
Ekspresi wajah Minak Jinggo masih terlihat tenang walau walau nafasnya mulai tidak teratur, Wicaksana benar benar mendesaknya tanpa memberikan waktu menarik nafas.
Serangan Wicaksana yang semakin cepat dan mengandung tenaga dalam besar menyulitkan Minak Jinggo untuk mengatur kembali tempo pertarungan, dia dipaksa terus bertahan tanpa bisa menyerang balik.
Goresan goresan pedang yang menghiasi tubuh Minak Jinggo membuat darah segar merembes dari balik pakaiannya dan sesekali menetes ke tanah.
"Bagaimana mungkin wajahnya masih bisa setenang itu saat sudah terdesak, apa dia masih menyembunyikan sesuatu?" ucap Wicaksana dalam hati, dia tampak bingung karena sejak awal bertarung, Minak Jinggo terlihat sangat tenang seolah yakin mampu memenangkan pertarungan.
Minak Jinggo bahkan meminta Winara dan yang lainnya untuk pergi lebih dulu demi mengikuti rencana yang dibuat Wardhana.
"Kau sepertinya sangat yakin mampu mengalahkan aku. Baik, mari kita lihat apa kau masih menyembunyikan sesuatu atau ketenangan di wajahmu hanya menggertak karena sudah sangat putus asa," Wicaksana mengayunkan pedangnya sekuat tenaga namun Minak Jinggo tidak tinggal diam, dia memaksa ototnya untuk terus bergerak dan menghindari setiap serangan mematikan yang terarah padanya.
Pedang Wicaksana hanya menebas udara sebelum membentur dinding gua yang membuat debu beterbangan disekitar mereka.
Melihat jarak pandang Wicaksana sedikit terganggu akibat debu beterbangan, Minak Jinggo tidak menyianyiakan kesempatan, dia menggunakan jurus pedang api abadi untuk menyerang balik.
"Sial, debu debu ini menghalangi pandanganku," Wicaksana berusaha menghindar namun betapa terkejutnya dia saat pedang Minak Jinggo kini hanya berjarak beberapa jengkal dari lehernya.
Wicaksana masih terlihat tenang, dia sangat yakin kecepatannya jauh di atas Minak Jinggo. Serangan cepat itu dihindari dengan mudah, dia menunduk sebelum menarik pedangnya dan mengincar perut lawannya.
Namun sebuah tendangan keras tiba tiba menyambutnya dan membuat tubuh Wicaksana terlempar beberapa langkah. Belum sempat dia mengerti apa yang sedang terjadi dua serangan mematikan kembali mengincar kepalanya.
Wicaksana mampu menghindari satu serangan yang mengarah ke lehernya, namun tubuhnya tidak cukup cepat untuk menghindari serangan kedua.
"Tidak mungkin...dia membaca semua gerakan tubuhku...." tubuh Wicaksana terhempas dan punggungnya membentur dinding gua.
"Kau, bagaimana bisa..." Wicaksana menggantung ucapannya saat melihat mata Minak Jinggo memerah.
"Mata Bulan?" ucapnya terkejut, dia mulai mengerti apa yang membuat Minak Jinggo begitu tenang selama pertarungan.
"Aku cukup terkejut kau memiliki ilmu kanuragan tinggi tapi kau bukan satu satunya orang yang menyimpan sebuah rahasia." Bola mata Minak Jinggo terlihat memerah menandakan mata kutukan itu mulai aktif.
"Siapa kau sebenarnya? bagaimana bisa kau membangkitkan mata milik suku Atlantis itu?" ucap Wicaksana bingung.
"Jika kau begitu ingin tau siapa diriku sebenarnya, kau bisa menukarnya dengan nyawamu," Minak Jinggo tiba tiba bergerak dan langsung menyerang dengan sekuat tenaga.
"Gawat, mata itu membaca semua gerakanku," Wicaksana berdecak kesal saat Minak Jinggo terus memojokkannya.
Merasa posisinya dalam bahaya, Wicaksana berusaha menjaga jarak sambil memperbaiki kuda kudanya.
Melihat lawannya mulai berusaha menjauh, Namun Minak Jinggo tidak tinggal diam, dia terus menyerang dan mempertahankan jarak keduanya.
__ADS_1
Serangan demi serangan terus melukai tubuh Wicaksana, kemampuannya membaca arah pertarungan seolah takluk dihadapan mata bulan. Sekuat apapun dia berusaha menghindar, Minak Jinggo selalu unggul satu langkah.
Mata bulan merubah situasi dengan cepat, Wicaksana yang awalnya unggul kali ini benar benar dibuat tidak berdaya. Kemanapun dia bergerak menghindar atau akan melakukan serangan balik, Minak Jinggo langsung mematahkannya.
Wicaksana semakin terkejut saat melihat cara bertarung Minak Jinggo yang mengingatkannya pada seseorang.
"Gaya bertarung ini? aku seperti pernah melihatnya..." Wicaksana berusaha mengingat semua lawan yang pernah dia hadapi dulu namun saat pikirannya sudah memunculkan satu nama, pandangannya tiba tiba menjadi gelap sebelum merasakan sakit yang luar biasa di lehernya.
"Kau...apa hubunganmu dengan..." ucap Wicaksana sebelum tubuhnya tersungkur dan meregang nyawa.
"Pertanyaan itu juga yang terus menghantui kepalaku selama ini, siapa aku sebenarnya?" ucap Minak Jinggo pelan sebelum tiba tiba menjatuhkan pedangnya dan memegang kepalanya dengan kedua tangan.
