Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Tawaran Sabrang Damar II


__ADS_3

Keributan yang dibuat oleh Sabrang dan Elang di gerbang utama sekte akhirnya terdengar oleh para pendekar Pedang Iblis, belasan pendekar kelas tinggi langsung mendatangi lokasi untuk melihat apa yang terjadi.


"Arahnya dari gerbang utama! cepat periksa," ucap salah satu pendekar sambil berlari.


Mata para pendekar Pedang Iblis terbelalak saat tiba di lokasi pertarungan, rasa percaya diri yang awalnya terpancar di wajah mereka mulai menurun saat melihat Sabrang dan Elang sedang bertarung dengan puluhan pendekar Pedang Iblis.


Bukan Elang yang sebenarnya membuat mereka ragu untuk bertarung tapi gerakan pedang Sabrang yang sangat cepat dan bervariasi akan membuat siapapun berfikir ribuan kali untuk menghadapinya.


"Siapa pendekar muda itu?" tanya salah satu pendekar Pedang Iblis.


"Siapapun dia, yang pasti ilmu kanuragannya jauh di atas kita," timpal yang lainnya.


Tubuh Sabrang kembali melepaskan aura besar yang membuat Elang terpaksa menjauh karena merasakan tubuhnya kembali tertimpa beban berat.


Sabrang terus berputar sambil mengayunkan pedangnya sebelum melompat ke udara.


"Jurus itu lagi? menyingkir!" teriak salah satu pendekar.


"Jurus pedang jiwa tingkat VIII : Cahaya penghancur kegelapan."


Energi hitam pekat tiba tiba keluar dari pedang Pengilon kembar dan menghantam tubuh para pendekar Pedang Iblis tanpa bisa menghindar sedikitpun.


"Dia lebih kuat dari guru," ucap Elang takjub.


"Sebaiknya kalian tidak menghalangiku, karena kali ini aku akan menggunakan mata pedangku," Sabrang memutar pedangnya perlahan.


"Berani sekali kau membuat keributan di gunung suci ini," seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun tiba tiba muncul di udara dan bergerak kearah Sabrang.


"Tapak Iblis pembakar sukma," tangan pendekar itu terlihat diselimuti energi besar berwarna merah darah.


"Gawat, paman Wiratama menggunakan tapak iblis pembakar sukma, dia tidak akan mampu menahannya," Elang langsung bergerak kearah Sabrang untuk menyelamatkannya namun dia tersentak kaget saat tubuhnya tiba tiba terlempar oleh aura yang meluap dari tubuh Sabrang.


"Dia ingin menyambut serangan tapak paman Wiratama...apa kau sudah gila?" teriak Elang keras.


Sabrang mengalirkan energi Anom ke lengan kanannya sebelum menyambut serangan itu dengan santai.


"Tidak mungkin...." Ledakan besar akibat benturan tenaga dalam terdengar sebelum tubuh Wiratama terlempar dan membentur dinding bangunan sekte.


Elang dan semua pendekar Pedang Iblis tampak terkejut saat melihat Sabrang dengan begitu mudah menangkis jurus tapak kebanggan Wiratama.


Mereka tak menduga jika Sabrang yang terlihat masih sangat muda memiliki ilmu kanuragan tinggi.


"Aku hanya ingin bicara dengan ketua kalian, jangan paksa aku mengambil nyawa kalian," ucap Sabrang dingin.


"Inikah kekuatan para pendekar Malwageni?" ucap Elang dalam hati.


"Kau pikir bisa seenaknya datang dan membuat keributan?" Wiratama menjentikkan jarinya dan tak lama kemudian belasan pendekar Bayangan Iblis muncul disekelilingnya membentuk formasi bertarung.


"Situasi semakin tidak menguntungkan, aku tidak menyangka paman akan menggunakan formasi Bayangan Iblis," ucap Elang dalam hati, dia mulai menyesali keputusannya membantu Sabrang yang pada akhirnya justru akan membunuh pemuda itu sendiri.


