
Arung terlihat bergerak lincah diantara bangunan megah yang runtuh dengan cepat, dia terus melesat sambil sesekali memperhatikan sekitarnya. Tubuhnya terkadang seolah menghilang diantara debu yang beterbangan.
Arung memang diberi tugas untuk menarik tuas penghancur karena selain gerakannya memang cepat, luka dalamnya tidak terlalu parah.
"Sangat disayangkan ilmu pengetahuan setinggi ini akan terkubur selamanya," gumamnya dalam hati.
Arung melompat diantara bebatuan sebelum melompat tinggi di udara, tak lama Tungga dewi yang sudah menunggunya di gerbang utama muncul dan menyambar tubuhnya, mereka terlihat berputar sesaat diudara sebelum menghilang.
"Kau lama sekali," ucap Tungga dewi pelan.
Masalembo, sebuah peradaban tersembunyi yang sangat maju runtuh bersama segala misterinya. Peradaban kebanggan para pemimpin dunia itu seolah tak berdaya dihadapan Sabrang, keturunan dua pengkhianat Masalembo.
Hancurnya Masalembo masih menyisakan banyak misteri, hilangnya tubuh para pemimpin dunia dan Dewa kumari kandam memaksa Wardhana terus berfikir.
Wardhana tampak duduk disalah satu ruangan milik sekte Tapak es utara dengan wajah kusut, sesekali dia terlihat menulis sesuatu disebuah gulungan sebelum kemudian membenamkan wajahnya di atas gulungan tersebut.
Beban Wardhana makin berat karena pikirannya harus terbagi dengan dunia persilatan. Terlukanya para tetua sekte akibat pertarungan dengan dewa Kumari kandam ditambah keadaan Sabrang yang belum sadarkan diri membuat peta dunia persilatan kembali berubah.
Beberapa sekte aliran putih mencoba memanfaatkan kesempatan ini untuk memperbesar wilayah kekuasaan. Kelompok teratai merah milik Wulan sari menjadi sasaran penyerangan aliran hitam. Mengetahui Wulan sari terluka parah, mereka membentuk aliansi dan menyerang, beruntung Wardhana bergerak cepat, dia bersama Arung dan Candrakurama bergerak membantu dan memukul mundur mereka.
Sudah hampir satu purnama sejak hancurnya Masalembo, kondisi Sabrang mulai membaik walau masih belum sadarkan diri. Efek ajian Cakra manggilingan membuat tubuhnya terluka parah hingga membutuhkan waktu untuk pulih.
"Penyerangan pada kelompok teratai merah akan kembali terulang jika tidak segera diatasi, aku harus segera menghidupkan kembali Hibata untuk membantuku menyeimbangkan dunia persilatan,"
Saat Wardhana larut dalam pikirannya tiba tiba suara pintu ruangan Wardhana diketuk. Terlihat Tungga dewi dan Candrakurama memasuki ruangan, mereka menundukkan kepala dan langsung duduk dihadapan Wardhana.
"Anda harus beristirahat sejenak tuan, sejak kejadian di Masalembo anda sepertinya belum beristirahat," ucap Tungga dewi mengingatkan.
Wardhana tersenyum hangat setelah mendengar ucapan Tungga dewi.
"Selama Yang mulia dalam masa pemulihan, aku harus memastikan semua berjalan semestinya. Gejolak dunia persilatan semakin terlihat, beberapa sekte aliran hitam dunia persilatan mulai terang terangan memusuhi kita. Kabar terlukanya para tetua sekte dan Yang mulia lah yang membuat mereka berani. Kita harus secepatnya menekan balik dan memberi pelajaran pada mereka," ucap Wardhana menjelaskan.
"Lalu apa tindakan kita tuan? aku bisa meminta bibi Lasmini untuk mengerahkan sekte Rajawali emas untuk membantu," balas Tungga dewi.
