Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Perjalanan Kembali ke Malwageni II


__ADS_3

Puluhan prajurit Angin selatan tampak berjaga di setiap sudut keraton, Arung bahkan menyiagakan puluhan prajurit di aula utama.


"Tuan Arung memerintahkan untuk mencegah siapapun masuk keraton selama proses penobatan ratu Tungga Dewi, jadi perketat penjagaan di semua gerbang keraton," ucap Kertapati pada pasukannya.


"Baik tuan," ucap mereka bersamaan.


Sementara itu di aula utama, tamu undangan dan para menteri yang mengenakan pakaian kebesaran mulai berdatangan satu persatu. Beberapa menteri bahkan mengajak serta keluarganya untuk menyaksikan momen paling bersejarah bagi Malwageni karena untuk pertama kalinya kerajaan trah Dwipa itu akan di pimpin oleh seorang pendekar wanita.


Setelah Wardhana berhasil menjebak dan menghukum mati Adiwilaga, jalan Tungga Dewi menuju tahta kerajaan memang lebih mudah. Tak ada lagi yang cukup gila untuk menentang Wardhana setelah kejadian itu.


Siasat dan politik yang dijalankan Wardhana benar benar telah berhasil membuatnya menguasai situasi keraton sepenuhnya.


Setelah secara mengejutkan Wardhana menunjuk Pancaka sebagai raja kecil di Saung Galah, dia akhirnya mampu menjalankan perintah Sabrang untuk mengantarkan Tungga Dewi menuju tahta Malwageni.


Banyak yang mempertanyakan keputusan mengejutkan Wardhana memilih Pancaka memimpin Saung Galah, mereka menganggap Wardhana melalukan kesalahan besar dengan menunjuk seseorang yang mungkin suatu saat akan berkhianat.


Namun Wardhana bergeming, dia tetap menunjuk Pancaka setelah mendapatkan izin dari Sekar Pitaloka.


Keputusan gila itu sempat ditentang Sekar Pitaloka namun setelah mengetahui semua rencana besar Wardhana, Sekar justru memuji langkah patih nya itu.


"Mengangkat Pancaka bukan tanpa resiko Gusti ratu, tapi ini adalah jalan terbaik untuk membuat Saung Galah benar benar takluk pada Malwageni," ucap Wardhana saat menghadap Sekar Pitaloka.


"Jalan terbaik?" tanya Sekar bingung.


"Saat ini masih ada dua kekuatan besar di Saung Galah, para pendukung putri mahkota dan pemberontak yang lebih banyak di dukung rakyat Saung Galah. Jika kita memilih salah satu kelompok untuk naik tahta itu akan menimbulkan keributan.


Hamba mungkin bisa menghukum mereka semua yang menentang tapi itu akan menimbulkan gejolak yang tak pernah usai dan suka tidak suka akan menghabiskan energi kita juga, Gusti ratu. Menunjuk pangeran Pancaka adalah pilihan terbaik karena selain mereka tidak memiliki alasan untuk menentang, kita bisa memanfaatkan kemampuannya untuk mengendalikan situasi Saung Galah," jawab Wardhana pelan.


"Lalu bagaimana jika dia memberontak?" tanya Sekar Pitaloka.


"Pangeran tidak akan memiliki kesempatan untuk melakukan pemberontakan Gusti ratu, Dia akan disibukkan oleh tekanan dua kekuatan dan hanya kita yang bisa membantunya. Hamba mohon maaf sebelumnya tapi ambisi pangeran jelas masih besar sampai hari ini dan mendudukkannya di posisi tinggi Saung galah akan menyelesaikan dua masalah sekaligus.


Pertama, ambisinya sudah terpenuhi dengan duduknya dia di posisi puncak Saung Galah. Kedua, dia akan sangat membantu kita mengatur kondisi keraton Saung galah karena beberapa menteri berpengaruh dekat dengannya. Namun jika beliau mulai bermain api, kita bisa meminjam kekuatan putri mahkota Saung galah untuk menghancurkannya. Cukup mudah bagi hamba jika harus mengadu domba mereka," balas Wardhana.


