Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Serangan Pria Misterius


__ADS_3

“Aku sangat menghargai tindakanmu kali ini, Kadipaten Wanajaya adalah salah satu daerah terluar Kerajaan Saung galah. Tindakanmu mengusir pasukan Pasukan Majasari sudah tepat, ku harap kau tidak terlalu bersikap menentang yang mulia dikemudian hari”.


Gardika mengangguk pelan, walaupun ada beberapa hal yang ingin dia sampaikan namun dia lebih memilih memendamnya. Dia tidak ingin berdebat dengan Banyu biru yang merupakan wakil Mahapatih Kerajaan Saung galah. Akibat dari penyerangan Majasari membuat pasukannya sedikit banyak mengalami kerugian akan sangat beresiko jika harus bersebrangan dengan Yang Mulia Raja.


“Hamba mengerti tuan, mohon sampaikan ucapan terima kasihku pada Yang mulia karena telah membantu melindungi Wanajaya dari kaki tangan Majasari”.


Banyu biru mengangguk lega melihat sikap Gardika yang kali ini sedikit melunak, bagaimana pun wilayah Wanajaya adalah wilayah terluar dan paling strategis di Kerajaan Saung galah.


Setiap rencana penaklukan terhadap Saung galah akan dimulai dengan menyerang Wanajaya, akan sangat merepotkan jika Adipati Gardika tidak sejalan dengan kebijakan raja Saung galah.


“Aku ingin meminta sedikit pendampatmu mengenai orang Malwageni yang membantumu. Apakah menurutmu mereka dapat dipercaya?”.


Gardika perpikir sejenak kemudian menggelengkan kepalanya “Hamba belum mengetahui pasti apa yang mereka rencanakan tuan namun satu hal yang bisa hamba katakan mereka akan menjadi sangat merepotkan jika kita menjadikan mereka musuh. taktik perang mereka, kemampuan bela diri mereka harus ku akui jauh diatasku terutama keturunan Arya dwipa yang bernama Sabrang. Ilmu pedangnya sangat tinggi”.


Banyu biru menatap Gardika sesaat, kali ini dia menyetujui apa yang Gardika katakan karena telah melihat dengan mata kepalanya sendiri apa yang mereka lakukan untuk memukul mundur pasukan Majasari bahkan bisa dikatakan ini kekalahan terbesar Majasari.


“Kali ini apa yang kau katakana benar, namun mereka meminta syarat yang sangat berat untuk membantu kita menekan Majasari. Untuk saat ini Saung galah belum mampu menandingi pasukan tempur Majasari jika kita secara terbuka mendukung Malwageni itu sama saja dengan mengibarkan bendera perang pada mereka”.


“Lalu apa tindakan tuan kali ini?”.


Banyu biru memejamkan matanya sesaat, dia merasa menanggung beban yang sangat berat dipundaknya.


“Sampai saat ini aku belum dapat memutuskan apa apa namun untuk saat ini aku ingin kau membantu mereka secara diam diam, bagaimanapun jika mereka ikut mengusik Saung galah akan sangat merepotkan kita”.


……………………………………..


Sabrang melangkah cepat mengikuti Mentari yang ada didepannya, Wajah Mentari kali ini sangat tidak bersahabat membuat Sabrang serba salah.


“Hei nona, bukankan aku sudah minta maaf padamu berkali kali” Wajah Sabrang kali ini memelas, dia tersu mengejar Mentari yang masih tidak memperdulikannya.


“Penyerangan kemarin sangat berbahaya, aku tidak ingin kau terluka” Tiba tiba langkah kaki Mentari berhenti ,Senyum manis mulai merekah di bibir kecilnya mendengar perkataan Sabrang.


Sejak kemarin Suasana hati Mentari sedang tidak baik karena Sabrang tidak mengijinkannya ikut berjuang melawan Pasukan Majasari dan memintanya untuk tetap tinggal di rumah paman Segara bayu. Hal itu yang membuatnya sedikit marah karena merasa tidak berguna dan dia bertekad untuk terus menjadi kuat agar bisa berjuang bersama Sabrang.


“Bukankah sebaiknya kita beristirahat sejenak, perutku sudah lapar karena dari tadi mengejarmu” Sabrang akhirnya bisa mengejar Mentari dan berjalan disampingnya.


