Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Danau Kehidupan


__ADS_3

"Gua itulah pintu masuknya". Ciha menunjuk gua besar yang ada dihadapannya. Lingga mengernyitkan dahinya sambil memandang gua dihadapannya. Bayangan tentang danau kehidupan yang besar sangat berbeda dengan apa apa yang dilihatnya.


"Bukankah tujuan kita saat ini air kehidupan?". Tanya Lingga heran.


"Kau belum juga belajar mengenai struktur tempat ini, apakah kau pernah berpikir jika di dalam tebing bukit kelam ada tempat seluas dan seindah ini?". Ucap Ciha mengejek.


"Jadi itu merupakan pintu masuk menuju Danau kehidupan?". Tanya Lingga lagi.


"Kami lebih senang menyebutnya Dimensi lain. Danau kehidupan berada disisi paling dalam Dieng dan yang paling dekat dengan gunung api bawah laut. Kau akan merasakan sensasi berbeda saat berada di Danau kehidupan. Bau belerang menyengat dan air yang sangat panas akan menyambut kita di dalam". Ciha menjelaskan.


"Seperti yang kau katakan jika aku harus terbiasa dengan keanehan di tempat ini bukan? sebaiknya kita cepat masuk". Lingga kembali menggendong Ciha dan melangkah menuju mulut gua.


"Berhati hatilah, banyak jebakan didalam gua itu". Ucap Ciha pelan.


"Jebakan?". Mentari mengernyitkan dahinya.


"Kau tidak berpikir untuk berjalan santai dan menemukan air yang bisa membuat tubuhmu abadi bukan? Banyak jebakan didalam sana tapi jika kalian ikuti petunjuku kita akan baik baik saja".


Hal pertama yang menyambut mereka saat melangkah masuk gua adalah bau belerang yang menyengat. Mentari dan Wulan sari bahkan beberapa kali terlihat kesulitan bernafas.


"Kau lihat obor di dinding gua itu? Gunakan ini untuk menyalakannya". Ciha mengeluarkan semacam batu gesek yang dapat mengeluarkan api.


"Sepertinya aku mulai merindukan anak itu". Gumam Lingga dalam hati. Dia tidak habis pikir Sabrang begitu mudah mengeluarkan api dari tubuhnya.


Setelah beberapa kali Lingga membenturkan batu itu akhirnya percikan api menyambar obor yang ada di dinding gua.


Ciha sedikit terkejut setelah melihat api menyambar cepat keseluruh ruangan gua.


"Sepertinya belum lama ada yang masuk kesini". Ciha bergumam dalam hati. Tangannya menyentuh obor itu beberapa kali "Masih hangat". Gumamnya.


Gua itu menjadi sangat terang karena lekukan di dinding gua ternyata adalah sistem penerangan yang menyimpan minyak mudah terbakar.


Lantai gua terlihat sangat indah dengan susunan batu alam dua warna.


"Pijakkan kakimu di batu berwarna putih, batu hitam akan memicu jebakan". Ucap Ciha sambil melempar sebuah batu kearah batu hitam.


Yang terjadi berikutnya membuat Mentari dan yang lainnya menahan nafas. Dinding gua bergeser dan mengeluarkan puluhan anak panah dan batu besar.


"Itu yang terjadi jika kita menyentuh lantai hitam itu". Ciha memperingatkan.

__ADS_1


"Sepertinya tempat ini memang harus disegel selamanya". Lingga menggelengkan kepalanya. Dia berjalan hati hati sesuai petunjuk Ciha. Mentari dan Wulan sari mengikuti dibelakangnya dengan nafas tertahan. Mereka tidak bisa membayangkan jika jebakan itu aktif saat mereka berada ditengah tengah.


Perlahan tapi pasti mereka terus memasuki gua itu lebih dalam. Setiap jebakan dapat dihindari berkat petunjuk Ciha.


Langkah mereka terhenti saat gua tiba tiba bergetar hebat.


"Apa kau menginjak lantai yang salah?". Mentari berteriak kesal pada Lingga.


"Apa racun membuatmu tidak bisa membedakan warna putih dan hitam?". Lingga menunjuk kakinya yang berada dibatu warna putih.


"Lalu getaran apa itu?". Wulan sari tampak khawatir.


Belum selesai rasa penasaran mereka puluhan orang muncul dari dalam gua dengan mata hitam pekat.


"Apa ini termasuk jebakan?". Lingga mengernyitkan dahinya. Dia yakin yang ada dihadapannya adalah manusia seperti dirinya. namun dari mana mereka berasal? bukankan rombongannya yang pertama kali masuk Dieng dan jika ada orang sebanyak ini masuk Dieng mereka tidak mungkin tak menyadarinya.


"Hei Ciha, siapa mereka". Lingga berteriak setelah tidak mendapatkan jawaban dari Ciha.


"Aku tidak tau, berkali kali aku melewati tempat ini namun baru kali ini aku melihat mereka". Ucap Ciha terbata bata. Dia bisa menghitung ada sekitar 50 orang yang menghadang mereka.


