Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kehancuran Nuswantoro I


__ADS_3

"Kekuatannya telah kembali...kekuatan khas Aryasatya yang dulu membuatku memilihnya sebagai tuan memang selalu mengagumkan," ucap Suanggi dalam hati sambil mengamati setiap gerakan Rubah Putih. Walau hampir semua serangannya mampu di dihindari namun untuk pertama kalinya tatapan mata Mandala berubah.


Tatapan mata penuh kewaspadaan dan energi mustika Merah Delima yang menyelimuti hampir seluruh tubuh Mandala seolah menjadi sebuah pengakuan atas kekuatan pendekar berambut putih itu.


"Dia jauh lebih kuat dari waktu itu, tanpa mustika Merah Delima, apakah mungkin seorang manusia bisa bertambah kuat dalam waktu singkat?" ucap Mandala dalam hati, mata bulannya terus memperhatikan serangan Rubah Putih yang selalu berubah ubah dan sulit ditebak tanpa berkedip sambil berusaha untuk menyerang balik.


Mandala sadar, walau hampir semua serangan Rubah Putih dapat dihindari tapi jika terus berada dalam posisi bertahan, cepat atau lambat dia akan berada dalam masalah.


Menggunakan mata bulan Naraya yang sudah berevolusi dalam waktu lama akan menguras energinya, belum lagi dia harus terus membentuk perisai energi untuk menangkis serangan yang luput dari pandangan matanya.


Wajah Mandala semakin buruk karena serangan Rubah Putih seolah tanpa jeda, dia mampu menggunakan beberapa jurus dalam waktu hampir bersamaan tanpa membuka celah sedikitpun.


Setiap serangan Rubah Putih mengandung tenaga dalam yang sangat besar. Tusukan dan tebasan goloknya membuat Mandala dan mata bulannya terus tersudut tanpa bisa menyerang balik. Suanggi yang selama ini selalu menemaninya bahkan terkejut dengan perkembangan cepat tuannya itu.


"Gelap Ngamparnya jauh lebih kuat dari Rakin..."


"Sial, sepertinya aku harus menggunakan seluruh energi Mustika Merah Delima untuk keluar dari tekanan ini," Mandala merubah gerakan pedangnya, dia menarik sedikit pusaka nya dan memancing Rubah Putih mendekat sebelum menggunakan jurus menghentikan waktu.


Namun baru saja dia akan menggunakan jurus menghentikan waktu, gerakan Rubah Putih berubah dengan cepat seolah mampu membaca pikiran Mandala, dia berputar dan mengarahkan goloknya ke arah leher lawannya.


"Jurus menghentikan waktu? aku sangat mengenal mata itu karena dulu kami sering berlatih bersama dan Naraya selalu memberitahukan kelemahan matanya."


Mandala tampak terkejut, dia menangkis serangan itu dan memanfaatkan efek benturan untuk melompat mundur.


Mandala terlihat sedikit oleng saat kakinya mendarat di tanah, walau berhasil menangkis serangan itu namun angin yang dihasilkan dari ayunan golok Rubah Putih tak kalah kuat dari serangan itu sendiri.


Mandala tiba tiba merasakan sakit di tubuhnya sebelum tetesan darah mulai terlihat dari balik pakaiannya.


"Tidak mungkin... aku sudah menyelimuti tubuhku dengan energi Mustika Merah Delima, bagaimana mungkin serangannya masih bisa melukaiku dan menembus perisai itu," ucap Mandala terkejut.


"Apa kau pernah mendengar tentang Gelap Ngampar? Tenaga dalam yang hanya dimiliki oleh keturunan Aryasatya memiliki karakteristik unik yang bisa menembus perisai energi apapun termasuk pusaka Merah Delima," balas Rubah Putih sambil tersenyum.


"Bagaimana kau bisa menyempurnakan tenaga dalam itu? ribuan tahun kita mencoba menyempurnakannya tapi tak pernah berhasil dan kau kini menggunakannya dengan sesuka hati," tanya Suanggi cepat.


