
Setelah memastikan semua petunjuk mengenai Gerbang Suci mengarah pada dua tempat yaitu Glagah wangi dan Trowulan, Wardhana membagi tim menjadi dua untuk menyelidiki kedua tempat itu.
Wardhana bersama Ken Panca dan Brajamusti menuju bukit Angin biru atau Glagah Wangi, sedangkan Ciha bersama Candrakurama, Mentari dan Wulan menuju reruntuhan Desa Trowulan.
Wardhana memberikan Ciha beberapa petunjuk mengenai tempat yang dulu adalah desa kelahirannya.
Mereka semua bergerak penuh semangat untuk membongkar rahasia tersembunyi yang ada di balik Gerbang suci tanpa mereka sadari jika setiap langkah yang mereka ayunkan semakin mendekati pada kehancuran peradaban.
"Kita sudah sampai, selamat datang di bukit angin biru atau yang dulu dikenal sebagai hutan Glagah wangi," ucap Brajamusti menghentikan langkahnya di bukit Angin Biru.
"Apa anda tau seberapa besar batas Glagah wangi? atau seluruh bukit ini adalah Glagah wangi?" tanya Ken Panca tertarik.
"Aku tidak tau tuan, bukankah anda seharusnya yang lebih paham?" balas Brajamusti.
"Tidak, saat di zamanku tempat ini sudah berganti nama," jawab Ken Panca.
Wardhana terlihat membuka gulungan yang diberikan Brajamusti padanya sambil memperhatikan sekitarnya.
"Sinar bulan purnama akan menjadi awal penanda matahari kembar muncul di Glagah Wangi. Apa maksud dari matahari kembar?" gumam Wardhana dalam hati.
"Matahari kembar?" Ken Panca ikut berfikir.
"Sebaiknya kita beristirahat terlebih dulu di sekte angin biru sambil memikirkannya," ajak Brajamusti sambil melangkah kearah gerbang padepokan.
"Ketua, guru, selamat datang," beberapa murid langsung menyambut kedatangan mereka.
"Apakah hujan turun begitu deras?" tanya Brajamusti sambil membersihkan alas kakinya yang kotor akibat jalan yang masih tergenang air.
Wardhana menghentikan langkahnya saat wajahnya terkena pantulan genangan air yang disinari matahari.
Dia menoleh keatas sebelum kembali menoleh kearah genangan itu.
"Matahari kembar? jangan jangan," wardhana melihat sekitarnya dan mencari pepohonan yang memiliki daun yang besar.
"Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Brajamusti, dia selalu tertarik ketika wajah Wardhana berubah tiba tiba. Wajah itu seolah mampu membuka semua rahasia rumit apapun di dunia ini.
"Aku tidak yakin tapi patut di coba, bisakah aku meminta kalian mengambil daun itu sebanyak banyaknya?" ucap Wardhana pada beberapa anggota sekte yang ada didekatnya.
"Daun?" Ken Panca mengernyitkan dahinya.
"Aku ingin mencari danau purba disekitar sini," jawab Wardhana pelan.
"Danau purba? aku tak pernah mendengar ada bekas danau disekitar sini," Brajamusti ikut menimpali.
"Anda lihat genangan air itu? dia memantulkan sinar matahari. Sinar bulan purnama akan menjadi awal penanda matahari kembar muncul di Glagah Wangi. Matahari kembar, aku yakin maksud kata kata ini adalah pantulan sinar matahari terhadap air. Ada danau dulu di sekitar sini," balas Wardhana dalam hati.
"Begitu ya, lalu kau akan mencari danau dengan daun pohon itu?" tanya Ken Panca bingung.
"Jika benar dulu ditempat ini ada sebuah danau maka walaupun telah terkubur selama ribuan tahun, danau itu akan berubah menjadi mata air tanah.
Aku akan meletakkan puluhan daun di sekitar bukit Angin Biru malam ini. Besok kita hanya perlu mengecek daun mana yang memiliki embun paling banyak, maka disitulah letak sumber air tanah dan aku yakin disitulah danau purba berada," jawab Wardhana.
Ken Panca terlihat kagum dengan pemikiran Wardhana yang begitu cepat, dia bisa memahami sesuatu dari hal kecil yang bahkan tidak menjadi perhatian orang.
"Kau ternyata bukan hanya ahli strategi tapi juga ahli membaca tanda tanda alam," puji Ken Panca.
"Sebenarnya menurutku ilmu strategi perang adalah ilmu tertinggi di atas ilmu kanuragan. Mempelajari taktik berperang berbeda dengan ilmu pedang yang sudah pasti.
