
"Apa ini tempatnya?" tanya Rubah Putih saat melihat sebuah danau yang sebagian telah tertutupi abu vulkanik bekas letusan gunung Merapi.
"Harusnya seperti itu tuan, tapi di mana kuil itu berada? apa mungkin aku salah arah," jawab Candrakurama sambil menggaruk kepalanya bingung.
Sepanjang mata memandang, hanya danau purba yang mereka lihat, tak ada bangunan apapun di dekat danau itu.
"Sepertinya memang ini tempatnya tapi mungkin ada sesuatu yang menutupi kuil itu," Sekar Pitaloka berjalan mendekati danau itu sambil menatap sekitarnya.
"Apa kalian liat tempat ini terlalu bersih untuk sebuah hutan, walau mereka mencoba menyamarkannya tapi jika kalian amati tempat ini sangat terawat untuk ukuran hutan yang tak pernah di datangi orang," ucap Sekar melanjutkan.
"Pengamatan anda benar benar bagus Ibu ratu, jadi kita hanya harus mencari apa yang menutupi kuil Khayangan bukan?" balas Rubah Putih pelan.
"Sayangnya itu adalah hal tersulit nya tuan, kita tidak tau segel apa yang digunakan oleh mereka," balas Sekar.
"Apa mungkin sejenis segel kabut milik Ciha?" tanya Candrakurama.
"Tidak, aku beberapa kali belajar segel itu dari Ciha dan sangat mengenal ciri aura segel kabut. Ini sepertinya jauh lebih kuat karena aku tidak bisa merasakan apapun, tempat ini seolah benar benar tidak ada bangunan apapun," jawab Sekar takjub.
"Sebaiknya kita tunggu dulu beberapa saat, aku yakin andai terjadi pertarungan Wardhana tidak akan tinggal diam. Aku akan memeriksa sekitar hutan ini, jangan turunkan sedikitpun kewaspadaan kalian," ucap Rubah Putih sebelum melesat pergi.
Sekar Pitaloka yang masih mengamati danau itu hanya mengangguk pelan, dia merasa ada yang aneh dengan danau itu.
"Aku merasa ada yang mengganggu pikiranku tapi apa?" ucapnya dalam hati.
"Ibu ratu, hamba sudah menyiapkan tempat istirahat untuk anda, mohon beristirahat sejenak," ucap Candrakurama sambil seraya menunjuk sebuah pohon besar yang berada tak jauh dari danau.
"Apa kau tidak merasa ada yang aneh dengan danau ini?" ucap Sekar Pitaloka.
"Aneh? selain separuh danau telah tertutup abu gunung merapi, mungkin hanya riak airnya yang sedikit membuatku bingung," jawab Candrakurama pelan.
"Riak airnya?" Sekar Pitaloka mulai mengerti keanehan yang mengganjal pikirannya saat menatap danau itu.
"Beberapa dedaunan yang jatuh ke danau itu menimbulkan riak gelombang tapi riak itu memantul kembali saat berada di tengah danau seolah membentur sesuatu," balas Candrakurama bingung.
"Kuil Khayangan itu berada tepat di tengah danau, walau tidak terlihat dengan mata kita karena di tutupi sesuatu tapi riak air itu jelas membentur sesuatu. Kalian bisa menyembunyikan bangunan itu dari manusia tapi tidak dari alam," balas Sekar Pitaloka tersenyum.
Sekar Pitaloka menoleh sekitarnya seolah mencari sesuatu sebelum bicara pada Candrakurama.
"Kumpulkan ranting pohon sebanyak banyaknya dan buat perapian yang besar, aku akan memancing siapapun yang ada di dalam sana keluar dan siaplah bertarung," ucap Sekar Pitaloka, dia duduk perlahan dan menyentuh air danau itu.
"Baik ibu ratu," jawab Candrakurama cepat.
"Berani menyentuh anakku, akan kubunuh kalian," ucapnya dalam hati.
Sementara itu, Rubah Putih yang sedang memeriksa hutan disekitar danau Purba tampak terkejut saat melihat lubang yang cukup besar tertutup bebatuan besar di sekitar sungai yang tepat berada diantara bukit Setumbu dan Menoreh.