Wardhana menggeleng pelan, "Aku tidak ingin memperuncing permusuhan aliran putih dan hitam karena kita harus fokus pada Masalembo dan merebut kembali Malwageni, harus ada kelompok lain yang menjalankan tugas ini, dan setelah kupikir Hibatalah yang paling cocok.
Nama Hibata sudah terdengar dipenjuru dunia persilatan dan tidak ada yang tau jika organisasi itu adalah bentukan kita. Hancurnya hibata di Masalembo memberiku kesempatan untuk menata ulang. Kita perlu pendekar hebat untuk mengawal Hibata," Wardhana menunjukkan salah satu gulungannya sebelum melanjutkan ucapannya.
"Sebelum keberangkatan kita ke Masalembo Yang mulia berbicara empat mata denganku, dia sudah memutuskan untuk menarik anda dari Hibata dan menggantinya dengan Candrakurama," ucap Wardhana pada Tungga dewi.
"Maaf jika aku gagal memimpin Hibata tuan," jawab Tungga dewi lirih.
"Tidak, anda tidak gagal nona, Hibata sangat membantu dalam pertarungan kemarin namun Yang mulia sudah memutuskan memilih anda sebagai Ratu, beliau tidak ingin mengambil resiko ratunya terluka.
Hamba mohon maaf jika dalam perkataan masih sering tertukar namun mulai hari ini hamba dan seluruh pasukan Malwageni akan memanggil anda Ratu," ucap Wardhana sambil menundukkan kepalanya.
"Tuan," ucap Tungga dewi kikuk.
"Ini sudah menjadi keputusan Yang mulia, kuharap anda mulai membiasakan diri gusti Ratu."
Tungga dewi terdiam, ada rasa haru bercampur sedih karena dihari dia diakui sebagai Ratu Malwageni, Sabrang sedang terbaring terluka.
Wardhana kemudian menoleh kearah Candrakurama yang dari tadi hanya diam.
"Kudengar kau sudah menyanggupi posisi ketua Hibata?."
Candrakurama mengangguk pelan, "Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membesarkan Hibata tuan," balas Candrakurama.
__ADS_1
"Syukurlah, kau memang orang yang paling tepat menggantikan Gusti Ratu, kemampuanmu membuatku kagum."
"Tugasmu tak akan mudah kali ini, selain sebagai tangan kanan Yang mulia, Hibata juga memiliki tugas menyeimbangkan dunia persilatan. Beri peringatan pada mereka untuk tidak bermusuhan dengan aliansi kita, selain terus bergerak senyap melacak keberadaan dewa Kumari kandam.
Akan ada sembilan pendekar yang berada dibawahmu sebagai anggota namun kau tidak perlu khawatir jika kurang, seluruh sekte aliansi telah memutuskan untuk membantumu."
"Aku akan berusaha sekuat tenagaku tuan," jawab Candrakurama.
Wardhana mengangguk lega, kini rencana yang dia buat mulai tersusun kembali.
"Yang terakhir mengenai Malwageni, aku sempat memutuskan untuk mengejar terlebih dahulu para pemimpin dunia sebelum merebut Malwageni namun sepertinya aku salah perhitungan.
Ilmu ruang dan waktu yang anda tunjukkan pada hamba sangat rumit, hamba perlu beberapa waktu untuk memahami alur kerjanya, selain itu hamba dan Ciha membutuhkah ruangan khusus untuk menguji semua itu.
Jika Gusti ratu mengizinkan, hamba sudah menyusun rencana untuk merebut kembali malwageni secepatnya. Saat ini hamba yakin mereka sedang lengah karena kita tak pernah melakukan pergerakan apa apa, bahkan kadipaten Rogo geni seolah berada dibawah kekuasaan Saung galah.
Hamba ingin mengambil kesempatan ini untuk menghancurkan Majasari dan membangun kekuatan baru yang berpusat pada Malwageni. Hibata akan membantu menjaga Malwageni dari luar sampai hamba berhasil mempelajari jurus ruang dan waktu. Setelah itu kita hancurkan para pemimpin dunia," ucap Wardhana berapi api.
