
Lingga Maheswara terlihat berjalan ke arah gerbang sisi selatan keraton Malwageni saat beberapa petinggi keraton sedang berkumpul di aula utama. Dia memang sengaja menghindari pertemuan itu setelah mendengar kabar kembalinya Sekar Pitaloka.
Lingga menghentikan langkahnya sesaat dan menoleh ke arah aula utama sebelum kembali berjalan.
"Apa kau ingin melarikan diri? tak kusangka seorang Lingga begitu pengecut," Sekar Pitaloka muncul dihadapan Lingga.
"Ibu ratu?" Lingga tampak terkejut, dia menundukkan kepala memberi hormat.
"Hamba tak mengerti apa yang anda katakan," jawab Lingga sopan.
"Aku meminta Sabrang mengundangmu ke aula utama, dan setauku ini bukan jalan menuju aula utama," sindir Sekar Pitaloka.
Lingga terdiam, dia memang sengaja menghindari Sekar Pitaloka karena dialah yang membunuh Arya Dwipa.
"Hamba hanya tak memiliki muka untuk bertemu anda, jika anda ingin membalas dendam hamba tak akan melawan," jawab Lingga pasrah.
"Membunuhmu bukan hal sulit bagiku, tapi bukan itu yang aku inginkan," jawab Sekar Pitaloka sambil melepaskan energi murni dari tubuhnya.
Lingga tersentak kaget, dia tidak menyangka jika ratu Malwageni yang dulu lemah bisa memiliki kekuatan sebenar itu.
"Anda selama ini menyembunyikan kekuatan?" tanya Lingga penasaran.
"Bukan cuma aku, jika saat itu Yang mulia mau menerima kekuatan Keris penguasa kegelapan mungkin saat ini tak ada yang mengenal nama Lingga Maheswara," balas Sekar Pitaloka.
Lingga tersenyum kecut, melihat kekuatan yang dimiliki Sekar Pitaloka dan fakta bahwa dia adalah keturunan trah Tumerah, dia tidak membantah ucapan Sekar.
"Apa yang anda inginkan dari hamba?" tanya Lingga.
"Apa yang membuatmu memutuskan mengikuti anakku?" tanya Sekar dingin.
"Mengikuti Yang mulia? hamba pernah memintanya membunuh hamba tapi dia dengan seenaknya memberikan posisi wakil patih Malwageni.
Membunuh Yang mulia Arya Dwipa adalah kesalahan terbesar dan hamba mulai menyadarinya saat bertarung bersama Yang mulia.
Hamba tidak ingin mencari pembenaran atas kematian Yang Mulia Arya Dwipa, tapi saat itu hamba membunuhnya bukan karena dendam, tapi atas dasar prinsip yang hamba anggap benar.
Dan kini Yang mulia Sabrang mengajarkan hamba apa itu prinsip hidup, membantu sesama dan hamba akan melakukan hal yang sama atas apa yang hamba yakini, itulah yang membuat hamba mengikuti Yang mulia," jawab Lingga.
"Jadi kau merasa dulu adalah kesalahan dan kini ingin memperbaikinya?"
"Jika hamba diberi kesempatan maka hamba akan memperbaikinya tapi hamba sadar jika nyawa ini bukan milik hamba lagi, Hamba siap kapanpun jika diminta demi menebus kesalahan masa lalu," jawab Lingga cepat.
"Begitu ya," Sekar Pitaloka menarik pedangnya sebelum tiba tiba bergerak kearah Lingga.
"Sudah saatnya?" Lingga memejamkan matanya, dia tidak menyentuh sama sekali pusaka pedang langit yang terselip di pinggangnya.
Lingga mengernyitkan dahinya saat pedang Sekar berhenti tepat di lehernya.
"Nyawamu kini milik Malwageni, ikut denganku dan bantu Yang mulia sampai tubuhmu hancur," ucap Sekar Pitaloka sambil menarik pedangnya.
