
Sekte Tapak es utara hari itu sedikit ramai, mereka mempersiapkan penyambutan ketua Angin biru, Brajamusti.
Brajamusti adalah salah satu pendekar yang mungkin ilmu kanuragannya setara atau bahkan sedikit diatas Kertasura, hal itu yang membuatnya cukup disegani di didunia persilatan.
Sifatnya yang ramah dan terkadang tidak ikut campur urusan dunia persilatan membuat Angin biru jarang memiliki musuh bahkan dari aliran hitam sekalipun.
Kabar yang Mantili dengar dari Tungga dewi jika Brajamusti setuju membantu mereka cukup mengejutkannya karena biasanya Brajamusti tak terlalu tertarik untuk terlibat dalam masalah dunia persilatan. Hal itulah yang membuat Mantili ingin menyambutnya dengan hangat.
"Bibi" teriak Sabrang yang membuyarkan lamunan Mantili.
Mantili mengernyitkan dahinya saat melihat rombongan Sabrang muncul tiba tiba.
"Kalian sudah kembali?" tanya Mantili heran.
"Ada beberapa hal yang harus disusun kembali tetua setelah kejadian yang kami alami" Wardana menundukan kepalanya memberi hormat.
"Ah kebetulan sekali, tuan Brajamusti pun akan bergabung dan membantu kita, kita bisa membicarakannya dengannya. Bagaimanpun dia adalah pendekar terkuat saat ini, itu akan sangat membantu kita".
"Siapa dia?" bisik Emmy ditelinga Sabrang sambil merapikan rambut pemuda itu. Sabrang memang bukan tipe orang yang terlalu peduli pada penampilan, dia lebih tertarik pada Ilmu kanuragan.
"Anda sudah kembali tuan muda?" suara dingin Mentari mengejutkan Sabrang yang sejak tadi mendengarkan percakapan Wardhana dan Mantili.
Sabrang menoleh kebelakang dan mendapatkan tatapan dingin dua wanita yang dikenalnya.
Emmy segera menyadari situasinya setelah melihat reaksi dua wanita dihadapannya. Dia buru buru mendekap lengan Sabrang dan bergelayut manja sambil tersenyum mengejek.
"Apakah hama ini temanmu?" ucap Tungga dewi meremehkan.
"Siapa yang kau sebut hama nona?" Emmy sedikit tersulut emosinya.
Menyadari situasi semakin gawat, Brajamusti menarik Sabrang dan memeluknya.
"Kau sudah bertambah tinggi dan kuat nak, sudah lama sekali sejak pertemuan kita di sekte Kelelawar hijau". Brajamusti menarik Sabrang dan mendekati Mantili. "Harusnya kau memberi hormat terlebih dahulu pada bibimu"
"Kakek juga datang?" ucap Sabrang antusias, bagaimanapun Brajamusti lah yang membantunya saat kerasukan Naga api di sekte Kelelawar hijau.
Setelah bertegur sapa dengan Mantili dan yang lainnya, Mantili mengajak mereka masuk untuk beristirahat sejenak.
__ADS_1
Saat Emmy hendak melangkah masuk, Mentari menghentikannya.
"Aku yang akan menunjukkan ruang istirahatmu, ikuti aku" ucapnya pelan.
"Biar kutebak, kalian adalah dua wanita yang saling berebut mencari perhatiannya namun dia acuh dan malah memilihku" ucap Emmy sambil tersenyum.
"Mulutnya tajam sekali, biar kuberi dia pelajaran" Tungga dewi mencabut pedangnya namun Mentari menahannya.
"Dia adalah tamu bibi Mantili kita harus melayaninya dengan sangat baik" ucap Mentari sambil tersenyum.
Emmy mengernyitkan dahinya "Entah kenapa aku merasa dalam kata kata manismu tadi aku merasa terancam".
"Tidak ada yang mengancammu, ikut denganku" Mentari menarik lengan Emmy dengan sedikit memaksa, Tungga dewi mengikuti dibelakangnya.
***
Ketika malam sudah semakin larut, Wardhana tampak memasuki ruangan yanh disediakan Mantili. Dia sengaja memilih waktu tengah malam dan memilih sendiri orang orang yang diajaknya bertemu untuk menghindari bocornya rencana yang dia buat.
"Maaf aku sedikit terlambat, ada yang harus kupersiapkan bersama Ciha untuk menjelaskan sesuatu" ucap Wardhana. Dia terlihat memasuki ruangan bersama Ciha yang membawa gulungan dikedua tangannya.
"Jadi kau yang dijuluki Naga yang tertidur dari Malwageni, usiamu masih sangat muda tuan Adipati" Brajamusti menyapa Wardhana.
"Kabar itu terlalu berlebihan tetua, aku hanya membantu Yang mulia semampuku".
"Sifat rendah hatimu membuatku makin kagum, biarkan aku member kalian julukan Naga kembar dari Malwageni" ucap Brajamusti yang diikuti anggukan yang lainnya.