Merasa tertarik dengan lubang itu, dia berjalan mendekati sungai besar yang seolah menjadi pemisah dua bukit misterius itu.
"Lubang ini sepertinya sistem pengontrol air danau itu, jadi benar ada sesuatu yang tersembunyi di tempat ini," ucap Rubah Putih pelan.
Dia mencoba menggeser batu besar yang menutupi separuh lubang itu namun tak berhasil.
"Batu ini benar benar berat," umpatnya dalam hati.
"Maaf tuan, sebaiknya anda pergi dari tempat ini sebelum kami mengusir paksa," sebuah suara mengejutkan Rubah Putih.
"Aku tidak merasakan kehadiran mereka," Rubah Putih menoleh cepat dan menemukan empat pendekar misterius mengenakan penutup wajah.
"Apa hutan ini milik kalian?" balas Rubah Putih sinis.
"Kami sudah berusaha bicara baik baik tapi anda justru mengejek kami, sepertinya hanya pertarungan yang bisa membuat anda mengerti," pendekar itu memberi tanda pada teman temannya untuk menyerang.
__ADS_1
"Aku tidak menerima perintah dari siapapun termasuk kalian," Rubah Putih menarik goloknya dan menyambut serangan para pendekar itu.
***
Setelah Sabrang memastikan tangga itu kuat untuk dilalui, Wardhana, Cokro dan Hanggareksa mulai menuruni tangga rahasia itu bergantian.
Berbeda dari ruang rahasia yang suhu ruangannya terjaga, lorong gelap itu terlihat sangat lembab bahkan berbau tidak enak. Sabrang bahkan menggunakan energi Naga Api agar lorong itu menjadi terang.
"Bagaimana mereka bisa membangun lorong sebesar ini dibawah danau purba?" ucap Wardhana takjub saat melihat lorong megah yang seolah tidak memiliki ujung itu.
"Sebaiknya perhatikan langkah kalian, lantai lorong ini sangat licin karena tergenang air," ucap Sabrang sebelum melangkah perlahan.
"Bagaimana kau bisa tau jika ruang rahasia tadi memiliki jalan rahasia?" tanya Hanggareksa pelan. Dia benar benar tidak mengerti bagaimana Wardhana bisa mengetahui jika danau purba memiliki sistem pengontrol air dan hubungannya dengan jalan rahasia dari petunjuk yang sangat sedikit.
"Dari awal aku sudah merasa jika danau ini aneh, letaknya yang rendah dan berada di antara bukit menjulang tinggi dan dengan kondisi sebagian danau sudah tertutupi debu letusan gunung merapi sangat aneh jika danau tidak meluap saat hujan terlebih danau ini juga memiliki mata air yang cukup besar.
Tanpa hujan pun seharusnya teras pertama kuil Khayangan sudah tertutup air. Aku sempat bertanya pada Cokro apa pernah kuil itu terendam air dan jawabannya membuatku terkejut, danau ini tak pernah meluap walau hujan turun sangat deras dan hanya sistem kontrol air yang bisa menjelaskan semuanya.
Lalu bau bunga Wijaya kusuma di ruangan itu tak kalah aneh, mengapa saat kita masuk tidak mencium apapun? udara yang masuk ke ruangan itu seolah hanya di waktu waktu tertentu. Semua petunjuk itu mengarah pada satu tempat, ruang pembuangan air danau.
Ruang rahasia ini dibuat untuk pertahanan terakhir dan untuk itulah mereka membangunnya dengan celah sekecil mungkin agar sistem ruangan itu tidak diketahui orang. Mereka menghubungkan celah udara ke ruang pembuangan air untuk tetap menjaga suhu ruangan. Saat kalian membuka gerbang air itulah tanpa sadar juga membuka celah udara masuk," jawab Wardhana pelan.
"Tidak diketahui orang yang membuka sistem air?" tanya Hanggareksa cepat.
"Jika perkiraanku benar ruang pertahan itu hanya diperuntukkan bagi para pemimpin dan orang penting peradaban itu," balas Wardhana.
