Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Perang Besar I


__ADS_3

Arina terlihat memasuki tenda prajurit yang berdiri di tengah hutan dekat gerbang utama menuju ibukota Malwageni bersama Lembu Sora dan Wijaya.


Mengenakan Jubah perang lengkap dengan pedang terselip di pinggangnya, dia mulai menjelaskan semua rencana untuk bertahan dari gempuran dua arah sambil sesekali menulis sesuatu di gulungan besar yang ada di atas meja.


"Suka tidak suka kita harus membuat parit yang mengelilingi keraton untuk menghambat pergerakan pasukan Arkantara dan menyiapkan pasukan pemanah disekitarnya," ucap Arina pelan.


"Membuat parit? tidak mungkin nona, para prajurit akan kelelahan sebelum berperang dan itu jelas merugikan kita," jawab Wijaya.


"Apa kita punya pilihan lain? tanpa parit besar yang melindungi keraton, Arkantara dan Saung Galah akan leluasa menyerang dan saat itu terjadi prajurit sehebat apapun tak akan mampu menghadapi serangan besar dari dua arah," balas Arina kesal.


Wijaya terdiam setelah mendengar ucapan Arina, walau ingin terus membantah tapi yang diucapkan gadis itu benar. Serangan tiba tiba yang di pimpin Pancaka dan Agam benar benar membuat situasi keraton kacau terlebih Wardhana tidak ada ditengah mereka.


Kepanikan terjadi dimana mana termasuk para pejabat tinggi kerajaan, sebagian dari mereka bahkan meminta Tungga Dewi untuk menyerah dan mengajak Arkantara berunding namun usul itu langsung ditolaknya.


Tungga Dewi merasa perundingan sudah selesai sejak Agam mengingkari kesepakatan sebelumnya, dia lebih memilih mati daripada harus mengemis pada Arkantara.


"Apa yang dikatakan nona Arina benar kakang, kita harus secepatnya membangun pertahanan walau tidak harus mengelilingi keraton karena itu akan memakan waktu dan tenaga. Dermaga kapal ada di sekitar sini nona, jika kita bisa memperkirakan jalur kedatangan pasukan Arkantara, maka akan mempersempit pembuatan parit," ucap Sora sambil membuat beberapa titik di gulungan.


Arina terlihat berpikir sebelum membuka kembali kitab perang ditangannya, cukup lama dia membaca kitab itu sebelum mengangguk pelan.


"Anda yakin mereka akan melewati jalur ini?" tanya Arina pelan.


"Aku cukup yakin, satu satunya dermaga yang paling dekat dengan keraton berada di tempat terpencil ini. Dengan akses yang cukup sulit, hanya ini jalur yang paling mungkin mereka tempuh," jawab Sora cepat.


"Baik, kirim seratus pasukan untuk membuat parit pertahanan di tempat ini secepatnya dan juga resimen pemanah untuk melindungi mereka. Lalu tempatkan sebagian pasukan di hutan ini untuk menghambat pergerakan Saung Galah yang datang dari arah berlawanan, kita akan bertempur di dalam hutan secara sembunyi sembunyi dan tuan Wijaya yang akan memimpinnya.


Tuan Sora akan memimpin pasukan untuk menjadi pertahanan terakhir di gerbang utama ibukota, hanya itu yang bisa kita lakukan saat ini sampai tuan Paksi dan Arung datang," ucap Arina sambil terus menggambar sesuatu di gulungannya.


Wijaya dan Sora tampak takjub dengan keputusan keputusan cepat Arina, walau masih jauh dari kemampuan Wardhana namun Wijaya yakin gadis itu suatu saat akan mendekati Wardhana.


"Perintahkan semua Telik sandi untuk melapor secepat mungkin jika ada perkembangan, dengan situasi kita saat ini yang terdesak Informasi akan menjadi kunci kemenangan," ucap Arina melanjutkan.


"Hormat pada Gusti ratu," teriak beberapa prajurit dari luar tenda.


"Gusti ratu?" Arina dan Sora berpandangan sebelum melangkah cepat menyambut kedatangan Tungga Dewi, Ciha, Paksi, Arung, Lasmini dan Mentari.


"Gusti ratu...anda?" Arina tampak terkejut karena seharusnya Tungga Dewi saat ini sudah berada dalam perjalanan ke sekte Pedang Naga Api.


"Aku tidak ingin berdebat, jelaskan situasinya saat ini. Mulai saat ini aku akan mengambil alih komando tertinggi," ucap Tungga Dewi sambil melangkah masuk.