Tungga dewi terlihat ragu sambil menatap Wardhana.
"Anda adalah Ratu Malwageni saat ini, bagaimanapun selama Yang mulia belum sadar segala keputusan harus seizin anda Gustu ratu," ucap Wardhana seolah tau keraguan Tungga dewi.
"Jika memang itu yang terbaik maka lakukan tuan, semoga Yang mulia segera sadar," balas Tungga dewi.
"Terima kasih gusti Ratu, besok hamba akan mengutus tuan Wijaya untuk pergi ke Saung galah meminta bantuan, sedangkan hamba akan mempersiapkan penobatan anda sebagai Ratu malwageni. Pasukan kita butuh suntikan semangat dan penobatan anda akan membuat semangat tempur mereka berkobar."
"Penobatanku? bukankah terlalu cepat tuan, apa tidak sebaiknya menunggu Yang mulia sadar?" ucap Tungga dewi terkejut.
"Itu sudah pasti gusti ratu, hanya titah tertulis Yang mulia yang bisa mengangkat anda. Hamba sudah bicara dengan tetua Brajamusti dan melihat kondisi Yang mulia, beliau akan siuman dalam beberapa hari ini.
Hamba akan bicara setelah Yang mulia siuman sambil mempersiapkan semuanya, kesempatan ini tidak datang dua kali kita harus mengambilnya," balas Wardhana.
"Ini adalah daftar sekte yang kemarin menyerang Teratai merah, aku ingin Hibata menghancurkan mereka sebelum penyerangan kita ke Majasari," pinta Wardhana.
"Menghancurkannya? berarti tanpa sisa? dengan senang hati tuan," balas Candrakurama tersenyum.
"Aku ada permintaan tuan sebelum penobatanku," ucap Tungga dewi tiba tiba.
"Permintaan?," Wardhana mengernyitkan dahinya.
***
Lembu sora yang diperintah Wardhana untuk kembali ke kadipaten Rogo geni tampak sudah memasuki halaman kadipaten, dia langsung disambut oleh beberapa prajurit penjaga.
"Buka ruang tahanan, aku harus bicara dengan Paksi," ucap Lembu sora pelan.
"Baik tuan," jawab prajurit itu.
Paksi tampak tersenyum dingin saat melihat kedatangan Sora, sudah lama dia tidak melihat sora setelah kepergiannya beberapa waktu lalu.
"Apakah ada sesuatu yang mendesak sampai Adipati Rogo geni menemui ku langsung?," ucap Paksi sinis.
Sejak kekalahan Majasari beberapa waktu lalu, Paksi memang dikurung di Rogo geni. Dia tidak diijinkan bicara dengan siapapun tanpa izin Sabrang.
"Sebuah pemandangan yang sangat berbeda, saat muridnya kini mulai menapaki posisi mahapatih, anda sebagai gurunya malah membusuk didalam sini," ucap Sora pelan, dia langsung duduk dihadapan Paksi.
"Dia menjadi patih? kalian bahkan belum berhasil merebut Maleageni, apa kau ingin membuatku tertawa?," ejek Paksi.
__ADS_1
Walau terlihat mengejek, Paksi sebenarnya kagum dan bangga memiliki murid seperti Wardhana, dia yakin dari awal jika Wardhana akan mencapai puncak kedudukan.
"Kami pasti akan menghancurkan Majasari, aku yakin anda yang paling paham bagaimana kemampuan tuan Patih," balas Sora.
Paksi terdiam sesaat sebelum tersenyum kecut.
"Sejujurnya aku tak ingin mendengar kabar murid bodoh itu namun kau sudah mengatakannya. Aku hanya berharap dia tak melakukan kesalahan yang lalu."
"Dia sangat mengagumi anda tuan, sampai detik ini dia masih menganggap anda sebagai gurunya".
