Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pemuda dari Daratan Hijau Masalembo


__ADS_3

(Daratan Balidwipa, Disebuah hutan dekat Sekte Kerta putih)


Seorang pemuda terlihat berjalan santai sambil memainkan pisau kecil yang diputar ditangannya. Sesekali dia berhenti saat melihat pemandangan indah dihadapannya.


"Aku tak pernah bosan kembali ketempat ini, keindahan alamnya mengingatkanku pada daratan hijau Masalembo" gumam pemuda itu sambil tersenyum kecil. Tampak senyum manis yang seperti dibuat buat untuk menutupi rasa sedihnya.


"Kami hampir menguasai dunia ini andai Naraya Dwipa tidak muncul" Pemuda itu terlihat mengepalkan tangannya sambil menatap kosong kedepan. "Aku akan membangkitkan anda sekali lagi Yang mulia, setelah itu aku dan ratusan prajuritmu yang kini bersembunyi di daratan hijau Masalembo akan membantu anda menguasai dunia dan membunuh seluruh trah Dwipa".


Pemuda itu mengambil sebuah kitab dalam sakunya dan terlihat menghitung sesuatu. "Mohon sabar menunggu Yang mulia, hanya seribu tahun lagi sampai alat itu membangkitkan anda. Selama itu akan kupastikan Daratan hijau Masalembo aman dan tak akan ditemukan siapapun sampai anda bangkit dengan sempurna".


Pemuda itu kembali berjalan menyusuri jalan setapak yang membelah hutan rindang nan indah. Dia mengernyitkan dahinya saat melihat sebuah pemukiman yang berada jauh didalam hutan.


"Satu yang paling kusuka dari daratan ini adalah hanya ada satu sekte, akan sangat mudah bagiku menghancurkannya jika mereka tak mau bekerja sama".


Pemuda misterius itu terlihat merapal sebuah jurus sebelum tubuhnya menghilang dan muncul tepat ditengah halaman sekte.


Pemuda itu cukup takjub melihat bangunan tinggi menjulang. Pemukiman Kerta putih sepertinya dibangun dengan ilmu pengetahuan yang sangat maju.


"Tuan Umbara, anda datang berkunjung?" salah satu prajurit kota itu menundukan kepalanya memberi hormat.


Umbara tersenyum kecil sambil mengangguk pelan "Kalian benar benar menggunakan kitab pengetahuan yang kuberikan dengan baik ya".


"Semua berkat kemurahan hati anda tuan". jawab prajurit itu sopan.


"Di mana aku bisa menemui Janitra? aku harus menagih semua imbalan ini" Umbara tiba tiba berubah dingin.


"Maaf tuan? maksud anda?" Prajurit itu mengernyitkan dahinya.


"Kalian tidak berfikir jika kitab pengetahuan dan ilmu kanuragan kuberikan cuma cuma bukan?".


Prajurit itu terlihat bingung menjawabnya namun tak lama Janitra terlihat mendekatinya bersama puluhan pendekar terbaik Kerta putih.


"Bagaimana anda datang tanpa memberitahuku tuan, jika aku tau anda akan datang kami pasti menyambut anda" ucap Janitra sopan.


"Tak perlu basa basi, antar aku keruanganmu ada yang ingin aku bicarakan".


"Ba..baik tuan" ucap Janitri cepat setelah melihat sambutan Umbara dingin. Dia menoleh sesaat kearah prajuritnya meminta penjelasan namun prajuritnya hanya menggeleng pelan.


***


"Aku ingin kau dan sebagian pasukanmu ikut denganku untuk waktu yang cukup lama, sisakan Jatmiko dan separuh pasukanmu untuk menjaga tempat ini" ucap Umbara dingin.


Janitri tersentak kaget setelah mendengar permintaan Umbara namun dia tidak berani bertanya karena dia tau kemampuan Umbara jauh diatasnya.

__ADS_1


"Kita akan pergi kemana tuan?".


"Tempat yang sangat jauh, aku menyebutnya ruang hampa keabadian".


"Ruang hampa keabadian?" Janitri mengerutkan keningnya.


"Pilihan kalian dua, ikut denganku atau mati ditempat ini". Umbara melepaskan aura aneh berwarna biru untuk mengancam Janitri.


"Baik tuan, ijinkan aku berkemas terlebih dahulu".


"Tidak perlu, aku sudah mempersiapkan semuanya di ruang hampa keabadian. Kau akan berkumpul dengan pendekar terpilih lainnya disana".


Umbara menoleh kearah Jatmiko yang dari tadi hanya diam.


"Kuserahkan sekte Kerta putih padamu, lindungi ruangan itu dengan nyawamu atau aku akan datang mengambil kepalamu".


"Baik tuan, akan kupastikan semua aman" jawab Jatmiko.