"Ku akui kau membuatku terkejut karena untuk pertama kalinya ada yang mampu menangkis serangan tapak Tapak Iblis pembakar sukma milikku tapi kali ini keberuntungan mu sudah selesai, aku akan membunuhmu lebih dulu sebelum anak itu," Wiratama melesat tiba tiba dan menyerang bersama belasan pendekar Pedang Iblis.


"Jangan pernah ragu pada kemampuanmu sendiri saat kau sedang bertarung, karena pertarungan tak hanya soal ilmu kanuragan tapi juga bagaimana kau membaca kelemahan lawan dan menggunakannya sebagai kekuatanmu," ucap Sabrang sebelum menyambut serangan dari berbagai arah dengan penuh percaya diri.


Sabrang terus meningkatkan kecepatannya untuk menghindari serangan bertubi tibi yang dilakukan para pendekar Bayangan Iblis, dia sengaja tidak langsung menyerang balik untuk mengajarkan sesuatu pada Elang.


"Hampir semua kelemahan formasi tempur terletak di perubahan gerakan antar pengguna formasi dan jika kau menghadapi pertarungan dengan tenang, celah itu akan terlihat dengan sendirinya," Sabrang memperlambat gerakannya tiba tiba sebelum melepaskan jurus pedang tarian Rajawali yang membuat formasi tempur lawannya goyah.


Elang terus memperhatikan pertarungan Sabrang dengan takjub, tak ada lagi luapan aura yang keluar dari tubuhnya. Sabrang seolah ingin menunjukkan pada Elang jika ilmu kanuragan bukan segalanya.

__ADS_1


"Tarian Rajawali? dia pendekar dari sekte Rajawali emas, pantas saja ilmunya sangat tinggi."


"Siapapun bisa meningkatkan Ilmu kanuragan dengan berlatih keras, tapi ketenangan dalam bertarung hanya bisa kau dapatkan dari pengalaman. Jangan pernah ragu andai lawan yang kau hadapi jauh lebih kuat karena itu akan ada banyak hal yang bisa kau pelajari dan membuatmu menjadi lebih kuat," Sabrang langsung menggunakan Ajian inti lebur saketi tingkat dua untuk melakukan serangan balik.


Wiratama yang menyadari perubahan aura di tubuh Sabrang langsung meminta para pendekar Bayangan Iblis untuk merubah formasi dan memperlebar jarak.


"Mau menghindar? jangan mimpi!" Sabrang tiba tiba melepaskan aura Anom untuk menekan semuanya dan menyerang dengan cepat.


Tubuh Wiratama tiba tiba menjadi sangat berat saat aura anom memenuhi area pertarungan bersamaan dengan munculnya puluhan energi keris di udara.


Serangan Sabrang jauh lebih cepat dari sebelumnya membuat formasi tempur Bayangan Iblis hancur seketika, beberapa pendekar bahkan tak sempat menghindar saat punggung pedang Sabrang menghantam tubuh mereka.


"Siapa pendekar muda ini, energi keris itu jangan jangan..." Wiratama langsung melompat mundur saat aura hitam pekat semakin menekan tubuhnya.


"Mundur!" teriak Wiratama tepat sebelum Sabrang menarik keris penguasa malam yang berputar di udara.


"Energi Keris penghancur!" puluhan energi keris bergerak cepat menghantam para pendekar Bayangan Iblis yang berusaha melarikan diri.


Ledakan besar itu bahkan terdengar di seluruh penjuru sekte dan membuat getaran yang cukup hebat.


"Aku terlalu meremehkannya," wajah Wiratama berubah seketika saat merasakan sesuatu dibelakangnya.


"Tapak Iblis pembakar sukma," ucap Sabrang sambil menyentuh punggung Wiratama.


"Jurus ini?" Wiratama tiba tiba merasakan sakit di seluruh tubuhnya saat tenaga dalamnya terhisap dengan cepat sebelum terlempar dan tak sadarkan diri dengan wajah memucat.