"Ini tidak baik, berhati hatilah". Lingga mencabut pedangnya saat mereka mulai menyerang. Mentari dan Wulan sari ikut membantu tanpa menunggu perintah.


Tebasan tebasan Lingga berhasil memukul mundur mereka namun yang membuatnya bingung para pendekar yang menyerang mereka seolah tak memiliki rasa sakit. Meraka akan bangkit kembali setelah terkena serangan dan langsung menyerang.


"Sepertinya aku mengenali jurus mereka". Lingga tersenyum kecut, dia yakin ilmu yang digunakan para pendekar ini adalah Ajian pembakar sukma.


"Mereka sepertinya para pendekar yang meminum air kehidupan namun berakhir dengan kerasukan roh air itu. Yang mengherankan adalah jika mereka memang sudah berada disini bertahun tahun kenapa baru sekarang muncul dan bersembunyi dimana mereka selama ini". Ucap Ciha heran. Dia sangat yakin selama dia masuk Dieng berkali kali dia belum pernah bertemu atau merasakan keberadaan mahluk itu.


"Jika terus begini kita akan kehabisan tenaga dalam, biarkan aku mencoba jurusku". Wulan sari melompat maju dan merapal jurusnya.


Lingga bergerak mundur bersamaan dengan melesatnya Wulan sari.


"Pisau angin peremuk tulang tingkat IV". Wulan sari memutar pedangnya diudara. Tak lama hembusan angin dingin menghantam para pendekar itu. Tubuh mereka terpental membentur dinding gua dengan lubang hampir disekujur tubuhnya.


"Teratai merah mempunyai jurus sehebat ini?". Lingga berdecak kagum.


Belum selesai Lingga terkagum melihat jurus Wulan sari para pendekar itu kembali bangkit dan menyerang lebih ganas.


"Sudah kuduga tidak akan semudah itu". Lingga menggeleng pelan.

__ADS_1


"Jaga dia sebentar". Lingga meletakan tubuh Ciha samping Mentari.


Saat Lingga mulai merapal sebuah jurus tiba tiba dia mematung seperti merasakan sesuatu.


"Kau lambat sekali". Lingga tersenyum kecil sambil menyarungkan kembali pedangnya. Wulan sari yang juga merasakan sesuatu melompat mundur dan menarik tubuh Mentari menjauh.


Tak lama setelah mereka mundur suhu udara disekitar mulai naik dengan cepat. Yang terlihat selanjutkan kobaran api hitam melesat cepat membakar semua pendekar yang dilewatinya.


"Jadi ini kekuatan Naga api?". Wulan sari yang baru melihatnya menggeleng bergidik.


"Siapa mereka?". Sabrang melompat mundur ketika puluhan pendekar kembali muncul dari dalam gua.


"Aku tidak tau namun sepertinya mereka tak pernah habis. Jika begini terus tenaga dalam kita semua akan terkuras". Ucap Lingga pelan.


"Aku punya rencana, Ikuti aku". Sabrang mengeluarkan keris penguasa kegelapan ditangan kirinya.


"Ayo, jangan sampai tertinggal". Saat Sabrang mulai bergerak kobaran api semakin membesar dan membakar semua yang dilewatinya.


Sabrang menghentikan langkahnya ketika sudah berada di ujung gua, dia memutar tubuhnya kebelakang dan menghantamkan pedang naga api di langit langit gua. Dalam sekejap gua itu runtuh dan menutup jalan yang mereka lewati tadi.


"Bebatuan itu akan menahan mereka sebentar". Ucap Sabrang pelan. Tak lama kobaran api mulai menghilang dari tubuh Sabrang diikuti kedua pusaka ditangannya.


"Dan kita juga tertahan disini". Lingga mendengus kesal. Gua itu satu satunya jalan keluar dan kini sudah tertutup rapat.


Sabrang tak menjawab sindiran Lingga, matanya terfokus pada sebuah Danau yang sangat jernih. Pepohonan rimbun disekitarnya seolah ikut melindungi danau itu.


"Jangan sentuh air itu". Ciha berteriak saat Sabrang mendekati danau indah dihadapannya.


"Bukankah ini air kehidupan?". Ucap Sabrang heran.


Ciha mengangguk pelan "Air kehidupan membutuhkan beberapa perlakuan khusus sebelum disentuh atau kalian akan seperti yang menyerang kita digua tadi".


"Danau ini benar benar ada". Ucap Wulan sari pelan sambil memandang danau besar dihadapannya.


Lingga terlihat mengernyitkan dahinya saat mematap susunan batu didalam danau. Air danau yang sangat jernih memudahkan mereka melihat dasar danau.


"Aku seperti pernah melihat susunan batu itu, tapi dimana?". Lingga berusaha mengingat ingat.


"Apa ada yang aneh?". Wulan sari mendekati Lingga yang terus menatap dasad danau.

__ADS_1


"Ah tidak, sepertinya hanya perasaanku saja". Ucap Lingga pelan. Dia berjalan mengelilingi Danau sambil terus berusaha mengingat.


__ADS_2