
"Ketua, anda sudah kembali". Kata seorang pemuda pada Daniswara ketika dia memasuki gerbang kelompok Lintang wukanjar.
Daniswara hanya mengangguk dengan wajah masam sambil menuju sebuah ruang rahasia yang berada di bawah ruangannya.
Seolah tau akan kegelisahan ketuanya, pemuda itu mengikuti Daniswara di belakangnya.
"Buka segelnya". Perintah Daniswara pada pemuda itu.
"Baik ketua". Kata pemuda itu sambil menggigit ujung jarinya dan meneteskan darah ke telapak tangannya. Beberapa saat kemudian pemuda itu menempelkan telapak tangannya ke tanah.
"Segel dewa bumi". Tak lama setelah pemuda itu merapal jurusnya tanah dihadapannya terbelah menjadi dua, sebuah pintu terlihat setelahnya.
Daniswara masuk diikuti pemuda itu dibelakangnya. Mereka berhenti di sebuah meja yang penuh dengan gulungan catatan segel.
"Apa kau sudah menyempurnakan segel api?".
"Maaf ketua aku membutuhkan energi Naga api untuk menyempurnakan segel ini. Aku sudah mencoba mengganti dengan bahan lainnya namun kekuatannya tidak cukup untuk membuat perjanjian dengan iblis api". jawab Arjanta.
Daniswara terlihat menghela nafasnya "Sudah kuduga tidak akan mudah untuk membuat segel itu".
"Aku akan terus mencoba untuk menyempurnakan segel itu dengan bahan yang kubawa dari Dieng ketua".
"Usahakan secepatnya waktu kita tidak banyak, Aku membutuhkan segel itu untuk menyegel kekuatan Naga api sementara waktu sampai aku menguasai jurus Panca geni selain itu kita membutuhkannya untuk mengganti segel 4 unsur di gerbang ke dua Dieng".
"Bagaiman jika aku pergi Lembah tanpa dasar ketua? bukankah di sana terdapat Api abadi? walaupun tidak sekuat Naga api tidak ada salahnya ku coba". Arjanta berkata pelan.
"Daniswara menggeleng pelan "Tidak akan sempat, si tua itu sudah mencurigai ku ingin memiliki Naga api ditambah segel udara Andaru hari ini bereaksi pada Naga api. Aku yakin Naga api sedang menuju kemari, itu artinya dia telah menemukan tuannya. Perjanjian Bintang langit dengan Naga api ratusan tahun lalu memaksa kita menuntunnya ke Dieng.
Kita harus mencegah Naga api masuk ke Dieng bersama tuannya. Jika Naga api berhasil membuat perjanjian dengan tuannya di gua kabut maka keinginanku untuk memiliki Naga api akan sirna.
Tiga purnama lagi gerbang itu akan terbuka, aku ingin kau menyusup kesana saat gerbang itu terbuka dan menyegel gerbang kedua dengan segel api".
"Tapi ketua segel itu....".
"Tak ada waktu menyempurnakannya, aku tidak ingin ada seorang pun masuk Dieng sebelum aku bisa membuat perjanjian dengan Naga api. Lakukan apa yang kuperintahkan!". Daniswara membentak Arjanta.
"Baik ketua". Jawab Arjanta.
"Lalu jika Naga api benar datang kemari untuk menagih janjinya apa yang akan anda lakukan ketua?". Arjanta terlihat cemas.
"Kita hanya perlu berpura pura menepati janji dengan memberikannya segel 4 unsur. Saat mereka lengah aku ingin kau merebut Naga api dan menyegelnya dengan Segel apimu. Gunakan waktu beberapa hari ini untuk menyempurnakan segel itu semampumu. Aku telah menunggu ratusan tahun untuk hari ini, pastikan jangan sampai gagal".
__ADS_1
"Baik ketua". Jawab Arjanta.
***
Sudah hampir seharian Sabrang dan Mentari berjalan melintasi hutan namun mereka belum menemukan tanda tanda keberadaan sebuah desa. Sepanjang mata memandang hanya rimbun pepohonan yang terlihat.
"Anda yakin kita tidak tersesat tuan?". Mentari mulai ragu dengan arah yang mereka tuju.
Sabrang tersenyum kecil sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Paman dipenginapan tadi mengatakan kita hanya perlu berjalan lurus memasuki hutan ini, setelah itu kita akan menemukan sebuah desa".
Mentari terlihat menutup wajahnya dengan tangan, terakhir kali Sabrang menjadi penunjuk arah mereka tersesat kedalam hutan cukup jauh.
"Apa aku membuat kesalahan?". Sabrang cengengesan sambil menatap Mentari.
"Semoga saja tidak". Mentari menggelengkan kepalanya. Mereka memutuskan beristirahat sejenak di bawah pohon rindang karena hari mulai gelap.
Sabrang bergegas mencari ranting pohon disekitar mereka untuk membuat perapian sedangkan Mentari terlihat mengeluarkan bungkusan makanan yang mereka beli di penginapan sebelumnya.
"Terakhir kali kita beristirahat di alam terbuka anda menghabiskan hampir seluruh makananku". Mentari memberikan makanan porsi besar pada Sabrang.
