
Setelah berjalan cukup lama akhirnya rombongan Sabrang sampai di Desa Waringin putih. Desa Waringin putih merupakan desa yang berbatasan langsung dengan kadipaten Karang sari.
"Desa ini jadi lebih ramai dari biasanya". Ucap Ciha memperhatikan orang yang lalu lalang dihadapannya. Dia sedikit heran dengan suasana Waringin putih, sudah beberapa kali dia melewati tempat ini saat masuk ke Dieng beberapa tahun lalu namun kali ini suasananya benar benar ramai.
"Sepertinya mereka sudah mempersiapkan semuanya". Lingga tersenyum kecut.
"Mereka?". Ciha mengernyitkan dahinya.
"Kau akan mengetahuinya segera". Lingga menyembunyikan pedang di dalam pakaian untuk menghindari kecurigaan.
"Apakah kita akan menginap?". Mentari bertanya pelan.
"Terlalu mencolok jika menginap disini, lebih baik kita cepat meninggalkan desa ini. Mereka mulai mencurigai kita". Lingga bicara setengah berbisik sambil memberi tanda ada beberapa orang yang mulai mengamati mereka.
Ciha mulai mempercepat langkahnya setelah mendengar ucapan Lingga.
"Sepertinya kita harus terbiasa tidur dialam terbuka". Mentari sedikit bersingut.
Setelah meninggalkan desa cukup jauh mereka memutuskan beristirahat di dekat sungai. Butuh waktu setengah hari lagi untuk sampai di tebing bukit kelam.
"Kita istirahat sejenak, setelah melewati hutan ini kita akan sampai di perbatasan kadipaten Karang sari". Ciha meletakan barang bawaannya dan mengajak Sabrang mencari perlengkapan untuk membuat perapian.
Sabrang bersama Ciha segera mengumpulkan beberapa ranting kayu. Mentari memilih duduk dibawah pohon besar dan mengeluarkan perbekalan yang dibawa dari sekte bintang langit sedangkan Lingga langsung duduk dan bermeditasi.
"Siapa pendekar pendekar yang ada didesa tadi?". Ciha bertanya pada Sabrang saat mereka mulai mengumpulkan kayu bakar.
"Aku tidak tau namun sepertinya mereka terusik dengan kehadiran kita". Ucap Sabrang pelan.
Lingga membuka matanya sambil menggeleng pelan. "Kita kedatangan tamu, bersiaplah". Dia mengambil pedang yang diletakkan tak jauh dari tempatnya duduk.
Mentari kembali memasukan bekalnya dan menaruhnya di dekat pohon besar disebelahnya. Terlihat belasan pendekar menghampiri mereka dengan wajah tidak bersahabat.
"Aku tidak tau kemana tujuan kalian tapi sebaiknya kalian pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran". Salah satu pendekar yang auranya sedikit berbeda dari yang lainnya berteriak keras.
"Apakah hutan ini milik kalian?". Lingga tertawa mengejek.
"Tak perlu banyak bicara dengannya, habisi saja mereka sekarang". Pendekar lainnya mencabut pedang dan langsung menyerang Lingga.
"Aku paling benci jika ada yang mengganggu meditasiku". Sesaat setelah bicara Lingga menghilang dari pandangan.
"Bagaimana bisa....". Pendekar itu belum sempat menyelesaikan ucapannya ketika tebasan Lingga memisahkan kepalanya dari tubuhnya.
Pendekar lainnya serempak mundur selangkah setelah mengetahui kemampuan Lingga. Mereka sadar kemampuan Lingga jauh diatasnya.
"Kalian pikir aku akan melepaskan kalian setelah kalian menggangguku". Lingga tersenyum dingin sambil memutar pedangnya.
__ADS_1
Beberapa detik kemudian satu persatu pendekar itu jatuh meregang nyawa tanpa bisa berekasi.
"Sepertinya perjalanan kita kali ini akan sangat panjang". Lingga menyarungkan pedangnya sesaat sebelum puluhan pendekar lainnya berdatangan.
"Mundur". Sabrang menarik tubuh Ciha kebelakangnya saat puluhan pendekar muncul dihadapannya.
"Bukankah mereka orang orang yang ada didesa tadi?" Bisik Ciha.
Sabrang hanya mengangguk sambil terus memperharikan pendekar yang terus berdatangan mengepungnya.
"Apakah kita mempunyai masalah?". Sabrang masih mencoba berbicara. Dia masih memikirkan cara bertarung sambil melindungi Ciha. Sabrang merasakan aura yang keluar dari tubuh para pendekar itu cukup besar, tak mudah baginya bertarung sambil melindungi Ciha.
"Sepertinya kau bukan pendekar biasa, apa yang kalian lakukan di tempat terpencil ini?". Pemimpin pendekar itu bicara pada Sabrang.
"Apa aku harus melapor padamu kemana aku pergi?". Sabrang masih bersikap tenang dan terus berusaha mengulur waktu.
"Namaku Lodra dari sekte Racun selatan, aku tidak ingin mencari masalah dengan kalian. Ku harap kalian pergi dari sini baik baik dan aku akan memerintahkan mereka mundur".
Sabrang menggeleng pelan, dia merasa mereka tidak bisa diajak bicara baik baik. "Segel apa yang kau kuasai?". Tanya Sabrang tiba tiba.
"Kelompok ku pengguna segel udara namun aku juga bisa menggunakan segel kabut". Jawab Ciha bingung karena Sabrang bertanya ilmu segel disaat seperti ini.
