
Sabrang terbangun setelah beberapa hari tak sadarkan diri, dia mencoba bangkit namun tubuhnya masih terasa sakit. Dia menatap sekitarnya dan menemukan pria tua yang dihadapinya tadi sedang bermeditasi.
Pria tersebut membuka matanya perlahan dan menatap Sabrang.
"Kau sudah sadar?" Sabrang mengangguk pelan, dia masih mencoba memahami situasi yang dihadapinya.
"Apakah tetua yang merawatku?".
"Gandana, kau boleh memanggilku ki Gandana. Bukan aku yang merawatmu tapi teman wanita yang bersamamu".
Sabrang mengangguk, dia kembali melihat sekelilingnya sedang mencari sesuatu.
"Pedangmu disimpan oleh temanmu, kau tidak perlu khawatir. Walaupun itu pedang pusaka aku tidak berniat memilikinya". Ki Gandana seolah mengetahui Sabrang sedang mencari pedangnya.
"Lalu di mana Mentari kek? Aku tidak melihatnya dari tadi".
"Temanmu sedang mencari sayuran untukmu, kau perlu banyak makan sayuran untuk memulihkan kondisimu. Dia merawatmu dengan baik beberapa hari ini" Ki gandana menatap menatap Sabrang sesaat.
"Lalu apa yang membuat mu bisa sampai disini? Bukankah Sekte Pedang Naga Api jauh dari sini?".
Sabrang tersenyum kecil, dia masih tidak mengerti dengan sikap ki Gandana, bagaimana bisa dia berbicara dengan santai padanya seperti tidak ada yang terjadi sedangkan kemarin dia seperti berniat ingin membunuhnya.
"Aku ingin pergi ke Dieng kek tapi sepertinya tempat itu sulit di jangkau" Sabrang menggaruk kepalanya sambil tersenyum.
Ki Gandana sedikit terkejut mendengar tujuan Sabrang.
"Apapun tujuanmu di sana ku sarankan kau melupakan rencanamu nak, Dieng bukan tempat yang baik untuk kau datangi".
"Kakek tau tempat itu?" Sabrang mulai tertarik dengan arah pembicaraan ki Gandana.
Ki Gandana menggeleng pelan "Dulu aku pernah terobsesi mencari tempat itu namun tidak berhasil menemukannya".
"Jika kakek belum berhasil mengetahui letaknya bagaimana kakek bisa mengatakan Dieng bukan tempat yang baik untuk dikunjungi".
"Apa Suliwa yang memberitahumu tentang Dieng?".
Sabrang mengangguk pelan.
Ki Gandana mengernyitkan dahinya, dia benar benar tidak mengerti jalan pikiran Suliwa.
__ADS_1
"Menurut cerita hanya ada beberapa orang yang berhasil menemukan tempat itu, Singa emas dan pertapa aneh dari bukit cetho yang kabarnya berhasil kembali dengan keadaan sehat, yang lainnya berubah menjadi Iblis haus darah yang berakhir dengan kematian yang mengenaskan. Aku tidak tau apa yang ada disana namun kupastikan Dieng bukan tempat yang aman kau datangi".
"Kau pemuda yang dianugrahi bakat yang sangat besar namun saat ini kemampuanmu masih jauh dari yang seharusnya bisa kau capai. Aku tidak ingin kau terlalu terobsesi dengan Dieng, akan sangat berbahaya jika kau memaksakan pergi kesana dengan kemampuanmu saat ini". Ki Gandana berdiri dan melangkah mendekati Sabrang
"Apakah Suliwa tau bakat istimewamu?".
Sabrang mengangguk pelan "Kakek berpesan padaku untuk mencari Dieng sebagai solusi menggabungkan Pedang Naga Api dan jurus Api abadi".
"Maksudmu Jurus api abadi tidak bisa digunakan dengan Pedang Naga Api?" Ki Gandana mengernyitkan dahinya.
"Itu yang dikatakan kakek guru, aku tidak diperkenankan menggunakannya secara bersamaan sampai menemukan cara menggabungkannya".
"Pantas saja selama bertarung denganku kau tidak menggunakan Jurus Api abadi dan lebih memilih jurus tiruan".
Ki Gandana diam sejenak menatap Sabrang "lalu ilmu yang kau gunakan saat memakai pedang es apakah Suliwa juga yang mengajarkanmu?".
Sabrang mengernyitkan dahinya, dia mengingat jurus yang digunakan saat bertarung dengan ki Gandana.
"Maksud kakek jurus Pedang pemusnah raga?".
"Jadi benar itu jurus Pedang pemusnah Raga" Ki Gandana menatap Sabrang.
"Bukan kakek guru yang mengajarkannya padaku namun jurus tersebut muncul begitu saja dipikiranku saat aku bermeditasi. Kakek mengenali jurusku?".
Ki Gandana mengernyitkan dahinya, dia merasa Sabrang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Aku bukan hanya mengenali jurusmu namun guruku pernah berhadapan dengan pengguna jurus itu dahulu. Pedang pemusnah raga adalah jurus terlarang yang dicari banyak pendekar".
Sabrang sedikit terkejut mendengar kehebatan jurus yang digunakannya. Dia memang merasakan kecepatannya meningkat saat menggunakan jurus pedang pemusnah raga namun dia tidak menyangka jika jurus tersebut akan sehebat yang diceritakan ki Gandana.