Belasan pendekar Pedang Iblis memilih menjauh setelah melihat kekuatan Sabrang, walau masih dalam posisi siap menyerang namun tak ada yang berani bergerak lebih dulu.


Sabrang tampak terkejut saat merasakan tubuhnya menyerap tenaga dalam Wiratama tanpa bisa dihentikan.


"Ini yang kedua kalinya tubuhku seolah menyerap tenaga lawan, apa yang sebenarnya terjadi?" ucap Sabrang dalam hati sambil mengingat kembali pertarungan di sekte Kencana Ungu beberapa tahun lalu.


Elang tersenyum kecut saat mengingat pertemuannya dengan Sabrang di sebuah sungai kemarin dan memperingatkan untuk menjauhi sekte Pedang Iblis.


"Sepertinya akan berakhir baik, setelah menemukan ibu aku akan meminta dia untuk membawa ibu ke keraton, sepertinya guru sedang tidak berada di tempat," ucap Elang pelan.


Namun baru saja Elang bernafas lega, aura besar lainnya sudah muncul dan menekan mereka, wajahnya langsung buruk saat melihat gurunya melangkah mendekati mereka dengan kobaran api di tubuhnya.


"Akhirnya kau muncul juga," ucap Sabrang sambil tersenyum sebelum melanjutkan ucapannya. "Sebaiknya kau cepat cari dimana ibumu berada, aku akan menghadapinya lebih dulu."


"Tapi kau..."


"Kubilang pergi, temukan ibumu secepatnya dan tepati janjimu tadi," potong Sabrang cepat.


"Kau benar benar anak tak tau di untung, aku sudah merawatmu dari kecil sampai kau memiliki ilmu kanuragan tinggi, apa ini balasan yang aku terima?" bentak Ranggawuni kesal.


"Tak pernah sekalipun aku membantah ucapan guru bahkan saat kau memintaku membunuh orang tapi guru selalu mengingkari janji," balas Elang.


"Sudah kukatakan berkali kali jika kau berhasil menguasai jurus tertinggi sekte Pedang Iblis aku akan membawamu menemui Gayatri. Bukannya berterima kasih kau justru membawa pendekar asing ini menyerang sekte ini. Apa kau pikir dia mampu mengalahkan aku?


"Dengan energi ruh Api merah yang berhasil aku bangkitkan, kau tak lagi berguna buatku. Namun sebagai orang yang merawatmu dari kecil, aku akan memberimu satu kesempatan. Bunuh pendekar itu dan akan kuberi tahu dimana ibumu berada," balas Ranggawuni pelan.


Elang terdiam sesaat sebelum menggeleng pelan, "Aku sudah melakukan kesalahan besar dengan mengorbankan orang lain hanya demi bertemu ibu, sudah cukup kau memanfaatkan aku."


"Begitu... baiklah, harusnya sudah sejak lama aku membunuh orang tak berguna sepertimu," tubuh Ranggawuni tiba tiba menghilang dan muncul tepat didekat Elang, dia melepaskan tapak Iblis pembakar sukma tepat di tubuh Elang.


Elang tampak terkejut dengan serangan tiba tiba itu, kecepatan yang ditunjukkan Ranggawuni membuatnya terlambat menghindar.


Namun saat jurus tapak itu hampir mengenai tubuhnya, Sabrang muncul dan mencengkram lengan Ranggawuni.

__ADS_1


"Kara!" Ranggawuni langsung melepaskan energi api untuk membakar lengan Sabrang.


Kobaran api yang menyelimuti tubuh Ranggawuni membakar lengan Sabrang dengan cepat dan menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Hancurkan dia Kara!" teriak Ranggawuni sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Sabrang.


"Kau pikir bisa membakar tubuhku dengan mudah?" Api yang berusaha membakar tubuh Sabrang tiba tiba menghilang seolah terhisap oleh sesuatu, dia kemudian menggunakan lengan kirinya untuk menyerang Ranggawuni dengan tapak peregang sukma.