Untuk membuat strategi perang tidak hanya dibutuhkan siasat tingkat tinggi tapi juga harus membaca pergerakan lawan, sisi psikologis dan kebiasaan musuh bakan kita harus memastikan kondisi alam berpihak pada kita. Itulah yang membuatku terbiasa berdamai dengan alam," jawab Wardhana.
"Jika benar di situ dulu ada danau purba bukankah danau itu kini telah hilang?" Brajamusti ikut bicara.
"Aku hanya perlu mencari titiknya saja untuk membuat lubang baru, kita akan mengisi lubang itu dengan air dan lihat apa yang akan terjadi tapi aku masih belum mengerti arti dari Sinar bulan purnama akan menjadi awal penanda matahari kembar muncul," ucap Wardhana bingung.
"Apa mungkin danau itu juga berfungsi memantulkan sinar bulan?" balas Ken Panca.
"Awalnya aku berfikir demikian namun susunan kata katanya menjadi aneh. Jika danau purba itu juga berfungsi sebagai pemantul sinar bulan harusnya petunjuk matahari kembar ada di awal karena bulan menjadi penanda munculnya matahari kembar."
"Lalu bagaimana mengenai dua pohon buah maja? bagaimana kita mencarinya tuan?" tanya Brajamusti.
"Pohon buah maja sepertinya hanya penanda tambahan, aku yakin kemana arah sinar matahari kembar itu memantul di sanalah gerbang itu dan aku yakin dua pohon buah maja itu berada disekitar gerbang," balas Wardhana.
Beberapa murid termasuk Rakirawa terlihat memanjat pohon yang ditunjuk Wardhana untuk mengambil semua daunnya.
Wardhana tampak mengernyitkan dahinya saat melihat Rakirawa, walau dia tidak terlalu sering mengunjungi sekte Angin Biru namun dia cukup mengenali murid muridnya.
"Apakah dia murid baru?" tanya Wardhana bingung.
"Benar ketua, dia baru beberapa hari berada di sekte ini," jawab Jatmiko yang datang ikut menyambutnya.
"Kapan dia datang?" tanya Wardhana cepat.
__ADS_1
"Dua hari lalu ketua," jawab Jatmiko.
"Dua hari lalu?" Wardhana tampak berfikir sejenak.
"Aku akan memanggilnya ketua untuk memberi hormat pada anda, mungkin dia tidak mengenali anda," ucap Jatmiko.
"Tidak perlu, biarkan semua berjalan seperti biasanya, aku sendiri yang akan mencari tau jati dirinya," balas Wardhana sambil tersenyum penuh makna.
Jatmiko tampak bingung dengan sikap Wardhana namun dia tetap mengangguk pelan. Bukan kali ini saja dia bingung dengan sikap Wardhana namun dia memakluminya karena orang yang menjadi ketua sekte Angin biru itu adalah ahli siasat terbaik Nuswantoro saat ini.
"Kumpulkan semua dedaunan itu di satu titik, nanti malam kita akan memasangnya," ucap Wardhana sambil melangkah masuk padepokan diikuti Brajamusti dan Ken Panca.
"Baik ketua," jawab Jatmiko.
"Maaf tuan Panca aku ingin meminta bantuan anda kali ini," ucap Wardhana setelah menjauhi gerbang utama.
"Katakan tuan patih," jawab Ken Panca.
"Aku ingin anda mempersiapkan jebakan segel bayangan, jika perkiraanku tepat besok pagi kita akan menangkap seekor tikus yang akan menuntun kita menuju sesuatu," ucap Wardhana pelan.
"Baik, akan aku usahakan," jawab Ken Panca sambil menatap punggung Wardhana yang sudah melangkah kembali.
"Sabrang beruntung memiliki patih seperti dia, kecepatan berfikir dan pengamatannya benar benar membuatku kagum," ucap Ken Panca dalam hati.
***
"Tak kusangka di tempat pertarungan kita dengan Lakeswara tersimpan rahasia besar," ucap Wulan saat menatap desa Trowulan yang hancur akibat pertarungan sebelumnya.
"Guru, sebaiknya anda istirahat sebentar di gubuk itu," Mentari mengajak Wulan menuju bangunan yang dibuat Sabrang untuknya.
Wulan mengangguk pelan, dia berjalan menuju bangunan itu sambil memperhatikan wajah Mentari.
"Apa kau baik baik saja? wajahmu terlihat pucat, aku sudah memintamu untuk tidak ikut bukan?" tanya Wulan sedikit khawatir.
"Aku baik baik saja, hanya saja beberapa hari ini aku merasa mual," jawab Mentari pelan.
"Mual? apa mungkin kau sedang mengandung?"
"Mengandung?" wajah Mentari berubah seketika.
"Kemari, biar kuperiksa tubuhmu," Wulan duduk dihalaman bangunan dan memeriksa lengan Mentari.