"Mengorbankan pasukan kecil untuk para pemimpin ya... Aku benar benar muak dengan pemikiran itu, apa yang membuat mereka berfikir hidup mereka lebih berarti dari yang lainnya?" jawab Hanggareksa sinis.
"Suka tidak suka sistem itulah yang kini terjadi di dunia persilatan," Wardhana menarik nafasnya sebelum melanjutkan ucapannya.
"Danau ini dibangun dengan Ilmu pengetahuan yang sangat tinggi bahkan jauh di atas Masalembo, semakin aku masuk lebih dalam dan mengetahui fakta peradaban Lemuria maka rasa takut akan sesuatu yang belum aku tau semakin besar."
"Semoga saja seperti itu," ucap Wardhana lirih, dia sebenarnya juga berusaha meyakini ucapan Hanggareksa namun fakta yang dia temukan selama ini bicara sebaliknya.
Ruang Rahasia yang masih terawat dengan baik dan struktur puncak Kuil Khayangan yang berfungsi sebagai penanda waktu seolah berfungsi sebagai alat untuk menghitung detik detik kemunculan kembali peradaban itu yang entah sedang menunggu apa untuk bangkit.
Sabrang yang berjalan paling depan menghentikan langkahnya saat melihat pintu kecil di sisi kanan dinding lorong dan puluhan bunga Wijaya kusuma di kedua sisi lorong.
"Paman, lihatlah," teriak Sabrang.
Wardhana mempercepat langkahnya dan melihat dinding lorong itu sambil menyentuhnya.
"Sepertinya kita sudah berada di tengah lorong Yang mulia, pintu inilah yang mengatur jumlah air yang ada di danau purba dan celah kecil ini adalah jalan udara menuju ruang rahasia tadi," ucap Wardhana pelan.
Wajah Wardhana berubah seketika saat melihat bunga Wijaya kusuma yang berada dihadapannya.
"Apa kalian pernah masuk ke sistem pembuangan air ini?" tanya Wardhana cepat.
Cokro menggeleng pelan sambil menoleh kearah Hanggareksa. "Kami hanya bertugas membuka tuas air setiap matahari akan terbenam, kami bahkan tidak tau kemana air itu akan dibuang."
"Apa mungkin Ajidarma?" kejar Wardhana.
"Tidak mungkin, walau dia berpura pura lumpuh tapi aku yakin dia tidak pernah keluar dari kuil. Apa ada yang aneh dengan bunga itu?" tanya Hanggareksa.
"Bunga ini seperti terawat dengan baik," sahut Sabrang pelan.
"Benar Yang mulia, kalian lihat rerumputan yang tumbuh di sepanjang lorong tadi? hanya disekitar bunga inilah rumput itu tidak tumbuh dan itu artinya ada yang sering datang ke lorong ini dan merawat bunga Wijaya Kusuma," balas Wardhana.
"Merawat bunga ini? tidak mungkin ada yang bersusah payah masuk ke lorong pembuangan air ini hanya untuk merawat bunga," ucap Hanggareksa.
"Apapun alasannya yang pasti selama ini secara diam diam ada yang masuk ke lorong ini dan jika itu bukan kalian maka yang paling memungkinkan adalah orang dari Lemuria," jawab Wardhana.
__ADS_1
"Celah ini menuju sungai bukan? siapapun bisa masuk ke sini dari sungai itu tidak hanya peradaban Lemuria," balas Hanggareksa.
"Siapapun? bukankah kalian yang telah ribuan tahun tinggal di tempat ini juga tidak tau dimana letak pembuangan air, bagaimana bisa berfikir orang lain tau?" kejar Wardhana kesal.
Hanggareksa terdiam, dia sebenarnya ingin membantah ucapan Wardhana namun hatinya setuju dengan ucapan Wardhana.
"Jika yang kau katakan benar mengapa dia hanya merawat bunga ini bukan datang ke kuil Khayangan dan mengambil semua milik mereka?"
"Itulah yang aku takutkan selama ini, mereka seolah sedang menunggu sesuatu untuk bangkit," balas Wardhana.
