Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pergerakan Sekte Iblis Hitam II


__ADS_3

Kapal yang membawa Sabrang dan rombongan terlihat memasuki gua tempat Arung menyembunyikan kapal saat pertama datang ke Jawata.


Emmy terlihat paling antusias karena ini pertama kalinya dia datang ke daratan Jawata. Dia bahkan terlihat beberapa kali melompat saking girangnya, Sabrang hanya tersenyum melihat tingkah gadis itu.


Mereka melompat turun ketika Arung menurunkan jangkarnya.


"Masih butuh setengah hari untuk sampai di Tapak es utara, sebaiknya kita mengisi perut terlebih dahulu. Laut itu benar benar menguras isi perutku" ucap Sabrang pelan. Selama perjalanan Sabrang adalah orang yang paling menderita karena hanya dia yang mabuk laut. Emmy terlihat setia merawatnya selama dalam perjalanan.


Mereka berhenti disebuah penginapan yang cukup besar untuk mengisi perut. Beberapa pelayan menyapa mereka dengan sopan. Setelah mereka memesan bebersps porsi makanan, Wardhana menuntun mereka disebuah meja kosong ditengah ruangan.


"Apakah kalian memakan makanan yang sama dengan kami?" tanya Emmy polos yang langsung duduk disebelah Sabrang.


"Apa kau pikir kami memakan batu?" jawab Sabrang sambil tertawa.


"Kau tau kabar terbaru hari ini? seluruh murid sekte Iblis hitam menghilang secara misterius. Tak ada jejak sama sekali, mereka seperti hilang ditelan bumi" ucap salah satu pendekar yang duduk tak jauh dari Sabrang.


Lingga langsung menghentikan makannya dan berjalan mendekati pendekar itu.


"Apa maksudmu hilang secara misterius?" tanya Lingga dingin.


"Siapa kau berani sekali menguping pembicaraan kami? kau tau dari mana kami berasal?" bentak pendekar itu, dia tidak suka dengan sikap lancang Lingga.


Lingga tersenyum dingin "Sekte hutan pinus, salah satu sekte kecil aliran putih. Aku bahkan bisa menghancurkan sektemu seorang diri" Lingga melepaskan aura dari tubuhnya yang membuat para pendekar itu tersentak kaget.


Sabrang menggelengkan kepalanya "Kita baru saja menginjakkan kaki di Jawata, kau sudah mau menumpahkan darah?".


"Jawab aku, apa maksud perkataanmu tadi?" Lingga tidak menghiraukan ucapan Sabrang. Bagaimanapun dia adalah pendekar iblis hitam walaupun sudah mengundurkan diri.


Nyali dua pendekar itu menjadi ciut setelah merasakan tekanan aura Lingga.


"Tadi malam ratusan pendekar Iblis hitam menghilang tiba tiba, bahkan kudengar saat ketua Teratai merah berkunjung kesana dia tidak menemukan satu orangpun. Keadaan sekte yang rapih dan tidak ada bekas pertarungan membuat bingung tetua Wulan".


Wardhana menelan ludahnya saat mendengar penjelasan pendekar itu, dia langsung terbayang pemuda yang dilihatnya melayang saat mereka meninggalkan Swarnadwipa.


"Kejadiannya sama dengan hilangnya kelompok Tengkorak merah, aku yakin pelakunya satu orang" ucap Wardhana pelan.


Lingga menoleh sesaat sebelum mengambar pedangnya. "Kalian pergi dulu, aku akan memeriksa sekteku" ucap Lingga melangkah keluar.


"Yang mulia, bukan aku meragukan kemampuan Lingga namun akan sangat berbahaya jika membiarkannya pergi sendiri. Aku takut dia bertemu pemuda misterius itu disana, kita harus mengikutinya".


"Pemuda misterius?" Sabrang mengernyitkan dahinya.