"Nyonya selir," ucap Arina bingung.


"Gusti ratu sudah memutuskan untuk ikut berperang, sekarang tugas kita adalah menjaganya," jawab Mentari sambil tersenyum.


Arina mengangguk pelan kemudian menjelaskan semua rencananya pada mereka termasuk pembuatan parit untuk menghambat pergerakan musuh.


Tungga Dewi tampak mengangguk mengerti, dia kemudian meminta Arung memimpin pasukan pengintai di perbatasan dengan Saung galah bersama Lasmini.


"Tari, kau tidak akan aku izinkan masuk ke medan perang karena kandunganmu sudah besar, temani aku di di sini bersama Arina dan paman Paksi. Lenny Darrow akan memimpin pasukan di hutan bersama paman Wijaya karena pertempuran di dalam hutan adalah keahliannya," ucap Tungga Dewi memberi perintah.


"Tapi gusti ratu...," Mentari sedikit protes karena tidak diizinkan ikut bertempur.


"Tidak Tari, keselamatan pangeran adalah yang utama," jawab Tungga Dewi cepat.


"Maaf Gusti ratu, dimana hamba bisa menemukan nona Leny?" tanya Wijaya pelan.


"Dia sedang berada di hutan sekitar sini mencari bahan yang akan digunakan untuk membuat jebakan, jika dia sudah kembali tunjukkan dimana tempat kalian akan bertempur," balas Tungga Dewi.


"Baik, Gusti ratu," jawab Wijaya cepat.


Tungga Dewi kemudian menatap Arina lembut sambil tersenyum manis.


"Kau tidak harus berada di sini, Arina. Malwageni sangat berterima kasih atas apa yang kau lakukan selama ini tapi jika kau ingin pergi maka sekarang lah saatnya."


"Yang mulia telah menyelamatkan hidup hamba saat yang lain pura pura tidak melihat semua kekejaman Saragi, dan sejak saat itu hamba memutuskan mengabdi pada beliau.


Hamba mungkin tidak bisa bertarung dan menggenggam pedang tapi hamba yakin bisa sedikit membantu, mohon izinkan hamba ikut peperangan ini Gusti ratu," jawab Arina pelan.


"Terima kasih," ucap Tungga Dewi sambil tersenyum bangga.


"Mohon jangan bicara seperti itu," jawab Arina cepat.


Tungga Dewi mengangguk pelan sambil menarik nafasnya, ada rasa lega sekaligus khawatir yang dia rasakan saat ini.


Tungga Dewi merasa lega karena semua orang disekitarnya bersedia mempertaruhkan nyawa tapi di sisi lain, ini pertama kalinya Malwageni berperang tanpa Wardhana. Paksi memang mendampinginya tapi kehadiran Wardhana dapat meningkatkan semangat tempur pasukan Angin selatan dengan cepat.


"Dengarkan baik baik titah ku kali ini, apapun yang terjadi jangan biarkan keraton di kuasai mereka apalagi oleh Pancaka. Aku yakin Yang mulia dan paman Wardhana akan segera datang, jadi bertahanlah sampai saat itu tiba," ucap Tungga Dewi sedikit berteriak.


"Hamba menerim perintah!" teriak mereka bersamaan.


"Pergilah dan jangan biarkan siapapun menginjak injak Malwageni termasuk Pancaka," ucap Tungga Dewi dingin, dia tidak lagi menyebut adik tiri Sabrang itu dengan pangeran.

__ADS_1


"Hancurkan mereka!" teriak Arung tiba tiba yang diikuti semuanya, mereka melangkah pergi diiringi teriakan para prajurit.


"Arina, apa sudah ada kabar dari Yang mulia?" tanya Tungga Dewi setelah kepergian Arung dan yang lainnya.


"Belum gusti ratu tapi seharusnya pesan kita sudah sampai," jawab Arina cepat.


"Begitu ya.. semoga saja," ucapnya pelan.


"Apakah kelompok teratai merah boleh bergabung?" suara Wulan Sari terdengar dari luar sebelum muncul bersama Suliwa dan Tantri muridnya.


"Ibu selir dan tetua Suliwa," Tungga Dewi dan Mentari menundukkan kepalanya memberi hormat.


"Kau sudah tumbuh dewasa Gusti ratu," Wulan Sari langsung memeluk Tungga Dewi dan Mentari bergantian.


"Aku membawa semua murid teratai merah dan sekte Pedang Naga api untuk bergabung, kami tak akan membiarkan mereka seenaknya menyerang tanah Jawata.


