Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Sabdo Waktu (Loji)


__ADS_3

Kobaran api yang menyelimuti tubuh Sabrang tiba tiba berubah menjadi merah darah dan membesar seketika. Aura membunuh yang sangat besar langsung memenuhi ruang dimensi Naga Api dan menekan semua yang ada didalamnya.


Lakeswara dan Sekar Pitaloka langsung melompat mundur beberapa langkah saat merasakan tubuh mereka tertimpa ribuan batu besar.


Sekar bahkan terjatuh dalam posisi berlutut karena tubuhnya tak mampu menahan tekanan aura yang terus keluar dari tubuh Sabrang.


"Dia berhasil...Naga Api telah menyatu dengan energi Murni dalam tubuhnya," ucap Sekar Pitaloka sambil mengatur nafasnya. Wajahnya tampak pucat karena tekanan aura Naga Api, andai Sekar tidak mengalirkan tenaga dalam ke seluruh tubuh untuk mengurangi tekanan itu mungkin saat ini dia sudah tak sadarkan diri.


Lakeswara yang terlihat lebih tenang terus menatap tubuh Sabrang dengan mata bulannya, walau sudah memperkirakan gabungan Naga Api dan energi murni akan menciptakan kekuatan yang sangat besar tapi dia tidak pernah menyangka akan sangat mengerikan seperti ini.


"Sial, aku menciptakan musuh yang sangat kuat untuk diriku sendiri," umpatnya dalam hati.


Ucapan Lakeswara bukan tanpa alasan, seumur hidupnya bertarung dengan ratusan pendekar kuat baru kali ini dia merasakan takut. Dia tidak bisa membayangkan seberapa kuat tebasan pedang Sabrang walau menggunakan jurus biasa sekalipun.


Kobaran api berwarna merah darah itu membumbung tinggi di udara membentuk seekor naga dengan mata berwarna hitam pekat.


"Naga Api, bukankah ini sudah cukup? mau sampai kapan kau memamerkan kekuatanmu? Kau bisa membakar wanita itu jika terus seperti ini," ucap Lakeswara sinis.


Naga Api terkekeh mendengar ucapan Lakeswara, dia menarik kembali energinya perlahan.


"Aku hanya sedikit mencoba kekuatan baruku dan memberimu peringatan untuk tidak pernah menyentuh anak ini lagi," balas Naga Api.


"Apa kau begitu takut padaku?" Lakeswara melangkah mendekati Sabrang yang sedang duduk bersila dan memeriksanya.


"Tubuhmu benar benar menarik, bagaimana mungkin bisa menahan kekuatan sebesar ini," Lakeswara diam diam memasukkan sedikit energinya saat memeriksa tubuh Sabrang.


Naga Api yang sedang berusaha mengendalikan energi besarnya tak menyadari jika Lakeswara baru saja merencanakan sesuatu.


"Suatu saat aku akan buat perhitungan denganmu," ucapnya dalam hati.


"Tahanlah sebentar, aku masih berusaha menyatukan semua energi murni milikmu," ucap Naga Api pelan.


Sabrang hanya mengangguk sambil menahan rasa sakit ditubuhnya. Benturan dua kekuatan besar itu masih sesekali terasa dan itu sangat menyakitkan.


Darah segar mulai mengalir dari mulutnya karena efek benturan itu, dia ingin membuka kedua matanya namun masih belum mampu.


"Hei! Apa yang tadi kau lakukan? mengapa mulutnya mengeluarkan darah seperti itu?" ucap Sekar Pitaloka panik.


"Apa yang aku lakukan? aku hanya memeriksa kondisi tubuhnya. Dengan kekuatan sebesar itu wajar jika dia terluka, saat ini tubuhnya sedang beradaptasi dengan kekuatan itu," jawab Lakeswara pelan.


Sekar Pitaloka menatap curiga Lakeswara sebelum berjalan mendekati Sabrang.


"Nak.. Sadarlah... ini ibu.. apa kau mendengar suara ibu?" ucap Sekar lembut.


Sabrang sebenarnya mendengar suara ibunya namun dia tidak bisa menjawab karena tubuhnya masih belum bisa di gerakan.