"Aura aneh? mungkin itu milik Siren, ruh yang bersemayam dalam tongkat cahaya putih.
"Bukan, aku mengenali aura tongkat itu, ini sedikit berbeda, apa mungkin keturunanmu dianugerahi kelebihan oleh alam?"
Wulan kemudian mengambil beberapa ramuan yang ada disaku dan meraciknya sebelum diberikan pada Mentari.
"Minumlah, ramuan itu akan membuat kandunganmu kuat," ucap Wulan pelan.
"Terima kasih guru," balas Mentari.
Sementara itu Ciha masih mematung di pinggir danau kering, dia merasa ada yang aneh dengan danau itu.
"Aku merasa danau ini ada yang ganjil tapi apa?" ucapnya bingung.
Ciha kemudian memperhatikan sekitarnya, cukup sulit mencari sebuah petunjuk saat tempat itu telah hancur.
"Apa anda menemukan sesuatu tuan?" tanya Candrakurama pada Ciha.
Ciha menggeleng pelan, "Aku tidak yakin namun ada yang aneh dengan danau ini," jawab Ciha pelan.
"Danau ini memang aneh dari awal menurut tuan patih, entah siapa yang membangunnya namun menurut tuan Patih danau ini seperti sejajar dengan sinar bulan purnama saat mencapai puncaknya," jawab Candrakurama.
"Dibangun sejajar dengan sinar bulan purnama?"
"Itu yang pernah diceritakan tuan Patih padaku, saat beliau masih kecil, hal yang paling ditunggu adalah bulan purnama karena danau ini akan bersinar terang terkena pantulan sinar bulan purnama ketika mencapai puncaknya. Seluruh desa akan terang tanpa lampu sekalipun pada malam itu," balas Candrakurama.
"Sengaja dibangun tepat sejajar dengan sinar bulan?" Wajah Ciha berubah seketika sesaat sebelum melompat kedalam danau itu.
"Benar dugaanku, pesan rahasia," ucap Ciha pelan.
"Tuan?" Candrakurama ikut melompat masuk danau.
"Sejak awal aku merasa ada yang aneh dengan danau ini, aku baru sadar jika danau ini dibangun diatas batu cadas. Apa kau tidak merasa aneh? kita hanya perlu bergeser ke ujung hutan untuk menemukan tanah, mengapa mereka tetap membangun diatas batu keras ini?Jawabannya adalah pesan rahasia terukir di dinding danau ini," ucap Ciha pelan.
"Pesan Rahasia?" tanya Candrakurama bingung.
"Disalah satu dinding danau ini mereka menulis sebuah pesan yang akan terlihat saat sinar purnama menyinari danau ini, air akan membelokan cahaya dan menyinari satu titik. Titik cahaya itulah yang sepertinya akan membuka pesan rahasia danau ini," balas Ciha.
"Jika yang anda katakan benar akan sulit mencari air untuk memenuhi danau ini kembali," ucap Candrakurama.
__ADS_1
"Tidak perlu harus mengisi danau ini dengan air, aku hanya perlu memperkirakan titik pantul cahaya. Kita hanya memerlukan air sedikit untuk memantulkannya," jawab Ciha.
"Malam ini Purnama akan mencapai puncaknya, aku ingin kau mencari air dengan daun itu sementara aku akan mempersiapkan semuanya dan mencari titik pantul cahaya," ucap Ciha pelan sambil menarik nafas.
Candrakurama tampak mengernyitkan dahinya saat melihat reaksi Ciha yang terlihat tidak bersemangat setelah hampir membuka rahasia gerbang suci.
"Apa yang anda khawatirkan tuan?"
"Mereka membangun danau ini dengan perhitungan yang sangat rumit, memperkirakan arah pantulan cahaya bukan bukan pekerjaan mudah, siapapun yang menbangun tempat ini kecerdasannya berada diatas tuan Wardhana. Perasaanku sedikit tidak enak," jawab Ciha.
Tanpa mereka sadari, sesosok tubuh tampak memperhatikan mereka dari jauh dengan hati hati.
"Sepertinya aku tak perlu turun tangan, mereka akan membuka gerbang itu untukku," gumam Rakiti dalam hati.
***
"Yang mulia," teriak Lembu sora sesaat sebelum matanya terbuka. Teriakan keras Lembu sora bahkan membangunakan Arung yang sedang menjaganya.
"Tuan Sora?" Arung berlari mendekati Lembu sora.
"Gerbang suci, kita harus menghentikan mereka membuka gerbang suci," ucap Lembu sora terbata bata, dia berusaha bangun namun rasa sakit yang luar biasa menghentikannya.
"Tenanglah tuan, anda baru sadar setelah tak sadarkan diri selama beberapa purnama," ucap Arung menenangkan.
