
Sebuah perkemahan sederhana terlihat ditengah hutan kabut awan. Puluhan pendekar hilir mudik berjaga disekitar perkemahan namun kali ini ada yang sedikit berbeda karena para pendekar itu bersiap menyambut pendekar terkuat tanah Celebes saat ini Lamakarate.
"Apa semua persiapan sudah selesai?". Tanya Tombololu, salah satu dari 10 pendekar darah iblis.
Sepuluh pendekar darah iblis merupakan pendekar pilih tanding kepercayaan Lamakarate yang sangat setia. Mereka adalah murid murid pilihan yang dididik langsung oleh Lamakarate dan ilmu kanuragannya hanya setingkat dibawah Lamakarate.
"Anda tak perlu khawatir tuan, semua sudah berada diposisinya. Aku yakin tak ada yang cukup nekad untuk menerobos hutan ini". Jawab salah satu pendekar yang berada didekatnya.
Tombololu sedikit bernafas lega setelah mendengar laporan dari anak buahnya, dia tidak ingin ada kekacauan saat kedatangan Lamakarate.
Tak lama orang yang mereka tunggu tiba, Lamakarate datang bersama sembilan pendekar darah iblis. Aura hitam pekat yang menyelimuti tubuhnya menekan hampir seluruh area hutan kabut awan.
"Hormat pada ketua". puluhan pendekar yang berjaga disekitar perkemahan serentak menundukan kepalanya.
Lamakarate hanya mengangguk kecil sebelum melangkah masuk perkemahan.
"Berikan laporanmu Tombololu". Ucap Lamakarate setelah duduk dikursi yang terletak ditengah ruangan.
"Jurang yang berada disisi kiri hutan ini sepertinya pintu masuk kota emas ketua, saat ini puluhan pendekar kita masih terus mencari letak pasti gerbangnya. Puluhan tembikar yang kami temukan berada disekitar jurang itu".
"Temukan secepatnya gerbang itu, aku tidak ingin Naga langit menemukannya lebih dulu. Siagakan seluruh pendekar darah iblis didekat jurang itu, jika benar cerita yang kudengar jika Wentira dijaga 9 pendekar penjaga maka kita akan menghadapi pertempuran besar melawan mereka".
"Baik ketua". Jawab Tombololu pelan.
Saat Lamakarate sedang mendengar laporan dari Tombololu, diluar terjadi keributan saat dua sosok pendekar bergerak cepat menerobos penjagaan.
"Siapa kalian berani sekali menerobos masuk". Puluhan pendekar penjaga kelas tinggi mengepung dua pendekar itu.
"Apa hutan ini wilayah sudah menjadi kekuasaan Lereng merah darah?". Lingga tersenyum mengejek sambil memutar pedangnya dan bersiap dengan jurus andalannya.
"Semoga siasat tuan Adipati tidak meleset atau kita akan menjadi sasaran empuk para pendekar ini". Ucap Arung pelan.
"Kau takut?". Ejek Lingga.
"Kami para pendekar tanah Celebes tak mengenal rasa takut namun tidak juga ingin mati konyol". Balas Arung
"Jika begitu maka berusahalah menarik mereka keluar sebanyak banyaknya". Lingga melesat menyerang para pendekar itu dengan cepat.
"Kalian orang orang Jawata memang gila". Arung menarik Pedang Bara Sangihe dan mengayunkannya.
Pertarungan yang sedikit tidak seimbang terjadi dipinggiran hutan memancing para penjaga lain untuk mendekat. Kemampuan Arung dan Lingga sebenarnya sedikit diatas para pendekar lereng merah darah itu namun mereka kalah jumlah.
__ADS_1
Lereng merah darah memang mengerahkan hampir seluruh pendekarnya ke hutan kabut awan untuk memastikan tak ada yang bisa masuk.
"Mundur". Lingga memberi tanda untuk mundur perlahan dan disaat yang bersamaan Malewa dan Emmy beserta puluhan pendekar Naga langit muncul dari belakang untuk membantu mereka berdua.
"Lapor tetua, Naga langit datang menyerang". Salah satu pendekar masuk tergesa gesa.
"Naga langit? berani sekali mereka mencari masalah". Tombololu mengepalkan tangannya menahan amarah. Dia benar benar kehilangan muka didepan Lamakarate.
"Maaf ketua atas ketidaknyamanan ini, aku akan bereskan secepatnya". Tombololu menundukan kepalanya sebelum melangkah pergi. "Kerahkan semua pendekar untuk menggempur mereka, panggil 9 pendekar darah iblis untuk menjaga Ketua". Perintah Tombololu.
Dia cukup yakin mampu memukul mundur Maga langit karena Lereng merah darah unggul dalam jumlah pendekar tak seperti sekte Manca api.
Sementara pertarungan dipinggiran hutan semakin sengit, adu ilmu kanuragan andalan masing masing terus terjadi. Dari sekian banyak pendekar Naga langit ada satu yang terlihat paling menonjol. Ilmu pedangnya, ketepatan membaca posisinya membuat beberapa pendekar Lereng merah darah sedikit kewalahan. Dia bagai menari diantara kepungan para pendekar lainnya.
"Bagaimana ilmu pedangnya bisa berkembang begitu pesat?". Arung tak dapat menyembunyikan rasa kagumnya melihat gerakan Emmy.
Malewa pun tak kalah terkejutnya melihat perkembangan muridnya itu, kini dia melihat seorang pendekar wanita yang sangat matang. "Apa ada yang melatihnya selama ini?".
"Menyatulah dengan pedangmu dan biarkan instingmu bekerja". Emmy kembali teringat dengan ucapan Sabrang malam itu.
