang kudengar mereka juga dijaga oleh pasukan kuil suci.


Jika benar itu mereka, mengapa kalian harus dihancurkan? apa suku hutan dalam pernah memiliki masalah dengan Arkantara?"


Leny Darrow menggeleng pelan, "Aku yakin tidak pernah berhubungan dengan mereka."


"Jika kalian tidak pernah berhubungan dengan mereka mengapa dihancurkan dan apa maksud kitab itu berada di Malwageni?" Wardhana memijat dahinya bingung.


"Apa mungkin ini berhubungan dengan gua emas di danau kaca itu paman?" tanya Emmy.


"Sepertinya bukan nyonya, saat itu hamba hanya menemukan serpihan kunci telaga khayangan api dan sebuah kalung, tidak ada kitab apapun di dalam sana," jawab Wardhana pelan.


"Lalu apa yang akan kita lakukan paman?" tanya Emmy.


"Tidak ada cara lain, satu satunya cara adalah memeriksa lereng gunung Indrapura untuk mencari tau tujuan mereka membunuh semua anggota Suku Hutan Dalam. Besok hamba akan pergi bersama Candrakurama."


"Tidak paman, sebaiknya aku yang pergi. Saat ini kondisi keraton sedang genting dan sangat membutuhkan paman sedangkan ratu dan tari sedang mengandung. Akan sangat berbahaya meninggalkan keraton terlebih tuan Lingga belum sadarkan diri," balas Emmy.


"Tidak nyonya, jika benar yang dikatakan nona Leny berarti mereka sangat berbahaya, hamba tidak mungkin membiarkan anda dalam bahaya."


"Akan jauh lebih berbahaya jika terjadi kekacauan kembali di keraton paman, aku yakin sampai saat ini Adiwilaga belum menyerah, apa paman ingin Malwageni hancur kembali?."


"Nyonya,"


"Aku akan berhati hati," balas Emmy tak mau kalah.


Wardhana tampak ragu namun dia tidak bisa berbuat apa apa saat Emmy terus memaksanya.


"Mohon berhati hati nyonya," jawab Wardhana lemas.


"Paman tak perlu khawatir," Emmy menepuk bahunya sendiri seolah berkata kini dia sudah semakin kuat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Bonus Chapter akan saya berikan besok dengan catatan PNA kembali masuk 10 besar, jumlah bonus chapter tergantung posisi PNA di klasemen (Ceilee kayak bola klasemen)

__ADS_1


Terima kasih dan terima VOTE


__ADS_2