"Seperti yang dikatakan Sekar Pitaloka padaku, semua ilmu kanuragan berpusat di cakra mahkota dan selama ini kita mengabaikannya. Andai dulu aku sudah menguasai jurus ini mungkin mimpi buruk terkurung di ruang dimensi tak perlu kurasakan," Rubah Putih kembali bergerak, gerakannya semakin cepat bersamaan dengan luapan aura yang meluap dari tubuhnya.


"Tidak.. seharusnya tidak seperti ini, dengan kekuatan Mustika Merah Delima aku harusnya lebih unggul darimu dalam hal apapun!" ucap Mandala kesal, dia menyambut serangan Rubah Putih dengan seluruh kekuatannya.


Suasana Keraton langsung berubah mencekam, gesekan dua kekuatan besar menghancurkan apapun yang ada di sekitarnya. Semua pendekar yang sedang bertarung disekitarnya serentak menghentikan serangan, mereka bergerak menjauh secepat mungkin untuk menyelamatkan diri.


"Inikah kekuatan sebenarnya tuan Rubah Putih?" Arsenio menelan ludahnya saat merasakan tubuhnya lemas seketika akibat tekanan aura mereka.


"Apa apaan ini..." Arung yang muncul bersama Ardhani dan puluhan pendekar Lembayung Hitam tampak terkejut saat melihat pertarungan Rubah Putih dan Mandala.


"Bukan saatnya untuk terkejut, kita harus mengungsikan semua orang dari keraton," Ardhani bergerak kearah para pendekar yang masih mematung melihat pertarungan dihadapannya.


Melihat Ardhani bergerak kearah mereka, belasan Pendekar Lembayung Merah langsung bersiap menyerang.


"Cukup! Apa pertarungan masih begitu penting bagi kalian di saat seperti ini? Kelompok Lembayung Merah sudah jauh tersesat tapi belum terlambat untuk menghentikan semua ini!" teriak Ardhani kesal.


"Tersesat? kami hanya ingin mengembalikan peradaban kita dulu dan dengan..."


"Apa kalian tidak sadar telah diperalat oleh Li You Fei demi ambisi pribadinya? merebut tubuh tuan Sanjaya apapun alasannya adalah sebuah kejahatan! Apa tugas Lembayung Merah adalah melindungi orang yang telah menghancurkan peradaban kita? Jika Li You Fei ingin mengembalikan Lemuria lalu untuk apa dia berusaha menghancurkan dunia persilatan? Ajaran tertinggi peradaban kita adalah saling melindungi bukan menggunakan kekuatan untuk menghancurkan orang lain seperti ini, itulah kenapa tuan Sanjaya merangkul suku Atlantis," potong Ardhani cepat.


Para pendekar Lembayung Merah terdiam, walau masih ada keraguan di hati mereka tapi tak ada satu patah katapun terucap untuk membantah ucapan Ardhani.

__ADS_1


"Jika kalian memang masih ingin bertarung, aku akan melayaninya dengan senang hati tapi tidak disini, kita semua bisa mati konyol jika terus berada ditempat ini," ucap Ardhani sambil menoleh kearah pertarungan Rubah Putih dan Mandala.


"Jadi selama ini..."


"Tuan Ardhani, menghindar!" teriak Arung cepat saat melihat tubuh Mandala terlempar kearah mereka.


Ardhani langsung menoleh, dia sempat melihat Mandala merubah gerakannya di udara sebelum melepaskan jurus pedangnya.


Kejadian yang sangat cepat itu membuat Ardhani tidak mampu bereaksi, dia terlihat pasrah saat pedang Mandala mengarah ke lehernya.


"Tuan!" pendekar Lembayung Merah yang tadi bicara padanya berusaha menarik tubuh Ardhani namun baru saja dia bergerak selangkah, waktu tiba tiba terhenti, tidak hanya di keraton tapi di seluruh Nuswantoro.


Rubah Putih yang masih melayang di udara terlihat bingung saat tubuhnya tak bisa digerakkan. Awalnya dia mengira semua adalah ulah Mandala yang menggunakan jurus menghentikan waktu namun saat melihat wajah Mandala yang tak kalah bingung, dia tersadar sesuatu yang besar sedang terjadi.


