
Tubuh Sabrang terus meluncur ke dasar jurang dengan kecepatan tinggi.
"Sekarang apa yang harus kulakukan, jika tubuhku membentur dasar jurang dengan kecepatan ini aku akan mati seketika". Sabrang bertanya pada dua pusakanya.
"Aku akan mencoba melindungimu dengan serat pelindung nak namun aku tidak yakin serat ini akan mampu menahan benturan sekeras ini". Anom mengeluarkan serat pelundungnya.
Sabrang memutuskan menggunakan jurus esnya untuk memperlambat tubuhnya.
Dalam sekejap dia membuat pedang es di kedua tangannya dan menancapkan di dinding jurang. Namun tak bertahan lama, es tersebut patah dalam hitungan detik.
Dia kembali mengeluarkan pedang es yang lebih tebal dan kembali menancapkannya di dinding jurang namun lagi lagi tak bertahan lama.
Sabrang menggeleng pelan dan mulai putus asa dengan keadaan yang dihadapinya.
"Anom lepaskan segel 4 unsur ini". Ujar Naga api tiba tiba.
Anom hanya terdiam dan sedikit ragu sambil menarap Naga api.
"Cepatlah! Kua ingin bocah ini mati?". Naga api berteriak pada Anom.
Anom kemudian merapal sebuah jurus dan menempelkan telapak tangannya pada api yang berkobar dihadapannya.
Tak lama terdengar tawa yang begitu memekakan telinga.
"Sudah lama sekali aku tidak bisa mengeluarkan seluruh kekuatanku sejak Suliwa terakhir kali menggunakanku".
"Ulurkan lenganmu bocah, cepat". Naga api membentak Sabrang.
Tubuh Sabrang tiba tiba diselimuti kobaran api yang sangat besar.
Saat tubuh Sabrang membentur dasar jurang suara ledakan dan guncangan besar menggema didalam jurang itu.
***
Lingga membuka matanya saat merasa ada langkah kaki yang mendekatinya. Dia segera menyambar pedangnya dan bersikap siaga.
"Tenang tuan, Namaku Daniswara. Aku adalah ketua Sekte bintang selatan". Daniswara terlihat memperhatikan sekitarnya seperti sedang mencari sesuatu.
"Di mana pedang itu". Gumamnya dalam hati.
"Apa yang sebenarnya terjadi tuan?". Daniswara mendekati Lingga hati hati.
"Kau tidak tau atau pura pura tidak tau atas penyerangan kami?". Lingga menatap tajam Daniswara.
"Kalian diserang?. Tuan jangan salah paham, kami sekte bintang langit melarang penggunaan Ilmu kanuragan. Tidak ada satupun anggota sekte kami yang memiliki ilmu kanuragan kecuali ilmu meringankan tubuh".
Lingga mengernyitkan dahinya, Instingnya mengatakan jika Daniswara berbohong karena walau samar samar Lingga merasakan tenaga dalam di tubuh Daniswara namun dia memutuskan mengikuti permainannya. Prioritasnya saat ini mengobati tubuhnya terlebih dahulu sambil menunggu Mentari sadar dari pingsannya.
__ADS_1
"Ada puluhan pendekar bertopeng menyerang kami dan salah satu temanku jatuh ke jurang itu".
"Jatuh ke jurang?". Daniswara menggelengkan kepalanya. "Itu lembah tanpa dasar, aku turut bersedih dengan apa yang terjadi pada teman kalian. Sekarang mari ikut denganku terlebih dahulu, aku akan mengobati kalian". Daniswara memerintahkan beberapa muridnya untuk menggendong Mentari.
Lingga terus memperhatikan gerakan mereka dan tetap tidak menurunkan sikap siaganya.
Saat salah satu murid Daniswara merapal sebuah jurus, muncul kabut membentuk jembatan menghubngkan kedua sisi jurang.
"Jangan takut, ini aman untuk dilewati". Daniswara melangkag lebih dulu karena melihat Lingga sedikit ragu.
"Jembatan ini semacam segel kabut". Lingga bergumam dalam hati.
Dia melangkah dengan hati hati diatas jembatan itu. Bulu kuduknya bergidik ketika menoleh kebawah jurang yang gelap.
"Apakah anak itu baik baik saja?".
Setelah mereka mengembara bersama Lingga merasa jika anak itu tidak sejahat yang dibayangkannya. Selama ini Lingga merasa jika semua aliran putih adalah musuh yang harus di musnahkan.
Saat kedua orang tuanya dibunuh oleh sekelompok orang, Lingga bertekad untuk mencari siapa yang membunuh orang tuanya. Setelah dia belajar ilmu kanuragan di sekte Iblis hitam dia mulai mencari tau siapa yang membunuh keluarganya.
Beberapa tahun setelah mencari keseluruh dunia persilatan akhirnya dia mengetahui jika Sekte Jati merah yang merupakan aliran putih adalah pelakunya. Sejak saat itu kebenciannya pada Aliran putih terbentuk dihatinya.
"Kita sudah sampai tuan". Suara Daniswara membuyarkan lamunan Lingga maheswara.
"Nona ini akan kami tempatkan dikamar ujung, kamar anda disebelahnya. Setelah makan malam aku akan menemuimu di aula utama sekte bintang langit".
***
"Bagaimana dengan mereka ketua?". Jagratara berbicara pada Daniswara diruangannya.
