Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Keanehan Sabrang Damar


__ADS_3

"Apa kau mendengar sesuatu?" Wulan berhenti di salah satu pohon saat mendengar suara ledakan.


Wardhana menggeleng pelan, dia mencoba menajamkan pendengarannya namun tetap tak mendengar apapun.


"Sepertinya ada pertarungan besar, aku bisa merasakan aura menekan," ucap Wulan sedikit khawatir.


Wardhana tampak tidak terlalu mendengarkan ucapan Wulan, pandangan matanya tertuju pada puncak gunung padang yang terlihat membumbung tinggi.


"Apa kau mendengarkan ku?" tanya Wulan sambil menoleh kearah Wardhana.


"Ah maaf tetua, anda bicara apa?" balas Wardhana terbata bata.


"Wulan, panggil saja namaku, tak perlu memanggilku tetua," jawab Wulan.


"Tapi tetua..." belum selesai Wardhana bicara, Wulan sudah memotongnya kembali.


"Wulan! apa cukup jelas? aku tidak suka terlihat tua dengan panggilan itu," ucap Wulan sinis.


"Baik, tetu.. eh Wulan," balas Wardhana kikuk.


"Lalu apa yang membuat gunung itu menarik perhatianmu sampai mengabaikan aku?"


"Mungkin ini hanya perasaanku saja, namun ada yang aneh dengan gunung itu," jawab Wardhana pelan.


"Aneh?" Wulan mengernyitkan dahinya.


"Aku masih belum yakin namun saat berada di Lembah Penghisap sukma aku melihat bukit bukit yang terlihat mengelilingi gunung itu berada tepat di empat arah mata angin. Sepertinya gunung Padang itu sengaja di bangun di tempat itu," jawab Wardhana.


"Empat mata angin? Apa mungkin konsep bangunan ini berhubungan dengan legenda Ksatria penjaga lima mata angin?" tanya Wulan penasaran.


"Aku masih belum paham namun jika benar, ada misteri yang jauh lebih besar yang terkurung bersama Pagebluk Lampor di gunung itu, kita harus memastikannya terlebih dulu," jawab Wardhana khawatir.


"Apa mungkin misteri yang kau maksud adalah...?"


"Sebaiknya kita tidak membicarakan hal itu terlebih dahulu, sangat berbahaya jika terdengar oleh orang lain mengenai pusaka yang tertulis dalam kitab Sabdo Loji. Namun jika benar ada maka tugas kita adalah menjauhkan semua orang dari pusaka itu apapun caranya, dan biarkan semua tetap menganggap pusaka itu hanya karangan belaka," potong Wardhana.


Wardhana kembali memperhatikan gunung itu lama sambil terus berfikir.


Suara Ledakan yang jauh lebih besar dari sebelumnya kembali mengagetkan mereka.


"Ledakan tenaga dalam iblis milik Rubah Putih? mereka di sana," Wulan bersiap pergi namun lengan Wardhana dengan cepat mencengkeramnya.


Mendapat tarikan tiba tiba membuat Wulan oleng, tubuhnya menabrak Wardhana sebelum keduanya jatuh dari atas pohon dengan posisi Wulan berada di atas Wardhana.


"Ah maaf," Wulan bangkit dari atas tubuh Wardhana sambil berbalik, dia ingin menyembunyikan wajahnya yang memerah.


"Kita sebaiknya memeriksa gunung padang lebih dulu sebelum menemui mereka. Pagebluk Lampor mungkin berbahaya namun jika pusaka itu benar benar ada, itu juga tak kalah berbahaya.


Saat ini Yang mulia bersama tuan Rubah Putih dan ketua Cakra Tumapel, aku yakin mereka bisa mengatasinya. Kita akan menyusul setelah aku memastikan semuanya," ucap Wardhana pelan.


Wulan hanya mengangguk pelan, suasana canggung masih dia rasakan akibat terjatuh dari atas pohon bersama Wardhana tadi.


"Ayo, kita harus cepat," Wardhana bergerak cepat diikuti Wulan dibelakangnya.


"Apa menurut anda Pusaka itu benar benar ada?" tanya Wulan pelan.


"Aku tidak tau namun apa anda meragukan isi kitab Sabdo Loji?" balas Wardhana.


Wulan menggeleng pelan, dia jelas sangat percaya dengan keberadaan kitab itu. Wulan sudah melihatnya sendiri kitab Sabdo Loji walau hanya sebentar saat ayahnya menunjukkan padanya saat masih kecil.


Saat itu ayah Wulan mengatakan jika kitab yang dilihatnya adalah kitab tertinggi yang ada di dunia persilatan karena apa yang tertulis didalam kitab itu adalah gabungan Ilmu kanuragan, ilmu pengetahuan dan ramalan.


Tidak ada yang tau siapa penulis kitab itu dan itulah terakhir kalinya kitab Sabdo Loji muncul di dunia persilatan karena setelah kematian ayahnya oleh Masalembo, kitab itu seolah raib ditelan bumi.