Lingga berlutut dihadapan Sekar Pitaloka sambil menundukkan kepalanya.
"Hamba akan mengingat semua ucapan anda ibu ratu, terima kasih atas semua kebaikan anda," ucap Lingga lirih.
***
Aula utama Malwageni terlihat sudah ramai oleh beberapa orang kepercayaan Sabrang, semua terlihat mematung dan larut dalam pikiran masing masing. Mereka tidak menyangka jika ratu Malwageni yang juga merupakan ibu Sabrang ternyata masih hidup.
Wijaya yang terlihat paling gelisah, kematian Sekar Pitaloka terjadi dibawah tanggung jawabnya. Tubuhnya terlihat bergetar saat beberapa prajurit memberi hormat pada Sekar Pitaloka di luar ruangan.
Begitu Sekar Pitaloka memasuki ruangan bersama Lingga, Wijaya yang berada di dekat pintu langsung berlutut dihadapan Sekar.
"Hamba memberi hormat pada Ibu ratu, hamba pantas mati, mohon berikan hukuman pada hamba," Wijaya bersujud dihadapan Sekar Pitaloka sambil menangis, dia seolah mengeluarkan semua beban didalam hatinya.
Semua terdiam saat mendengar tangisan tulus Wijaya, mereka hanya bisa menatap prajurit paling berani milik Malwageni itu menangis tanpa bisa berbuat apa apa.
Air mata Sekar pitaloka kembali keluar setelah melihat kesetiaan Wijaya, dia merasa bersalah memalsukan kematiannya dan membiarkan Wijaya menanggung penyesalan puluhan tahun.
"Wijaya, kau pasti menderita selama ini? harusnya aku yang meminta maaf padamu, aku harus melakukan ini karena itu titah terakhir Yang mulia," jawab Sekar Pitaloka.
"Mohon Ibu ratu jangan berkata demikian, hamba pantas menerimanya," jawab Wijaya masih bersujud dihadapan Sekar.
Sekar Pitaloka menghapus air matanya sambil tersenyum lembut.
"Tak perlu ada yang merasa bersalah, semua adalah rencana Yang mulia Arya Dwipa. Sekarang yang harus kita lakukan adalah memastikan rencananya berhasil, karena ini bukan hanya demi Malwageni tapi demi Nuswantoro," Sekar Pitaloka melihat sekelilingnya, sebelum.melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Kita semua disatukan oleh Malwageni baik secara langsung atau tidak, tapi tujuan kita sama, menyelamatkan Muswantoro. Aku tidak bisa menjamin keselamatan kalian karena lawan yang kita hadapi bukan pendekar sembarangan.
Namun jika kalian tetap memutuskan berjuang bersamaku, angkat wajah kalian dengan bangga dan kita lakukan semampu kita, biarkan alam yang memutuskan hasilnya," teriak Sekar Pitaloka.
"Hamba siap menerima perintah," teriak mereka bersamaan sambil berlutut termasuk Emmy, Tungga Dewi dan Mentari.
Sekar Pitaloka mengangguk pelan, dia benar benar terharu dengan kesetiaan yang diperlihatkan orang orang kepercayaan Sabrang.
Sekar kemudian menoleh kearah tiga wanita yang berlutut tak jauh darinya.
"Kau pasti yang bernama Tungga Dewi? kau terlihat sangat anggun dengan pakaian itu," sapa Sekar Pitaloka pada Tungga Dewi.
"Tungga Dewi memberi hormat Ibu ratu," jawab Tungga Dewi cepat.
"Kau cantik seperti ibumu," balas Sekar Pitaloka sambil menatap Emmy. "Dan kau?"
"Emmy memberi hormat," jawab Emmy sopan.
"Emmy, aku terkejut tubuhmu mampu menerima energi Naga Api, aku akan memberimu cara untuk meningkatkan Naga Api," balas Sekar.