Aku juga mendapat kabar jika Angin biru sedang dalam perjalanan menuju kesini, mereka akan mengerahkan semua anggota untuk membantu kita," ucap Wulan Sari sambil menenangkan Tungga Dewi yang sedikit gugup.


"Terima kasih ibu selir," wajah Tungga Dewi sedikit lega, dia kemudian mempersilahkan Wulan sari dan Suliwa duduk di dalam.


Suliwa sempat menoleh kearah perut Mentari yang sudah membuncit, dia tampak terkejut sebelum tersenyum lembut.


"Dunia persilatan akan memiliki pendekar pendekar hebat kelak," ucap Suliwa pelan.


Mentari hanya membalas dengan anggukan tanpa mengerti maksud Suliwa.


Tak Lama, seorang prajurit masuk dengan tergesa-gesa dan melaporkan jika sekelompok orang yang mengaku dari sekte Api dan angin daratan Hujung tanah berada di gerbang utama ibukota dan meminta bertemu.


"Sekte Api dan Angin?" tanya Tungga Dewi bingung.


"Sepertinya tetua Krisna tidak akan membiarkan Candrakurama berjuang sendiri, bawa mereka kesini," balas Mentari kemudian.


"Baik nyonya selir," sahut prajurit itu cepat sebelum melangkah pergi.


"Arung juga mengatakan jika sekte nya Naga Langit juga sedang bergerak dari Celebes dan siap bergabung untuk melindungi Emmy. Dunia persilatan mulai bergerak, mereka tidak akan membiarkan Arkantara dan pasukan kuil suci bertindak seenaknya," ucap Tungga Dewi terharu.


"Semua menunggu perintah anda Gusti ratu, sampai Yang mulia kembali, andalah yang memimpin," balas Suliwa pelan.


Seorang prajurit kembali menghadap saat Tungga Dewi sedang bicara, dia mengatakan jika utusan Cakra Tumapel pimpinan Biantara meminta bergabung.


"Bahkan Cakra tumapel? sepertinya inilah saat yang tepat untuk menyatukan dunia persilatan," ucap Mentari dalam hati.


Seingatnya tidak ada yang bisa menggerakkan kekuatan dunia persilatan sebesar ini sebelumnya.


"Benar, orang yang dulu menyelamatkanku dari para perampok kejam, kini berubah menjadi simbol yang menyatukan dunia persilatan," balas Mentari sambil mengingat kembali pertemuannya dengan Sabrang untuk pertama kali di sebuah penginapan kecil.


***


"Jurus Serbuk Bunga penghancur Iblis," Sekar Pitaloka bergerak cepat saat Candrakurama terlempar akibat serangan cepat Ajidarma.


Ayunan pedang Sekar menghantam dinding es yang muncul dihadapannya sebelum hancur bersamaan dengan munculnya energi pedang yang terarah padanya.


Sekar yang terkejut berusaha menghindar namun Ajidarma dengan cepat muncul didekatnya dan langsung menyerang sekuat tenaga.


"Kau pikir serangan lemah itu bisa melukaiku?" ucap Ajidarma sambil tersenyum dingin.


Sekar Pitaloka melepaskan energi murni untuk meningkatkan kecepatannya, dia berusaha menghindar dengan melemparkan pisau es yang terbentuk di kedua tangannya.


"Dia jauh lebih kuat dari pendekar tadi," Sekar membentuk dinding es saat serangan yang terarah padanya semakin cepat.


"Ibu ratu," teriak Candrakurama saat dinding es sekar hancur seketika dan serangan Ajidarma mengenai tubuhnya.


"Kau sangat lambat," Ajidarma berusaha mencengkram leher lawannya namun Sekar tidak tinggal diam, dia membentuk serpihan es yang berputar cepat disekitarnya sebelum terlempar dan membentur pepohonan.


"Apa kalian sudah sadar seberapa jauh perbedaan kekuatan kita?" ucap Ajidarma sinis, tak ada sedikitpun goresan di tubuhnya.


"Ibu ratu," Candrakurama berlari mendekati sekar dan memeriksa lukanya.


"Aku baik baik saja, jurus es nya jauh lebih kuat dari milikku, sulit sekali menembus perisai es yang selalu muncul di sekitarnya," balas Sekar Pitaloka pelan.


Candrakurama menatap tajam pria yang dikelilingi bongkahan es berbentuk pisau yang berputar cepat. Dia merasa masih bisa mengimbangi ilmu kanuragan Ajidarma namun yang dikatakan Sekar benar, pertahan es nya benar benar sempurna.