Wardhana sendiri mengetahui kitab itu karena di beberapa kitab perang yang dia baca menyebutkan Sabdo Loji sebagai rujukan dalam menyusun seni perang.

__ADS_1


Dalam kitab perang yang dia pelajari itu, disebutkan bahwa seni tertinggi perang ada di kitab Sabdo Loji dengan sebuah pusaka bernama pedang Bilah Gelombang.


Dalam catatan yang dibaca Wardhana, Bilah gelombang digambarkan sebagai pusaka misterius yang mengandung aura yang sangat jahat dan bisa membunuh pendekar sakti manapun dalam satu tebasan.


Hal itulah yang membuat Wardhana kali ini sangat khawatir jika benar pedang Bilah Gelombang benar benar ada.


"Semoga aku salah," ucap Wardhana lirih


Mereka terus bergerak ke puncak gunung padang dengan perasaan khawatir, tekad mereka cuma satu, jika pedang itu benar benar ada mereka harus menyembunyikannya dari siapapun termasuk Sabrang.


***


Pertarungan di air terjun tempat jalan rahasia menuju Nagara siang padang terjadi cukup sengit. Kekuatan yang dimiliki para pendekar Angin kegelapan cukup merepotkan Rubah Putih dan kelompoknya.


Rubah Putih sendiri disibukkan oleh empat orang pendekar Angin kegelapan yang terus menyerangnya tanpa henti. Sedangkan Candrakurama berhadapan dengan dua pendekar lainnya.


Ken Panca yang berada tak jauh dari mereka, sibuk membantu Wijaya dan Emmy yang diserang oleh empat pendekar angin kegelapan.


Yang membuat mereka sedikit kewalahan adalah para pendekar itu menguasai ajian Sirep Sukma tingkat tinggi yang membuat semua pendekar Angin kegelapan sangat sulit diserang.


Ilmu kanuragan mereka pun jauh lebih tinggi dari Andini dan para pendekar yang telah ditaklukkan oleh Wulan dan Wardhana.


Situasi semakin sulit bagi mereka karena secara tidak terduga Payada menghancurkan sumur tua yang menjadi satu satunya akses menuju jalan rahasia saat melihat kedatangan Rubah Putih dan yang lainnya.


Paksi tidak mengerti dengan apa yang mereka rencanakan karena menghancurkan sumur tua itu sama saja mengurung teman temannya yang masih berada di dalam.


Paksi terpaksa harus kembali memutar otaknya untuk mencari jalan masuk ke jalur rahasia itu.


"Bagaimana caranya masuk ke ruang rahasia itu saat sumur itu telah hancur?" ucap Paksi sambil memperhatikan pertarungan sekitarnya dari tempat yang cukup jauh.


"Ada yang aneh," Ken Panca tampak mengamati pergerakan empat pendekar yang menyerangnya.


"Aneh?" balas Emmy bingung.


Ken Panca dengan cepat merubah arah pedangnya, dia memanfaatkan posisi lawan yang tidak siap setelah melepaskan jurus andalannya untuk menyerang balik.


Ken Panca bergerak menyerang bersamaan dengan bayangannya yang terus berusaha menjangkau bayangan lawan.


Dia mengayunkan pedangnya sekuat tenaga untuk mengalihkan perhatian lawan dari bayangannya.


Saat pendekar itu berusaha menghindar, bayangan Ken Panca sudah berhasil mencengkram bayangan lawannya.


Pendekar itu tampak terkejut saat tubuhnya tiba tiba tidak bisa digerakkan.


Ken Panca tersenyum dingin sambil mempersiapkan kuda kuda jurus Api abadi, dia mengalirkan tenaga dalam ke pusaknya.


"Api abadi tingkat II : Tarian Api abadi," pedang Ken Panca membelah tubuh pendekar itu sesaat sebelum berubah menjadi asap hitam dan menghilang.


"Sial jurus itu lagi," Ken Panca memperhatikan sekitarnya untuk memperkirakan dimana dia akan muncul menyerang.


Ken Panca tersentak kaget saat pendekar itu justru muncul di dekat Paksi yang melihatnya dari jauh.


"Gawat, mereka sejak awal mengincar tuan Paksi yang menjadi kunci memecahkan misteri jalan rahasia ini," Ken Panca langsung menggunakan segel bayangan untuk menghentikannya namun terlambat, pedang pendekar itu sudah berada di dekat leher Paksi.


"Mati kau!"


Tubuh Paksi kaku dan tidak bisa digerakkan akibat tekanan aura pendekar Angin kegelapan, dia hanya mampu menatap ayunan pedang yang mengarah ke lehernya.


"Akhir hidupku?" saat Paksi pasrah dan memejamkan matanya, suhu udara disekitarnya naik dengan cepat bersamaan dengan sesuatu yang bergerak cepat didekatnya.


Tubuh pendekar yang menyerang Paksi terlempar saat tinju kilat hitam mengenai tubuhnya.


Dia berusaha memperbaiki kuda kudanya di udara namun serangan demi serangan terus mengenai tubuhnya tanpa bisa melihat siapa yang menyerangnya.