"Terima kasih atas semua kemurahan hati ibu ratu," ucap Emmy sambil menundukkan kepalanya.
"Wardhana memberi hormat pada Ibu ratu, senang anda sudah kembali, mohon izinkan hamba mengantarkan anda ke ruang khusus Yang mulia," Wardhana tiba tiba muncul sambil menundukkan kepalanya.
Sekar Pitaloka mengernyitkan dahinya dia menatap Wardhana cukup lama sebelum tertawa lepas.
"Kau adalah satu satunya orang yang tidak terkejut dengan kehadiranku, apa kau sudah mengetahui semuanya?" tanya Sekar Pitaloka tersenyum.
"Pedangnya akan menjadi kunci perlawanan kali ini, dia hanya perlu mengikuti hati nurani. Ketika dimensi waktu terbuka, sarungkan pedang sesuai arah matahari terbit. Itu adalah pesan yang diberikan Yang mulia Arya dwipa yang disampaikan saat bertarung dengan Lakeswara.
(Pedangnya akan menjadi kunci perlawanan kali ini, dia hanya perlu mengikuti hati nurani), beliau ingin menyampaikan jika semua kunci perlawanan ada di pedang ini. Awalnya hamba bingung mengapa pedang ini diberikan pada hamba yang tidak memiliki ilmu kanuragan jika pedang ini adalah kuncinya.
Namun akhirnya hamba menyadari jika bukan karena ilmu kanuragan, berarti Yang mulia ingin hamba menemukan pesannya. (Ketika dimensi waktu terbuka, sarungkan pedang sesuai arah matahari terbit ), jika perkiraan hamba benar, ini berhubungan dengan Lakeswara. Setelah bertemu dengan Lakeswara yang memiliki dimensi ruang dan waktu, Sarungkan pedang sesuai arah matahari terbit.
Hamba mencoba menaruh pedang ini dibawah sinar matahari, dan menemukan pantulan cahaya di sisi kiri genggaman pedang berkepala naga ini. Ketika hamba mencongkel gagang pedang ini, sebuah gulungan kecil berada di dalamnya," Wardhana mengambil gulungan kecil itu dan membacanya.
"Wardhana setiap orang memiliki kelebihan masing masing, jangan paksakan untuk menguasai apa yang tidak kau pahami. Ratuku masih hidup du suatu tempat dan dia akan datang saat Cakra Tumapel mulai mencari gerbang suci.
Semua rencana sudah kusampaikan pada ratu dan selir terakhirku, mungkin beberapa hal akan berbeda karena situasi bisa berubah, tugasmu adalah memastikan rencana berjalan sesuai situasi saat kau membuka pesan ini. Katakan pada anakku Sabrang Damar, kalian berdua akan menjadi pemimpin perlawanan kali ini. Berjuanglah demi orang terdekatmu, Arya Dwipa."
"Anda terlalu memuji Ibu ratu, mari hamba antar keruangan khusus Yang mulia," jawab Wardhana pelan.
"Dia telah mempersiapkan semuanya sedetail ini termasuk memilih Wardhana sebagai kunci rencananya, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika mereka berdua masih hidup," ucap Rubah Putih kagum.
"Tidak, alam selalu memiliki cara untuk keseimbangannya. Dua orang paling cerdas akan sangat menakutkan jika bersama jika terbawa ambisi dan hawa nafsu, mungkin itulah yang membuat alam tak menyatukan mereka saat ini," jawab Wulan pelan.
"Begitu ya," balas Rubah Putih cepat sambil mengikuti langkah Sekar masuk ke sebuah ruangan.
"Aku sepertinya terlambat," suara seorang wanita menghentikan langkah mereka.
"Tetua Wulan dari Teratai Merah?" ucap Wardhana.bingung, dia tidak merasa mengundang Wulan sari.
