
"Saat nya mengakhiri pertempuran ini, masih banyak kadipaten yang harus ku taklukan secepatnya". Raksaka mengeluarkan jurus andalannya untuk mengakhiri perlawanan Mentari.
"Sepertinya aku terpaksa menggunakan jurus itu". Mentari terlihat merapal sebuah jurus.
Ketika Raksaka mulai bergerak tiba tiba terdengar gemuruh gendang ditabuh dari segala arah. Tunggul umbara menghentikan sejenak serangannya dan melihat kesekelilingnya dengan wajah tegang.
Pengalamannya sebagai Patih yang sudah puluhan tahun berperang menyadari suara gendang itu sebagai tanda perang akan dimulai.
"Apa yang terjadi? siapa yang menabuh genderang itu?".
Belum sempat pertanyaannya terjawab, dari berbagai penjuru ratusan prajurit berlarian bagai ombak dilautan. Tak lama puluhan anak panah beterbangan kearah mereka membuat prajurit Majasari panik bukan main.
"Bagaimana ini bisa terjadi?". Tunggul umbara memutar tombaknya membentuk lingkaran untuk menghalau ratusan anak panah yang terarah padanya.
Raksaka melompat mendekati Tunggul umbara sambil menghindari anak panah yang terarah padanya.
"Tuan patih apa yang terjadi? bagaimana mereka bisa ada disini?".
Tunggul umbara tampak tak menghiraukan pertanyaan Raksaka, dia memutar otaknya untuk menghentikan serangan panah secepatnya atau makin banyak prajuritnya meregang nyawa.
"Bentuk formasi tameng Elang". Tunggul umbara berteriak pada prajuritnya yang kocar kacir menyelamatkan diri dari serangan panah.
Tak lama puluhan prajurit membentuk formasi menggunakan tameng pelindung ditangannya. Namun semua sudah terlambat, situasi saat ini sangat kacau. Beberapa prajurit yang mencoba membentuk formasi tameng elang masih harus menghadapi serangan pasukan angin selatan yang dipimpin oleh Restu. Mereka seolah mendapat semangat baru setelah melihat ratusan prajurit menyerang pasukan Majasari.
Mentari memilih mundur beberapa langkah sambil mengembalikan staminanya.
"Kurang ajar kau Jaladara". Tunggul umbara berteriak sambil memacu kudanya menyambut serangan yang terarah padanya.
Kedua pasukan pun beradu, Saling pukul, tombak dan pedang berbenturan dalam satu waktu.
Terlihat sesosok tubuh seperti berjalan diudara bergerak cepat kearena pertempuran. Bukan tubuh kecilnya yang menjadi perhatian semua orang di sana baik pasukan Majasari maupun Saung galah namun aura hitam pekat yang menekan seluruh area pertempuran bahkan Raksaka yang merupakan ketua Golok setan dibuatnya bergidik.
"Anom". Sabrang mengangkat tangan kanannya keatas.
"Aku datang". Gumpalan aura di tubuh Sabrang membentuk sebuah keris dan melesat kearah tangannya.
__ADS_1
"Kau yang bernama Tunggul umbara". Sabrang berbicara sesaat setalh tubuhnya menyentuh tanah.
Tunggul umbara hanya terdiam sambil menatap tajam pendekar dihadapannya. Seluruh tubuhnya bahkan sulit digerakan saat ini namun Tunggul umbara berusaha menutupinya agar semangat tempur pasukannya tetap terjaga.
"Kekuatannya seperti tanpa batas". Tunggul umbara masih terdiam, dia berusaha melepaskan aura yang menekannya.
"Aku Lawanmu". Raksaka tiba tiba bergerak menyerang Sabrang namun tiba tiba tubuhnya terpental tanpa dia tau sebabnya.
Sabrang menatap tajam Raksaka "Setelah aku mengurusnya kau berikutnya".
Sabrang kembali teringat perkataan Wardhana saat mereka berbicara di hutan tempat persembunyiannya beberapa saat lalu.
"Harus diakui saat ini kita kalah jumlah pasukan dengan Majasari walaupun semua pasukan Saung galah dikumpulkan. Namun ada satu celah yang ingin hamba manfaatkan Yang mulia".
"Celah?". Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Semangat tempur Yang mulia". Wardhana menarik nafas pelan sebelum melanjutkan ceritanya.
"Kekuatan pasukan bukan satu satunya faktor yang menentukan kemenangan. Semangat tempur sebuah pasukan juga berperan besar untuk menentukan kemenangan dan Paksi menyadari itu.
"Dari mana paman tau jika sasaran pertama mereka Kadipaten Citra jaya? bagaimana jika tebakan paman kali ini salah?". Sabrang bertanya pelan.