Wardhana tampak memijat keningnya sambil menutup matanya, perasaan takut kembali masuk kedalam pikirannya. Begitu banyak misteri yang menyelimuti peradaban Lemuria menandakan ada sesuatu yang besar sedang ditutupi.
"Bunga Wijaya kusuma memiliki ciri khas unik yang hanya mekar pada malam hari, mungkin kita bisa mengetahui alasan orang yang merawat bunga ini saat mekar nanti malam. Yang mulia sebaiknya kita bergegas untuk menghentikan Ajidarma lalu kembali ke sini untuk mencari petunjuk," ucap Wardhana pelan.
Sabrang mengangguk pelan sebelum melanjutkan kembali perjalanan, tak lama sinar terang mulai terlihat dari ujung lorong menandakan pintu keluar sudah dekat.
***
Kobaran api yang berasal dari perapian buatan Candrakurama tampak membumbung keatas diantara tumpukan kayu.
Sekar Pitaloka memang meminta Candrakurama membuat perapian sebesar mungkin untuk memancing siapapun yang bersembunyi di danau purba itu keluar.
Angin sore yang bertiup di hutan itu tampak membawa asap hasil perapian ke tengah danau yang menimbulkan gumpalan asap disekitar danau.
"Kau masih belum mau keluar?" ucap Sekar tanpa menurunkan kewaspadaannya.
Dan rencana Sekar Pitaloka akhirnya berhasil saat dua orang tiba tiba muncul begitu saja di tengah danau dan menatap tajam mereka.
"Wanita sialan! Apa kau sengaja mencari masalah dengan kami?" ucap salah satu pendekar.
"Ibu ratu, berhati hatilah," Candrakurama melangkah mendekati Sekar Pitaloka.
"Mencari masalah? apa seperti ini sambutan kalian pada tamu yang datang berkunjung?" balas Sekar sinis.
"Kami tidak menerima tamu, pergilah sebelum aku bertindak lebih jauh," bentak pendekar itu.
"Kalian tak perlu mengusirku, aku akan pergi setelah memenggal kepala kalian," balas Sekar Pitaloka.
"Memenggal kami?" dua pendekar itu saling berpandangan sebelum tertawa mengejek.
"Tertawa lah selagi bisa karena sebentar lagi kepala kalian menjadi milikku," Sekar Pitaloka tiba tiba bergerak menyerang, melihat sambutan kurang menyenangkan mereka, suka tidak suka pertarungan pasti terjadi dan Sekar memutuskan menyerang lebih dulu.
Melihat Sekar menyerang, Candrakurama memakai topengnya dan mencabut pedang, luapan tenaga dalam yang keluar dari tubuhnya sempat mengejutkan pendekar misterius itu.
"Berhati hatilah pada pria itu, dia bukan pendekar biasa," dua pendekar itu menyambut serangan Sekar dan Candrakurama bersamaan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Bunga Wijaya Kusuma
Dalam pewayangan, bunga yang hanya mekar pada malam hari ini bunga ini kerap disebut sebagai pusaka Bathara Kresna, titisan dewa Wisnu yang dikenal sebagai pemelihara alam semesta. Karena itu pohon ini dianggap tanaman sakti.
Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, bunga Wijaya Kusuma juga dianggap sebagai syarat yang harus dimiliki seorang raja yang akan naik tahta. Karena itulah bunga ini banyak menghiasi ragam hias rumah atau bangunan di Jawa.
Dalam dunia PNA bunga ini digunakan sebagai sebagai ****** (Sensor) wkwkwkwk
Jangan lupa Vote, juga jika berminat silahkan kunjungi Audio books Pedang Naga Api. Suaranya lumayan adem kayak Ubin kecamatan....
Apalagi ya... Tips bisa lewat koin di aplikasi Mangatoon atau ovo di https://kary4kars4. com/ RickypakeC
Mau jodoh ketik Reg spasi Kebelet nikah kirim ke gebetan lu yang sampai saat ini masih menggantung perasaan lu kayak kain lap dapur...
__ADS_1