Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pendekar Tanpa Bayangan


__ADS_3

"Tetua Gayatri ada di ruangan paling ujung," ucap salah satu pendekar Pedang Iblis pelan saat mengantarkan Sabrang dan Elang ke ruang tahanan rahasia yang ternyata tepat berada di bawah kamar Ranggawuni.


Elang langsung berlari kearah ruangan yang terletak paling ujung, sementara Sabrang memutuskan menunggu bersama pendekar yang mengantarnya karena ingin memberikan waktu pada keduanya setelah lama terpisah.


"Siapa namamu tadi?" tanya Sabrang pelan, dia kemudian mengambil sebuah gulungan dari balik pakaiannya.


"Satrio tuan," jawab Pendekar itu dengan suara bergetar, walau Sabrang sudah berjanji tak akan membunuh mereka semua jika menyerah namun tetap saja masih ada rasa takut saat berada di dekatnya.


Setelah tewasnya dua pemimpin tertinggi sekte, para pendekar Pedang Iblis memang lebih memilih menyerah.


Selain karena sebagian dari mereka sebenarnya sudah lama tidak menyukai cara kejam yang digunakan Ranggawuni dalam memimpin sekte, tak ada yang cukup gila berani mencari masalah dengan Sabrang setelah melihat sendiri bagaimana pemuda itu mampu melumpuhkan kedua pemimpin mereka dengan begitu mudah.


"Apa kau pernah mendengar tentang seorang pendekar yang konon tinggal di danau Ranu Kumbolo?" tanya Sabrang pelan.


"Maksud anda seorang pemuda yang dijuluki Pendekar tanpa bayangan? aku tidak terlalu mengenalnya namun beberapa kabar angin mengatakan jika ada seorang pendekar muda yang menguasai ilmu segel tingkat tinggi tinggal di danau Ranu Kumbolo. Berbeda dari para pendekar dunia persilatan yang memilih pedang sebagai senjata pusaka nya, pemuda itu menggunakan sepasang tombak kembar untuk menyerang lawan lawannya.


"Tak ada yang tau apakah kabar itu benar karena hanya beberapa pendekar yang pernah melihatnya dan pengakuan beberapa warga yang merasa dibantu seorang pemuda misterius saat tersesat di gunung Semeru," jawab Satrio pelan.


"Jadi dia benar benar ada ya, bagaimana mungkin aku tidak pernah mendengar namanya," balas Sabrang bingung.


"Kudengar dia tidak menyukai dunia persilatan karena suatu hal dan lebih memilih menyendiri di danau Ranu Kumbolo, itulah kenapa namanya tidak pernah terdengar di dunia persilatan," jawab Satrio.


"Pengguna segel terbaik ya...sepertinya menarik," ucap Sabrang sambil memasukkan kembali gulungan kecil kedalam pakaiannya.


"Apa anda akan pergi ke danau itu tuan? jika benar sebaiknya anda berhati hati, karena kabarnya dia tidak menyukai kehadiran seorang pendekar di danau Ranu Kumbolo. Anda mungkin memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi tapi berhadapan dengan pengguna Segel jelas berbeda," ujar Satrio memperingatkan.


"Tidak perlu khawatir, aku beberapa kali pernah berhadapan dengan pengguna segel, walau sedikit sulit namun setiap ilmu kanuragan apapun pasti memiliki kelemahan."


"Tapi dia berbeda dari pengguna segel kebanyakan tuan, aku pernah diminta ketua untuk mencari keberadaannya dan menurut kabar penduduk desa yang berada di kaki gunung Semeru, pemuda itu mampu menggabungkan ilmu tombak dengan segelnya yang membuat serangannya jauh lebih mematikan," balas Satrio.


Sabrang mengakhiri percakapan mereka saat melihat Elang berjalan kearahnya bersama seorang wanita lusuh dan sangat kurus.


"Bibi, mari aku bantu," Sabrang memapah tubuh wanita itu keluar dari ruang tahanan bersama Elang.


"Terima kasih anak muda, apa kau salah satu murid sekte Pedang Iblis? lalu dimana pendekar yang telah menyelamatkan kita? aku ingin berterima kasih padanya," jawab Gayatri pelan.


"Ibu dialah pendekar yang aku ceritakan tadi," bisik Elang tak enak hati.


"Dia?" Gayatri tampak terkejut dan menatap Sabrang cukup lama.


"Dia masih sangat muda bahkan mungkin sedikit lebih muda dari Elang," ucap Gayatri dalam hati seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya. Dalam bayangannya, pendekar yang diceritakan Elang mampu mengalahkan Ranggawuni sudah berusia tua.