"Apa kau sudah membuat ruang rahasia tiruan yang aku minta?aku ingin semua sama persis tanpa cacat sama sekali karena lawan yang kuhadapi kali ini sangat cerdas. Kesalahan sekecil apapun pada ruang rahasia tiruan itu dia pasti menyadarinya".


"Semua sudah kami buat sama setiap incinya tuan, aku yakin tak akan ada yang menyadari jika itu ruang rahasia tiruan".


"Bagus, jika mereka datang arahkan mereka ke ruang tiruan itu bagaimanapun caranya. Selama kunci menuju Daratan hijau Masalembo tidak lengkap maka semua akan baik baik saja".


"Lalu bagaimana dengan Telaga khayangan api tuan?". tanya Jatmiko kembali.


"Baik tuan".


"Bawa separuh muridmu kehalaman belakang, kita akan segera menuju ruang hampa keabadian".


"Halaman belakang?" tanya Janitri heran.


***


Setelah menyelesaikan masalah Pancaka dengan Saung galah melalui Lembu sora dan semua persiapan yang dilakukan Wardhana selesai, Sabrang bersama Ciha, Lingga, Arung dan Wardhana melanjutkan perjalanannya menuju Balidwipa.


Emmy memutuskan tinggal untuk membantu yang lainnya mempersiapakan rencana yang telah disusun Wardhana.


Setelah berpamitan dengan Mentari dan Emmy, Sabrang melangkah cepat untuk menyusul Wardhana dan yang lainnya.


"Apa kau sudah mau pergi?". suara seorang wanita menghentikan langkah Sabrang.


"Tungga dewi? aku mencarimu dikamar untuk berpamitan namun kau tidak ada dikamar". ucap Sabrang.

__ADS_1


"Ini adalah kalung kesayanganku yang diberikan ibu sebelum dia meninggal, aku merasa selalu dinaungi keberuntungan saat mengenakan kalung ini" Tungga dewi melepas kalung dilehernya dan menyerahkannya pada Sabrang.


"Hei, jika kalung keberuntungan ini kau berikan padaku bagaimana denganmu?".


Tungga Dewi menarik nafas panjang, dia seperti sedang mengumpukan keberanian untuk mengatakan sesuatu.


"Tak pernah satu detikpun aku melupakan kejadian saat perayaan hari lahir kakek. Kau datang bersama gurumu dan mencuri lihat ilmu Rajawali emas. Aku sangat marah padamu saat itu tapi kau malah menyelamatkan hidupku dari jarum beracun milik Racun selatan.


Mungkin aku adalah wanita yang kasar, aku bahkan tak secantik Mentari atau Emmy namun izinkan aku mengabdi padamu Yang mulia". Tungga dewi berlutut dihadapan Sabrang. Air matanya mulai menetes dari mata indahnya.


"Hei bangunlah, kau tak harus seperti ini". Sabrang memegang tubuhnya Tungga dewi dan mengajaknya berdiri.


"Aku hanya ingin mengabdikan hidupku pada anda Yang mulia".


Sabrang mengangguk pelan sambil menyekat air mata gadis itu dengan tangannya.


"Aku akan memakai kalung pemberianmu, jagalah dirimu baik baik. Jangan terlalu terbawa emosi dan ikuti perintah bibi Mantili karena lawan yang kita hadapi kali ini berbeda. Aku akan segera kembali setelah urusanku selesai". Sabrang tersenyum kecil sebelum melangkah pergi.


"Terima kasih Yang mulia" ucap Tungga dewi sambil tersenyum. Ada rasa lega didalam hatinya setelah mengatakn semua yang selama ini dipendamnya.


***


"Apa anak itu dibunuh oleh tiga wanita itu?" tanya Lingga sinis sambil berdiri diatas dek kapal.


Arung tersenyum kecil mendengar ucapan Lingga, dia benar benar tak habis pikir dua pendekar yang sepertinya saling bermusuhan itu bisa tergabung dalam satu tim.


"Orang yang kau tunggu tiba" Arung menunjuk Sabrang yang melesat cepat kearah kapal.


"Cih" Lingga melangkah masuk kedalam ruangan kapal.


"Maaf, aku sedikit terlambat" ucap Sabrang sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Baiklah ayo kita berangkat, bantu aku membentangkan layar kapal".


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Bagi yang ingin mendukung Author bisa mengunjungi


https://karyakarsa.com/ Rickypakec


hapus spasi didepan huruf R


Terima kasih.....

__ADS_1


Banyak yang nebak Putri Saung galah adalah Ratu malwageni.. oke Author bocorin hari ini.. yang jadi Ratu malwageni adalah nenek Peot Sumbi, gurunya Mentari wkwkwkwkwkwkwk


Vote donk Mbang


__ADS_2