Saat Sabrang berusaha menggerakkan tubuhnya itu sayup sayup terdengar suara lembut seorang wanita yang sangat dikenalnya.


"Yang mulia..."


"Mentari?" seluruh tubuh Sabrang tiba tiba bergetar bersamaan dengan selesainya Naga Api mengendalikan energi murni itu.


Sabrang langsung membuka matanya dan terlihat sangat cemas.


"Syukurlah kau baik baik saja nak," Sekar Pitaloka langsung memeluk tubuh anaknya erat.


"Ibu aku baru saja mendengar suara Tari, kita harus cepat keluar dari tempat ini," ucap Sabrang tiba tiba.


"Pergi? tidak kau baru berhasil menggabungkan dua kekuatanmu, kita masih harus berlatih menggabungkan ilmu pedang dua kitab itu," balas Sekar cepat.


"Tidak ada waktu bu... Perasaanku benar benar tidak enak, aku takut terjadi sesuatu pada tari," jawab Sabrang sambil menggerakkan anggota tubuhnya perlahan.

__ADS_1


"Dia akan baik baik saja nak, tuan Setra dan Wulan tidak akan membiarkannya terluka. Dengarkan Ibu, Wardhana telah mempertaruhkan semuanya demi membuat rencana ini termasuk nyawanya sendiri dan kau adalah kunci dari semua ini. Jika kita tidak berhasil menghentikan Ken Panca semua akan mati termasuk Mentari," jawab Sekar Pitaloka.


"Tidak bu.. aku harus memastikan sendiri Tari baik baik saja... Terakhir kali perasanku seperti ini, dia hampir mati terkena racun Kelelawar Hijau," Sabrang bersikeras pergi.


"Apa yang dikatakan ibumu benar nak, kau adalah seorang raja dan harus mulai bisa meletakkan kepentingan Malwageni di atas semuanya," ucap Anom dalam pikiran Sabrang.


"Apa kau pikir selama ini aku tidak melakukannya? Beberapa kali aku dan Tari hampir terbunuh demi melindungi keraton dan rakyatku," jawab Sabrang kesal.


"Kau harus lebih sabar bodoh, Anom tidak bermaksud seperti itu, tapi dengan tubuhmu saat ini kau masih belum bisa menggunakan kekuatanku sesuka hati. Penggabungan dua energi tadi membuat tubuhmu terluka, dan kita harus memulihkan luka itu dulu," sambar Naga Api.


"Aku yang paling mengerti dengan kondisi tubuhku dan saat ini aku baik baik saja," jawab Sabrang cepat, dia bangkit dari duduknya dan bersiap pergi.


Sabrang tetap pada pendiriannya karena perasaannya mengatakan sesuatu sedang terjadi pada Mentari.


"Apa kau hanya akan diam saja dan melupakan perjanjian dengan Wardhana? katakan sesuatu pada anak ini!" ucap Sekar Pitaloka kesal.


"Apa lagi yang harus aku katakan? dia sudah memutuskannya. Kau harus mulai percaya padanya, kami trah Dwipa akan semakin kuat justru saat berada dalam pertarungan hidup mati dan kau harus ingat dia adalah keturunanku," jawab Lakeswara tenang.


"Ibu.. Aku mohon izinkan aku pergi, aku akan baik baik saja," ucap Sabrang pelan sambil memegang kedua tangan Sekar Pitaloka.


"Tapi dengan kondisimu..."


"Aku baik baik saja... dengan gabungan energi murni dan Naga Api aku pasti bisa mengalahkan mereka. Apa ibu lupa aku memiliki bakat meniru jurus? aku hanya perlu menggabungkan kedua jurus ini bukan?" potong Sabrang.


"Aku akan ikut dengannya... itupun jika kalian mengizinkanku keluar dari dimensi Iblis api ini," sahut Lakeswara tiba tiba.


Sekar Pitaloka terdiam sesaat, dia terlihat ragu untuk menganggukkan kepala. Walau sebenarnya Sekar tau saat ini hanya Lakeswara yang mungkin bisa membantu mereka tapi melepaskannya dari kurungan ruang dimensi masih sangat berbahaya.


Sekar Pitaloka merasa ada yang sedang direncanakan oleh pemimpin tertinggi Masalembo itu sejak dia mengetahui ada ajian Ulat Sutra abadi.