"Jika bukan Mandala, lalu siapa yang melakukan ini semua?" Rubah Putih semakin terkejut saat tenaga dalamnya perlahan keluar dari tubuhnya tanpa bisa dihentikan.


Belasan lubang dimensi tiba tiba terbentuk di seluruh penjuru langit Nuswantoro dan menghisap semua energi alam termasuk energi tenaga dalam para pendekar.


Tubuh Mandala tiba tiba bergetar dan mulai melayang di udara, dia berteriak kesakitan saat Mustika Merah Delima perlahan keluar dari dalam tubuhnya.


"Apa yang terjadi...tidak, mustika ini milikku!" teriak Mandala sambil berusaha menjangkau lengan Ardhani saat tubuhnya mulai terhisap lubang dimensi.


Mandala sebenarnya berhasil mencengkeram lengan Ardhani namun itu tak bertahan lama karena seluruh tenaga dalamnya habis terhisap bersamaan dengan keluarnya mustika Merah Delima dari tubuhnya.


Pegangan tangannya terlepas bersamaan dengan jeritan kesakitan, Mandala sempat menatap Rubah Putih seolah meminta dia membunuhnya untuk menghentikan rasa sakit luar biasa yang dirasakannya sebelum tubuhnya hancur saat tujuh batu mustika keluar dan terhisap kedalam lubang dimensi yang ada di atas langit Keraton.


Rubah Putih yang tidak bisa berbuat apa apa hanya menutup matanya sesaat saat tubuh Naraya hancur seketika.


"Suanggi! apa yang sebenarnya sedang terjadi?" teriak Rubah Putih sambil berusaha menahan tenaga dalamnya keluar dari tubuhnya.


Tak jauh berbeda dengan Rubah Putih, para Pendekar Lembayung bersama Arung dan Ardhani terlihat pucat karena tenaga dalam mereka juga terhisap lubang dimensi.


"Gawat, jika terus seperti ini cepat atau lambat aku akan mati seperti Mandala," umpat Arung sambil menahan tenaga dalamnya keluar sekuat tenaga.


Saat kesadaran Arung mulai hilang, lubang dimensi lain muncul tepat didekatnya.


"Akhir dari perjalananku?" ucapnya sebelum pandangannya benar benar gelap.


***


"Siren! Apa yang terjadi?" tanya Mentari panik saat mendengar teriakan kesakitan puluhan pendekar Lembayung yang berada di hutan kematian, dia semakin bingung karena tubuhnya tak bisa digerakkan sedikitpun.


"Sesuatu telah menghentikan waktu dan menghisap semua energi alam. Dengarkan aku, gunakan seluruh energi milikku dengan Cakra Manggilingan untuk menahan tenaga dalam terhisap atau kau akan mati seperti mereka!"


Tongkat Cahaya Putih terlihat berputar di udara dan membentuk perisai energi yang melindungi tubuh Mentari.


Mentari terpaksa memejamkan matanya saat belasan pendekar meregang nyawa dengan wajah pucat, teriakkan kesakitan dan minta tolong terdengar sangat jelas di telinganya.


"Yang mulia... Apa yang harus aku lakukan?" ucapnya lirih.


Hutan Kematian seolah berada di dimensi lain, tak ada yang bisa bergerak sedikitpun termasuk butiran debu yang beterbangan di udara.


"Kakang, apa yang sebenarnya terjadi? tenaga dalam milikku perlahan meluap tanpa bisa dihentikan," Wajah Jaya Setra mulai pucat dan keringat dingin bercucuran di tubuhnya.


"Dia sudah bangkit dan akan menghisap semua energi di dunia ini...kita terlambat..." ucap Layang Yuda pelan.

__ADS_1


"Dia...maksud kakang..."


"Berhenti bicara dan hemat tenaga dalam milikmu bodoh," potong Layang Yuda sambil terus berfikir.


Pandangan Layang Yuda tiba tiba terhenti saat menatap mata bulan Minak Jinggo yang kebetulan berada tak jauh dihadapannya.