"Aku ingin menceritakan sesuatu padamu sebelum meminta sesuatu padamu" Ki Gandana memejamkan matanya sebentar sebelum melanjutnya ceritanya.
"Dahulu kala dunia persilatan digegerkan dengan kemunculan sepasang pendekar hebat yang misterius bernama Giri patih dan Ajisaka. Mereka dengan mudahnya mengalahkan semua pendekar dunia persilatan. Tidak ada yang tau dari mana mereka berasal dan ilmu apa yang digunakannya.
Mereka terkenal dengan julukan pendekar api dari langit karena kehebatan jurus yang mereka gunakan seolah berasal dari dunia lain. Salah satu pendekar yang bernama Ajisaka menggunakan pedang Naga Api yang kau bawa.
Seiring berjalannya waktu Ajisaka mulai berubah perangainya. Dia menjadi haus darah dan selalu ingin bertarung, Naga api telah merasukinya dan mengendalikan pendekar tersebut.
Banyak pendekar meregang nyawa ditangan Ajisaka, hal ini membuat Giri patih menjadi murka dan menantangnya bertarung untuk menghentikan Ajisaka. Mereka bertarung berhari hari namun belum ada pemenangnya, kekuatan mereka berimbang.
__ADS_1
Sampai akhirnya tiba tiba Ajisaka menggunakan Jurus Pedang pemusnah raga membuat Giri patih mulai terdesak.
Melihat jurus yang digunakan Ajisaka membuat Giri patih semakin murka. Dia menuduh Ajisaka mengingkari janji yang mereka buat untuk tidak kembali ke Dieng. Walaupun Ajisaka berkelit bahwa itu jurus yang dia ciptakan namun Giri patih yakin Ajisaka kembali ke dieng tanpa sepengetahuannya dan belajar Jurus pedang pemusnah raga.
Nyawa Giri patih hampir melayang andai Ajisaka tidak hancur menjadi abu sesaat sebelum dia menghabisi Giri Patih.
Tubuh Ajisaka tidak mampu menahan kekuatan Naga api sehingga hancur menjadi abu.
Dengan sisa kekuatannya Giri patih pergi ke Sebuah gua yang menjadi pintu menuju Tanah para Dewa.
Dia menyegel pintu masuk menuju Tanah para dewa dengan Segel misterius, dia berharap tidak ada lagi yang bisa menemukan Dieng karena apa yang ada di sana adalah sumber kekuatan tak terbatas yang dapat merubah sifat manusia.
Semakin tinggi ilmu yang kau miliki akan selalu ada harga yang harus kau bayar. Dia belajar satu hal bahwa tubuh manusia tidak ada yang mampu menahan Ilmu yang berasal dari Dieng. Tak lama tubuhnya pun hancur akibat efek dari ilmu yang dia pelajari.
Sejak saat itu dunia persilatan kembali seperti sedia kala dengan lenyapnya ilmu kedua pendekar tersebut.
Hingga beberapa ratus kemudian munculah seorang pemuda dengan kekuatan yang hampir sama dengan kedua pendekar tersebut. Yang lebih mengejutkan dia bisa menguasai semua jurus milik Ajisaka dan Giri patih.
Cita citanya sama mulianya dengan mereka ingin menyatukan dunia persilatan sehingga tidak ada lagi peperangan. Kabarnya dia berhasil menembus Segel yang dibuat oleh Giri patih dan mempelajari ilmu mereka di sana.
Namun lagi lagi dia tenggelam dalam nafsunya sendiri. Dia hancur termakan jiwa Naga api seperti Ajisaka. Kami menyebutnya Pendekar dalam legenda. Kembali Pedang Naga Api menghilang dari dunia persilatan sebelum gurumu muncul dengan Pedang itu kembali.
Aku tidak tau dari mana dia mendapatkan pedang itu namun gurumu hampir bernasib sama dengan yang lainnya.
Kau tau nak tersimpan rahasia besar di Dieng yang sepertinya tidak boleh ada yang mengetahuinya. Hanya Pendekar api dari langit yang mengetaui apa yang tersimpan di sana" Ki Gandana menatap Sabrang.
"Lupakan Tanah Para Dewa, aku yakin Singa emas pun hanya sanggup melewati segel yang dibuat Giri patih tanpa bisa masuk lebih dalam".
"Biarkan alam berkerja dengan misterinya, aku yakin sebenarnya alam melindungi kita dengan tidak memberikan petunjuk apapun tentang Dieng. Ada rahasia yang lebih baik tidak boleh kita ketahui".
"Jadi Pedang naga api berasal dari Dieng?" Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Aku tidak tau namun yang pasti Pedangmu menyimpan misteri yang besar. Pedang naga api tidak sesederhana yang kau kira nak".
"Aku akan mengajarimu seluruh ilmu yang kumiliki, aku yakin kau bisa jadi pendekar terhebat di dunia persilatan dengan bakat yang kau miliki" Ki Gandana berkata dengan tatapan tajam.
"Namun kau harus memusnahkan seluruh ilmu yang kau miliki, kuburkan Pedang Naga Api agar tidak ada yang menjadi korbannya lagi. Pedang itu sangat berbahaya bagimu maupun bagi dunia persilatan".
Sabrang tersentak kaget mendengar permintaan ki Gandana.
__ADS_1