"Ibu ratu sebaiknya menjauh, aku akan mencoba menahannya," Candrakurama mengalirkan tenaga dalamnya dan bersiap menyerang sebelum sesosok pria berambut putih melesat dan berdiri dihadapannya.


"Kau terlihat buruk Candrakurama," ucap Rubah Putih pelan.


"Tuan, anda datang tepat waktu. Berhati hatilah pada jurus esnya," balas Candrakurama.


"Jurus es ya? jika murid tapak es utara sampai terdesak dengan jurus itu maka dia pasti jauh lebih kuat," Rubah Putih menoleh kearah Sekar Pitaloka sesaat.


"Bantuan? aku memang merasakan energi milikmu jauh lebih kuat dari mereka tapi itu tak akan mengubah apapun," ucap Ajidarma sinis.

__ADS_1


"Pulihkan kondisi kalian, aku akan mengurusnya," Rubah Putih mulai mengalirkan tenaga dalam sebelum bergerak cepat.


"Semakin kau percaya diri dengan kekuatanmu, aku justru semakin tertarik," ucap Rubah Putih.


"Kau hanya akan jatuh dalam keputusasaan seperti mereka berdua, tak akan ada yang bisa menghentikan aku menguasai peradaban itu," pisau es yang mengelilinginya berputar semakin cepat dan menangkis setiap serangan golok Rubah Putih.


"Dinding esnya tidak hancur terkena seranganku? bagaimana es itu bisa keras seperti baja?" Rubah Putih tersentak saat sabetan goloknya bahkan tidak mampu menggores es itu.


Dia bergerak menghindar ketika pisau es itu bergerak kearahnya dan mengikuti kemana dia bergerak seolah memiliki mata.


"Aku baru tau ada jurus es sekuat ini? menarik!" Rubah Putih terus meningkatkan kecepatannya.


***


"Tingkatkan kecepatan kalian," teriak Arsenio saat serangan pisau tumbuk lada berhasil dihindari pendekar kuil suci dengan sempurna.


Wardhana yang melihat pertarungan itu dari jarak yang cukup dekat hanya menatap kosong dengan posisi masih berlutut.


Mentalnya benar benar terpukul dan tak tau harus berbuat apa disaat situasi semakin menekannya.


Melihat Wardhana seperti hilang semangat, salah satu pendekar kuil suci memisahkan diri dari formasi. Dia ingin mengambil kesempatan ini untuk membunuh orang yang dianggap Agam berbahaya selain Sabrang.


"Dia mengincar tuan Wardhana," Arsenio terpaksa keluar dari formasi demi menyelamatkan Wardhana namun gerakannya terlambat karena pendekar itu sudah berada di dekat Wardhana.


Wardhana reflek mencabut pedangnya dan menangkis serangan itu namun karena perbedaan kekuatan tubuhnya terlempar dan membentur batu yang berada di dekat sungai.


"Sial! Aku memang lemah," Wardhana mencoba bangkit dan menggunakan pedang sebagai tumpuannya, pandangannya tiba tiba terhenti saat melihat pedang pemberian Arya Dwipa yang tergores akibat serangan lawannya.


Pendekar itu mencoba menyerang kembali namun Aesenio sudah muncul dihadapannya.


Pendekar itu terpaksa melompat mundur setelah mendapat serangan tiba tiba Arsenio.


"Jika kau memang ingin mati maka pergi jauh dari sini, aku paling benci melihat pengecut sepertimu mati tanpa berusaha melawan. Aku tidak tau apa masalahmu tapi jika kau tidak bisa bangkit kembali maka tuan Damar telah salah memilihmu," ucap Arsenio kesal sambil terus menyerang lawannya.


"Salah memilihku? mungkin kau benar, mereka telah salah memilih orang," Wardhana kembali teringat semua perjalanan hidupnya sebagai prajurit Malwageni sejak Arya Dwipa mengajaknya masuk istana.


"Setiap manusia memiliki peran di dunia ini, tidak harus memaksakan menjadi orang lain untuk terlihat menonjol. Kau tau nak, kadang kemenangan dalam perang ditentukan dari hal kecil," ucap Arya Dwipa setelah berhasil lolos dari kepungan pasukan Majasari di Trowulan.


"Anda sedang menghiburku tuan? tanpa kekuatan anda lihat sendiri bagaimana desaku hancur oleh mereka," jawab Wardhana yang akhirnya mengetahui jika orang dihadapannya adalah seorang raja.