"Terima kasih nak kau telah membantu anakku dan merebut kembali sekte Pedang Iblis dari tangan kotor kakakku," ucap Gayatri pelan.


"Tak perlu sungkan bibi itu sudah menjadi tugasku karena sekte Pedang Iblis masuk dalam wilayah Saung Galah," balas Sabrang.


"Saung Galah? kau utusan keraton Saung Galah?" tanya Gayatri cepat.


"Lebih tepatnya utusan Malwageni bibi, aku dikirim Gusti ratu untuk menyelidiki kasus hilangnya secara misterius puluhan orang yang tinggal kaki gunung Slamet dan ternyata sekte Pedang Iblis pelakunya."


Elang hanya diam saat Sabrang bicara, ada rasa canggung setelah mengetahui jati diri Sabrang yang sebenarnya.


"Aku akan memulai kembali semuanya dari awal , sepertinya kakakku membuat kekacauan yang tidak sedikit. Setelah semua siap kau akan menggantikan ibu nak," ucap Gayatri sambil menarik nafas panjang.


"Maaf ibu, aku sudah memutuskan untuk mengabdi pada Mallwageni," sahut Elang cepat.


"Mengabdi pada Malwageni?" Gayatri mengernyitkan dahinya bingung.


***

__ADS_1


Wardhana menutup satu satunya gulungan catatan yang berhasil dia temukan di Puncak Suroloyo saat kembali lagi ke tempat itu bersama Arsenio dan Hanggareksa.


Dia menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya sambil memejamkan mata. Tidak sesuai dengan perkiraannya, secara mengejutkan tak ada catatan apapun yang ditinggalkan Lemuria di puncak Suroloyo.


"Untuk peradaban sebesar Lemuria sangat aneh jika tidak ada satupun catatan yang menggambarkan kehidupan mereka, semuanya seolah menghilang secara misterius," ucapnya dalam hati.


Wardhana kemudian membandingkan dengan Dieng milik suku Iblis petarung dan daratan Masalembo yang semuanya tercatat dengan sangat baik.


"Apa mungkin sengaja dihilangkan karena suatu hal?"


Satu yang masih menjadi pertanyaan besar bagi Wardhana adalah dari mana peradaban Lemuria mendapatkan ilmu pengetahuannya karena menurut Naga Api kitab Sabdo Loji hanya menuliskan semua ilmu pengetahuan yang dimiliki peradaban itu tanpa menyebutkan sumbernya.


"Apa isi kitab itu murni dari pemikiran pemimpin tertinggi Lemuria atau ada seseorang yang membimbingnya?"


"Kau ingat apa yang aku katakan dulu? jika pikiranmu buntu cobalah melihat situasi dari sudut pandang yang berbeda, Wardhana," Paksi muncul dari balik pintu sambil membawa sebuah gulungan lusuh ditangannya.


"Guru?" Wardhana bangkit dari duduknya dan memberi hormat sebelum mempersilahkan Paksi duduk.


"Misteri yang ditinggalkan peradaban terlarang memang sangat mengagumkan, apa kau merasakan jika semakin kita berusaha mengungkapnya, misteri baru akan muncul dan menjauhkan kita dari mereka? seolah alam tidak mengizinkan kita membuka sejarah gelap yang sengaja dihilangkan oleh sesuatu," ucap Paksi sambil tersenyum.


"Sejarah gelap yang sengaja di hilangkan?" Wardhana mengernyitkan dahinya bingung.


"Aku menemukan sesuatu yang menarik setelah kau memintaku menyelidiki tentang kemungkinan Lemuria berhubungan dengan suku di luar Nuswantoro pada saat itu," Paksi membuka gulungan yang dibawanya di atas meja.


"Gulungan kuno ini dikirimkan kenalanku dari Swarna Dwipa, dan kau tau dari mana dia mendapatkan gulungan ini? daratan Sungai kuning, tempat suku Iblis petarung berasal," ucap Paksi sambil menunjuk satu baris catatan yang menceritakan tentang peradaban maju di Nuswantoro.


"Sebuah daratan Indah yang dilindungi segel aneh menyimpan ilmu pengetahuan dengan sangat rapat, kami bahkan tidak mengetahui ada begitu banyak hal menakjubkan sebelum memberanikan diri menginjakkan kaki di tempat itu.


Ketakutan kami akan sesuatu dari dalam hutan rimba seolah hilang saat mereka menyambut kedatangan kami dengan tangan terbuka. Kami belajar banyak hal dari peradaban yang sudah ada jauh sebelum batu Satam menghantam bumi Nuswantoro."