“Apakah yang ada dipikirannya hanya makan?Dasar Bodoh” Umpat mentari dalam hati, namun tak lama kemudian wajah masamnya berubah melunak saat memandang Sabrang yang sepertinya memang sedang kelaparan.


Mereka kemudian duduk dibawah pohon yang sedikit rindang dan memutuskan untuk makan bekal yang disiapkan oleh Segara bayu sebelum mereka pergi.


Sabrang makan dengan lahap membuat Mantari sedikit tersenyum melihat tingkah pemuda dihadapannya.

__ADS_1


Tiba tiba Sabrang mendekatkan wajahnya kearah Mentari yang membuat suasana menjadi canggung “Bolehkah ku minta sedikit makananmu? Aku masih merasa lapar” Sabrang berkata polos.


Mentari hampir tersedak mendengar ucapan Sabrang, dia merasa nafsu makan Sabrang benar benar mengerikan. Mentari kemudian memberikan separuh jatah makanannya sebelum melanjutkan makan. Terlihat sabrang kembali menghabiskan makanannya dengan kecepatan yang mengerikan.


“Apakah Pangeran ini kekurangan Gizi?” Mentari menatap Sabrang iba, dia merasa Sabrang lebih mirip orang yang kekurangan Gizi dari pada sesosok Pangeran pewaris Malwageni.


“Jadi seberapa jauh Desamu dari sini? Tak kusangka kau adalah orang Saung galah” Sabrang bertanya setelah lagi lagi dia menghabiskan sisa makanan Mentari.


“Bahkan sisa makananku pun dihabiskannya, bagaimana dia bisa lahir dari keturunan Raja?” Mentari menggelengkan kepalanya.


“Masih sehari perjalanan lagi untuk sampai di Desaku tuan”. Mentari memejamkan matanya sejenak, sebenarnya ada hal yang selalu mengganggu pikirannya akhir akhir ini, jika nanti mereka telah sampai di desanya apakah dia benar benar akan berpisah dengan Sabrang.


Dia berharap Sabrang meminta untuk menemaninya mengembara namun sampai detik ini Sabrang tak pernah membicarakan masalah itu. Hal itulah yang membuat Mentari kadang merasa kesal pada pemuda dihadapannya itu.


“ah sukurlah jika demikian, kau akan segera bertemu keluargamu aku turut senang mendengarnya” .


Mentari menatap langit sambil bersandar di pepohonan, dia tersenyum kecut “Sepertinya percuma mengharapkan sesuatu dari si bodoh ini”, tanpa dia sadari Sabrang mencuri pandang kearahnya penuh makna.


…………………………………….


(Sekte Iblis Hitam)


“Jadi pengguna Pedang Naga api adalah keturunan Arya Dwipa? Ini akan semakin menarik” Kertasura mengepalkan tangannya.


“Lalu apa tindakan kita tetua? Kudengar sekte Serigala hitampun dihancurkan olehnya”.


“Dia kini berada di wilayah Saung Galah akan sangat merepotkan jika Saung galah ikut membantunya. Yang mulia raja pun belum menginginkan peperangan terbuka karena akan menguras kekuatan kita, bagaimanapun Saung galah adalah kerajaan yang memiliki pasukan tempur kuat. Perintahkan Iblis pencabut nyawa untuk membawakan kepala anak itu untukku, aku tidak ingin mendengar kegagalan kali ini. Anak itu suatu saat akan menjadi kerikil tajam baik untuk tujuan kita maupun Yang mulia Raja ”. Kertasura berkata lantang.


“Baik tetua”.


…………………………………………..


Sikap Sabrang tiba tiba berubah menjadi siaga, dia menyambar Pedangnya dan memperhatikan sekitarnya. Mentari yang sedang duduk disampingnya menjadi sedikit terkejut.


“Kita kedatangan tamu, berhati hatilah” Sabrang meraksakan aura yang sangat kuat sedang menekannya.


“Tak kusangka akan bertemu dengan Pedang Legendaris itu disini dan yang membuatku lebih terkejut adalah Pedang Naga Api berada di tangan seorang pemuda” Seorang pria paruh baya terlihat berjalan di udara.


Sabrang menoleh kearah Mentari dan memintanya untuk mundur beberapa langkah.


“Hormat pada tetua, apakah tetua ada keperluan denganku?” Sabrang menundukan kepalanya namun tetap dalam sikap Siaga.