Hanya aura merah darah yang bergerak cepat menyerang yang bisa ditangkap matanya.

__ADS_1


"Jurus pedang pemusnah raga," kobaran Naga api memotong lengan kanan pendekar itu. Saat tubuh pendekar itu hampir berubah menjadi asap hitam, Sabrang muncul dihadapannya dan mencengkram lehernya.


"Kau pikir bisa melarikan dariku?" puluhan energi keris yang diselimuti kobaran api muncul di udara.


"Kalian berani melukai ibuku? akan kuhancurkan kau tanpa sisa," puluhan energi keris menghantam tubuh pendekar itu dan Sabrang bersamaan yang mengakibatkan sebuah ledakan besar.


"Kekuatan ini? apa dia dirasuki?" Rubah Putih melompat mundur untuk menghindari efek ledakan. Dia tampak terkejut melihat energi Sabrang seperti meledak ledak di dalam tubuhnya.


Debu yang beterbangan di udara memenuhi area pertarungan.


"Yang mulia?" teriak Candrakurama.


Saat debu yang beterbangan perlahan hilang karena tertiup angin, Sabrang tampak berdiri dengan tangan masih memegang kepala yang sudah tidak ada lagi tubuhnya.


"Kalian semua akan membayar apa yang telah kalian lakukan pada Mentari dan Ibu," ucap Sabrang dingin.


"Yang mulia?" Paksi menelan ludahnya saat melihat Sabrang tersenyum saat menghancurkan kepala pendekar dengan tangannya.


***


"Yang mulia!" Mentari membuka matanya, dia memecahkan es yang menyelimuti tubuhnya dan mencoba bangkit namun tubuhnya yang masih lemah membuat dia kembali terjatuh ketanah.


"Tari, jangan terlalu banyak bergerak dulu, saat ini tubuhmu masih lemah," teriak Sekar Pitaloka.


"Ibu ratu? Yang mulia... Yang mulia...," ucap Mentari terbata bata sebelum kembali tak sadarkan diri.


Sekar Piraloka mendekati Mentari dan memeriksa tangannya, wajahnya tampak lega setelah mengetahui jika selir kesayangan Sabrang itu hanya pingsan.


"Ibu ratu..." suara Tungga Dewi mengagetkan Sekar Pitaloka.


"Ratu, kau sudah sadar?"


Tungga Dewi mengangguk, dia duduk perlahan dan mengalirkan tenaga dalam ke tubuhnya untuk menyembuhkan lukanya.


Sekar Pitaloka tampak lega saat melihat dua wanita yang bertaruh nyawa menyelamatkannya baik baik saja.


"Aku harus cepat mengembalikan tenaga dalamku sambil menunggu Mentari sadar," ucap Sekar dalam hati.


"Terima kasih Naga Api, kau sudah membantuku menyembuhkan tuanku, aku berjanji akan mencari pusaka itu untukmu," ucap Siren pelan.


"Ada yang aneh, tidak mungkin," ucap Naga Api dengan wajah buruk.


Siren mengernyitkan dahinya saat melihat reaksi Naga Api.


"Aku merasakan ada aura aneh yang berusaha menguasai Sabrang," balas Naga Api cepat.


"Menguasai tubuhnya? apa kau bercanda? siapa yang bisa merebut tubuh yang didalamnya bersemayam tiga roh terkuat saat ini?"


"Aku tidak tau namun aku merasakan saat ini sesuatu berusaha menekan energi ku di tubuh Sabrang, aku harus cepat kembali. Deteksi energi milikku dengan kekuatanmu, saat tuanmu sadar cari aku, sepertinya kali ini aku membutuhkan bantuan mu," jawab Naga Api sebelum keluar dari tubuh Mentari.


"Dewa Api membutuhkan bantuan ku? apa yang sebenarnya terjadi?" ucap Siren Bingung.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Pedang Bilah Gelombang


Seperti namanya, pedang bilah gelombang ini dirancang berbentuk api, yang digunakan sebagai senjata mematikan untuk berperang. Karena sangat tajam dan mematikan, sehingga pedang kuno yang kerap digunakan pada abad ke-16 ini harus ditangani dengan sangat hati-hati.


Menurut catatan lainnya, pedang bilah gelombang ini memang lebih terkenal dengan sebutan Keris, yang juga kerap digunakan di Indonesia. Namun asal-usul keris belum sepenuhnya jelas karena tak ada sumber tertulis yang deskriptif mengenai Keris dari masa sebelum abad ke-15, meskipun penyebutan istilah 'keris' telah tercantum pada prasasti dari abad ke-9 Masehi.


Kajian ilmiah perkembangan bentuk Keris kebanyakan berasal dari analisis figur di relief candi atau patung. Sementara itu, pengetahuan mengenai fungsi keris dapat dilacak dari beberapa prasasti dan laporan-laporan penjelajah asing ke Nusantara.


PNA meminjam pusaka yang konon adalah salah satu pusaka tertua di Nusantara ini sebagai bagian ceritanya...


terakhir... VOTE jika menurut kalian novel ini menarik....

__ADS_1


__ADS_2