"Aku akan mengizinkanmu dengan satu syarat," ucap Wardhana yang muncul dari celah dimensi.


Wardhana langsung berlutut dan memberi hormat pada Sabrang dan Sekar Pitaloka.


"Paman... kau baik baik saja?" ucap Sabrang lega.


"Mohon jangan khawatir Yang mulia, hamba baik baik saja," jawab Wardhana sopan.


"Syukurlah... lalu dimana Tari? apa dia juga baik baik saja?" tanya Sabrang kembali.


Wardhana langsung terdiam saat mendengar pertanyaan Sabrang, dia masih teringat jelas saat berada di markas kelompok Teratai Merah sayup sayup Wulan mengatakan jika Mentari sedang terluka parah.


"Apa paman tidak mendengar apa yang aku katakan?" ucap Sabrang yang mulai gelisah.


"Maaf Yang mulia, nyonya selir saat ini sedang terluka tapi beberapa pendekar medis Lembayung Hitam sedang merawatnya. Hamba yakin..."


"Cukup! aku harus pergi ibu," Sabrang menoleh kearah ibunya yang terpaksa menjawab dengan anggukan.


"Tunggu Yang mulia ada yang harus hamba..." belum selesai Wardhana bicara, Sabrang sudah memotong ucapannya. "Aku sedang tidak ingin mendengar bantahan apapun saat ini, paman."


"Maaf Yang mulia, hamba tidak akan mencegah anda kali ini tapi mohon dengarkan ucapan hamba sebentar. Tuan Agam yang pernah bertarung dengan anda saat ini berada di hutan kematian dan membantu kita. Dia menitipkan pesan pada anda," balas Wardhana pelan.


"Pesan?" tanya Sabrang tertarik.


Wardhana bangkit dan melangkah mendekati Sabrang, dia membisikkan sesuatu yang membuat wajah Sabrang berubah.


"Begitu ya... Naga Api... Kita pergi," dinding ruang dimensi tiba tiba terbuka sebelum menghisap tubuh Sabrang dengan cepat. Wardhana dan Sekar Pitaloka hanya bisa menatap khawatir kepergian Sabrang.


"Lalu apa syarat yang kau ajukan? anak itu dalam bahaya jika bertarung sendiri dengan kondisi seperti itu. Aku tau kalian masih curiga tapi jika benar dunia ini akan hancur bukankah aku juga akan mati? anggap itu alasanku membantu," ucap Lakeswara pelan.


"Saat ini Ken Panca sudah terlalu kuat tapi ada satu kelemahan pengguna ajian Ulat Sutra yang bisa kita incar. Jika kau bergerak sesuai rencana yang aku buat, kita pergi," jawab Wardhana cepat.

__ADS_1


"Kau masih memiliki rencana lain? apa itu termasuk rencana membunuhku?" tanya Lakeswara sinis.


"Aku bukan orang yang sering melanggar janji, selama anda memegang kesepakatan kita, kami tak akan menyerang."


Lakeswara tersenyum sambil menatap Wardhana dengan mata bulannya.


"Bekerja sama dengan musuh memang tidak pernah mudah. Katakan, seperti apa rencananya?"


***


Pertarungan di Hutan kematian semakin sengit dan sudah mulai terlihat siapa yang akan memenangkan pertarungan.


Walau Lingga perlahan mulai bisa mendesak Gara setelah membuat perjanjian darah dengan pusaka nya namun harapan itu seakan tak berarti karena Ken Panca masih terlalu kuat untuk Arya Setra dan yang lainnya.


Gabungan tenaga dalam dan ilmu kanuragan dari orang orang yang tubuhnya berhasil di rebut, ditambah energi Tongkat Cahaya Putih membuat Ken Panca memiliki kekuatan tak terbatas.


Hanya Jaya Setra yang bisa sedikit mengimbangi kecepatan Ken Panca karena dia juga menggunakan Mata bulan, sedangkan ilmu kanuragan Wulan, Agam dan Wahyu Tama masih jauh dibawahnya.


Formasi serangan yang dipimpin oleh Wahyu Tama dengan memanfaatkan kecepatan Agam dan Mata Bulan Setra seolah tak berarti dihadapan Ken Panca.


