
"Jadi Batara tewas oleh pendekar Iblis hitam?" Pria tua itu menatap tajam Maruta.
"Benar ketua".
"Tak kusangka Ilmu kanuragan di dunia persilatan kini telah berkembang pesat sangat jauh berbeda dari jamanku". Pria tua itu menggeleng pelan. Dia sangat terkejut mendengar kabar yang disampaikan Maruta.
Jurus pedang bayangan adalah jurus pedang terbaik dimasanya namun Batara tidak bisa berbuat banyak dihadapan Lingga.
"Jadi keris itu jatuh ke tangan Iblis hitam?".
"Sepertinya bukan ketua, aku belum tau bagaimana cerita lengkapnya namun keris itu berada di tangan pendekar muda pengguna Naga api".
"Apa katamu?" Pria tua itu tersentak kaget mendengar ucapan Maruta.
"Sepertinya anak itu bukan pemuda biasa ketua, dia menguasai jurus pemusnah raga kemudian kini Keris penguasa kegelapan ada ditangannya".
Pria itu terdiam sejenak seperti sedang berfikir, dia kemudian menarik nafasnya panjang.
"Apa mungkin dia keturunan Ken panca ketua?" Maruta berkata pelan.
"Tidak, itu tidak mungkin saat itu aku telah membunuh semua keturunan Ken panca". Wajah pria itu tiba tiba berubah setelah mendengar nama Ken panca, terlihat ada dendam terpancar diwajahnya.
"Segera temukan anak itu sebelum dia bertambah kuat dan bawa Naga api bersama keris itu kehadapanku".
"Baik ketua, aku akan mengutus Langgeng untuk mencari anak itu". Maruta menundukan kepalanya.
***
"Sekte kelelawar hijau?" Arkadewi mengernyitkan dahinya mendengar tujuan Sabrang berikutnya.
"Iya nona aku ingin melihat kondisi temanku sebelum bergerak ke Kadipaten Rogo geni". Ucap Sabrang disalah satu meja di sudut penginapan.
Arkadewi mengangguk pelan, dia masih merasa bersalah atas terlukanya Mentari. Bagaimanapun Mentari terluka saat dia meminta Sabrang menyelamatkan Ketua Sekte kelelawar hijau.
"Baiklah aku akan ikut denganmu, aku ingin meminta maaf padanya". Ucap Arkadewi sambil menundukan kepalanya.
"Lalu apa kau sudah mengetahui apa yang terjadi dengan matamu? dengan mata berwarna mencolok itu kau selalu menjadi perhatian banyak orang". Arkadewi menaham senyumnya.
"Aku belum tau nona namun sepertinya aku harus beradaptasi dengan mata ini".
"Maksud mu?" Arkadewi mengernyitkan dahinya.
"Aku merasa beberapa kali mata ini seperti melihat satu detik lebih cepat dari yang terjadi".
__ADS_1
Arkadewi tersentak kaget mendengar apa yang Sabrang katakan, dia menatap Sabrang tak percaya. Beberapa kali dia terlihat menggelengkan kepalanya sambil tetap menatap bola mata Sabrang.
"Ada yang salah dengan mataku?" Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Kau pernah mendengar tentang Mata bulan?"
Sabrang menggeleng pelan sambil menatap wajah Arkadewi.
"Dulu ayahku adalah seorang pendekar yang tergila gila dengan Mata bulan, seumur hidupnya dia habiskan mencari informasi tentang cara membangkitkan mata bulan. Bahkan dia membentuk suatu kelompok pengumpul informasi yang dia beri nama mata elang yang kini diwariskan padaku.
Namun di akhir hayatnya dia baru mengetahui jika mata bulan tidak bisa dibangkitkan dengan ilmu apapun. Mata bulan adalah mata kutukan yang hanya bisa bangkit secara alami di dalam tubuh 7 bintang".
"Mata kutukan?" Tanya Sabrang.
"Ada alasan kenapa mata bulan disebut sebagai mata kutukan. Mata itu dapat melihat kejadian beberapa detik lebih cepat dari mata biasa sehingga siapapun pemilik mata itu akan menjadi pendekar terkuat namun ada harga yang harus dibayar oleh pemilik mata itu.
Mata itu akan membutuhkan energi kehidupan untuk mengaktifkannya. Dalam tubuh setiap manusia mempunyai energi kehidupan termasuk kita. Konon saat kita mati energi kehidupan itu akan ikut hilang. Namun tidak bagi pengguna mata bulan, saat energi kehidupannya habis terserap mata itu maka roh penggunanya akan mati namun tidak dengan tubuhnya. Kau akan menjadi mesin pembunuh yang tidak memiliki perasaan.
Ayahku pernah berkata hanya satu orang yang pernah menguasai mata bulan, dia seorang pertapa sakti yang baik hati. Konon dia orang pertama yang menemukan Dieng dan di tempat itulah mata bulannya bangkit, namun kabarnya saat energi kehidupannya habis dia berubah menjadi Iblis pembunuh.
