Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kekuatan Mata Bulan II


__ADS_3

Lembu sora telah sampai diujung gua sesuai perintah Wardhana bersama Wulan sari dan beberapa pasukan angin selatan. Keadaan mereka tampak kelelahan dan kacau akibat pertempuran dengan para pendekar Dieng.


Wulan sari lebih memilih duduk bersila untuk memulihkan kondisinya.


"Kita benar benar terpojok kali ini, tak ada jalan keluar lain". Mentari terus memperhatikan dinding gua, tak ada celah apapun yang bisa mereka lewati.


Tak lama Wardhana dan pasukan mulai terlihat memasuki gua namun para pendekar Dieng tak membiarkannya begitu saja. Mereka terus menyerang dan berusaha menghancurkan formasi pasukan angin selatan. Beberapa prajurit angin selatan mulai tumbang namun pasukan yang dibelakang langsung menutupi celah itu.


"Sora hancurkan tuas batu itu sekarang". Wardhana berteriak saat mereka sudah mendekati ujung gua. Puluhan pendekar Dieng makin agresif dan terus mengambil nyawa para prajurit.


"Bukankah tuas ini untuk menguras Danau kehidupan?". Mentari berlari menahan Lembu sora. Dia tidak ingin tempat itu meledak dulu sementara Sabrnang masih ada di dalam.


"Awalnya akupun berfikir seperti itu, kita semua tertipu. Tuas itu bukan untuk menguras Danau kehidupan namun menutup akses kedalam Danau kehidupan. Mereka membuat sistem alur dan blok untuk melindungi pusat kontrol dieng jika ada situasi darurat". Wardhana menggeleng pelan melihat musuh seperti tak ada habisnya.


"Gawat, jika seperti ini terus kita akan mati sebelum tempat ini tertutup". Wardhana merebut pedang salah satu pasukannya dan melompat kedepan untuk menahan para pendekar itu. Kemampuannya yang tidak terlalu tinggi ditambah stamina yang sudah sampai batasnya membuat Wardhana segera menjadi bulan bulanan para pendekar. Beberapa bagian tubuhnya tersayat pedang.


Lembu sora berlari dan menghantam tuas batu sekuat tenaga. Tak lama terjadi getaran di dinding gua, dan dari jauh terlihat puluhan batu berundak berjatuhan dari langit gua maupun dinding gua.


"Tuan Adipati cepatlah bergerak". Lembu sora berteriak ketika salah satu dinding gua bergetar dan membuka sebuah pintu.


"Tak kusangka sistem alur dan blok yang mereka bangun lebih canggih dari saat ini, sukurlah masih berfungsi". Wardana tersenyum sebelum tubuhnya ambruk ketanah. Sang Naga yang tertidur dari Malwageni terlihat telah mencapai batasnya. Dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar samar samar dia melihat reruntuhan batu mulai mendekatinya.


"Ah sepertinya aku gagal lagi melindungi Yang mulia Raja". Wardhana tersenyum kecut sebelum benar benar hilang kesadaran.


"Pimpin pasukan masuk lorong rahasia sebelum gua ini benar benar runtuh". Lembu sora melesat kearah Wardhana dan menyergap tubuhnya. Dia bergerak cepat sambil menggendong tubuh Wardhana.


Saat lorong rahasia hampir benar benar tertutup dia melompat masuk melalui sisa celah sebelum benar benar tertutup rapat.


"Anda tidak apa apa tuan?". Mentari mendekati Lembu sora yang kepalanya terluka akibat benturan saat menerobos reruntuhan.


Dari luar terdengar suara pedang beradu dengan batu menandakan para pendekar itu masih mencoba mengejar mereka dengan berusaha membobol reruntuhan.


"Aku tidak apa apa, tolong periksa tuan Adipati". Lembu sora menunjuk Wardhana yang masih tak sadarkan diri.


Ada rasa ngeri dalam diri lembu sora, jika beberapa detik dia terlambat masuk lorong mungkin saat ini dia sudah menjadi bulan bulanan pedang para pendekar itu.


***


Setelah berlali cukup lama Sabrang dan Lingga akhirnya sampai di pintu gerbang ketiga. Tempat mereka pertama kali turun kini tampak sedikit berbeda. Belasan mayat bergeletakan dan bau darah menyambut mereka.


"Semoga kita tidak terlambat". Ucap Sabrang lirih.

__ADS_1


Tanpa mengulur waktu mereka melompat keatas melalui beberapa pijakan batu. Mereka bergerak lincah menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.


Saat mereka melompat dan muncul diatas jurang, terlihat pasukan Bahadur sedang menjadi bulan bulanan satu pendekar misterius bermata biru. Tampak bahadur dan Nilam sari terluka parah.


"Bawa yang lain menjauh, aku akan mengurusnya. Pastikan dua pendekar lainnya tidak keluar dari tempat ini". Tanpa menunggu jawaban Lingga Sabrang langsung melesat kearah pendekar Iblis petarung.


Menyadari kehadiran Sabrang pendekar itu melompat mundur beberapa langkah. Dia terkejut merasakan aura yang sangat besar meluap dari tubuh Sabrang.


Sabrang mengeluarkan beberapa bongkahan es berbentuk pisau dari tangannya. Dia melempar puluhan pisau es sambil bergerak kearah pendekar itu. Setiap pisau es yang dilemparnya mengandung tenaga dalam yang besar namun pendekar Iblis petarung terlihat mudah menghindarinya.


"Dia pengguna jurus es, tak kusangka ada pengguna jurus sehebat ini". Gumam Xiao hu, salah satu pendekar Iblis petarung itu.


Ketika jarak keduanya semakin dekat Sabrang mengeluarkan pedang naga apinya dan mengayunkan pedangnya. Terjadi ledakan tenaga dalam saat kedua pedang mereka beradu.