"Jangan memandangku seperti itu, jika aku bisa melepaskan diri dari situasi ini mungkin aku sudah pergi meninggalkan kalian semua," ucap Minak Jinggo pelan.


"Apa mata itu masih berfungsi?" tanya Layang Yuda cepat.


"Kau ingin mencobanya dan merasakan terkurung di..." Minak Jinggo tiba tiba menghentikan ucapannya saat menyadari sesuatu.


"Kau sudah sadar? bawa kami ke dimensi mata bulan milikmu, itu satu satunya cara untuk lepas dari jurus aneh ini sambil berfikir cara menghentikannya," ucap Layang Yuda cepat.


"Tapi aku tidak yakin bisa membawa kalian semua karena separuh tenaga dalamku sudah terhisap lubang aneh itu," jawab Minak Jinggo.


"Begitu ya..." Layang Yuda terlihat berpikir sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.


"Bawa aku, nona pemilik Tongkat cahaya putih, pemuda pengguna tongkat kembar itu dan tuan Wardhana, aku membutuhkan kekuatan mereka untuk membuka sesuatu."


"Tuan Wardhana? bagaimana mungkin aku bisa membawanya ke ruang dimensi jika..."


"Cari dia bagaimanapun caranya! dia harapan kita satu satunya," potong Layang Yuda.


"Ba..baik tuan... bersiaplah, semoga tenaga dalamku belum habis," Minak Jinggo mengaktifkan mata bulannya dan menghisap Mentari, Winara dan Layang Yuda bersamaan.


"Bertahanlah Setra, aku akan kembali," ucap Layang Yuda sebelum tubuhnya terhisap lubang dimensi.


"Jangan pikirkan aku kakang, hentikan semua ini atau Nuswantoro dan seisinya akan hancur," balas Jaya Setra cepat.


***


Kepulan asap hitam yang keluar dari celah celah batu persembahan membuat Wardhana terkejut, dia yakin sesuatu sedang terjadi didalam ruangan itu namun tidak mampu berbuat apa apa karena tubuhnya tak bisa digerakkan.


"Gawat, efek jurus Mengendalikan waktu sepertinya mulai terjadi," ucap Wardhana panik.


Perlahan namun pasti, kepulan asap hitam itu membentuk sesosok tubuh manusia dengan mata memerah.


"Apa aku sudah terbebas?" kepulan asap hitam itu tiba tiba melepaskan aura yang sangat besar bersamaan dengan suara ledakan yang memekakkan telinga.


Dia menoleh kearah Wardhana yang masih belum bisa menggerakkan tubuhnya.


"Berikan aku energi kehidupanmu," Mahluk itu mengarahkan tangan kanannya ketempat Wardhana berada. Tubuhnya tiba tiba melayang di udara sebelum terhisap dengan cepat.


"Jurus mengendalikan waktu akan merusak ruang dimensi dan melepaskan mahluk terkuat alam semesta. Maafkan aku Yang mulia, sepertinya aku gagal kali ini," Nafas Wardhana terhenti sesaat ketika kepulan asap hitam itu mencengkeram lehernya.


"Manusia seharusnya tidak pernah melawan alam dengan menciptakan jurus seperti itu," kesadaran Wardhana perlahan hilang saat energinya terhisap mahluk itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Selamat sore Jomblowan Jomblowati yang ada di seluruh Nusantara. Kemarin saya terpaksa libur karena ada keperluan mendadak dan baru pulang sore hari jadi tidak sempat untuk update. Semoga kalian mengerti....


Untuk mengikuti perkembangan Geger di Tanah Nusantara silahkan kunjungi Instagram Author (rickyferdianwicaksono).


Kemarin, ada yang marah marah karena merasa terhina di panggil Jomblo, saya lupa nama akunnya... Oke demi kemaslahatan bersama dan tidak ada lagi yang tersinggung saya akan ganti Nama Jomblo menjadi \= Mahluk gak laku yang gampang tersinggung wkwkwkwkwk

__ADS_1


Terima Gajih...


__ADS_2