"Kau tau apa yang aneh dari catatan milik leluhur peradaban Sungai Kuning ini?" tanya Paksi pelan.


"Catatan di atas peti mati yang aku dan Ibu ratu temukan di Puncak Suroloyo jelas mengatakan jika peradaban Lemuria mulai berkembang setelah batu Satam menghantam Nuswantoro tapi suku Sungai Kuning menulis jika mereka datang jauh sebelum itu," jawab Wardhana cepat.


"Benar, sejarah yang sepertinya sengaja dihapus inilah yang menjadi dinding penghalang kita mendekati mereka dan aku yakin semua misteri tentang dari mana Lemuria mendapatkan ilmu pengetahuannya ada di periode itu," balas Paksi.


"Jadi alasan mereka memusnahkan semua catatan peradabannya adalah untuk menutup rahasia besar yang hilang dari sejarah. Sepertinya satu satunya cara membuka rahasia ini adalah menemukan dimana mereka bersembunyi saat ini," ucap Wardhana pelan.


"Dan sepertinya kita juga mendapat petunjuk itu dari catatan suku Sungai Kuning ini," Paksi kembali menunjuk beberapa baris terakhir dari gulungan itu.


"Kontilola menjadi puncak kejayaan mereka di daratan indah itu, Empat unsur kehidupan menyatu ditempat itu membentuk perisai pelindung yang sangat kuat."


"Kontilola? bukankah itu sebuah tempat yang konon berada di daratan Samudranta?" tanya Wardhana terkejut.


"Benar, bukankah daratan yang paling dihindari para pendekar dunia persilatan itu menyimpan begitu banyak misteri di dalamnya? kudengar beberapa pendekar tinggi yang mencoba masuk kedalam Kontilola tidak pernah keluar lagi sampai hari ini. Aku yakin bukan suatu kebetulan suku Sungai kuning menyebut nama itu," jawab Paksi.


Wardhana terdiam sesaat, dia tampak ragu untuk mengambil keputusan. Berbeda dengan daratan Swarna Dwipa ataupun Celebes yang pernah mereka datangi, Samudranta benar benar tempat paling berbahaya di Nuswantoro.


"Aku tau ini sangat berbahaya tapi tidak ada cara lain jika ingin mengungkap sejarah Nuswantoro yang sengaja dihapus oleh mereka. Sejarah tetaplah sejarah walau sekelam apapun semua harus tau agar kesalahan yang sama tidak terjadi lagi di masa depan," ucap Paksi pelan.


"Beri aku waktu untuk berfikir guru, jika benar sesuatu yang dihapus ada di tempat itu aku yakin tak akan mudah masuk kedalamnya," jawab Wardhana pelan.


***


Seorang pemuda tampak duduk di pinggir sebuah danau sambil menatap indahnya pantulan sinar matahari yang sebentar lagi tenggelam.


Sepasang tombak yang tertancap di hadapannya tiba tiba bergetar dan mengeluarkan aura kuning pekat dan menyelimuti tubuhnya dengan cepat.


"Apa kau tidak bisa tenang sedikit? kau mengganggu kesenanganku Kirana," umpat pemuda itu kesal.

__ADS_1


"Kesenanganmu? kau hanya duduk seharian di pinggir danau ini! kesenangan yang aneh," balas suara seorang wanita dalam pikiran pemuda itu.


"Aku sangat menyukai suasana danau yang sangat tenang ini dan jauh dari ambisi kotor orang orang yang menyebut diri mereka pendekar. Memandangnya seharian membuatku merasa berada di dimensi lain," jawab pemuda itu.


"Ketenangan danau ini tak lama lagi akan hilang jika kau tidak mendengar ucapanku bodoh, karena saat ini aku merasakan energi Iblis api sedang mendekati gunung ini," balas Kirana cepat.


"Iblis api, apa kau yakin?" wajah pemuda itu tiba tiba berubah seketika.


"Kau meragukan aku? kami diciptakan dari energi yang sama, aku tidak mungkin salah mengenalinya."


"Lalu apa yang dia cari di tempat ini?" selain danau Ranu Kumbolo tak ada apapun di tempat ini," ucap Pemuda itu bingung.


"Apapun alasan dia datang ke tempat ini aku yakin itu tidak baik, Iblis api bukan hanya energi terkuat yang tercipta dari batu Satam tapi juga ruh paling jahat yang sejak dulu selalu menguasai tubuh penggunanya dan membunuh sampai hancur. Kita harus memasang segel itu di sekitar danau untuk bersembunyi," balas Kirana cepat.