"Aku bukan gurunya, aku hanya memberinya sedikit petunjuk, dialah yang mengembangkan kemampuannya sendiri. Kekalahanku beberapa waktu lalu mengajarkanku bahwa ilmu perang akan selalu berkembang dan si tua ini tak mampu mengikuti perkembangannya. Aku akan bangga jika suatu saat mendengar kabar kalian mampu merebut Malwageni.
Jasa Arya dwipa sangat besar dalam perjalan hidupku, dia adalah raja muda yang sangat pintar. Aku hanya berharap yang terbaik untuk keturunannya," ucap Paksi, ada rasa menyesal dari nada bicaranya.
"Dia memintaku untuk menemui anda, beberapa munggu lagi kami berencana menyerang Majasari besar besaran dan tuan Patih meminta bantuan anda," ucap Lembu sora.
Paksi tersentak kaget setelah mendengar ucapan Sora, dia tidak menyangka Wardhana masih memperhitungkannya saat dirinya mampu mengalahkan Majasari.
"Apa yang diharapkan dari si tua ini?"
"Tuan Patih ingin anda menata hidup kembali dan mengabdi pada Malwageni, Bukan Majasari lawan yang kini ditakuti tuan Patih namun satu organisasi kuat yang sampai saat ini belum pernah bisa didekati.
Dia ingin anda membantunya dan memulai semua dari awal, dia benar benar menghormati anda."
"Sebaiknya kau pergi, aku tiba tiba mengantuk," Paksi memalingkan wajahnya.
"Besok kami akan pergi kembali ke tapak Es utara untuk mematangkan rencana penyerangan Majasari, kuharap anda memberiku jawaban sebelum besok pagi. Tuan patih akan sangat senang melihat anda datang dan bertarung bersama gurunya sebagai teman dan bukan lagi lawannya," Sora menundukkan kepalanya sebelum melangkah pergi.
Air mata terlihat menetes dari mata Paksi, dia benar benar tidak menyangka Wardhana masih menganggapnya guru setelah apa yang dilakukannya.
"Dasar murid bodoh!," gumamnya dalam hati.
***
Mentari dan Emmy sedang berbicara didalam ruang perawatan ketika Tungga dewi muncul.
"Bagaimana kabar Yang mulia?" tanya Tungga dewi menyapa.
"Keadaannya sudah membaik, tadi beliau sudah mulai sadar namun setelah meminum obat yang diberikan tetua Brajamusti,fr dia tidur kembali," jawab Emmy pelan.
"Syukurlah."
"Ada yang ingin kubicarakan dengan kalian," ucap Tungga dewi pelan.
Mentari tampak tersenyum hangat sambil menggenggam lengan Tungga dewi.
"Aku sudah diberi tahu tuan Wardhana tentang masalah ini," Mentari menghentikan ucapannya sambil terus menggenggam erat lengan Tungga dewi.
"Dengar, mungkin ini terakhir kalinya aku menyebut namamu Dewi. Aku sudah bicara empat mata dengan Emmy, apapun keputusan Yang mulia kami akan menerimanya.
Mungkin kisah pertemuan kita dengan Yang mulia berbeda namun aku yakin kita sudah mengetahui latar belakangnya. Kau adalah orang yang paling cocok menjadi Ratu, aku dan Emmy akan mendukungmu dengan sekuat tenaga. Jangan ragu hanya karena keberadaan kami berdua, kau harus menjadi kekuatan bagi Yang mulia seperti gusti ratu sekar. Apapun yang terjadi aku dan Emmy sudah memutuskan untuk mengabdi pada Yang mulia dan Malwageni."
"Apa yang dikatakan Mentari benar, kau harus menjadi kekuatan bagi Malwageni. Saat aku pertama kali bertemu dengannya, aku hampir membunuhnya. Kini aku hanya ingin berada disisinya tak perduli apapun posisiku, Emmy menambahkan.
Tungga dewi terdiam sesaat, dia menatap dua saingannya itu.
"Jika memang harus ada penobatan, aku ingin penobatan ku bersamaan dengan kalian. Jika kalian tidak mendampingiku maka aku akan menolaknya," ucap Tungga dewi.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Vote