"Biarkan dulu, aku ingin tau apa yang mereka inginkan namun kita harus mewaspadai pendekar laki laki itu, kau melihatnya sendiri bagaimana dia mengalahkan murid murid terbaikku dengan mudah. Akan sangat merepotkan jika kita melawannya saat Astaguna belum memihak pada kita".
"Baik Ketua, lalu bagaimana dengan pengguna naga api itu?".
"Dia jatuh ke lembah tanpa dasar, tanpa segel pelindung tubuhnya akan hancur membentur dasar lembah. Jika aku telah menyelesaikan masalah ini aku akan turun ke lembah itu dan mencari Naga api. Sekarang pastikan saja dua pendekar itu segera pergu dari sini". Perintah Dansiswara.
"Baik ketua". Jagratara menundukan kepalanya.
***
Lingga memutuskan untuk berkeliling sekte bintang langit, dia ingin melihat keadaan di Lembah tak berdasar tempat Sabrang terjatuh.
"Bagaimana caraku menuruni bukit ini". Lingga menatap kesekelilingnya, tak ada celah sama sekali untuk menuruninya. Semua pinggiran jurang terlalu curam untuk dituruninya.
Lingga terlihat menoleh sesaat sebelum kembali melihat dasar jurang. Senyum dingin terbentuk dibibirnya.
"Mau sampai kapan anda akan bersembunyi disitu". Lingga berbicara tanpa menoleh.
__ADS_1
Astaguna terlihat keluar dari balik pepohonan sambil tersenyum canggung.
"Pendekar dari dunia persilatan memang beda, tanpa ilmu segel pun anda bisa merasakan kehadiranku".
"Kalian terlalu merendah dengan menyembunyikan ilmu kanuragan, entah apa yang kalian rencanakan namun jika kalian berani mengusikku aku tak akan segan segan menghancurkan kalian". Lingga menatap Tajam Astaguna.
"Apa maksud anda menyembunyikan ilmu kanuragan? ilmu kanuragan dilarang disekte bintang langit". Astaguna mengernyitkan dahinya.
"Sudah kubilang kalian tak akan bisa menyembunyikan ilmu kanuragan dari mataku, yang menyerangku kemarin tidak menggunakan ilmu kanuragan dunia persilatan. Aku yakin mereka berasal dari sektemu".
"Kalian diserang?". Astaguna tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya.
Lingga menoleh kearah Astaguna dan kembali menatapnya tajam. Dia merasa reaksi yang diperlihatkan Astaguna tidak dibuat buat namun dia tetap yakin jika yang menyerangnya adalah bagian sekte bintang langit.
"Siapa kau sebenarnya?". Lingga bertanya pada Astaguna.
"Namaku adalah Astaguna, aku ketua kelompok Lintang gubuk dari sekte bintang langit. Aku benar benar tidak tau jika kalian diserang".
"Aku tau, seperti yang aku katakan kalian tak akan bisa menipu mataku. Lalu apa kau tau di mana aku bisa menemukan Andaru?".
"Andaru? kau mengenalnya?". Tanya Astaguna.
Lingga menggeleng pelan "Satu temanku jatuh kejurang ini saat kami diserang, aku mendapat pesan dari tetua Rakiti jika kami menemui masalah maka kami harus mencari Andaru".
"Teman kalian jatuh ke lembah tanpa dasar? jangan jangan dia pengguna Naga api?". Tanya Astaguna.
"Bagaimana kau tau?". Lingga menatap curiga.
"Aku sepertinya tau siapa yang menyerang kalian namun saat ini kita tidak mempunyai bukti keterlibatannya".
"Aku tak perlu bukti apapun, jika kau tau siapa yang menyerangku tunjukan padaku siapa orangnya akan kubunuh saat ini juga". Lingga mengepalkan tangannya menahan amarah.
"Pendekar ini sangat berbahaya, Daniswara membuat kesalahan besar dengan menjadikannya musuh". Gumam Astaguna dalam hati.
"Sebaiknya anda bersabar sebentar tuan, saat ini prioritas kita adalah mencari teman anda. Jika dia jatuh Lembah itu dan tidak menguasai segel pelindung maka saat ini dia sedang terluka atau bahkan sudah tewas. Kita harus secepatnya mencarinya".
"Kau tau cara turun kesana?". Lingga menunjuk dasar lembah itu.
"Lembah tanpa dasar bukan tempat yang mudah untuk didatangi. Lembah itu biasa dipakai oleh ketua Bintang langit untuk memperdalam ilmu segel. Ada sebuah gerbang di bawah ruangan ketua Sekte bintang langit yang menuju kedasar lembah itu. Jika kita bisa menyusup ke ruangan itu kita akan sampai di dasar lembah itu".
"Kenapa kita harus menyusup? bukankah kau adalah salah satu ketua Bintang langit". Lingga mengernyitkan dahinya.
"Banyak yang terjadi sebelum kedatanganmu termsuk pergantian ketua Bintang langit. Jika tebakan ku benar yang menyerang kalian adalah Daniswara. Aku yakin dia tidak akan membiarkan anda turun ke lembah itu". Astaguna berbicara pelan.
"Jadi benar kecurigaanku padanya, saat bertemu dengannya samar samar kurasakan tenaga dalam di tubuhnya". Lingga mengepalkan tangannya.
"Aku sudah curiga dia diam diam mempelajari ilmu kanuragan dan ingin mengingkari perjanjian dengan Naga api".
__ADS_1
"Perjanjian dengan Naga Api?". Lingga mengernyitkan dahinya.