
"Berhenti!" Kawanda tiba tiba menghentikan langkahnya saat mendengar suara batu bergeser yang diikuti getaran besar di sekitarnya.
"Ketua, suara itu?" tanya Kanigara yang selalu mengikuti kemanapun Kawanda pergi.
"Sepertinya ada yang menutup kembali gerbang keempat, mereka ternyata lebih pintar dari yang kupikirkan," umpat Kawanda kesal.
"Ketua, aku akan pergi ke puncak gunung dan memeriksanya," balas Kanigara.
"Tidak, kau dan kelompok Latimojong akan tetap melanjutkan perjalanan bersamaku, kita sudah berada di gerbang ketiga dan tidak mungkin kembali ke puncak gunung padang. Perintahkan kelompok angin kegelapan untuk memeriksa puncak gunung dan membuka kembali gerbang itu," jawab Kawanda.
"Baik ketua," sahut Kanigara.
Kanigara kemudian berjalan mendekati puluhan pendekar yang tepat berada di belakangnya.
"Payada, bawa kelompok Angin kegelapan kembali kepuncak gunung dan buka gerbang keempat, sepertinya ada yang menutupnya kembali. Aku akan tetap melanjutkan perjalanan bersama ketua. Kita akan bertemu kembali di Nagara Siang Padang dan pastikan kau tidak gagal!" ucap Kanigara.
"Baik tuan, aku mohon diri," balas Payada sambil menundukkan kepalanya sebelum melangkah pergi bersama sepuluh pendekar lainnya.
"Dan untuk kalian semua tetap tingkatkan kewaspadaan, jika aku melihat kalian mundur sedikit saja karena takut akan Pagebluk Lampor maka aku akan membunuh kalian saat itu juga," ucap Kanigara saat melihat wajah pasukannya ragu.
Semua mengangguk cepat dan tak ada yang berani menatap wajah Kanigara saat suaranya mengeras. Mereka sadar, orang yang ada dihadapannya adalah ketua Latimojong yang merupakan kelompok tertinggi di Guntur Api.
Organisasi Guntur api memang dibentuk oleh Kawanda dari tiga kelompok yang semuanya memiliki dendam pada Lakeswara Dwipa, dan dari tiga kelompok itu Latimojong adalah kelompok terkuat.
Kekuatan Latimojong yang begitu besar kadang membuat Kawanda sendiri sedikit takut, dia bahkan tidak mengetahui masa lalu para pendekar Latimojong.
Saat Kawanda dan kelompoknya membentuk Guntur api bersama Angin kegelapan, Kanigara tiba tiba datang bersama para pengikutnya dan menyatakan ingin bergabung dengan Guntur Api tanpa menceritakan dari mana mereka berasal.
Kawanda sempat ragu menerima Latimojong namun setelah melihat kekuatan Latimojong dan memastikan musuh mereka sama, dia menyetujuinya. Itulah sebabnya dia menjadikan Kanigara sebagai orang kepercayaan, selain karena kekuatannya, dia juga merasa akan lebih mudah untuk terus mengawasi mereka selama berada didekatnya.
"Ketua," ucap Kanigara pelan.
"Kita lanjutkan perjalanan, tetap berhati hati, aku yakin di ruangan ketiga ini akan semakin banyak jebakan," balas Kawanda pelan.
"Baik ketua," Kanigara memberi tanda pasukannya untuk kembali bergerak.
Ruangan ketiga yang berada di bawah gunung padang itu sedikit berbeda dari dua ruangan sebelumnya. Jika dua ruangan awal jauh lebih besar, masuk ke ruangan ketiga menjadi sedikit menyempit, mereka bahkan harus sedikit menunduk. Bangunan mewah berlapis emas itu seolah memaksa siapapun yang masuk harus menundukkan kepala kepada sesuatu didalam gerbang kelima.
Yang membuat Kawanda semakin takjub adalah bangunan yang berada di dasar gunung padang itu suhunya konstan, tidak terlihat sedikitpun lembab walau sudah sangat lama tertutup.
"Bagaimana cara mereka membuat tempat ini, sirkulasi udara dapat menahan kelembaban ruangan ini," ujar Kawanda takjub.
"Ketua, awas!" Kanigara melesat cepat dan menarik tubuh Kawanda ketika beberapa tombak keluar dari dua sisi dinding ruangan akibat lantai yang diinjaknya bergeser.