"Hanya kadipaten Citra jaya yang memiliki pasukan paling lemah, aku yakin Paksi akan memanfaatkan celah itu.
Salah satu prajurit kita adalah mata mata Paksi, aku menyadarinya saat memerintahkannya untuk memata matai pasukan Rogo geni. Tuan Wijaya sebenarnya ingin membunuhnya saat itu namun aku membutuhkannya untuk menjalankan rencanaku.
Paksi akan memastikan anda berada di tempat perayaan Saung galah untuk mencegah anda bergerak jika rencananya terbaca olehku. Dia mengetahui jika ilmu kanuragan anda akan membuat nyali pasukannya ciut. Dia sudah mempersiapkan rencana cadangan jika aku dapat membaca rencananya menyerang Kadipaten Citra jaya. Walau kita mengirim pasukan Saung galah ke Citra jaya maka hasilnya akan sama karena jumlah pasukan Majasari lebih banyak ditambah puluhan pendekar Golok setan.
Namun dengan kemampuan anda aku yakin akan mengobarkan semangat pasukan kita.
Rencana ini sangat berbahaya Yang mulia, namun hamba ingin anda melakukan sesuatu jika berkenan". Wardhana menundukan kepalanya.
"Katakan paman".
Wardhana terdiam sejenak, tubuhnya bergetar saat hendak mengatakan permintaannya. Dia sadar jika tindakannya kali ini akan mengakibatkan kepalanya terpisah dari tubuhnya jika Sabrang tidak setuju namun ini satu satunya cara melawan musuh yang unggul dalam jumlah pasukan.
__ADS_1
"Saat ini hanya Yang mulia yang memiliki ilmu kanuragan paling tinggi. Hamba ingin anda pergi ke kadipaten Citra jaya dan meruntuhkan semangat tempur pasukan Majasari dengan ilmu kanuragan anda. Pasukan sebanyak apapun akan terguncang jika semangat tempurnya hilang.
Jika anda bisa menngalahkan Mahapatih Majasari aku yakin semua pasukannya akan kehilangan semangat tempurnya. Saat itu dengan pasukan yang kita miliki aku yakin ada kesempatan bagi kita untuk menang".
Sabrang mengangguk pelan "Tapi bukankah paman tadi katakan jika mereka akan memastikan aku hadir di perayaan itu terlebih dahulu sebelum mereka bergerak? Jika aku ke Citra Jaya bukankah mereka akan langsung menyadari jika aku tidak hadir di sana?".
Wardhana mengambil topeng yang diletakan Sabrang di meja.
"Hamba meminta anda memakai topeng saat datang kesini untuk memberi kesan kepada mata mata Paksi yang ada di sini bahwa Yang mulia selalu menggunakan topeng jika bepergian. Besok kita akan berangkat menuju keraton Saung galah, jika hamba meminta salah satu prajurit angin selatan mengenakan topeng ini dan membawa pedang Naga Api apakah dia akan tau jika itu bukan anda?".
"Jadi itu yang membuat paman memintaku memakai topeng?" Sabrang tersenyum kecil.
"Maaf Yang mulia". Wardhana menundukan kepalanya.
"Kali ini aku mengerti kenapa paman dijuluki Naga yang tertidur".
"Yang mulia terlalu berlebihan memuji hamba". Wardhana menggeleng pelan.
"Baiklah, kuserahkan pedang Naga api ini pada paman. Siapapun besok yang menyamar menjadi diriku Jangan pernah memegang gagang Naga api paman atau seluruh energinya akan diserap Naga api sampai habis. Pedang ini sedikit liar paman". Sabrang memperingatkan Wardhana.
"Jadi selama ini Yang mulia.....". Wardhana memberanikan diri menatap Sabrang.
"Aku tidak tau kenapa Naga api tidak menyerap energiku, mungkin dia ingin aku menjadi tuannya". Sabrang tersenyum kecil.
"Ada saatnya kau akan kurasuki bocah". Suara Naga api terdengar keras di pikiran Sabrang.
Kali ini Sabrang tak dapat menahan tawanya, dia terkekeh mendengar jawaban Naga api.
Wardhana hanya mengernyitkan dahinya tanpa tau apa yang membuat Sabrang tertawa terbahak bahak.
"Jika kau tidak menjawabnya berarti ku anggap memang benar kau adalah Tunggul umbara". Sesaat setelah berbicara Sabrang menghilang dari pandangan dan muncul tepat dihadapan Tunggul umbara.
"Pusaran Angin hitam". Belum sempat bereaksi terhadap serangan Sabrang tubuh Tunggul umbara terpental cukup jauh membuat semua pasukan Majasari menoleh kearahnya.
"Kalian berikutnya". Sabrang tersenyum dingin.
__ADS_1