Wardhana menarik nafas panjang sebelum menjelaskan apa yang dilihatnya sesaat sebelum mereka meninggalkan Swarnadwipa tentang seorang pemuda yang melayang diudara dan mengancamnya.

__ADS_1


"Kenapa paman tidak memberitahuku?".


"Maaf Yang mulia, hamba merasa dia bukan orang sembarangan dan ada hubungannya dengan ruang rahasia yang kita temukan. Aku hanya berfikir sebaiknya kita membuat rencana terlebih dahulu sebelum bergerak" ucap Wardhana pelan.


"Sebaiknya kita cepat menyusulnya Yang mulia, setelah memastikan aman kita kembali ke Tapak es utara dan menyusun rencana. Kemunculannya di Jawata diluar perkiraanku dan kemana dia membawa para pendekar yang hilang itu".


Sabrang mengangguk pelan, setelah membayar makanan yang dihidangkan mereka bergegas menuju sekte Iblis pedang yang jaraknya tak terlalu jauh dari tempat mereka saat ini.


Lingga terlihat melesat cepat memasuki hutan. Wajahnya tampak menunjukan guratan cemas. "Ketua, semoga kau selamat" gumamnya dalam hati.


Lingga berhenti tepat didepan gerbang yang bertuliskan sekte Iblis hitam. Dia menatap bangunan itu sesaat, bangunan yang sangat dikenalinya itu kini sunyi dan tak ada suara latihan atau canda tawa antar murid Iblis hitam.


Wajah Lingga mengeras saat melihat seseorang keluar dari dalam ruangan, dia hampir mencabut pedangnya namun diurungkannya setelah mengenali wanita itu.


"Kau? sudah kembali?" Wulan sari terkejut melihat kehadiran Lingga.


"Apa yang terjadi pada sekteku?" tanya Lingga heran. Dia sangat mengerti ilmu kanuragan Kertasura dan Dongkel, hanya sedikit orang yang mampu menandingi mereka.


"Aku belum mengetahuinya namun ada yang harus kutunjukkan padamu" ajak Wulan sari.


"Nenek" teriak Sabrang pada Wulan sari. Dia muncul bersama Wardhana dan yang lainnya.


"Kalian sudah kembali nak?" ucap Wulan sari tersenyum, namun pandangan matanya berhenti saat menatap seorang gadis cantik yang berdiri disebelah Sabrang.


"Dia?" Wulan sari mengernyitkan dahinya.


Wulan sari menganggu pelan, dia merasa Sabrang begitu polos dengan membawa wanita masuk kedalam pusaran konflik yang tanpa sadar dia ciptakan sendiri.


"Ikut denganku, sepertinya ada petunjuk yang tak sengaja tertinggal, semoga dapat membantu tuan Adipati".


Wulan berjalan masuk, diikuti yang lainnya. Sepanjang jalan masuk lorong tak terdengar satupun suara manusia, semua seperti menghilang tanpa jejak.


Lingga terus menoleh kesekelilingnya berharap melihat seseorang namun sepanjang jalan dia tak menemukan apa apa.


Wulan sari menghentikan langkahnya didepan sebuah ruangan.


"Ruang latihan ketua?" gumam Lingga dalam hati.


"Ayo masuk" ajak Wulan sari. Dia melangkah kesudut ruangan dan menunjukkan tulisan pada Wardhana.


Wardhana mengernyitkan dahinya dan membaca tulisan itu. Dia meraba tulisan yang ditulis dengan darah itu dan menciumnya.


"Tulisan ini baru ditulis, darahnya masih belum terlalu kering. Perkiraanku tulisan ini dibuat kemarin sore, jadi kemungkinan hilangnya mereka adalah kemarin sore".

__ADS_1


"Apa kau menemukan ketua saat datang kemari?" tanya Lingga pelan.


Wulan sari menggeleng pelan "Tidak ada satupun orang yang kutemukan saat datang kemari".