"Rasa sakit ini selalu datang setiap aku menggunakan jurus itu, apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhku?" umpat Minak Jinggo kesal sambil menahan rasa sakit dikepalanya.
Bayangan seorang pendekar yang sedang membantai ratusan lawannya di sebuah hutan tiba tiba muncul kembali dalam pikirannya.
Bayangan yang selalu dia lihat setiap rasa sakit di kepalanya muncul sejak mempelajari ilmu kanuragan di sekte Pedang Naga Api.
"Dia..." tubuh Minak Jinggo bergetar hebat sebelum roboh dan tak sadarkan diri.
***
Wulan Sari langsung membuka matanya saat merasakan kekuatan besar mendekat, dia menyambar pedang yang ada didekatnya sebelum melangkah keluar dari ruangannya.
"Mereka sudah datang, bersiaplah. Kita harus mengulur waktu sampai bantuan datang dan semua persiapan selesai," balas Wulan Sari cepat.
"Tapi bukankah seharusnya..."
"Mereka sudah datang Tari dan sepertinya perkiraan Wardhana sedikit meleset, kita tidak punya pilihan lain kecuali melawan dan berharap bantuan segera datang," Wulan Sari berlari kearah gerbang utama.
Namun baru beberapa meter Wulan sari dan Mentari melangkah, pintu gerbang utama yang terbuat dari kayu besar hancur berkeping keping.
"Ibu selir," Mentari langsung membentuk perisai es untuk menahan serpihan serpihan kayu yang melesat ke arah mereka.
Wajah Mentari berubah seketika saat dinding es miliknya retak sebelum hancur berkeping keping.
"Mundur!" Wulan Sari menyambar tubuh Mentari yang masih mematung karena terkejut.
"Bagaimana mungkin serpihan kayu bisa menghancurkan dinding es dengan begitu mudah?" ucap Mentari bingung.
"Jurus Dewa es abadi, aku selalu menyukai jurus unik itu," Ken Panca muncul bersama ratusan pendekar Lembayung.
__ADS_1
"Tuan Ken Panca? bukankah masih terlalu pagi untuk datang berkunjung, matahari bahkan belum menampakkan sinarnya," jawab Wulan Sari pelan.
"Melihat reaksi kalian yang datar seperti itu apa aku masih harus menjawab? sepertinya Wardhana sudah menyadari sesuatu, tapi itu tidak akan merubah apapun, serahkan anak padaku, mungkin kalian akan selamat," balas Ken Panca pelan.
Wulan Sari terkekeh setelah mendengar ucapan Ken Panca, "Kau pikir aku bodoh? walau aku menyerahkan anak itu, kau tetap akan membunuh kami semua bukan?"
"Kau memang pintar tapi paling tidak kalian bisa mati tanpa rasa sakit jika menyerahkan anak itu tanpa perlawanan," tubuh Ken Panca tiba tiba menghilang dan muncul tepat dihadapan mereka.
Ken Panca mengayunkan pedangnya tanpa menggunakan jurus apapun, dia hanya menggunakan tenaga dalam yang dialirkan ke pedang pusaka nya.
Wulan Sari dan Mentari langsung menangkis serangan itu dengan pedang mereka, aura putih meluap dari tubuh Mentari bersamaan dengan munculnya Tongkat cahaya putih di atas kepala Mentari.
Sebuah ledakan besar yang memekakkan telinga terdengar di seluruh penjuru hutan Kematian ketika pusaka mereka beradu.
Dalam sekejap, tubuh Mentari dan Wulan Sari terlempar cukup jauh sebelum membentur salah satu bangunan yang ada di tempat itu.
"Tidak mungkin, energi Tongkat cahaya putih bahkan tidak mampu menahan serangannya," ucap Mentari sambil menahan rasa sakit.
"Tari, apa kau baik baik saja?" Wulan Sari menoleh kearah Mentari khawatir.
Mentari hanya mengangguk sambil mengalirkan tenaga dalam ke seluruh tubuhnya untuk menekan rasa sakit, dia dapat merasakan beberapa tulang rusuknya patah.
Suara ledakan yang tadi terdengar cukup keras menarik perhatian murid kelompok Teratai merah, seperti diberi komando mereka semua berlari kearah ledakan.
"Guru... mereka?" salah satu murid teratai merah tampak terkejut saat melihat ratusan pendekar mengepung sekte mereka.
"Ratna, jangan mendekat, kalian bukan lawannya! Dengarkan aku, bawa tubuh Yang mulia dan pergi dari sini," ucap Wulan Sari cepat.
"Tapi guru..."
"Sekarang!" teriak Wulan Sari kesal.
"Apa kau pikir mereka bisa pergi begitu saja?" sahut Ken Panca dingin sambil memberi tanda pasukannya untuk bersiap menyerang.
"Kau benar benar gila, Panca," umpat Wulan Sari.
"Gara, cari tubuh anak itu dan lakukan persiapan untuk perpindahan tubuh, aku akan membereskan mereka terlebih dahulu," ucap Ken Panca sebelum bergerak menyerang.
"Baik ketua," jawab Gara cepat.
"Saatnya membunuh kalian semua," Ken Panca terlihat menyeringai sebelum bergerak menyerang diikuti ratusan pendekar Lembayung.
__ADS_1
"Tari, larilah saat ada kesempatan dan jangan pernah menoleh kebelakang, aku akan mencoba mengalihkan perhatiannya," ucap Wulan Sari sebelum menyambut serangan.
"Aku tak akan pergi tanpa Yang Mulia," balas Mentari cepat.