Saat pedangnya hampir mengenai salah satu pendekar lereng merah darah tiba tiba seorang pendekar melesat cepat menyerangnya. Emmy memutar pedangnya untuk menangkis serangan pendekar itu namun terlambat, sebuah sabetan mengenai tubuhnya.
"Emmy!". Malewa melesat cepat membantu, serangan pedangnya memaksa pendekar itu melompat mundur.
"Tak kusangka hari ini aku bisa berhadapan dengan salah satu dari 10 pendekar darah Iblis".
"Kau terlalu percaya diri Malewa, kau pikir setelah mengalahkan Manca api kau bisa menyerang kami? kupastikan hari ini kalian semua mati dihutan ini". Saat Tombololu mengangkat tangannya puluhan pendekar berdatangan dari segala arah.
"Sudah saatnya". Arung memberi tanda untuk mundur.
"Kalian pikir bisa pergi seenaknya?". Puluhan pendekar langsung menyerang.
Lingga melesat kedepan untuk memberi waktu mereka mundur.
Malewa memimpin para pendekarnya untuk mundur perlahan. Saat mereka sudah berada diluar hutan kabut awan tiba tiba para pendekar Naga langit memecah jadi dua kelompok.
Raut wajah Tombololu berubah setelah melihat gerakan aneh lawannya.
"Jangan jangan". Tombololu berusaha menarik pasukannya namun terlambat. Puluhan pendekar muncul dari balik pohon dan bergabung dengan pendekar Naga langit lainnya.
Wardhana muncul sambil memberi aba aba untuk menyerang balik.
__ADS_1
"Siasat Mundur melingkar digunakan untuk menarik musuh keluar dari wilayahnya dan menghancurkan ditempat terbuka. Saatnya menyerang balik". Wardhana berteriak keras bagaikan panglima perang yang memompa semangat tempur pasukannya.
Dalam sekejap puluhan pendar mulai menyerang balik. Lingga, dan beberapa pendekar tinggi bergerak sebagai pemimpin pasukan.
Tombololu terlihat geram karena masuk dalam perangkap Wardhana, dia mengerahkan seluruh pendekar Lereng merah darah untuk menghancurkan musuh dihadapannya.
Lingga menggila digaris depan dengan pedangnya, belasan pendekar Lereng merah darah tumbang dihadapan pedangnya. Dia diberi tugas untuk meruntuhkan semangat juang Lereng merah darah sebelum Ledakan besar sebagai serangan terakhir.
Lingga kembali mengingat saat Wardhana mengunjungi kamarnya sebelum keberangkatan mereka menuju hutan kabut awan.
"Kau menginginkanku mengamuk dan membunuh sebanyak banyaknya?". Lingga mengernyitkan dahinya setelah mendengar permintaan Wardhana.
"Benar, kunci keberhasilan dari Siasat mundur melingkar adalah menjatuhkan semangat tempur musuh sebelum serangan penutup. Siasat ini sangat cocok digunakan didaerah hutan khas Celebes".
"Aku dapat mengerti rencanamu namun kita semua memiliki tenaga dalam yang terbatas, aku bisa membunuh puluhan pendekar lereng merah darah namun jumlah mereka ratusan, aku tak yakin tenaga dalamku cukup".
"Aku tau, Yang mulia yang akan menjadi kunci rencanaku. Aku hanya ingin anda meruntuhkan semangat mereka dengan kekuatan yang anda miliki".
Lingga menggeleng pelan jika mengingat percakapan itu. "Kau benar benar orang yang sangat mengerikan Wardhana".
Raut wajah Tombololu menjadi buruk setelah melihat ilmu kanuragan Lingga, dia tidak menyangka pendekarnya terdesak oleh seorang pendekar dari daratan Jawata.
Rasa terkejutnya makin menjadi ketika aura aneh tiba tiba menekan seluruh area hutan. Suhu udara yang naik dengan cepat membuat Tombololu bergidik.
Puluhan energi keris muncul diudara seiring dengan makin besarnya aura yang menekan.
"Sepertinya sudah saatnya". Lingga memperlambat gerakannnya untuk mengatur nafasnya, bagaimanapun dia ikut merasakan tekanan aura itu.
"Inikah kekuatan Naga api?". Emmy menelan ludahnya, baru kali ini dia merasakan tekanan aura sebesar itu.
Ketika semua terfokus pada aura yang menekan mereka, puluhan energi keris melesat cepat menyerang para pendekar Lereng merah darah.
Dalam sekejap para pendekar itu kocar kacir mencoba menyelamatkan diri.
"Pertahankan formasi kalian". Tombololu berteriak keras sebelum dia merasakan kehadiran seseorang dibalik punggungnya.
"Sebaiknya kau khawatirkan dirimu sendiri". Suara Sabrang terdengar dari belakang.
Tombololu mencoba menghindar namun tinju kilat hitam lebih dulu menyentuh tubuhnya. Dia terdorong beberapa meter sebelum menghantam pohon besar.
"Aku tidak merasakan kehadirannya, siapa dia sebenarnya?". Tombololu menatap Sabrang tajam.
__ADS_1
"Apa hanya ini kemampuan 10 pendekar darah Iblis?". Sabrang bergerak dengan kecepatan tinggi diikuti dengan munculnya puluhan keris diudara.
"Mengendalikan dua pusaka sekaligus? apa mungkin?". Tombololu melompat mundur, dia berusaha menjaga jarak dari Sabrang namun Sabrang tidak tinggal diam. Dia terus mendekat melepaskan serangan serangan berbahaya kearah Tombololu.