"Lalu siapa yang menyelamatkanku? aku memiliki kekuatan yang tidak bisa dianggap remeh tapi melawan orang sebanyak itu aku tak yakin mampu dan siasat mu yang menyelamatkan kami, jadi siapa yang lemah?" balas Arya Dwipa sambil tersenyum.


Wardhana terdiam dan mencoba mencerna ucapan Arya Dwipa.


"Kekuatan tak harus selalu ilmu kanuragan karena setiap manusia sudah dianugerahi kekuatan masing masing untuk menjalani hidup. Semua memiliki peran masing masing dan seorang pendekar terkuat pun tak akan mampu hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.


Kau memiliki potensi yang jarang dimiliki orang lain dan hanya kau yang mampu mengeluarkan potensi dalam dirimu," ucap Arya Dwipa kemudian.


Saat mereka sedang bicara, tiba tiba seorang prajurit mencabut pedangnya dan berlutut dihadapan Arya Dwipa.


"Hamba pantas mati Yang mulia, kecerobohan hamba hampir membuat anda dalam bahaya," prajurit itu berusaha menggorok lehernya sendiri sebelum Arya Dwipa merebut pedang itu.


"Kau merasa bersalah? bagi seorang prajurit sejati bukan kematian yang digunakan sebagai penebus kesalahan, teruslah hidup dan menjadi kuat dengan potensi yang kau miliki lalu berikan nyawamu untuk Malwageni. Dasar bodoh!" umpat Arya Dwipa sambil mematahkan pedang itu.


"Yang mulia...." prajurit itu terus menangis dihadapan Arya Dwipa dan Wardhana.


"Bagi seorang prajurit sejati bukan kematian yang digunakan sebagai penebus kesalahan, teruslah hidup dan menjadi kuat dengan potensi yang kau miliki lalu berikan nyawamu untuk Malwageni."


Wajah Wardhana berubah seketika saat teringat pesan Arya Dwipa padanya, air mata mulai keluar dari matanya namun kali ini wajahnya mengeras dan sorot mata tajam dan penuh keyakinan telah kembali.


"Kau bodoh Wardhana, kau orang paling bodoh di dunia ini. Jika kau ingin mati maka matilah setelah menghancurkan semua musuh Malwageni karena nyawamu adalah milik Malwageni sejak Yang mulia Arya Dwipa menyelamatkanmu," Wardhana bangkit dari duduknya.


"Kau bisa mengatasi mereka?" teriak Wardhana pada Arsenio yang sedang bertarung.


"Apa kau tidak lihat aku sedang berusaha?" balas Arsenio sinis.


"Baik, kuserahkan mereka padamu, ada banyak hal yang harus aku lakukan," Wardhana berlari kearah Kuil Khayangan sambil menggenggam erat pedang pemberian Arya Dwipa.


"Yang mulia Arya Dwipa, jika memang menurut anda potensiku berbeda dengan para pendekar itu maka aku akan mengerahkan semuanya untuk memastikan kemenangan berada di pihak kita walau tubuh ini harus hancur berkali kali," ucap Wardhana dalam hati.


"Dia telah kembali, kalian benar benar dalam masalah kali ini," ucap Arsenio mengejek. Walau dia belum mengenal Wardhana namun dari semua cerita yang didengarnya saat bertemu Darin di air terjun lembah pelangi, patih Malwageni itu mampu menghancurkan siapapun dengan siasatnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Cukup sulit menulis beberapa chapter terakhir ini karena melibatkan banyak sekte dan dua kerajaan yang akan bertarung di tanah Jawata, belum lagi misteri peradaban Lemuria dan hubungannya dengan suku Atlantis yang sempat dibaca Wardhana di sebuah batu di sungai jadi jika agak terlambat saya mohon maaf...


Wardhana terkecoh dan sempat putus asa? saya memang ingin mem"Bumi"kan kembali salah satu tokoh yang paling saya sukai ini karena bagaimanapun dia adalah manusia biasa yang pasti akan melakukan kesalahan.


Dengan terkecoh nya Wardhana kali ini, dia akan berfikir ulang dan merenungi semua kesalahannya dan pasti akan bertambah kuat.


Apalagi ya... kayaknya tinggal Vote yang belum karena PNA terus update rutin karena vote kalian.. percaya atau tidak 2700 kata ini bisa saya buat jadi dua chapter tapi saya gabungkan.. boleh di anggap bonus atau pun tidak wkwkwkww

__ADS_1


__ADS_2