"Wardhana benar benar pintar, dia bisa menyelesaikan masalah hanya dengan satu gerakan, Yang mulia Arya Dwipa tak salah memilihnya," ucap Sekar dalam hati saat mengingat kembali pertemuan dengan Wardhana beberapa hari lalu.


"Maaf gusti ratu, acara penobatan Ratu Tungga Dewi akan segera di mulai," ucap salah satu prajurit dari luar ruangannya.


"Baik, aku segera pergi," balas Sekar Pitaloka sambil mengambil mahkota mewah yang terbuat dari emas dan meletakkan di kepalanya.


"Ibu sudah menjalankan permintaanmu untuk mengangkat Dewi menjadi ratu nak jadi di manapun kau berada cepatlah kembali karena Dewi sepertinya sudah mau melahirkan," ucap Sekar Pitaloka dalam hati.


***


Akibat dari penobatan Tungga Dewi juga terjadi di gerbang utama menuju ibukota, penjagaan di setiap akses masuk menuju ibukota Malwageni itu menjadi lebih ketat.


Puluhan prajurit Angin selatan memeriksa setiap orang yang ingin memasuki atau meninggalkan Ibukota, bahkan para pedagang besar yang biasanya diberi kemudahan ikut diperiksa dengan ketat untuk menghindari hal yang tidak diinginkan selama penobatan Tungga Dewi.


Para prajurit tidak segan mengusir siapa saja yang mencurigakan dan tidak memiliki tujuan jelas di Ibukota.


"Apa yang sebenarnya sedang terjadi di ibukota?" bisik salah satu pedagang pada temannya.


Tak jauh dari antrian puluhan orang yang hendak memasuki ibukota, Arina tampak memperhatikan mereka dengan wajah khawatir.


"Sepertinya akan sangat sulit bagi tuan Damar untuk masuk ibukota dengan pemeriksaan yang sangat ketat itu, aku harus segera memberitahukan hal ini padanya," Arina bergegas meninggalkan gerbang utama menuju penginapan mewah yang berada di perbatasan ibukota.


Sabrang memang memutuskan menginap di penginapan mewah dekat gerbang utama ibukota setelah secara tidak sengaja mengetahui jika tiga orang yang berlayar bersamanya ternyata utusan Arkantara untuk Malwageni.


Sabrang ingin menyelidiki apa tujuan mereka, itulah sebabnya dia menginap di tempat yang sama dengan para utusan itu.

__ADS_1


Arina yang dipesankan kamar sendiri merasa bosan setelah beberapa hari hanya duduk didalam kamar. Dia kemudian memilih berkeliling hingga akhirnya dia sampai di gerbang utama dan melihat tumpukan prajurit penjaga yang memeriksa ketat siapapun yang akan masuk ibukota.


"Wajahnya terlalu tampan untuk menyamar sebagai pedagang dan istrinya yang ketus lebih terlihat sebagai seorang pembunuh, bagaimana para prajurit itu akan percaya?" ucap Arina dalam hati sambil mempercepat langkahnya.


Arina menghentikan langkahnya setelah berada di depan kamar Sabrang, dia terlihat ragu saat wajah menakutkan Emmy terlintas di pikirannya.


Setelah berfikir beberapa lama, dia memberanikan diri mengetuk pintu.


"Tuan Damar," ucap Arina pelan.


"Masuklah," jawab Sabrang dari dalam.


Dan benar saja dugaan Arina, Emmy langsung bertolak pinggang menghadangnya.


"Apa pantas seorang gadis muda bertamu pagi pagi sekali?" ucap Emmy sinis.


Wajah Arina memerah menahan amarah, ingin sekali dia memaki wanita dihadapannya namun dia memutuskan menahan diri karena ada hal yang lebih penting yang harus disampaikan.


"Maaf nona, tuan Damar memang tampan tapi aku tidak tertarik sama sekali. Aku datang untuk memberitahukan informasi penting padanya," jawab Arina ketus.


"Kau!"


"Emmy, biarkan dia masuk, bagaimanapun dia telah membantu kita di dermaga," ucap Sabrang lembut.


"Aku akan membalasmu di keraton," ucap Emmy pelan.