Sabrang menerimanya dengan malu malu namun tidak menjawab ucapan Mentari, perutnya sudah memaksanya untuk melahap makanan yang ada dihadapannya.
"Di satu waktu anda terlihat sangat menakutkan dengan kekuatan yang begitu mengerikan namun terkadang anda terlihat seperti anak kecil". Mentari bergumam dalam hati.
"Maaf tuan, anda yakin akan pergi ke Dieng? bukankah saat itu anda berjanji pada kakek Kumbara untuk tidak mendekati Dieng?". Mentari bertanya pada Sabrang setelah menghabiskan makan malam mereka.
"Dengan situasi saat ini aku yakin Kakek Kumbara akan mengerti situasiku. Selain itu aku ingin memastikan sesuatu di sana".
"Memastikan sesuatu?". Mentari mengernyitkan dahinya.
"Saat aku mendapatkan Keris penguasa kegelapan, aku sempat melihat leluhurku memasuki Dieng untuk membuat perjanjian dengan Keris penguasa kegelapan. Entah kenapa aku merasa ada hubungan yang kuat antara leluhurku dengan Dieng selain itu aku sudah berjanji denganmu untuk mengobatimu".
Mentari hanya mengangguk setelah mendengar perkataan Sabrang. Dia pun mulai merasa jika Sabrang bukan hanya seorang Pangeran kerajaan Malwageni setelah melihat kekuatannya. Bukan merupakan suatu kebetulan jika dua pusaka terkuat Dieng mengikutinya.
Setelahnya Sabrang lebih banyak bertanya tentang perjalanan Mentari bersama Kumbara untuk menemui Sumbi sampai dia menguasai ajian pelebur sukma.
***
"Kau sudah bangun?". Sabrang membuka matanya dan menyudiahi meditasinya saat Mentari mendekatinya.
__ADS_1
"Anda tidak tidur semalaman?". Tanya Mentari yang duduk di sebelah Sabrang.
"Kepala ku hampir pecah memikirkan cara mengetahui letak sekte Bintang langit semalaman namun sampai saat ini aku belum menemukan caranya". Sabrang tersenyum kecut.
"Anda juga harus memikirkan kesehatan tubuh anda". Mentari berkata pelan.
Sabrang mengangguk pelan, apa yang dikatakan Mentari ada benarnya. Setelah pertempuran dengan Majasari dia memang kurang beristirahat. Beberapa hal yang terjadi belakangan ini membuatnya memaksa tubuhnya untuk terus bergerak.
"Baiklah aku akan mencoba tidur beberapa saat setelah itu kita akan melanjutkan perjalanan". Sabrang bangkit dari duduknya dan merebahkan tubuhnya di bawah pohon rindang.
***
"Apa? Pengguna Naga api ada disekitar sini?". Waranggana menatap tajam Sakuta.
"Benar ketua, beberapa pendekar kita tewas di tangannya".
"Kurang ajar! Akan kupastikan dia mati ditanganku". Waranggana mengepalkan tangannya menahan amarah.
"Apakah dia juga mencari Sekte Bintang langit ketua?".
"Seperti yang dikatakan tuan Maruta, kemungkinan anak itu akan bergerak menuju Cetho. Kita harus memastikan anak itu tidak menginjakan kakinya di Cetho".
"Baik ketua, aku akan membawa beberapa pendekar untuk menghentikannya".
"Tidak, aku sendiri yang akan turun tangan kali ini. Sudah lama aku kagum pada pedang anak itu".
"Tapi ketua, bukankah tuan Maruta sudah memperingatkan kita untuk tidak menyentuh pedang itu? Lembah siluman yang akan mengurus pedang itu". Ucap Sakuta pelan.
"Kau takut? Dia memang kuat namun jika aku bisa mendapatkan pedang itu tak ada yang perlu dicemaskan. Aku sudah muak diperintah olehnya, setelah kita lepas dari Iblis hitam, aku berfikir kita akan menjadi Sekte terkuat dengan bantuan Lembah siluman namun ternyata posisi kita tetap sama saat berada di bawah Iblis hitam.
Untuk sementara ikuti apa keinginan Lembah siluman, setelah kita mendapatkan pedang Naga api dan menemukan Bintang langit kita akan bergerak menuju Dieng. Jika kita bisa mendapatkan kekuatan di Dieng kita tidak perlu tunduk pada Lembah siluman sekalipun".
"Bagaimana jika tuan Maruta mengetahui rencana kita?".
Waranggana menggeleng pelan "Mereka tidak akan curiga selama kita mengikuti perintahnya. Dia memerintahkan kita untuk memastikan anak itu tidak mendekati Dieng, kita bisa bergerak leluasa denga alasan mencari anak itu. Sekarang siapkan beberapa pendekar kelas tinggi, kita akan mencari anak itu dan merebut pedangnya". Waranggana tersenyum licik.
"Baik ketua". jawab Sakuta.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
**Sudahkah anda Vote Pedang Naga Api hari ini? 😁
__ADS_1
#Dirumahaja**