"Sebaiknya kau jangan memanggilnya tetua, karena dialah selir terakhir Yang mulia Arya Dwipa," balas Sekar Pitaloka sedikit ketus.
"Selir Yang mulia?" semua tampak terkejut setelah mendengar ucapan Sekar Pitaloka.
"Benar yang dikatakan gusti ratu, aku adalah selir kesayangan Yang mulia," balas Wulan sari sambil tersenyum.
"Selir kesayangan? ah aku baru ingat jika selir kesayangan itu bahkan tidak pernah menginjakkan kakinya di keraton," jawab Sekar sinis.
"Tak perlu kemewahan untuk bersama orang yang kucinta gusti ratu," jawab Wulan sari cepat.
"Aura permusuhan yang pekat, aku khawatir aula megah ini akan hancur jika mereka tidak dihentikan," bisik Wulan pada Rubah Putih.
"Wanita memang selalu merepotkan," jawab Rubah Putih yang dibalas tatapan tajam Wulan.
"Apa kau ingin ikut menghancurkan aula ini?" ejek Rubah Putih.
"Ibu ratu, nyonya selir bukankah sebaiknya kita masuk dan membicarakan hal lainnya?" Wardhana mencoba melerai keributan keduanya.
"Diam kau!" balas mereka berdua bersamaan.
"Ini urusanku dengan nenek tua itu," ejek Sekar Pitaloka.
"Nenek tua? jika nenek tua ini tak membangkitkan anda mungkin saat ini anda sudah membusuk," jawab Wulan Sari tak mau kalah.
__ADS_1
"Kau!" Sekar Pitaloka mencabut pedangnya diikuti Wulan sari yang sudah bersiap menyerang.
Suasana aula menjadi tengang oleh aura keduanya yang meluap, tak ada yang berani melerai mengingat aura besar yang mereka miliki.
"Inilah mengapa aku tidak ingin menikah," ucap Lingga dalam hati.
"Ibu ratu, ibu selir, Hamba pernah mendengar jika Yang mulia begitu mencintai kalian berdua lebih dari apapun. Beliau pasti sangat bangga anda berdua telah menjalankan permintaan terakhirnya.
Awalnya hamba tidak pernah berfikir jika suatu saat pasangan hidupku akan membagi hatinya, tapi ketulusan yang diperlihatkan Yang Mulia Sabrang membuatku yakin jika beliau tulus mencintai kami, dan hamba yakin Yang mulia Arya Dwipa juga tulus mencintai wanitanya. Apa tidak sebaiknya kita bicara baik baik dan masuk ke ruangan itu?" Emmy yang dari tadi diam memberanikan bicara.
Sekar Pitaloka dan Wulan Sari menatap Emmy sesaat sebelum menyarungkan pedangnya.
"Sepertinya gadis itu berhasil mencegah gedung ini hancur," ucap Rubah Putih lega.
"Namamu emmy bukan? kau akan menjadi muridku," ucap Sekar pitaloka pelan.
"Emmy adalah murid kesayanganku gusti ratu, mohon maafkan hamba," ejek Wulan Sari.
"Muridmu? tidak selama aku masih ada," jawab Sekar Pitaloka.
"Lalu apa yang akan anda lakukan?" keduanya kembali mencabut pedang dan membuat suasana menjadi tegang kembali.
"Wanita yang sedang cemburu memang menakutkan dan jauh lebih rumit dari strategi perang apapun," Wardhana tampak bingung dengan situasi yang dihadapinya dan untuk pertama kalinya sang Naga tidur dari Malwageni menyerah begitu cepat.
***
"Apa! Malwageni ingin menyerang Saung Galah?" Jaladara tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya saat mendengar ucapan seorang pemuda dihadapannya.
"Benar tuan, itu yang hamba dengar dari beberapa pedagang yang kebetulan berdagang di kota raja Malwageni," jawab pemuda itu.