"Keraton? dia bahkan bermimpi hidup di keraton, gadis itu sepertinya sudah gila," ucap Arina dalam hati sambil berjalan mendekati Sabrang.


Arina kemudian menceritakan semua yang dilihatnya di gerbang utama termasuk kabar bahwa hari ini adalah penobatan Tungga Dewi.


"Jadi begitu ya... pantas saja para utusan itu belum bergerak sama sekali, mereka belum bisa masuk ibukota," jawab Sabrang pelan.


"Sepertinya sulit bagi kita untuk masuk tuan, mereka pasti langsung mengetahui jika anda bukan pedagang dan langsung mengusir kita, sebaiknya kita menunggu beberapa hari setelah penobatan itu," ucap Arina pelan.


"Ucapanmu bisa membuat mereka curiga!" ucap Sabrang kesal.


Emmy langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, rasa cemburu pada Arina membuatnya sedikit lepas kontrol dan lupa jika saat ini mereka sedang menyelidiki para utusan Arkantara.


"Terima kasih atas informasinya, sepertinya kita memang harus menginap lebih lama di sini," jawab Sabrang pelan, dia mulai berfikir untuk menemui Wardhana terlebih dahulu agar identitasnya tidak diketahui dan merusak rencananya untuk menyelidiki maksud kedatangan para utusan itu.


Arina mengangguk pelan, dia kemudian kembali ke kamarnya setelah menyampaikan semua informasi pada Sabrang.


"Emmy, sikapmu harus lebih baik lagi padanya, dia hanya gadis polos yang ingin mencari kehidupan layak setelah merasa tertekan di Arkantara," ucap Sabrang lembut.


Emmy hanya mengangguk pelan, wajahnya masih menunjukkan rasa tidak suka pada Arina.


"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa hanya akan mencintai empat wanita dalam hidupku termasuk Ibu," Sabrang melanjutkan ucapannya.


Wajah Emmy mulai berubah setelah mendengar ucapan Sabrang.


"Aku tidak membencinya Yang mulia, aku hanya lelah akibat perjalan jauh," jawab Emmy tersipu malu.


Sabrang bangkit dari duduknya, dia mengambil penutup wajah dan menggunakannya.


"Beristirahatlah sebentar, aku tidak ingin wajah cantikmu berubah menyeramkan," balas Sabrang sambil tertawa.


"Anda akan pergi?" tanya Emmy pelan.


"Aku akan masuk keraton diam diam dan menemui paman Wardhana untuk membicarakan masalah ini. Kita harus bersiap karena aku yakin kedatangan utusan Arkantara memiliki maksud tersembunyi," ucap Sabrang sebelum melesat pergi melalui jendela kamar.

__ADS_1


***


Wardhana terlihat meninggalkan aula utama dengan terburu buru setelah penobatan Tungga Dewi menjadi ratu selesai. Dia tidak memiliki waktu banyak karena sudah membuat janji dengan Candrakurama untuk bertemu di hutan belakang keraton untuk membahas masalah Emmy.


Wardhana mulai khawatir karena sudah cukup lama Emmy belum kembali.


Wardhana merasa jika hanya pergi ke lereng gunung Indrapura seharusnya Emmy sudah kembali sejak lama.


Candrakurama memang meminta bertemu di hutan untuk mengurangi kemunculannya di keraton setelah beberapa sekte mencurigai Hibata adalah bentukan Malwageni. Akan cukup sulit baginya bergerak senyap saat dunia persilatan mengetahui siapa dia sebenarnya.


Hibata memang mulai mencengkeram kan pengaruhnya di dunia persilatan selama beberapa purnama terakhir sebagai persiapan untuk melebarkan daerah kekuasaan Malwageni.


Wardhana yang mulai mengincar kerajaan kerajaan kecil di ujung timur Jawata sebagai daerah taklukkan berikutnya memberi tugas pada Hibata untuk melemahkan sekte sekte yang mendukung kerajaan itu agar memudahkan Malwageni menyerang saat permintaan untuk menyerah diabaikan oleh mereka.


Wardhana sadar, setelah mendengar Arkantara yang memiliki pasukan tempur terkuat mulai bergerak, satu satunya cara melawan mereka adalah dengan melebarkan daerah kekuasaan dan memperkuat semua pasukan.