Kanigawa menggunakan tenaga dalamnya untuk menghentikan lesatan tombak itu sebelum hancur menjadi debu.
"Berhati hatilah ketua, ruangan ini penuh jebakan," Kanigara memberi tanda anggotanya untuk berhenti melangkah sebelum dia mempelajari ruangan itu.
"Jangan ada yang bergerak satu langkah pun," teriak Kanigara sambil memperhatikan sekitarnya.
"Bagaimana dia tau jika tombak tombak tadi muncul dari dua arah? apa kau sudah pernah masuk kesini atau... siapa kau sebenarnya Kanigawa?" ucap Kawanda dalam hati sambil sesekali memperhatikan wajah orang kepercayaannya itu.
"Mohon tunggu sebentar ketua, jebakan di ruangan ini memiliki pola yang sedikit rumit dari ruang sebelumnya," ucap Kanigara.
***
Sementara itu di luar gunung padang, kelompok Sabrang terus bergerak cepat menuruni Gunung melalui jalur utama, Paksi yang tidak memiliki ilmu kanuragan terlihat di gendong oleh Candrakurama untuk mempercepat gerakan mereka.
Emmy berada di dekat Sabrang sambil memperhatikan sekitarnya, dia harus memastikan tak ada penyergapan dalam perjalanan mereka.
Sabrang tiba tiba menghentikan langkahnya saat wajah Sekar Pitaloka muncul dalam pikirannya.
__ADS_1
"Ibu?" ucapnya sambil melihat kearah Lembah Penghisap Sukma.
"Yang mulia, apa terjadi sesuatu?" Emmy mendekati Sabrang.
"Ibu, wajah ibu tiba tiba muncul di pikiranku," jawab Sabrang khawatir.
"Yang mulia, ibu ratu memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi, selain itu beliau bersama tuan Wardhana, hamba yakin beliau baik baik saja," balas Emmy menenangkan.
Sabrang tak menjawab ucapan Emmy, dia terus memperhatikan kearah Lembah Penghisap Sukma dengan wajah khawatir.
"Yang mulia, Jika anda masih khawatir, hamba akan pergi ke lembah penghisap sukma untuk memastikannya," ucap Emmy.
"Tidak perlu, benar katamu dia saat ini bersama paman Wardhana dan Dewi, kita lanjutkan perjalanan," jawab Sabrang.
***
"Jaladara melarikan diri," teriak beberapa prajurit Malwageni saat keluar dari Lembah Penghisap Sukma.
Teriakan keras itu terdengar jelas oleh para prajurit Saung Galah, membuat semangat tempur mereka runtuh seketika.
Wardhana tersenyum lebar, setelah bertempur cukup lama, dia akhirnya benar benar mengendalikan situasi.
Kedatangan Wulan sang dewi kematian benar benar membuat Guntur api dan Saung Galah bertekuk lutut. Kekuatan Wulan jauh di atas mereka walau beberapa pendekar Guntur api terlihat menguasai jurus aneh yang bisa membuat mereka menghilang.
Setelah beberapa kali melihat jurus itu, Wulan akhirnya mengetahui rahasia ajian Sirep sukma. Ajian yang diciptakan oleh Kawanda itu tidak seperti jurus ruang dan waktu yang benar benar menghilang dan masuk ruang dimensi.
Ajian Sirep sukma hanya mengandalkan kecepatan dan aura hitam untuk menunjukkan seolah olah mereka menghilang. Saat Wulan menggunakan ajian inti lebur saketi tingkat III, dia bisa melihat semua pergerakan lawan.
Hampir semua pendekar Guntur Api yang tersisa terluka parah oleh serangan gabungan Wulan dan pasukan Angin selatan di bawah pimpinan Wardhana. Beberapa pendekar yang tersisa langsung melemparkan pedang mereka sebagai tanda menyerah.
"Hentikan, kami menyerah," teriak mereka bersamaan.
Para pendekar Guntur Api memang bukan pendekar sembarangan yang takut mati namun mereka juga manusia biasa. Kekuatan Wulan jelas tidak akan bisa mereka imbangi dan adalah hal bodoh jika terus melawan orang yang sudah jelas bukan lawannya.
Wardhana berhasil mengunci gerakan mereka semua melalui pasukan pemanah, tak ada alasan untuk bertempur lagi terlebih setelah mendengar Jaladara melarikan diri.