Wardhana tersenyum sesaat sebelum memulai penjelasannya namun dia tak sadar jika nama yang diberikan Brajamusti padanya dan Sabrang akan melekat dan ditakuti didunia persilatan kelak bahkan sampai ribuan tahun lamanya.
"Semua berawal dari penemuan ruang rahasia di sekte Tapak es utara".
Wardhana mulai menceritakan tentang penemuan ruang rahasia di ruang rahasia atau dia menyebutnya misteri bersusun.
Juga tentang hilangnya sekte Tengkorak merah di Swarnadwipa yang sangat mirip dengan hilangnya Iblis hitam.
"Jadi menurut anda pelakunya adalah orang yang sama?" tanya Brajamusti.
Wardhana mengangguk pelan "Namun kasus hilangnya Iblis hitam sedikit berbeda karena dibuat dalam keadaan panik untuk menyembunyikan sesuatu. Aku menyadarinya saat membaca pesan Kertasura".
__ADS_1
Wardhana kembali menjelaskan rencananya dan perangkap besar untuk menangkap pemuda itu di rumah para dewa terakhir.
Brajamusti tampak kagum dengan rencana detail yang dibuat Wardhana. Tak ada celah sedikitpun dan selalu membuat rencana cadangan untuk mengantisipasi situasi.
"Pemuda misterius itu ingin kita bertarung dengan Iblis hitam yang berada di gua kegelapan tempat yang ditunjukkan Kertasura dalam pesannya. Dia ingin kita fokus mengejarnya dan aku yakin akan banyak sekte lain yang hilang untuk menyibukkan kita dan menjauhkan dari ruang rahasia.
Aku akan kabulkan keinginannya seolah kita masuk perangkapnya. Besok pagi pagi sekali aku, Yang mulia, Lingga dan Arung akan menyerang gua itu seolah masuk perangkapnya. Semua harus berjalan seperti biasa sampai rumah para dewa terakhir telah kita kunjungi. Ketika saatnya tiba kita akan membongkar apa yang dia sembunyikan sampai dia harus memunculkan khayangan api".
"Lalu apa tugas yang kau berikan pada kami?". Suliwa kali ini ikut bicara.
"Saat kami bergerak, aku yakin dia mengawasi dari suatu tempat. Dia tidak akan menyadari disaat yang sama kalian masuk ruang rahasia. Temukan apapun yang ada diruangan itu dan tutup kembali seperti semula, sisanya biar aku yang melanjutkan".
Wardhana menutup pertemuan itu dengan membagikan peta yang digambar ulang oleh Ciha. "Itu adalah salinan gambar yang kami temukan di Wentira, sejak pertama melihatnya aku merasa ada yang janggal namun sampai hari ini aku belum berhasil menemukan kejanggalan itu. Mohon katakan padaku jika tetua menemukan sesuatu".
***
Sabrang melesat cepat diikuti beberapa pendekar dibelakangnya. Mereka sengaja bergerak sebelum matahari terbit untuk menyergap Dongkel.
"Dongkel bagianku" ucap Lingga dingin saat berhasil mengejar Sabrang.
Sabrang hanya tersenyum sinis sambil terus bergerak, dalam pikirannya saat ini adalah ingin bertemu dengan pemuda misterius itu dan menghancurkannya.
Sabrang merasa munculnya Suku Iblis petarung, Telaga khayangan api, Pendekar langit merah hanya pion yang sedang dimainkan pemuda itu untuk suatu tujuan.
"Mungkin munculnya Naga api dan kehadiranku adalah permainan yang dipersiapkannya sejak awal" gumam Sabrang dalam hati.
Sabrang tiba tiba mengeluarkan energi keris diudara ketika melihat dua orang penjaga yang bersembunyi diatas pohon disekitar gua kegelapan.
"Dimanapun kalian bersembunyi tak akan bisa lepas dari mata bulanku". Sabrang menarik keris diudara dan menyerang dua pendekar itu tanpa bisa menghindar.
Saat tubuh para pendekar itu hampir jatuh ketanah Sabrang melempar beberapa bongkahan es berbentuk pedang untuk mencegah tubuh pendekar itu jatuh ketanah dan menimbulkan suara. Tubuh dua pendekar itu tertancap dipohon.
Sabrang menghentikan langkahnya menunggu tanda dari Wardhana untuk bergerak.
"Gua ini hanya memiliki dua pintu untuk keluar masuk. Aku bersama Yang mulia akan menyerang dari belakang, kau dan Arung menggempur dari depan. Ingat jangan sisakan satupun agar rencana kita berhasil" ucap Wardhana.
Arung mengangguk pelan, dia dan Lingga mulai bergerak memutar kedepan sedangkan Sabrang dan Wardhana kearah celah gua yang ada didekat sungai.
__ADS_1