__ADS_1


“Aku hanya tertarik dengan pedang yang ada ditanganmu, pedang itu bukan barang yang bisa kau bawa seenaknya nak”


Sabrang menatap pedangnya sesaat “Ah ini pedang yang diberikan oleh guru padaku tetua”.


“Suliwa memberikan pedang itu padamu? aku tidak tau apa yang ada dipikirannya namun sepertinya kau anak yang menarik".


Pria tersebut tiba tiba menyerang dengan cepat membuat Sabrang terpental mundur.


"kecepatan apa ini? bahkan aku tidak dapat melihat gerakannya". belum selesai keterkejutan Sabrang tiba tiba pria tua tersebut telah berada di belakang.


"Tinju Kilat hitam" Sabrang mengarahkan pedangnya menangkis serangan tinju pria tersebut. dia kembali terpental jauh. tangannya gemetar setelah menahan serangan pria tersebut dengan pedangnya.


"Siapa dia sebenarnya, kenapa dia tiba tiba menyerangku?". Sabrang mengatur nafasnya.


"Gerakanmu lumayan cepat nak, namun kau belum pantas memegang pedang itu". Tubuh kakek itu kembali menghilang membuat Sabrang mundur beberapa langkah untuk mengantisipasi serangan tiba tiba.


"Kau mungkin mempunyai bakat yang besar nak, namun bakat saja tak akan bisa menyelamatkanmu di dunia persilatan". Pria tersebut muncul di sisi kanan Sabrang, tangannya dengan cepat mencengkram tangan Sabrang dan berusaha merebut Pedang Naga Api dari tangan Sabrang.


Saat pria tersebut berhasil merebut pedang Naga Apu dari tangan Sabrang dia terkejut melihat tangan Sabrang mengeluarkan bongkahan es berbentuk pisau.


"Kau!!" Pria tersebut berusaha menghindar namun terlambat.


"Hujan Pisau Es utara" Serangan Sabrang tepat mengenai tubuh pria tersebut membuatnya mundur selangkah. namun terlihat tubuh pria tersebut tidak terluka sedikitpun setelah menerima serangan Sabrang.


"Kau menguasai jurus Tapak Es utara? ah tidak kau hanya meniru jurusnya. jika tadi adalah jurus asli tetua Tapak es utara mungkin aku telah terluka parah".


Pria tersebut menancapkan Pedang Naga Api yang berhasil direbutnya ke tanah. kali ini dia terlihat sedikit berhati hati terhadap Sabrang.


"Bagaimana anda bisa memegang Pedang itu?" Sabrang tak habis pikir, selama ini tak ada yang sanggup memegang pedangnya terlalu lama.


"Kau pikir aku tak mampu memegang Pedang ini? Pedang naga api memang akan menghabisimu jika dia tidak menganggapmu sebagai tuannya. namun berkat Segel kegelapan abadi yang ditanamkan Suliwa pada pedang ini aku dapat menahannya menyerap tenaga dalamku. Ku akui kali ini aku dibuat terkejut oleh Pedang ini, bagaimana bisa dia memilihmu sebagai tuannya".


Pria tua tersebut kembali merapal sebuah jurus "Kau memang menarik bocah, mari kita lihat kemampuanmu tanpa Pedang ini".


Pria tersebut kembali menyerang Sabrang dengan cepat.


○ ***Beberapa hari ini saya mendapat banyak permintaan Crazy up dan saya sangat senang atas permintaan tersebut. namun untuk beberapa hari ini saya minta maaf belum bisa mengabulkannya.


Beberapa hari ini saya lagi mempersiapan diri untuk mengikuti tes CPNS. mungkin hari rabu atau kamis saya mulai bisa fokus kembali dan saya berjanji akan memberikan beberapa episode dalam satu hari.


Sekali lagi saya minta dukungannya untuk memberikan vote agar novel ini semakin naik rangkingnya sehingga saya semakin semangat menulis cerita.

__ADS_1


oh satu lagi, banyak yang meminta saya untuk membuat Novel komedi romantis untuk Sabrang dan Mentari dengan latar belakang modern. Mudah mudahan dalam waktu dekat dapat saya kabulkan.


sekali lagi terima kasih atas dukungannya ○***


__ADS_2