Ketika keduanya mulai bertukar jurus, Lingga muncul didekat Bahadur.


"Tuan Lingga". Bahadur cukup terkejut melihat salah satu tetua Iblis hitam datang bersama Sabrang.


"Tenanglah, kita berada dipihak yang sama". Lingga seolah mengetahui pertanyaan yang ada dikepala Bahadur. Dia menatap kesekelilingnya, terlihat puluhan pendekar tergeletak tak bernyawa.


"Katakan padaku apa yang direncanakan Wardhana". tanya Lingga pelan. Dia benar benar bergidik melihat puluhan pendekar mati dengan cara mengenaskan.


Bahadur mulai menceritakan rencana Wardhana dari awal sampai rencana meledakan Dieng.


"Ada dua orang tuan sayangnya kami tidak mampu menghentikannya".


Lingga terlihat mengangguk "Kita tidak boleh membiarkan mereka keluar dari tempat ini. Ayo kita pergi".


"Bagaimana dengan tuan Sabrang?". Bahadur cukup khawatir meninggalkan Sabrang. Dia sudah merasakan sendiri kehebatan Xiao hu saat bertarung dengannya.


"Apa dia terlihat harus kita khawatirkan?". Lingga menunjuk pertarungan Sabrang dan Xiao hu.


Bahadur tersentak kaget setelah melihat pertarungan Sabrang. Walau matanya sedikit sulit melihat gerakan cepat mereka namun Sabrang terlihat terus menekan Xiao hu tanpa memberinya kesempatan menyerang.


"Dia terlihat lebih kuat dari terakhir kali bertemu di sekte Kelelawar hijau". Gumam Bahadur dalam hati.


"Ayo kita pergi". Ajak Lingga pada Bahadur dan yang lainnya.


***


Raut wajah Xiao hu benar benar buruk, dia telah menggunakan hampir seluruh kemampuannya untuk lepas dari tekanan Sabrang namun tetap tidak berhasil. Sabrang seolah dapat membaca semua gerakannya.

__ADS_1


"Matanya jauh lebih kuat dariku". Xiao hu mengumpat dalam hati. Suasana hatinya makin buruk saat Sabrang terlihat tersenyum seolah dia yakin mampu memenangkan pertarungan ini.


Ketika memiliki kesempatan mendekat Sabrang bergerak sambil mengayukan pedangnya.


"Kau pikir bisa mengalahkanku dengan jurus seperti itu?". Xiao hu menarik pedangnya bersiap menangkis pedang Naga api.


Saat Xiao hu merasa yakin pedangnya mampu menangkis serangan Sabrang tiba tiba pedang Naga api berubah kembali menjadi kobaran api. Pedang Xiao hu hanya menebas udara. Sabrang menarik tangannya dan menempelkan ketubuh Xiao hu.


Ketika Xiao hu telah menyadari telah masuk jebakan Sabrang semua terlambat, tubuhnya terpental mundur beberapa meter terkena serangan tapak peregang sukma.


"Bagaimana pedangnya bisa tiba tiba menghilang". Raut wajah Xiao hu semakin buruk.


"Aku tak akan membiarkan kalian membuat kekacauan lagi". Sabrang melangkah pelan mendekati Xiao hu.


"Mungkin kau bisa membunuhku saat ini namun selama ada tempat ini kami akan terus bangkit. Bukankah waktu kalian disini semakin sempit?". Xiao ho tersenyum licik.


"Kalian pikir tempat ini tak bisa dihancurkan?".


"Kau terlalu percaya diri, ratusan pendekar berusaha menghancurkan tempat ini dengan penuh percaya diri namun hasilnya tempat ini tetap kokoh berdiri.".


"Akan kupastikan sebelum tengah malam kalian semua akan terkubur disini selamanya".


"Kau! Aku tak akan membiarkanmu hidup". Xiao hu seperti kehilangan akal sehatnya. Dia menyerang Sabrang membabi buta.


Sabrang sedikit terkejut melihat serangan Xiao hu yang mulai tak beraturan, yang ada dipikirannya hanya bagaimana membunuh Sabrang.


"Kau sudah kalah saat membuang pikiranmu dan menuruti mata itu". Tidak butuh waktu lama bagi Sabrang untuk kembali mendesak Xiao hu karena dia unggul segalanya. Kobaran api hitam membuatnya terlihat seperti iblis api Banaspati yang selama ini menjadi ketakutan terbesar Iblis petarung.


Saat Sabrang berusaha mengakhiri pertarungan dengan tebasan pedangnya tiba tiba seseorang muncul dan menyerangnya dengan cepat.


"Panca geni tingkat 5 : Energi api membakar jiwa"


Sabrang berusaha menghidar sekuat tenaga namun tebasan cepat pendekar misterius itu terlalu cepat untuk dihindarinya.


"Panca geni?". Sabrang mengernyitkan dahinya. Rasa terkejut Sabrang dapat dipahami, pengguna ajian Panca geni dapat dihitung jari. Selain Daniswara yang sudah dibunuhnya hanya Mahendra dan Ajisaka yang kini menguasainya.


Rasa penasaran Sabrang terjawab saat melihat Sudarta tersenyum dingin padanya.


"Kakek.. ah bukan apa harus kupanggil Ajisaka?". Ucap Sabrang pelan.


"Jadi kau sudah mengetahui identitasku? berarti pilihanmu adalah mati dan menyerahkan tubuhmu untuk menjadi tubuhku selanjutnya. Mata itu akan menjadi milikku". Sudarta menyeringai pada Sabrang.

__ADS_1


"Berhati hatilah, pedang yang digunakannya adalah salah satu pusaka Dieng. Pedang pusaran angin". Naga api memperingatkan.


__ADS_2