"Kita harus menghentikan mereka membuka gerbang itu," teriak Lembu sora.
"Mereka?" tanya Arung bingung.
"Cakra Tumapel, itu yang kudengar sesaat sebelum aku tak sadarkan diri," balas Lembu sora.
"Tenanglah dan bicara perlahan, aku tak mengerti dengan ucapanmu. Saat ini tuan Wardhana bersama yang lainnya sedang berusaha membuka gerbang itu, Cakra tumapel tak akan mampu menghadapi Yang mulia dan tuan Rubah Putih," ucap Arung.
"Pagebluk Lampor bukan sebuah pusaka tapi wabah penyakit purba yang sangat mematikan, mereka menyegel semua orang yang terkena penyakit itu di gerbang suci, jika tuan Wardhana membuka tempat itu maka semua akan mati seketika, bukan hanya mereka tapi seluruh manusia di Nuswantoro. Wabah itu sangat mematikan dan menular dengan cepat. Semua orang telah terkena perangkap dia termasuk Cakra Tumapel," ucap Lembu sora.
"Dia? dia siapa yang anda maksud? dan dari mana kau tau jika Pagebluk Lampor bukan sebuah pusaka?" wajah Arung mulai terlihat panik.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Oke akan banyak catatan kaki kali ini...
Pertama
mengenai cara Wardhana mendeteksi lokasi danau Purba...
Sejak dulu ada tehnik untuk mencari mata air yang diturunkan dari kakek nenek kita yaitu dengan Uji kelembapan tanah.
Caranya sederhana dengan menaruh daun pisang di tempat yang diduga sumber air pada malam hari, pagi harinya silahkan lihat embun yang menempel pada daun pisang tersebut (pada bagian bawah daun tadi), semakin banyak embun yang menempel semakin banyak debit air bawah tanah tersebut.
Berhasil? menurut beberapa orang tua itu cukup berhasil, hal ini yang dilakukan Wardhana untuk mencari danau purba yang penuh air.
Kedua
tentang pesan rahasia di batu cadas, beberapa sumber yang saya baca bisa dilakukan dan saya terinspirasi dari salah satu film hollywood, hanya saja mereka menggunakan sinar matahari bukan sinar bulan...
berhasil? gak tau mbang, ini cuma cerita Fiksi, jangan dicoba wkwkwkkw
Ketiga
Pagebluk Lampor
Lampor secara harfiah berasal dari kata Jawa Kuna, lampur. Artinya mengembara atau bepergian. Sementara pagebluk adalah istilah Jawa untuk menyebut wabah penyakit.
Istilah pagebluk lampor kemudian memberi penegasan kalau pada masa lalu mungkin pernah terjadi pagebluk yang dahsyat dampaknya. Soal dahsyatnya pagebluk ini, ada perkataan dalam bahasa Jawa Baru yang populer.
"Isuk loro, sore mati, ini kan memberi gambaran betapa ganas penyakitnya, dalam durasi sesingkat itu orang mati.
Salah satu contoh yang saya dapatkan adalah Wabah Athena 430 Sebelum masehi
Sekitar tahun 430 SM, tidak lama setelah perang antara Athena dan Sparta dimulai, epidemi menghancurkan rakyat Athena dan berlangsung selama lima tahun. Beberapa perkiraan menyebutkan korban tewas mencapai 100.000 orang.
Sejarawan Yunani Thucydides (460-400 SM) menulis bahwa orang-orang yang sehat tiba-tiba diserang dengan panas yang menyengat di kepala juga kemerahan dan peradangan di mata. Tenggorokan terjadi pendarahan dan napas menjadi tidak wajar.
Ditemukannya pemakaman masal dengan tengkorak terbakar menandakan saat itu terjadi sebuah wabah yang membunuh banyak orang.. benar atau tidaknya saya tidak tahu, sekali lagi PNA hanya cerita fiksi...
Saya mencoba menggabungkan beberapa cerita masa lalu untuk menjadi panggung baru dalam novel Pedang Naga Api....
Terakhir
Saya menulis dan meriset siang dan malam bahkan sampai pagi semua karena semangat kalian dan posisi Rank PNA.. jadi tolong jangan anggap saya selalu mengemis vote.. karena jujur Vote kalianlah yang paling besar memberikan semangat pada penulis...
Jika rank seperti sekarang, terlempar dari sepuluh besar itu membuat saya sedikit tidak bersemangat, saya tidak meminta lebih, hanya vote.. karena jika masuk vote saya akan mendapat tambahan pemasukan 200.00 dari MT dan itu sangat berarti buat penulis pemula seperti saya nggo tuku kuota wkwkwkw
__ADS_1