"Itu sudah cukup". Sabrang tiba tiba melepaskan aura hitam pekat membuat beberapa pendekar mundur selangkah karena terkejut merasakan aura yang begitu besar.
"Lima menit? bukankah....".Belum selesai Ciha menyelesaikan ucapannya tubuh Sabrang sudah menghilang dari pandangan.
Ciha langsung merapal jurus segel kabut sesuai perintah Sabrang. Setelah telapak tangannya menyentuh tanah tiba tiba kabut tebal menyelimuti area disekitar Ciha.
"Segel kabut? dia pengguna segel". Teriak salah satu pendekar.
"Aku lawan kalian". Sabrang muncul ditengah mereka dan langsung menyerang dengan tinju kilatnya. Beberapa pendekar yang terkena serangannya terpental jauh tanpa bisa berdiri lagi.
Para pendekar itu mundur selangkah dan serentak mencabut pedang mereka.
"Jangan takut dia tidak menggunakan senjatan sehebat apapun jurus tinjunya tidak akan mampu mengalahkan pedang kita". Mereka bergerak membentuk formasi dan menyerang bersamaan.
Kalian benar benar meremehkanku". Sabrang bergerak menyambut serangan mereka.
"Apa dia sudah gila, menyambut serangan pedang dengan tangan kosong". Ucap salah satu pendekar yang mengayunkan pedangnya tepat kearah Sabrang.
Aura merah darah tiba tiba menyelimuti tubuh Sabrang diiringi dengan munculnya pedang Naga api ditangannya.
"Dari mana munculnya pedang itu?". Mereka berusaha menarik serangannya namun semua terlambat.
"Tarian Iblis pedang". Sabrang memutar pedangnya dan membentuk lingkaran. Tebasan cepatnya membakar semua pendekar yang berada dalam jangkauannya.
__ADS_1
"Mundur! atur formasi". Lodra berteriak pada anak buahnya.
Sabrang bergerak cepat kearah puluhan pendekar yang sedang membentuk formasi.
"Anom". Teriak Sabrang. Tak lama aura hitam membetuk keris ditangan kiri Sabrang.
Ayunan pedang dan keris dikedua tangannya bergerak cepat menghujam tubuh pendekar yang dilewatinya. Setiap langkahnya membuat para pendekar bertumbangan walau sudah berusaha keras menahan dengan formasi bertahan.
Belasan pendekar lainnya berlari kearah Sabrang yang terus bergerak menghancurkan formasi pendekar racun selatan.
Seiring dengan kecepatan Sabrang yang terus meningkat Kobaran api merah darah perlahan berubah menjadi api hitam.
Ciha memandang pertempuran dihadapannya sambil menelan ludah. Dia tidak menyangka Sabrang mampu melumpuhkan puluhan pendekar dengan sangat mudah.
Sabrang memperlambat gerakannya saat para pendekar itu membentuk formasi seribu pedang. Mereka menyilangkan pedangnya dan bergerak bersama. Beberapa pendekar terlihat memisahkan diri dan melesat dengan kecepatan tinggi untuk mengecohnya.
Sabrang membenturkan kedua pusakanya sebelum menancapkan ketanah.
"Hancurkan mereka". Sabrang berteriak keras. Tak lama dia menyeret kedua pusakanya dan mengayunkan kedepan sekuat tenaga.
Puluhan batu beterbangan seiring dengan energi hitam yang keluar dari kedua pusaka itu dan menghancurkan semua yang dilewatinya.
"Mundur!". Lodra berteriak setelah melihat energi hitam melesat kearah mereka namun belum sempat mereka bergerak ledakan energi menghatam mereka semua.
Sesaat setelah ledakan semua terasa sunyi, tak ada lagi teriakan teriakan dan suara benturan pedang beradu. Yang tersisa hanya tumpukan abu yang berserakan di tanah.
Lingga melompat mundur setelah mendengar ledakan tak jauh darinya. Dia tersenyum dingin memandang 4 pendekar tersisa yang mematung mematapnya ngeri. Mentari sendiri sudah selesai mengalahkan belasan pendekar yang menyerangnya.
"Kalian beruntung memilih menyerangku, setidaknya kalian mati dengan tubuh lengkap dan tidak menjadi abu". Lingga menghilang dan muncul dari belakang dengan tebasan cepatnya. Tebasan terakhir Lingga tepat mengenai area vital mereka. Lingga menyarungkan pedangnya saat keempat tubuh pendekar itu tumbang ketanah.
"Apa yang dilakukannya selama dua bulan ini? sepertinya kemampuannya kini berada setingkat diatasku". Lingga mendengus kesal.
***
"Kalian merasakannya?". Maruta menatap 3 pendekar petir yang duduk dihadapannya.
"Itukah kekuatan Naga api? Aku jadi tidak sabar mencoba kekuatannya". Salah satu pendekar petir menyeringai.
"Bersabarlah sedikit, aku yakin dia bergerak menuju Dieng". Maruta tersenyum kecil. Dia menyembunyikan kedua tangannya dibawah meja, terlihat kedua tangannya bergetar setelah merasakan ledakan tenaga dalam tak jauh dari tempatnya beristirahat.
"Apa ini yang namanya rasa takut? Sudah lama sekali aku tidak merasakannya". Gumam Maruta dalam hati.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Yuk bantu Vote Vote Vote Pedang Naga Api lagi
__ADS_1