Pertempuran terbesar antara tiga pihak itu berakhir dengan kemenangan Malwageni saat Arung yang bertarung dengan pendekar terakhir Guntur Api berhasil melumpuhkannya dengan jurus yang didapatkan dari Rubah Putih.
Setelah situasi benar benar bisa dikendalikan dan para tawanan perang sudah diikat, Wardhana mengumpulkan para komandan perang, sedangkan Tungga Dewi langsung bergerak keatas bukit untuk melihat kondisi Sekar Pitaloka.
Wardhana terdiam sejenak setelah mendengar informasi yang diberikan Arung mengenai gerakan aneh Guntur Api dan kemungkinan adanya jalan rahasia menuju Nagari Siang Padang.
Dalam keadaan masih terluka dan bau anyir darah yang menusuk hidung, Wardhana membagi tugas pada prajuritnya untuk mengatasi situasi yang masih kacau akibat pertempuran besar itu.
"Arung dan Sora pimpin pasukan untuk menyisir Lembah Penghisap sukma dan temukan perkemahan Jaladara apapun caranya, aku tidak ingin dia lolos!" ucap Wardhana tegas.
"Jaladara? bukankah anda tadi mengatakan dia telah melarikan diri?" Wulan tampak bingung.
"Itu hanya jebakan, aku meminta Sora berteriak seperti itu untuk meruntuhkan semangat tempur mereka. Saat ini Jaladara adalah simbol takluknya Saung Galah, tangkap apapun caranya!"
"Baik tuan," jawab mereka bersamaan.
"Kertapati, tarik semua pasukan kembali ke Keraton, obati semua yang terluka dan kurung para tahanan perang. Masih ada yang harus aku lakukan, dan selama aku pergi kau akan bertanggung jawab atas keamanan keraton.
Tutup semua akses masuk ibukota selama aku belum kembali dan bunuh siapa saja yang memaksa masuk keraton," ucap Wardhana sebelum menunjuk beberapa titik di gulungannya.
"Hal paling menakutkan saat perang bukan saat bertempur tapi setelah peperangan. Kondisi pasukan yang kelelahan dan banyak yang terluka bisa dimanfaatkan orang lain jadi pastikan seluruh akses ke keraton tertutup," perintah Wardhana.
"Hamba menerima perintah," jawab Kertapati keras.
Wardhana menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya, dia seolah ingin mengistirahatkan tubuhnya sejenak karena pertempuran kali ini benar benar menguras energinya.
__ADS_1
Melawan dua musuh jelas bukan perkara mudah, salah sedikit saja dia melangkah, kedua musuhnya bisa bersatu dan menyerang Malwageni bersamaan.
"Jika Yang mulia tidak bertemu dengan mereka di jalur utama, kemungkinan jalan rahasia itu tidak berada di sekitar jalur itu. Aku belum bisa memperkirakan di mana jalan rahasia itu namun sebaiknya kita ke jalur utama terlebih dahulu dan lihat apa yang bisa kutemukan di sana."
Setelah memastikan semua mengerti perintahnya, Wardhana bergerak kearah bukit untuk melihat kondisi Sekar Pitaloka.
Wajahnya menjadi buruk saat melihat tubuh Sekar diselimuti bongkahan es besar, dia berlutut dihadapan Sekar sambil menundukkan kepalanya.
"Hamba gagal melindungi anda Ibu ratu," ucapnya lirih, bayangan kegagalan melindungi Arya Dwipa puluhan tahun lalu kembali membayangi pikirannya.
Tungga Dewi terlihat mengalirkan energi murninya untuk membantu denyut kehidupan Sekar Pitaloka tetap bertahan walau semakin lemah, sedangkan Mentari sengaja menyelimuti tubuh Sekar dengan es agar menjaga tubuh Sekar tetap duduk selama Tungga Dewi mengalirkan energinya.
"Paman, bagaimana situasinya?" tanya Mentari lirih.
"Nyonya tak perlu khawatir, semua sudah bisa diatasi, Saung Galah telah takluk," jawab Wardhana pelan, tak ada wajah bahagia setelah berhasil menaklukkan Saung Galah saat melihat kondisi Sekar Pitaloka.
"Sebaiknya paman menyusul Yang mulia, aku dan Gusti ratu akan mencoba menyelamatkan Ibu ratu," balas Mentari.