"Kau?" Ranggawuni menarik pedang dan mengayunkannya yang memaksa Sabrang melepaskan cengkeramannya.


Ranggawuni langsung melompat mundur dan menjaga jarak. "Bagaimana mungkin tubuhnya tidak terbakar?"


"Ada sesuatu di dalam tubuhnya yang membuat energiku tak mampu membakarnya," ucap Ruh Kara terkejut.


"Sesuatu?"


"Apa ini yang dia sebut sebagai Api merah? menggelikan, kau bahkan jauh lebih lemah dari Kemamang. Anom aku berubah pikiran, akan aku tunjukkan apa itu energi Api!" ucap Naga Api kesal.


Kobaran api tiba tiba meluap dari tubuh Sabrang saat Naga Api melepaskan energinya dalam jumlah besar dan di saat yang bersamaan sebuah pedang terbentuk diantara kobaran api yang jauh lebih besar dari milik Ranggawuni.


"Dasar tukang pamer," umpat Anom.


"Naga api? jadi dia..." Elang menelan ludahnya sendiri, dia tidak pernah menyangka orang yang bersamanya adalah seorang pendekar terkuat di Nuswantoro saat ini.


Ranggawuni dan Kara tak kalah terkejutnya saat melihat sendiri bagaimana kuatnya energi Naga Api.


"Kau membawaku dalam masalah besar bodoh, urus saja masalahmu sendiri, aku tak akan pernah mau berhadapan dengan Iblis api," umpat Kara sebelum kobaran api di tubuh Ranggawuni menghilang perlahan.


"Aku... apa yang sebenarnya sedang dia dilakukan di tempat ini?" ucap Ranggawuni pelan.


"Kau ingin melarikan diri? jangan harap setelah kau berusaha menyerang tuanku," Naga api terus melepaskan energinya yang membuat suhu udara di puncak gunung yang terkenal dingin itu menjadi panas.


Sabrang tiba tiba bergerak menyerang membuat Ranggawuni terpaksa menarik pedangnya.


Namun gerakan Sabrang yang semakin cepat membuatnya tak mampu menghindar, tebasan demi tebasan punggung pedang terus menghujam tubuhnya.


Dan saat lawannya sudah tidak berdaya, api berbentuk tangan tiba tiba keluar dari tubuh Sabrang dan menghancurkan pedang Ranggaweni sebelum menembus tubuhnya.


"Keluar kau pengecut," Naga Api menarik energi Kara yang bersembunyi di tubuh Ranggawuni.


"Hei, aku tidak ikut campur urusan kalian, dia hanya memanfaatkan aku dengan memberi tumbal pengorbanan," teriak Kara kesakitan.


"Sejak awal aku tidak pernah suka denganmu yang selalu meminta pengorbanan dari orang yang ingin menjadi tuanmu, hari ini akan aku bakar kau sampai tak tersisa," Naga api menarik energi Kara masuk kedalam tubuh Sabrang sebelum menekannya sampai menyatu dengan energinya.


"Ruh Api merah? jangan bercanda, energimu bahkan tak lebih panas dari rasa cemburu ketiga wanita si bodoh ini," ucap Naga Api sinis.


"Apa kau mengatakan sesuatu Naga Api?" tanya Sabrang tiba tiba.


"Lupakan, bukankah kau ingin mencari ibu dari anak itu?" balas Naga Api mengalihkan pembicaraan.


"Ah kau benar, kita harus menemukan di mana ibunya berada," jawab Sabrang cepat sebelum memberi tanda pada Elang yang masih mematung untuk mendekat.


"Pendengarannya menjadi sangat tajam setiap aku menyindirnya," ucap Naga Api dalam hati.


"Aku mendengar apa yang baru saja kau katakan," Anom tiba tiba bicara dengan nada mengancam.


"Kau mau kubakar seperti Api lemah itu?" balas Naga Api cepat yang dibalas tawa okeh Anom.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Api di Bumi Majapahit akan update malam ini....


__ADS_2