"(Suku iblis petarung hanya pion untuk mengalihkan perhatian. Dongkel telah jauh tersesat oleh ilmu aneh itu. Pertemuanku dengan Suliwa akan membantumu mendekatinya)".


"Petunjuk ini dibuat oleh tetua Kertasura". Wardhana terlihat berfikir sejenak.


"Apa ada yang aneh dengan pergerakan Iblis hitam akhir akhir ini?" tanya Wardhana.


Wulan sari mengangguk pelan "Itu yang sedang kami bahas bersama beberapa tetua aliran putih lainnya. Setelah perdamaian yang diciptakan Kertasura dan Suliwa tiba tiba sikap iblis hitam berubah. Dongkel yang diangkat menjadi ketua sekte berusaha merebut kunci telaga khayangan api. Kami berfikir Kertasura merestui sikap Dongkel selama ini, aku mencoba mengajak Kertasura bicara namun yang aku temui hanya sekte kosong ini".


"Pertemuanku dengan Suliwa akan membantumu mendekatinya. Apa maksud ucapannya ini?" gumam Wardhana dalam hati.


Wardhana berjalan sambil terus berfikir, dia merasa ada yang janggal dalam penyerangan Iblis hitam.


"Pesan Kertasura ini terlalu aneh dan mencolok, jika aku menjadi pemuda misterius itu aku akan langsung menyadari keberadaan pesan ini dan menghapusnya namun bagaimana dia bisa melewatkan hal mencolok ini".


"Apa Dongkel terlibat?" Lingga mengepalkan tangannya menahan amarah.


"Pesan yang disampaikan Kertasura jelas mengatakan Dongkel dalang dibalik semua ini, perkiraanku dialah yang bekerja sama dengan pemuda itu tanpa sepengetahuan Kertasura".


"Akan kubunuh dia" gumam Lingga dalam hati.


Wardhana tiba tiba berjalan cepat mendekati tulisan itu. Dia membaca sekali lagi tulisan itu dan menyadari sesuatu.


"Mendekatlah" ucap Wardhana seperti tidak ingin ada yang mendengar pembicaraannya.


"Penyerangan Iblis hitam sepertinya rencana dadakan yang pemuda itu buat setelah kita berhasil menemukan ruang rahasia di gua emas. Dia sengaja menampakkan diri dihadapanku untuk mempengaruhi pikiranku. Dia ingin aku berfikir bahwa kita sekarang adalah targetnya dan aku sempat berfikir demikian. Jika aku termakan siasatnya maka akan menjauhkan kita dari Misteri bersusun dan lebih tertarik mengejarnya.


Dia sengaja menyerang Iblis hitam agar kita semakin jauh dari misteri bersusun. Aku semakin ingin membongkar apa yang sebenarnya dia sembunyikan sekuat tenaga.


"Dongkel saat ini bersembunyi ditempat Kertasura dan Suliwa sering bertemu. Jika dia ingin sekali kita mengejar Dongkel maka akan kukabulkan.


Kita kembali ke Tapak es utara dan menanyakan pada tetua Suliwa dimana dia bisa bertemu dengan Kertasura. Ikuti alur rencananya seolah kita terjebak siasatnya. Aku akan menyusun rencana untuk menangkapnya di rumah para dewa terakhir.


Jika dia bisa membuat misteri bersusun untuk mengecohku maka akan kubuat perangkap terbesar untuk menangkapnya". Wardhana menoleh kearah Lingga yang berada didekatnya.


"Aku ingin kau menghancurkan Dongkel seolah masuk perangkap pemuda misterius itu".


"Tak perlu khawatir, akan kukuliti tubuhnya sealami mungkin".


Wardhana mengangguk pelan.

__ADS_1


"Yang mulia, saatnya kita kembali ke tapak es utara dan menyusun rencana".


"Baik paman" jawab Sabrang pelan.


__ADS_2