"Yang mulia, hamba sudah menjalankan perintah anda, cepatlah kembali jika anda selamat," ucap Wardhana lirih sambil berjalan menyusuri hutan.


"Tuan Patih," Candrakurama muncul dari balik pohon dan melepaskan topeng emasnya.


"Maaf, aku sedikit terlambat, penobatan ratu sedikit mundur karena ada persiapan yang belum selesai," jawab Wardhana sopan.


Candrakurama mengangguk pelan, "Aku sudah meminta salah satu pendekar Hibata untuk menggantikanku sementara waktu selama aku mencari nyonya selir, kapan aku harus berangkat tuan?"


"Secepatnya, aku sudah meminta Sora mengurus keberangkatanmu ke Swarna Dwipa. Temukan nyonya selir, aku takut terjadi sesuatu padanya," jawab Wardhana khawatir.


"Baik tuan, aku akan..." Candrakurama menghentikan ucapannya tiba tiba, dia melihat ke salah satu pohon sambil mengeluarkan pisau terbangnya.


"Ada yang berusaha mencuri dengar tuan," Candrakurama melompat dan bergerak cepat kearah pohon itu sebelum melemparkan pisau terbangnya.


"Keluar kau dari tempat persembunyianmu," teriak Candrakurama.


Serangan pisau pisau terbang yang mengandung tenaga dalam itu, memaksa sesosok tubuh melompat turun, dia tampak tersenyum dari balik penutup wajahnya sambil menangkis pisau pisau yang seolah mengejarnya itu.


"Dia semakin kuat," ucap pendekar misterius itu sambil mengeluarkan dua buah pisau dari balik pakaiannya.


"Saatnya mencoba pisau pisau ini," pendekar itu meningkatkan kecepatannya, dia melemparkan pisau di kedua tangannya yang membuat Candrakurama terkejut.


"Ilmu kanuragannya cukup tinggi," Wardhana yang memperhatikan pertarungan mereka tampak terkejut setelah pendekar itu mampu mengimbangi Candrakurama.


Setelah berlatih keras kitab yang diberikan Rubah Putih, Candrakurama muncul menjadi pendekar yang ditakuti dan mengibarkan nama Hibata di seantero Jawata. Wardhana tidak menyangka ada pendekar muda yang mampu mengimbanginya.


"Siapa pendekar ini sebenarnya?" ucapnya dalam hati.


"Saatnya mengakhiri pertarungan," Candrakurama melempar satu pisau rahasianya saat lawannya salah melangkah, dia menyamarkan pisau rahasia itu diantara pisau lainnya.


"Sial, aku belum terlalu ingat gerakan jurus pisau tumbuk lada," pendekar itu terpaksa memunculkan dinding es untuk menangkis serangan pisau dari berbagai arah dan menangkap pisau rahasia yang mengandung tenaga dalam yang jauh lebih besar dengan tangan kanannya.


Wardhana dan Candrakurama tersentak kaget, terlebih saat pisau dalam genggamannya itu hancur menjadi debu.


"Bagaimana dia bisa menghancurkan pisau terbaikku?" ucap Candrakurama tak percaya.


"Siapa anda sebenarnya, mengapa anda bisa menggunakan jurus es?" wajah Wardhana tampak pucat, seingatnya setelah Mantili dan seluruh anggota sekte terbunuh hanya beberapa orang yang menguasai jurus itu.


"Paman, apa kabar?" Sabrang membuka penutup wajahnya dan tersenyum lembut.


"Yang mulia?" ucap Wardhana dan Candrakurama bersamaan.


"Maaf aku datang diam diam, ada hal penting yang harus kubicarakan," balas Sabrang pelan.

__ADS_1


Wardhana masih mematung, dia benar benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Setelah sekian lama mengerahkan pasukan dan telik sandi terbaik untuk mencari keberadaan Sabrang namu tidak berhasil. Hari ini, raja Malwageni itu datang sendiri menemuinya secara tidak terduga.


"Yang mulia...maafkan hamba," Wardhana berlutut dihadapan Sabrang dengan wajah tertunduk.


__ADS_2