"Bersembunyi? apa kau takut?" pemuda itu mengernyitkan dahinya karena untuk pertama kalinya dia melihat ruh tombak kembarnya terlihat takut.


"Kau tidak tau seberapa kuat Iblis itu, bahkan jika kekuatanku meningkat seratus kali lipat tetap tidak akan bisa menandinginya. Yang bisa kita lakukan saat ini hanya bersembunyi menggunakan segel milikmu dan melihat apa yang sebenarnya dia cari ditempat ini."


"Sekuat itukah dia?" pemuda itu mencabut tombak kembar dihadapannya sebelum melompat keatas pohon yang berada di dekat danau.


"Kau yakin ingin aku menggunakan segel tanah? segel ini akan menguras energi kita berdua," ucap pemuda itu ragu.


"Aku lebih memilih energi milikku terkuras habis daripada harus berurusan dengan Iblis kejam itu," jawab Kirana cepat.


"Sial, tak kusangka aku akan menggunakan segel ini lagi setelah sekian lama," Pemuda itu terlihat merapal sebuah jurus sebelum aura aneh meluap dari tubuhnya bersamaan dengan kedua tombak kembarnya berputar di udara.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ada beberapa hal yang harus saya sampaikan terkait materi chapter ini.


Pertama mengenai danau Ranu Kumbolo.


Danau ini berada di dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Terletak di ketinggian kurang lebih 2.400 mdpl, suhu udara di kawasan ini sangat sejuk dan nyaman untuk bersantai.


Danau ini adalah salah satu maha karya keindahan alam yang dianugerahkan Yang Maha Kuasa kepada tanah Jawa Timur. biasanya sebelum menuju puncak semeru, di lokasi danau inilah para pendaki biasanya akan mendirikan tenda untuk istirahat ataupun bermalam. Danau yang penuh dengan misteri ini masuk sebagai latar Pedang Naga Api.



Yang kedua dan sangat menarik adalah mengenai Sejarah awal Nuswantoro yang menurut beberapa artikel sengaja di hilangkan untuk menutupi sesuatu.


Sebuah Artikel yang mungkin kalian pernah baca mengenai Sejarah tahun Saka yang 78 tahun awalnya sengaja dihilangkan.


Konon, Nusantara sudah maju sejak dulu bahkan sudah mempunyai tahun yang disebut Çãkã atau Saka. Akan tetapi, awal tahun Saka bukan 78 M, tetapi jauh sebelum itu.


Penghitungan awal mulai inilah yang menjadikan angka tahun prasasti menjadi “muda” dan sejarah maju Nusantara terdahulu menjadi “hilang”.


Çaka adalah kaum leluhur Nusantara. Ini tertulis pada relief dasar Borobudur dengan kata māhéçãkyã atau “bangsa Çãkyã Aryān yang agung”.


Banyak yang beranggapan jika tahun saka harusnya sama dengan tahun Masehi. namun jika melihat Tanggal 7 Maret 2019 di kalender tertulis Saka 1941 jadi ada selisih 78 tahun dengan Masehi. Dari mana penanggalan itu berasal? Kenapa sejarah Nusantara terdahulu tidak tercatat dalam sejarah dunia?


(Ingat ini hanya perkiraan dan teori beberapa orang, PNA hanya terinspirasi dari artikel itu u untuk membuat misteri baru, jadi jangan pernah dijadikan perdebatan).


Terakhir mengenai daratan Samudranta dan Gua Kontilola.


Samudranta adalah nama lain pulau Papua di jaman dulu. Menurut Wikipedia, pedagang Persia dan Gujarat mulai berdatangan ke Papua, juga termasuk pedagang dari India. Tujuan mereka untuk mencari rempah-rempah di wilayah ini setelah melihat kesuksesan pedagang asal China. Para pedagang ini sebut nama Papua dengan Dwi Panta dan Samudranta, yang artinya Ujung Samudra dan Ujung Lautan


sedangkan Gua Kontilola berada di Lembah Baliem, Wamena, Papua. Gua ini kerap menjadi objek wisata rujukan setelah turis diajak mendaki Lembah Baliem dan bertemu dengan Suku Dani.


Ada beberapa Lukisan aneh yang disebut menggambarkan alien dalam gua ini dan Hingga saat ini asal usul lukisan purba berbentuk alien itu masih menjadi misteri yang belum terpecahkan secara sains.

__ADS_1


__ADS_2