Wardhana tampak ragu sebelum mengangguk pelan, dia sadar bagaimanapun saat ini musuh mereka masih ada.
"Hamba mohon diri dan mohon sampaikan permintaan maaf hamba para ibu ratu saat beliau sadar," ucap Wardhana pelan.
Mentari hanya mengangguk pelan, matanya masih terlihat sembab karena terus mengeluarkan air mata.
"Apa yang harus aku lakukan Yang mulia?," ucap Mentari dalam hati.
"Lukanya sangat dalam dan dia sepertinya mendapatkan luka itu sudah lama, sangat sulit mengobatinya, energi murni wanita itu hanya memperpanjang sedikit nyawanya, saat energi wanita itu habis dia akan tetap tewas," ucap Siren.
"Sebaiknya kau diam jika hanya bisa bicara seperti itu, ternyata pusaka Tongkat cahaya putih tak lebih dari besi tua yang bersemayam roh lemah seperti dirimu. Kau dengar baik baik, apapun caranya aku akan menyelamatkan Ibu ratu," bentak Mentari kesal.
"Kau berani membentak ku?" balas Siren cepat.
"Apa yang aku takutkan darimu? kau hanya bisa merasuki tubuh penggunamu bukan? Pusaka Tongkat cahaya putih? kau membuatku tertawa, bahkan membantu menyembuhkan luka dalam saja kau tak mampu!" jawab Mentari sinis.
"Kau!" Siren tampak geram, dia mencoba merasuki tubuh Mentari untuk memberinya pelajaran.
"Kau mau merasuki tubuhku? ambillah, hanya itu bukan yang bisa kau lakukan? tak ada lagi yang aku inginkan jika menyelamatkan orang yang sangat disayangi Yang mulia pun aku tak sanggup," Mentari menutup matanya.
Siren terdiam, dia kembali menarik energinya sambil tertawa sinis.
"Manusia akan selalu lemah jika memakai perasaan dan aku tidak ingin merebut tubuhmu saat kau lemah, itu tidak akan menarik. Sebenarnya ada satu cara untuk menyembuhkan lukanya walau aku tidak yakin dengan kemampuanmu saat ini," ucap Siren.
Wajah Mentari kembali cerah, dia membuka matanya cepat.
"Katakan! apapun akan kulakukan untuk menyelamatkan ibu ratu walau nyawaku taruhannya," jawab Mentari cepat.
"Energiku tidak hanya bisa digunakan untuk meramal dan bertarung namun juga untuk penyembuhan namun kau belum mampu menguasai sepenuhnya.
Saat ini energiku masih bercampur dengan energi milikmu. Jika kau bisa memisahkan energi murni milikku, luka dalamnya bisa disembuhkan," ucap Siren pelan.
"Lalu apa lagi yang kau tunggu? cepat ajari aku caranya," balas Mentari cepat.
"Tidak mudah memisahkan dua energi tanpa ajian pemisah sukma, hanya itu caranya memisahkan energi yang tercampur di dalam tubuh, aku mungkin bisa mengajarimu namun itu membutuhkan waktu beberapa purnama dan dia tak memiliki waktu selama itu.
Saat ini dia masih hidup karena bantuan energi murni orang yang kau sebut Gusti ratu, jika energi itu habis maka dia akan tewas. Tak ada yang bisa kita lakukan saat ini," balas Siren.
"Aku hanya harus memisahkan dua energi dalam tubuhku bukan?? mungkin aku bisa melakukannya dengan menggunakan Cakra manggilingan," ucap Mentari.
"Cakra Manggilingan?" Siren Mengernyitkan dahinya.
"Cakra Manggilingan adalah ajian yang digunakan oleh Yang mulia untuk menarik energi Naga Api, aku pernah beberapa kali diajari olehnya, mungkin aku juga bisa menggunakannya untuk menarik dan memisahkan energimu," balas Mentari.
__ADS_1
"Jika kau merasa itu bisa maka cepat lakukan, energi murni wanita itu mulai habis," jawab Siren cepat saat melihat wajah Tungga Dewi mulai pucat.
"Gusti ratu kumohon bertahanlah sebentar lagi," ucap Mentari sambil menutup matanya, dia mulai mencoba menggunakan ajian Cakra Manggilingan untuk menarik energi Siren.