"Apa kau tau akibat dari ucapanmu ini bisa menyulut perang dua kerajaan besar?" tanya Jaladara tajam.
"Hamba tidak mungkin bicara mengenai masalah besar ini jika tidak yakin dengan ucapan hamba. Apakah Gunung Padang wilayah kekuasaan Saung Galah?" tanya pemuda itu pelan.
Jaladara mengangguk cepat, "Lalu?"
"Ku dengar dari sanalah mereka akan mulai menyusun kekuatan, jika anda tidak percaya ucapan hamba, anda bisa mengirim para teliksandi di ke sana untuk mencari tau pergerakan mereka," jawab pemuda itu.
"Gunung padang cukup jauh dari keraton Saung Galah, untuk apa mereka menyerang dari sana? akan butuh banyak logistik untuk sampai ke keraton," ucap Jaladara bingung.
"Apa kita bisa membaca pergerakan sang naga tidur dari Malwageni?" balas pemuda itu.
Jaladara terdiam, apa yang dikatakan pemuda itu benar, tak ada yang tau bagaimana Wardhana akan bergerak dan itu sudah dibuktikan dengan hancurnya Majasari.
"Siapa kau sebenarnya? apa kau diuntungkan dengan membocorkan masalah ini pada kami?" tanya Jaladara curiga.
"Secara langsung tidak tapi hamba memang mengincar uang imbalan dari informasi itu. Hamba hanya pedagang yang memikirkan uang, tidak lebih," jawab pemuda itu sambil bangkit dari duduknya.
"Hamba mohon diri tuan patih, kuharap anda mengingatku dan memberi hadiah setimpal jika informasi yang hamba katakan benar," Pemuda itu menundukkan kepalanya dan melangkah pergi.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, siapa namamu?" tanya Jaladara.
"Kuncoro, itu nama pemberian orang tua hamba," balas Kuncoro sambil melangkah pergi.
Jaladara menatap kepergian Kuncoro bingung, dia benar benar tidak menyangka Malwageni akan menyerang mereka saat Saung galah mencoba memperbaiki hubungan.
"Apa benar Wardhana ingin menyerang Saung Galah? jika yang dikatakannya benar maka akan kuhancurkan kau Wardhana," ucap Jaladara geram.
Kuncoro melangkah keluar dengan senyum dingin tersungging di bibirnya.
"Kau mungkin sudah memiliki kunci menuju Negara siang padang Wardhana tapi kau lupa jika Gunung itu berada di wilayah Saung galah," ucap pemuda itu dalam hati sambil mengingat kembali perintah ketua Cakra Tumapel padanya beberapa waktu lalu.
"Kuncoro, pergilah ke Saung galah dan sebarkan berita jika Malwageni akan menyerang mereka dari Gunung Padang," ucap Biantara.
"Menyebarkan berita? apa yang anda rencanakan ketua? bukankah jika pasukan Saung Galah berjaga di gunung itu kita akan sulit masuk dan membangkitkan Pagebluk Lampor?" tanya Kuncoro bingung.
"Lawan yang kita hadapi bukan musuh biasa, selain keturunan Lakeswara itu, ada Wardhana yang menurut penyelidikan Rakiti adalah orang yang sebenarnya paling tidak ingin dia hadapi. Kecerdasan dan rencana tak terduga nya bisa membuat semua kesulitan.
Menghadapi mereka, aku tidak ingin hanya memiliki satu rencana. Jika Rakiti dan Rakirawa gagal dan mereka mendapatkan kunci Pagebluk Lampor, kita dalam masalah.
Namun jika kedua kerajaan itu berperang dan saling membunuh, kita bisa memanfaatkannya untuk mengambil Pagebluk Lampor sekaligus menghancurkan Malwageni melalui tangan Saung Galah," jawab Biantara.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sore atau malam ini Author memutuskan untuk memberikan chapter bonus pada kalian jadi mohon dukungannya....
__ADS_1