Perisai energi Tongkat Cahaya putih yang melindungi tubuh Ken Panca menutup semua celah pertahanan membuat Ken Panca lebih leluasa menyerang tanpa terlalu memikirkan pertahanan.


Situasi menjadi semakin sulit karena mata bulan Ken Panca telah berevolusi sehingga mampu membaca gerakan lawan dan memanfaatkan untuk menyerang balik.


Setra yang menyadari situasi semakin tidak menguntungkan terus menyerang walau napasnya mulai habis, dia ingin memberi kesempatan Wahyu Tama untuk mencari celah pertahanan lawan.


Setra mengayunkan pedangnya sekuat tenaga dan disaat bersamaan, Agam bergerak dari sisi yang berlawanan mengincar titik buta Ken Panca.


"Tarian Iblis malam," Perisai Energi Tongkat Cahaya Putih langsung melindungi tubuh Ken Panca membuat serangan Setra membentur perisai itu.


Agam dan Wahyu Tama yang melihat perisai pelindung Ken Panca sedikit melemah akibat benturan tenaga dalam dengan Setra langsung mendekat dan menyerang titik buta nya.


Serangan yang begitu cepat dan mengandung tenaga dalam besar membuat mereka yakin kali ini mampu melukai lawannya.


Namun betapa terkejutnya mereka saat tebasan pedang keduanya kembali membelah udara, Ken Panca mampu bergerak lebih cepat dan menghindar di detik terakhir. Dia memutar tubuhnya dan menyerang kesatu titik seolah tau Wahyu Tama akan menghindar kearah sana.


"Benar ucapan guru, mata bulan yang telah berevolusi masih bisa membaca gerakan lawan dari titik buta," sebuah tusukan pedang yang tak mampu lagi dihindari menghujam tubuh Wahyu Tama sampai tembus ke punggungnya.


Wahyu Tama tampak tersenyum sebelum mencengkram lengan Ken Panca dan mengalirkan sisa sisa tenaga dalam untuk mengacaukan aliran darah lawannya.


"Sekarang!" ucap Wahyu Tama sambil berusaha menahan kesadarannya yang mulai menghilang.


"Mau menjebak ku?" Ken Panca masih tampak tenang walau melihat Agam, Wulan dan Setra bergerak menyerang dari berbagai arah.


"Tarian Iblis pedang," menggunakan jurus Langkah dewa, Agam melompat ke udara sebelum tubuhnya menukik kebawah dengan cepat.


"Kalian tau apa yang membuat kitab Sabdo Loji begitu mengerikan? setiap kata yang tertulis didalam kitab itu tidak hanya bisa menciptakan ribuan jurus tapi juga menyerap energi alam untuk membuat perisai pelindung alami," tepat setelah Ken Panca selesai bicara, udara disekitarnya memadat membuat tubuh Wulan dan yang lainnya berhenti di udara.


"Jurus menghentikan waktu? Bukan..Aku masih bisa menggerakkan jariku," ucap Setra bingung.


Belum hilang rasa terkejutnya, tubuh Setra tiba tiba dipenuhi goresan goresan pedang saat angin berhembus di tubuhnya.


"Tidak mungkin! dia merubah udara menjadi senjata... aku belum pernah mendengar ada jurus seperti ini didalam kitab Sabdo Loji."


"Apa kau terkejut Setra? Kitab Sabdo Loji tidak sesederhana yang kau pikirkan, Ajian Ulat Sutra Abadi dan semua jurus pedang yang kalian pelajari hanya sebagian kecil dari isi kitab itu. Hari ini, akan aku tunjukkan kenapa kitab ini bernama Sabdo Waktu (Loji)," Ken Panca memutar pedangnya dan bersiap menyerang.


"Hentikan kek... Kakek sudah terlalu jauh tersesat," sebuah suara terdengar bersamaan dengan naiknya suhu udara disekitar hutan kematian.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Seperti yang saya katakan minggu kemarin.. setiap hari kamis dan Jumat, PNA kemungkinan update malam karena padatnya pekerjaan menjelang akhir pekan. Jadi mohon dimaklumi....

__ADS_1


__ADS_2