Kau tau jika mata itu memiliki ciri yang mencolok dari mata lainnya, bola matanya berwarna biru muda seperti mata milikmu". Arkadewi kembali menggeleng pelan seperti tidak ingin mempercayai sesuatu.
"Ku akui bakatmu memang hebat tuan muda namun sepertinya mustahil bagimu memiliki mata bulan, aku yakin ada penjelasan lain tentang matamu".
Walaupun Arkadewi berusaha menolak segala pemikirannya namun ciri yang pernah didengar dari ayahnya mengenai mata bulan persis seperti bola mata yang dimiliki Sabrang saat ini.
"Mereka pendekar dari Sekte Golok setan". Arkadewi berbicara setengah berbisik pada Sabrang.
"Setelah mundurnya Iblis hitam dari dunia persilatan kini Golok setan adalah sekte yang paling diandalkan Majasari. Ku dengar akhir akhir ini ilmu kanuragan mereka meningkat pesat, bahkan sekte racun selatan pun takut pada mereka".
"Majasari ya? nama yang selalu membuatku mual jika mendengarnya". Sabrang menggelengkan kepalanya.
"Kakang seperti dugaan kita antek antek Malwageni itu bersembunyi di salah satu hutan yang berada di Kadipaten Ligung". Salah satu pendekar itu berbicara setengah berbisik pada temannya.
Sabrang menghentikan aktifitas makannya setelah mereka menyebut nama Kadipaten Ligung.
"Pelankan suaramu bodoh! Kau mau semua yang ada disini mendengarnya?". Pendekar satunya menghardiknya membuat pendekar tadi menunduk menyadari kesalahannya.
"Maaf kakang".
"Segera hubungi tuan Darya, persiapkan semua pendekar kita yang ada disekitar Ligung. Tuan Paksi menginginkan kepala mereka". Pendekar itu berbisik pada temannya.
Sabrang terlihat mengangguk, setelah Anom menyatu dalam tubuhnya indra pendengaran Sabrang menjadi tajam. Dia dapat mendengar pendekar itu berbicara walau setengah berbisik.
__ADS_1
"Nona sepertinya kita harus segera pergi". Sabrang tersenyum kecil.
"Sekarang? bukankah kau tadi mengatakan jika kita akan menginap semalam disini sambil istirahat?" Ucap Arkadewi heran.
"Ada yang harus ku urus". Sabrang bangkit dan melangkah keluar diikuti Arkadewi dibelakangnya dengan wajah bingung.
Saat Sabrang berjalan di dekat meja para pendekar dari gokok setan matanya bertemu dengan mata pendekar itu sesaat.
"Ada apa kakang?". Temannya bertanya heran karena pendekar itu tiba tiba terdiam.
"Ah tidak apa apa hanya saja mata pendekar tadi sedikit aneh, bola matanya berwarna biru muda".
***
"Sepertinya ada yang harus kita bicarakan". Sabrang muncul dari balik pohon saat para pendekar golok setan itu tengah berjalan menuju Kadipaten Lugung.
"Siapa kau?" Salah satu pendekar Golok setan yang terlihat paling kuat menghunuskan pedangnya saat melihat Sabrang muncul dari balik pohon. Arkadewi terlihat mengamati Sabrang dari atas pohon.
"Aku tidak merasakan kehadirannya, siapa pendekar ini". Gumam pendekar itu sambil berusaha mengingat wajah Sabrang.
"Dia pendekar bermata biru yang tadi dipenginapan kakang". Temannya berbicara pelan.
"Ada perlu apa kalian di kadipaten Ligung?". Sabrang menatap tajam pendekar itu.
"Kurang ajar, kau mencuri dengar pembicaraan kami". Raut wajah pendekar itu berubah mengeras menahan amarah.
"Aku tanya sekali lagi, apa perlu apa kau di kadipaten Ligung?".
"Kau berani mencari masalah dengan Golok setan, terimalah akibatnya". Pendekar itu bersiap menyerang Sabrang dengan pedangnya.
Namun Sabrang terlihat bergerak lebih dulu sebelum pendekar itu bergerak seolah Sabrang sudah mengetahui kemana pendekar itu akan bergerak sehingga Cakar es nya tepat mengenai tubuh pendekar Golok setan itu.
Pendekar itu terpental beberapa meter membuat pendekar lainnya menelan ludah sambil menatap Sabrang.
"Bagaimana bisa? Dia seperti mengetahui kemana aku akan bergerak". Wajah pendekar itu menjadi pucat pasi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
***Terima kasih untuk kalian semua yang telah mendukung Pendang Naga Api sampai detik ini baik dalam bentuk Like, komen ataupun Vote.
Dukungan kalian lah yang membuat penulis sampai detik ini tetap semangat melanjutkan cerita Pedang Naga Api.
Mengenai pertanyaan tentang Give away dari Naga Api akan diberikan setiap pertengahan bulan. Semoga kita tetap bisa saling memberi semangat
__ADS_1
Dan terakhir tetap jaga kesehatan di saat virus Covid 19 sedang mewabah. Jangan lupa berdoa semoga wabah ini segera berakhir.
Terim kasih dan sehat selalu untuk kita se***mua